Bab 4: Keputusan Pertama
Suara hujan membasahi atap rumah kayu keluarga Hasan sejak dini hari.
Musim penghujan tahun itu terasa lebih panjang dari biasanya. Jalan-jalan tanah di Desa Sungai Harapan berubah menjadi lautan lumpur. Sungai Kapuas yang biasanya tenang kini tampak lebih keruh dan deras.
Di dalam rumah, suasana pagi terasa sunyi.
Hasan duduk di sudut ruang tengah dengan tongkat kayu di sampingnya. Sejak kecelakaan itu, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Meski lukanya perlahan membaik, kakinya masih belum cukup kuat untuk bekerja.
Bagi seorang lelaki yang sepanjang hidupnya terbiasa bekerja keras, keadaan itu terasa sangat menyiksa.
Sari memperhatikan ayahnya dari kejauhan.
Ia tahu Hasan sedang berusaha terlihat tegar.
Namun seorang anak yang hidup bersama ayahnya sejak lahir tentu bisa melihat kesedihan yang disembunyikan di balik senyuman itu.
"Ayah mau minum teh?" tanya Sari.
Hasan mengangguk.
"Boleh."
Sari segera mengambilkan secangkir teh hangat yang dibuat ibunya.
"Terima kasih."
Sari duduk di samping ayahnya.
Mereka terdiam cukup lama.
"Bagaimana sekolah?" tanya Hasan.
"Baik."
"Nilai matematikamu?"
"Delapan puluh sembilan."
Wajah Hasan sedikit cerah.
"Itu bagus."
Sari tersenyum.
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
Ia teringat sesuatu.
Kemarin sore, ia mendengar ibunya berbicara dengan pemilik warung.
Mereka kembali berutang.
Jumlahnya semakin banyak.
Meskipun Aminah berusaha menyembunyikannya, Sari mengetahui semuanya.
Ia mulai memahami bahwa kondisi keluarga mereka semakin sulit.
Siang harinya, setelah pulang sekolah, Sari membantu ibunya di kebun belakang.
Mereka memanen kangkung yang nantinya akan dijual ke pasar desa.
Hasilnya memang tidak besar.
Tetapi setidaknya bisa menambah sedikit penghasilan.
Saat sedang mencabut gulma, Sari memberanikan diri bertanya.
"Bu."
"Iya?"
"Utang kita banyak ya?"
Tangan Aminah berhenti bergerak.
Perempuan itu menoleh.
"Kamu dengar dari mana?"
"Sari tidak sengaja mendengar."
Aminah tersenyum tipis.
Namun senyum itu tampak dipaksakan.
"Anak kecil tidak perlu memikirkan hal seperti itu."
"Tapi itu keluarga kita."
Aminah terdiam.
Sari melanjutkan.
"Sari ingin membantu."
"Kamu sudah membantu."
"Belum cukup."
Perempuan itu menghela napas panjang.
Ia tahu putrinya berbeda dari anak-anak seusianya.
Sejak kecil, Sari selalu peka terhadap keadaan keluarga.
"Membantu dengan belajar rajin sudah cukup."
"Tapi sekarang keluarga kita membutuhkan uang."
Kalimat itu membuat Aminah tidak mampu menjawab.
Karena Sari benar.
Mereka memang membutuhkan uang.
Sangat membutuhkan.
Malam harinya, setelah makan malam sederhana berupa nasi dan sayur bening, Sari duduk sendirian di teras.
Hujan telah berhenti.
Angin malam bertiup sejuk dari arah sungai.
Ia memandangi cahaya lampu minyak dari rumah-rumah warga yang berkelap-kelip di kejauhan.
Pikirannya penuh.
Bagaimana caranya membantu keluarga?
Ia masih terlalu kecil untuk bekerja seperti orang dewasa.
Tetapi ia tidak bisa hanya diam.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Beberapa minggu lalu, ia pernah melihat seorang nenek menjual pisang goreng di pasar desa.
Setiap hari dagangannya selalu habis.
Mungkin...
Mungkin ia bisa mencoba berjualan.
Semakin dipikirkan, ide itu terasa masuk akal.
Di belakang rumah mereka ada beberapa pohon pisang.
Jika ibunya mengizinkan, mereka bisa mengolahnya menjadi pisang goreng.
Jantung Sari berdegup lebih cepat.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan ayahnya, ia merasa menemukan secercah harapan.
Keesokan paginya, Sari menyampaikan ide itu kepada ibunya.
"Berjualan?"
Aminah tampak terkejut.
Sari mengangguk semangat.
"Kita punya pisang."
"Tapi siapa yang akan menjual?"
"Sari."
"Tidak."
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Sari terdiam.
"Kenapa?"
"Kamu harus sekolah."
"Sari bisa jualan sebelum sekolah."
Aminah menggeleng.
"Kamu masih kecil."
"Aku tidak apa-apa."
"Kalau nanti diejek orang?"
"Aku tidak peduli."
Aminah menatap putrinya lama.
Ada sesuatu dalam mata gadis kecil itu.
Tekad.
Keteguhan.
Dan keberanian yang tidak biasa untuk anak seusianya.
Sifat yang sangat mirip dengan ayahnya.
Malam itu, Aminah membicarakan usul tersebut kepada Hasan.
Sari mendengarkan dari balik pintu kamar.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Aminah.
Hasan terdiam cukup lama.
"Kalau aku jujur, aku tidak ingin dia bekerja."
"Aku juga."
"Tapi keadaan kita sekarang..."
Kalimat itu menggantung.
Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.
Mereka semua tahu kondisi keluarga mereka.
"Aku merasa bersalah."
Suara Hasan terdengar lirih.
Aminah segera memegang tangannya.
"Jangan bicara seperti itu."
"Kalau bukan karena aku..."
"Ini bukan salahmu."
Hasan menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, Sari mendengar ayahnya menangis.
Tangisan yang berusaha ditahan.
Tangisan seorang ayah yang merasa gagal melindungi keluarganya.
Air mata mengalir di pipi Sari.
Malam itu, tekadnya semakin kuat.
Apa pun yang terjadi, ia akan membantu keluarganya.
Dua hari kemudian, Aminah akhirnya mengizinkan.
Namun dengan syarat.
"Sekolah tetap nomor satu."
"Iya, Bu."
"Kalau nilai turun, berhenti jualan."
"Iya."
"Kalau capek, berhenti."
"Iya."
Melihat semangat putrinya, Aminah akhirnya tersenyum.
"Baiklah."
Sari hampir melompat kegirangan.
Hari itu mereka mulai mempersiapkan semuanya.
Pisang dipetik dari kebun.
Aminah membuat adonan.
Sementara Sari membantu mengupas dan membersihkan buah.
Rumah kecil mereka yang biasanya muram mendadak terasa lebih hidup.
Bahkan Hasan ikut membantu sebisanya dari tempat duduknya.
Sudah lama mereka tidak merasakan semangat seperti itu.
Subuh keesokan harinya, Sari bangun lebih awal.
Udara masih sangat dingin.
Langit masih gelap.
Namun ia sudah berdiri di dapur membantu ibunya menggoreng pisang.
Aroma harum segera memenuhi rumah.
"Bagus sekali baunya," kata Hasan sambil tersenyum.
Sari tertawa kecil.
"Semoga laku."
Mereka membuat sekitar tiga puluh buah pisang goreng.
Jumlah yang tidak banyak.
Tetapi cukup untuk percobaan pertama.
Setelah semuanya siap, Sari memasukkan dagangan ke dalam wadah sederhana.
Jantungnya berdebar.
Ia belum pernah berjualan sebelumnya.
"Aku berangkat."
"Hati-hati," kata Aminah.
Hasan mengangkat jempol.
"Semangat."
Pasar desa mulai ramai saat Sari tiba.
Pedagang sayur, ikan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga sudah membuka lapak.
Sari memilih tempat di dekat pintu masuk.
Awalnya ia merasa malu.
Sangat malu.
Banyak orang yang mengenalnya.
Bagaimana jika mereka menertawakannya?
Bagaimana jika tidak ada yang membeli?
Namun ia teringat wajah ayah dan ibunya.
Ia menguatkan diri.
"Pisang goreng... pisang goreng hangat..."
Suaranya pelan.
Hampir tidak terdengar.
Beberapa orang lewat begitu saja.
Tidak ada yang berhenti.
Wajah Sari mulai murung.
Ternyata berjualan tidak semudah yang dibayangkan.
"Sari?"
Ia menoleh.
Ternyata Rahmat.
"Kamu jualan?"
Sari mengangguk.
Rahmat tersenyum.
"Berapa?"
Sari menyebutkan harga.
Rahmat langsung membeli dua buah.
"Itu untuk sarapan."
Sari tersenyum lebar.
"Terima kasih."
"Itu bukan bantuan."
"Aku tahu."
Rahmat menggigit pisang goreng yang baru dibeli.
"Malah enak."
Mendengar itu, rasa percaya diri Sari sedikit bertambah.
Tak lama kemudian, seorang ibu mendekat.
"Lihat-lihat boleh?"
"Boleh, Bu."
Ibu itu membeli tiga buah.
Kemudian pelanggan lain datang.
Lalu pelanggan berikutnya.
Sedikit demi sedikit, dagangan Sari mulai berkurang.
Wajahnya bersinar.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan kebahagiaan karena mendapatkan uang dari hasil usahanya sendiri.
Menjelang pukul tujuh pagi, seluruh dagangannya habis.
Habis.
Tidak tersisa satu pun.
Sari hampir tidak percaya.
Ia menghitung uang di tangannya berulang kali.
Jumlahnya memang tidak besar.
Namun bagi dirinya, uang itu terasa sangat berarti.
Karena uang itu diperoleh dari kerja kerasnya sendiri.
Ketika pulang ke rumah, Sari berlari sambil tersenyum.
"Bu!"
Aminah keluar dari dapur.
"Bagaimana?"
"Habis!"
"Apa?"
"Habis semua!"
Wajah Aminah langsung berseri-seri.
"Benarkah?"
Sari menunjukkan uang hasil jualannya.
Aminah memeluk putrinya erat.
Air mata menggenang di matanya.
Bukan karena jumlah uang itu.
Melainkan karena melihat putrinya yang berusaha begitu keras demi keluarga.
Hasan yang mendengar kabar itu juga tersenyum.
Sudah lama ia tidak melihat keceriaan seperti ini di rumah mereka.
"Hebat."
Sari tersipu.
"Itu karena Ibu yang membuat pisangnya."
"Tidak."
Hasan menggeleng.
"Itu karena kamu berani mencoba."
Kalimat itu membuat hati Sari terasa hangat.
Malamnya, setelah semua orang tertidur, Sari kembali duduk di teras rumah.
Namun kali ini suasana hatinya berbeda.
Masalah keluarga mereka memang belum selesai.
Utang masih ada.
Ayahnya masih belum bisa bekerja.
Masa depan masih penuh ketidakpastian.
Tetapi setidaknya hari ini ia belajar satu hal.
Ia mungkin masih kecil.
Namun bukan berarti ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Langit malam tampak cerah.
Bintang-bintang bertaburan di atas Sungai Kapuas.
Sari memandangnya sambil tersenyum.
Perjalanan mereka masih panjang.
Sangat panjang.
Namun langkah pertama akhirnya telah dimulai.
Dan tanpa disadari siapa pun, keputusan sederhana untuk menjual pisang goreng itu akan menjadi awal dari bakat berdagang yang kelak mengubah seluruh hidupnya.
