Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 – Penghuni Baru, Suasana Baru

Sinar matahari pagi menembus sela-sela tirai kamar Raka. Udara masih terasa sejuk ketika ia membuka jendela. Dari lantai dua, halaman Rumah Kost Melati terlihat asri. Embun masih menempel di dedaunan, sementara aroma bunga melati yang tumbuh di sepanjang pagar terbawa angin pagi.

Raka menghirup napas panjang.

Sudah lama ia tidak memulai hari dengan suasana setenang ini.

Di tempat tinggalnya yang lama, pagi selalu dipenuhi suara kendaraan dan hiruk pikuk tetangga. Berbeda dengan Rumah Kost Melati yang menghadirkan ketenangan seolah menjadi tempat untuk melepas lelah setelah menjalani kerasnya kehidupan.

Setelah mandi dan mengenakan pakaian kerja, Raka turun ke lantai bawah.

Dari dapur terdengar suara seseorang sedang bersenandung pelan.

Saat ia melangkah masuk, Maya sedang menata beberapa piring di atas meja makan.

"Pagi, Raka."

"Pagi, Bu Maya."

"Tidurnya nyenyak?"

"Nyenyak sekali. Sudah lama saya tidak tidur senyaman tadi malam."

Maya tersenyum.

"Syukurlah."

Di atas meja sudah tersedia nasi goreng, telur dadar, dan semangkuk sup hangat.

"Silakan sarapan dulu."

"Bu Maya masak sendiri?"

"Iya. Sekalian untuk penghuni yang lain."

Tak lama kemudian Doni datang sambil mengucek mata.

"Aroma masakannya sampai ke kamar."

"Makanya bangun lebih pagi," sahut Maya sambil tertawa kecil.

Suasana dapur berubah ramai.

Fajar datang dengan rambut yang masih basah sehabis mandi, disusul Ardi yang sudah mengenakan kemeja rapi.

Semua duduk mengelilingi meja makan.

Tak ada pembicaraan yang berat.

Mereka saling bercanda, membahas pekerjaan, lalu sesekali menggoda Doni yang belum juga menyelesaikan skripsinya.

Raka hanya mendengarkan sambil sesekali tertawa.

Entah mengapa, suasana itu membuatnya merasa diterima.

---

Hari pertama bekerja berjalan cukup lancar.

Raka diterima dengan baik oleh rekan-rekan kantornya.

Meski masih harus mempelajari banyak hal, ia merasa pekerjaan barunya jauh lebih teratur dibanding tempat kerja sebelumnya.

Ketika jam pulang tiba, langit kembali mendung.

Namun kali ini hujan belum turun.

Raka memilih berjalan kaki sebentar menuju minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan.

Saat keluar dari minimarket, matanya tertuju pada seorang perempuan tua yang tampak kesulitan membawa dua kantong belanja.

Tanpa berpikir panjang, Raka menghampiri.

"Nenek, saya bantu."

Perempuan itu tersenyum lega.

"Terima kasih, Nak."

Raka mengantarkan perempuan tersebut hingga ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa ratus meter.

Baginya, membantu orang lain adalah kebiasaan yang diajarkan kedua orang tuanya sejak kecil.

Tanpa ia sadari, seseorang memperhatikan semua itu dari kejauhan.

Orang itu adalah Maya.

Kebetulan ia baru saja pulang dari pasar.

Melihat Raka membantu tanpa diminta, Maya tersenyum kecil.

"Anak itu memang seperti yang diceritakan Dimas."

---

Malam harinya, suasana rumah kost kembali hangat.

Doni mengajak semua penghuni bermain kartu di ruang tengah.

Raka yang awalnya menolak akhirnya ikut bergabung.

Gelak tawa memenuhi ruangan.

Bahkan Maya yang sedang membaca buku di sudut ruang tamu sesekali ikut tersenyum melihat tingkah mereka.

Di sela permainan, terdengar suara ketukan di pintu depan.

Tok...

Tok...

Tok...

Semua saling berpandangan.

"Sudah malam begini siapa, ya?" gumam Doni.

Maya bangkit dan berjalan menuju pintu.

Begitu pintu dibuka, senyum di wajahnya perlahan memudar.

Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di depan rumah.

Berpakaian rapi.

Berwajah tegas.

Tatapannya lurus ke arah Maya.

"Malam."

"Malam."

Suasana mendadak berubah canggung.

"Aku cuma ingin bicara sebentar."

"Bukan sekarang."

"Hanya lima menit."

Maya menggeleng pelan.

"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."

Pria itu menghela napas.

"Pikirkan lagi."

"Aku sudah memikirkannya."

Maya kemudian menutup pintu dengan perlahan.

Di ruang tengah, semua penghuni pura-pura tidak memperhatikan.

Namun mereka jelas mendengar percakapan singkat itu.

Tak lama kemudian Maya kembali.

Ekspresinya kembali tenang.

"Maaf mengganggu."

"Tidak apa-apa, Bu," jawab Ardi.

Namun Raka sempat melihat ada sesuatu yang berbeda.

Tatapan Maya tidak setenang biasanya.

---

Menjelang pukul sepuluh malam, permainan selesai.

Semua kembali ke kamar masing-masing.

Raka yang hendak naik ke lantai dua melihat Maya sedang duduk sendirian di teras.

Segelas teh hangat berada di atas meja kecil di sampingnya.

Raka ragu sejenak.

"Bu..."

Maya menoleh.

"Oh, belum tidur?"

"Belum."

"Boleh duduk."

Raka duduk di kursi seberang.

Mereka sama-sama menikmati udara malam.

"Orang tadi..." ucap Raka hati-hati.

Maya tersenyum tipis.

"Teman lama."

Raka mengangguk.

Ia tidak bertanya lagi.

Maya justru berkata pelan.

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena kamu tahu kapan harus berhenti bertanya."

Raka tersenyum.

"Saya percaya setiap orang berhak menyimpan masa lalunya."

Kalimat itu membuat Maya terdiam.

Sudah lama tidak ada orang yang mengatakan hal sesederhana itu kepadanya.

"Semoga kamu betah tinggal di sini."

"Saya juga berharap begitu."

Angin malam kembali berembus.

Keheningan justru terasa nyaman.

Tidak ada kecanggungan.

Hanya dua orang yang sama-sama menikmati suasana malam.

---

Sementara itu, di luar pagar rumah kost, pria yang tadi datang belum benar-benar pergi.

Ia berdiri di dekat mobilnya sambil memandangi bangunan dua lantai tersebut.

Wajahnya terlihat penuh penyesalan.

"Aku tidak akan menyerah, Maya."

Ia masuk ke dalam mobil lalu melaju perlahan meninggalkan kawasan itu.

Dari balik jendela lantai dua, Raka tanpa sengaja melihat mobil tersebut menjauh.

Entah mengapa, ia merasa kedatangan pria itu bukanlah kebetulan.

Ada hubungan yang belum selesai.

Ada cerita yang belum terungkap.

Dan ia mulai menyadari bahwa Rumah Kost Melati bukan hanya tempat tinggal bagi para perantau.

Rumah itu juga menyimpan rahasia yang perlahan akan menyeret semua penghuninya ke dalam konflik yang lebih besar.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel