Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 – Aturan yang Tak Tertulis

Matahari bersinar cerah setelah hujan semalaman mengguyur kota. Halaman Rumah Kost Melati tampak lebih segar. Daun-daun tanaman berkilau diterpa cahaya pagi, sementara aroma tanah basah masih tercium hingga ke teras depan.

Raka sudah terbangun sejak pukul lima. Kebiasaan itu terbawa sejak ia masih tinggal di kampung. Setelah merapikan tempat tidur, ia turun ke halaman membawa sapu yang dipinjam dari gudang kecil di samping rumah.

Belum ada penghuni lain yang bangun.

Ia mulai menyapu daun-daun yang berserakan akibat hujan semalam.

Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu terbuka.

Maya keluar sambil membawa penyiram tanaman.

Melihat Raka sedang bekerja, ia tampak sedikit terkejut.

"Raka, sedang apa?"

"Menyapu saja, Bu. Daunnya lumayan banyak."

Maya tersenyum kecil.

"Itu bukan tugasmu."

"Tidak apa-apa. Kebetulan saya bangun pagi."

"Tapi kamu penghuni, bukan petugas kebersihan."

Raka berhenti menyapu lalu tersenyum.

"Kalau rumahnya bersih, saya juga yang menikmati."

Jawaban itu membuat Maya tidak bisa berkata apa-apa.

Ia hanya mengangguk pelan sebelum mulai menyiram bunga-bunga yang berjajar di sepanjang pagar.

Beberapa saat kemudian mereka bekerja dalam diam.

Sesekali Maya melirik ke arah Raka.

Pemuda itu bekerja tanpa mengeluh.

Tidak ada kesan mencari perhatian ataupun berharap pujian.

Ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar.

---

Saat sarapan, Doni langsung berseru.

"Wah... halaman kinclong."

Fajar menatap ke luar jendela.

"Pantas bersih. Ternyata ada penghuni teladan."

Raka tertawa kecil.

"Cuma menyapu."

Ardi ikut tersenyum.

"Hati-hati. Kalau terlalu rajin nanti Bu Maya malah tidak enak."

Semua tertawa.

Maya yang baru datang membawa teh hangat hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Kalian ini ada-ada saja."

Namun dalam hati, ia merasa bersyukur.

Sudah lama tidak ada penghuni yang begitu peduli terhadap rumah itu.

---

Sepulang kerja sore hari, Raka melihat sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah kost.

Seorang kurir menurunkan beberapa kardus besar.

"Permisi, Bu Maya."

"Simpan di ruang tamu saja."

Kurir tampak kesulitan mengangkat salah satu kardus.

Raka segera membantu.

"Terima kasih, Mas."

"Isinya apa, Bu?" tanya Doni yang baru pulang kuliah.

"Buku."

"Banyak sekali."

Maya mengangguk.

"Saya sedang menambah koleksi untuk perpustakaan kecil."

Raka baru menyadari bahwa rak-rak buku di ruang tamu ternyata bukan sekadar pajangan.

Maya memang gemar membaca.

"Kalau penghuni mau pinjam juga boleh," jelas Maya.

"Asal dijaga baik-baik."

"Wah... gratis?" tanya Doni.

"Gratis."

"Bu Maya memang terbaik."

Suasana kembali dipenuhi tawa.

---

Malam itu hujan tidak turun.

Sebagian penghuni duduk di teras menikmati angin malam.

Ardi bercerita tentang pekerjaannya di kantor.

Fajar sibuk memainkan gitar tua milik penghuni lama.

Sementara Doni bernyanyi dengan suara yang sengaja dibuat fals hingga semua tertawa.

Raka memperhatikan Maya yang duduk di kursi rotan sambil membaca novel.

Sesekali perempuan itu mengangkat kepala ketika mendengar candaan para penghuni.

Senyumnya tampak tulus.

Momen-momen seperti inilah yang membuat Raka semakin yakin bahwa Maya bukan sekadar pemilik rumah kost.

Ia benar-benar memperlakukan para penghuni seperti keluarga.

---

Sekitar pukul sembilan malam, ponsel Maya berdering.

Ia melihat nama yang muncul di layar.

Senyumnya langsung menghilang.

Tanpa menjawab panggilan itu, Maya mematikan ponselnya.

Raka yang kebetulan melihat perubahan ekspresinya tidak berkata apa-apa.

Namun beberapa menit kemudian ponsel itu kembali berdering.

Kali ini berkali-kali.

Maya berdiri.

"Maaf, saya masuk dulu."

Ia melangkah menuju ruang tamu.

Tak lama kemudian terdengar suara percakapan pelan dari dalam rumah.

Tidak jelas apa yang dibicarakan.

Namun nada bicara Maya terdengar lebih tegas dibanding biasanya.

Beberapa menit kemudian ia keluar lagi.

Wajahnya kembali tenang.

"Ada apa, Bu?" tanya Fajar.

"Tidak ada."

"Hanya telepon pekerjaan."

Raka tidak yakin.

Tetapi ia memilih diam.

---

Keesokan harinya adalah hari Sabtu.

Sebagian besar penghuni libur.

Pagi itu Maya mengumumkan sesuatu.

"Nanti sore kita kerja bakti membersihkan gudang belakang."

"Waduh..." keluh Doni.

"Itu gudang atau hutan, Bu?"

Maya tertawa kecil.

"Makanya dibersihkan."

Raka mengangkat tangan.

"Saya ikut."

"Bagus."

Menjelang sore mereka mulai bekerja.

Gudang itu ternyata menyimpan banyak barang lama.

Kursi kayu.

Meja rusak.

Pot bunga.

Beberapa kardus berdebu.

Saat memindahkan sebuah lemari tua, Raka menemukan sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi di belakangnya.

"Bu Maya."

"Iya?"

"Ini punya siapa?"

Maya menoleh.

Begitu melihat kotak tersebut, wajahnya berubah pucat.

Dengan cepat ia mengambilnya dari tangan Raka.

"Oh... ini barang lama."

Nada bicaranya terdengar sedikit gugup.

"Saya simpan dulu."

Tanpa membuka kotak itu, Maya langsung membawanya masuk ke rumah.

Raka saling berpandangan dengan Ardi.

"Kamu juga lihat?" bisik Ardi.

"Apa?"

"Bu Maya jarang sekali terlihat panik."

Raka mengangguk pelan.

Ia pun merasakan hal yang sama.

Kotak kayu itu jelas memiliki arti khusus.

---

Malam harinya, ketika semua penghuni sudah kembali ke kamar masing-masing, Maya duduk sendirian di ruang kerjanya.

Kotak kayu itu berada di atas meja.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka penutupnya.

Di dalamnya tersimpan beberapa foto lama, sebuah kalung perak, dan sepucuk surat yang sudah menguning.

Tatapan Maya berhenti pada foto seorang gadis kecil yang tersenyum ceria.

Perlahan ia mengusap foto itu.

"Maafkan Ibu..."

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Di luar rumah, tanpa seorang pun menyadari, seseorang kembali mengawasi Rumah Kost Melati dari dalam mobil hitam yang terparkir di seberang jalan.

Pria itu melihat lampu ruang kerja Maya masih menyala.

Ia tersenyum tipis.

"Sebentar lagi... semua rahasia itu akan terbuka."

Di dalam rumah, Raka yang belum tidur berdiri di dekat jendela kamarnya.

Tatapannya tanpa sengaja menangkap siluet mobil hitam yang sama seperti beberapa malam sebelumnya.

Kali ini ia benar-benar yakin.

Rumah Kost Melati sedang diawasi oleh seseorang.

Dan firasatnya mengatakan bahwa hari-hari tenang yang baru saja ia nikmati tidak akan berlangsung lama.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel