
Ringkasan
Setelah diterpa masalah hidup, Raka, seorang pemuda yang merantau demi pekerjaan, memutuskan tinggal di sebuah rumah kost bernama Melati. Rumah kost itu tampak biasa dari luar, tetapi suasananya berubah setiap kali sang pemilik muncul. Maya, seorang janda berusia matang yang dikenal sebagai Ibu Kost, memiliki kecantikan yang anggun, sikap yang lembut, dan wibawa yang membuat setiap penghuni segan sekaligus penasaran. Di balik senyumnya yang menenangkan, tersimpan luka masa lalu dan rahasia yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan. Semakin lama tinggal di sana, Raka semakin dekat dengan Maya. Perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa perlahan berubah menjadi benih perasaan yang sulit dijelaskan. Di sisi lain, kehadiran penghuni baru, mantan suami Maya, serta berbagai konflik yang mengancam rumah kost membuat hubungan mereka berada di antara batas benar dan salah. Di tengah godaan hati, kecemburuan, rahasia, dan pilihan-pilihan yang mengubah hidup, Raka harus menentukan apakah ia akan mengikuti kata hati atau melepaskan wanita yang perlahan menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
Bab 1 – Pintu yang Membuka Takdir
Hujan baru saja reda ketika sebuah bus antarkota berhenti di terminal yang mulai lengang. Langit masih diselimuti awan kelabu, sementara genangan air memantulkan cahaya lampu jalan yang mulai menyala satu per satu.
Seorang pemuda bertubuh tegap turun sambil memanggul ransel lusuh dan menarik koper berukuran sedang. Wajahnya terlihat lelah setelah perjalanan hampir dua belas jam, tetapi sorot matanya tetap menyimpan semangat.
Namanya Raka Pratama, dua puluh enam tahun.
Dua minggu lalu, hidupnya berubah dalam sekejap. Perusahaan tempatnya bekerja dinyatakan bangkrut. Tabungan yang dimilikinya hampir habis untuk membantu biaya pengobatan ibunya di kampung. Ketika seorang teman lama menawarkan pekerjaan di kota ini, Raka langsung menerimanya tanpa banyak berpikir.
Baginya, ini bukan sekadar pekerjaan baru.
Ini adalah kesempatan untuk memulai hidup dari awal.
Setelah keluar dari terminal, Raka membuka ponselnya. Sebuah pesan dari sahabatnya, Dimas, kembali ia baca.
"Kalau belum dapat kontrakan, tinggal saja dulu di Kost Melati. Pemiliknya baik. Bilang saja kamu teman saya."
Raka menghela napas pelan.
"Semoga memang sebaik yang dia bilang."
---
Empat puluh menit kemudian, ojek yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah rumah dua lantai bergaya klasik.
Pagar besinya dicat hitam dengan tanaman melati yang merambat di sisi kiri dan kanan. Halaman depan bersih, dipenuhi pot bunga yang tertata rapi. Di dekat gerbang tergantung papan kayu bertuliskan:
KOST MELATI
Huruf-hurufnya sederhana, tetapi terawat.
Rumah itu tampak berbeda dibanding bangunan di sekitarnya.
Tidak mewah.
Namun terasa hangat.
Raka membayar ongkos, lalu berdiri beberapa saat memperhatikan rumah tersebut.
Entah mengapa, suasananya membuat pikirannya sedikit tenang.
Ia melangkah menuju teras dan menekan bel.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki dari dalam rumah.
Pintu terbuka perlahan.
Seorang perempuan berdiri di hadapannya.
Raka sempat terdiam.
Perempuan itu mengenakan blus lengan panjang berwarna krem dipadukan dengan rok panjang sederhana. Rambut hitamnya diikat rapi. Wajahnya cantik dengan senyum yang lembut, memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Tatapannya hangat, seolah sudah lama mengenal tamu yang berdiri di depannya.
"Selamat sore."
"Sore…"
"Kamu Raka?"
Raka sedikit terkejut.
"Iya, Bu."
"Saya Maya."
Perempuan itu mengulurkan tangan dengan ramah.
"Temannya Dimas, kan?"
"Iya."
"Silakan masuk."
Nada bicaranya begitu tenang sehingga rasa canggung Raka perlahan menghilang.
---
Ruang tamu rumah itu terasa nyaman.
Rak buku memenuhi satu sisi dinding, sementara beberapa tanaman hias menghiasi sudut ruangan.
Tidak ada barang mewah.
Tetapi semuanya bersih.
"Perjalananmu jauh?" tanya Maya sambil menuangkan segelas air putih.
"Dari Semarang."
"Pasti capek."
"Lumayan."
"Minum dulu."
"Terima kasih."
Maya duduk di kursi seberang.
"Dimas sudah banyak cerita tentangmu."
Raka tersenyum tipis.
"Semoga yang diceritakan bukan yang jelek."
Maya tertawa kecil.
"Katanya kamu orang yang bertanggung jawab."
Raka menggaruk kepalanya.
"Dia suka melebih-lebihkan."
"Tidak apa-apa. Yang penting nanti saya bisa menilai sendiri."
Percakapan itu terasa ringan.
Tidak seperti saat mencari tempat tinggal sebelumnya, yang dipenuhi pertanyaan dan syarat yang melelahkan.
---
"Kalau mau, saya tunjukkan kamarnya."
Raka mengangguk.
Mereka menaiki tangga menuju lantai dua.
Koridor cukup panjang dengan enam pintu kamar berjajar rapi.
Lantai keramik mengilap, dinding berwarna putih gading, serta lampu-lampu hangat membuat suasana terasa nyaman.
Maya berhenti di kamar paling ujung.
"Ini kamar yang masih kosong."
Pintu dibuka.
Kamarnya tidak terlalu besar, tetapi cukup lengkap.
Tempat tidur.
Lemari.
Meja kerja.
Rak buku kecil.
Kipas angin.
Jendela yang menghadap halaman belakang.
Semuanya tampak terawat.
"Bagaimana?"
"Bagus sekali."
"Kalau ada yang kurang nanti bilang saja."
Raka mengangguk.
"Terima kasih."
Maya tersenyum.
"Mulai hari ini anggap saja rumah sendiri."
Kalimat sederhana itu membuat Raka terdiam sesaat.
Sudah lama ia tidak mendengar ucapan sehangat itu.
---
Menjelang malam, suara langkah kaki mulai terdengar dari lorong.
Satu per satu penghuni pulang.
Ada yang masih mengenakan seragam kantor.
Ada yang membawa tas kuliah.
Ada pula yang baru selesai berolahraga.
Seorang pria bertubuh kurus melongok ke kamar Raka.
"Wah... penghuni baru."
Raka tersenyum.
"Halo."
"Aku Doni."
Tak lama kemudian muncul pria berkacamata.
"Ardi."
Lalu disusul pria berkulit sawo matang dengan senyum lebar.
"Fajar."
Perkenalan berlangsung singkat.
Namun suasananya langsung akrab.
"Kalau lapar turun saja ke dapur," kata Doni.
"Di sini sering makan bareng."
"Iya," sambung Fajar. "Bu Maya suka masak."
Raka sedikit heran.
"Sering?"
"Hampir setiap minggu."
"Mantap."
Doni terkekeh.
"Makanya banyak yang betah."
---
Malam semakin larut.
Raka turun ke dapur untuk mengambil air minum.
Lampu dapur masih menyala.
Maya sedang merapikan beberapa piring yang baru dicuci.
"Lho, belum tidur?"
"Masih belum mengantuk."
"Kalau lapar ada roti."
"Oh, tidak usah."
"Tidak merepotkan."
Maya mengambil dua cangkir.
"Kopi?"
Raka tersenyum.
"Boleh."
Tak lama kemudian aroma kopi memenuhi dapur.
Mereka duduk berhadapan di meja makan.
"Besok mulai kerja?"
"Iya."
"Semoga betah."
"Amin."
Maya memandang keluar jendela beberapa saat.
"Hidup di kota ini tidak selalu mudah."
"Saya tahu."
"Tapi jangan mudah menyerah."
Raka mengangguk pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah mengapa terasa sangat tulus.
---
Sekitar pukul sebelas malam, Raka kembali ke kamar.
Sebelum masuk, ia melihat sebuah pintu di ujung lorong sedikit terbuka.
Dari dalam terdengar suara piano dimainkan dengan pelan.
Alunannya lembut.
Penuh kesedihan.
Raka berhenti sejenak.
Siapa yang bermain piano?
Bukankah semua penghuni sudah tidur?
Rasa penasaran membuatnya berjalan perlahan mendekati sumber suara.
Namun baru beberapa langkah, musik itu berhenti.
Pintu kembali tertutup.
Koridor mendadak sunyi.
Raka menggeleng kecil.
"Mungkin penghuni lain."
Ia kembali ke kamar tanpa berpikir panjang.
---
Sementara itu, di lantai bawah, Maya berdiri seorang diri di ruang tamu.
Tangannya menggenggam sebuah bingkai foto yang mulai pudar dimakan usia.
Dalam foto itu tampak seorang pria tersenyum sambil menggendong seorang anak perempuan kecil.
Maya mengusap permukaan kaca bingkai tersebut.
Tatapannya kosong.
"Kalian pasti akan marah kalau tahu aku masih di sini..."
Bisiknya lirih.
Air matanya hampir jatuh.
Namun ia segera menghapusnya sebelum benar-benar mengalir.
Di luar rumah, seorang pria bertopi hitam berdiri di balik pohon besar, memperhatikan setiap sudut Rumah Kost Melati.
Tatapannya dingin.
Ia mengeluarkan ponsel, lalu mengirim sebuah pesan singkat.
"Dia masih tinggal di sana."
Tak lama kemudian balasan masuk.
"Awasi terus. Waktunya hampir tiba."
Pria itu memasukkan kembali ponselnya.
Sorot matanya tidak pernah lepas dari rumah yang berdiri tenang di bawah cahaya lampu malam.
Sementara di dalam rumah, Raka sama sekali tidak menyadari bahwa hari pertamanya di Kost Melati bukan sekadar awal kehidupan baru.
Tanpa ia sadari, langkahnya memasuki rumah itu telah membawanya ke dalam pusaran rahasia yang selama bertahun-tahun tersembunyi.
Dan semua itu... baru saja dimulai.