Bab 3: Hari yang Mengubah Segalanya
Pagi itu, langit di atas Desa Sungai Harapan tampak kelabu.
Awan tebal menggantung rendah, menutupi cahaya matahari yang biasanya menyinari tepian Sungai Kapuas sejak fajar. Udara terasa lembap dan dingin. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dari hutan yang mengelilingi desa.
Sari berdiri di depan rumah sambil memandang jalan setapak yang dilalui ayahnya setiap hari.
Sudah tiga hari sejak Hasan mulai bekerja sebagai buruh harian di perusahaan pengolahan kayu yang berada cukup jauh dari desa.
Pekerjaan itu memang lebih berat daripada menyadap karet, tetapi upahnya jauh lebih baik.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Aminah bisa membeli beras tanpa harus berutang di warung.
Meski demikian, ketenangan yang seharusnya datang justru tidak dirasakan Sari.
Perasaan tidak nyaman itu masih ada.
Bahkan semakin kuat setiap hari.
"Kenapa melamun di situ?"
Suara ibunya membuyarkan lamunannya.
Sari menoleh.
Aminah sedang menjemur pakaian di halaman rumah.
"Tidak apa-apa, Bu."
"Kamu memikirkan ayah?"
Sari mengangguk pelan.
Aminah tersenyum tipis.
"Ibu juga."
Meski berusaha terlihat tenang, Sari bisa melihat kecemasan di mata ibunya.
Perusahaan kayu memang terkenal memberikan upah tinggi.
Namun semua orang di desa tahu bahwa pekerjaan itu penuh risiko.
Pohon-pohon besar yang ditebang setiap hari bisa menjadi ancaman maut jika terjadi kesalahan sekecil apa pun.
Siang hari di sekolah, Sari kembali sulit berkonsentrasi.
Guru sedang menjelaskan pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi pikirannya terus melayang.
Ia membayangkan ayahnya bekerja di tengah hutan.
Mengangkat kayu-kayu besar.
Mengoperasikan peralatan berat.
Berjalan di medan yang licin dan berbahaya.
Semakin ia membayangkannya, semakin gelisah hatinya.
"Sari."
Ia tersentak.
"Iya, Bu Guru?"
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya."
"Kalau ada masalah, kamu bisa bercerita."
Sari hanya mengangguk.
Ia tidak ingin membuat siapa pun khawatir.
Bahkan dirinya sendiri tidak memahami alasan kegelisahan yang terus menghantuinya.
Sepulang sekolah, Sari membantu ibunya menyiangi sayuran di belakang rumah.
Mereka menanam kangkung, cabai, dan beberapa jenis sayuran lain untuk mengurangi pengeluaran keluarga.
Matahari mulai condong ke barat ketika suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah jalan desa.
Sari mengangkat kepala.
Beberapa warga tampak berlari.
Wajah mereka terlihat tegang.
Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.
"Ada apa?" gumam Aminah.
Tak lama kemudian, seorang pria bernama Pak Junaidi berhenti di depan rumah mereka.
Napasnya terengah-engah.
Wajahnya dipenuhi keringat.
"Aminah!"
Suara pria itu terdengar gemetar.
Aminah berdiri.
"Ada apa, Pak?"
Pak Junaidi menelan ludah.
Matanya tampak ragu.
Seolah ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan sesuatu.
"Ada kecelakaan di lokasi perusahaan kayu."
Dunia seakan berhenti berputar bagi Sari.
"Apa maksudnya?" tanya Aminah dengan suara bergetar.
Pak Junaidi menarik napas panjang.
"Beberapa pekerja tertimpa batang pohon saat penebangan."
Sari merasa darahnya menghilang dari wajahnya.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
"Pak... siapa?"
Pak Junaidi menundukkan kepala.
"Hasan termasuk yang terluka."
Ember yang dipegang Aminah jatuh ke tanah.
Air tumpah membasahi halaman.
Tubuh perempuan itu limbung.
Sari segera memegang lengannya.
"Bu!"
Aminah tampak pucat.
"Sekarang ayah di mana?" tanya Sari.
"Di klinik perusahaan."
Tanpa berpikir panjang, Aminah langsung masuk ke rumah mengambil jilbab.
"Ayo, Sari."
Sari mengangguk.
Jantungnya berdegup sangat keras.
Ia terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Ayah pasti baik-baik saja.
Ayah pasti hanya terluka ringan.
Ayah pasti akan pulang seperti biasa.
Ia terus mengulang kalimat itu di dalam hati.
Namun semakin ia mengulangnya, semakin takut perasaannya.
Perjalanan menuju klinik perusahaan memakan waktu hampir satu jam menggunakan perahu motor milik warga desa.
Sepanjang perjalanan, Aminah tidak banyak bicara.
Tangannya terus bergetar.
Sementara Sari duduk diam sambil memandang sungai.
Air mata berkali-kali menggenang di pelupuk matanya.
Tetapi ia menahannya.
Ia harus kuat.
Setidaknya untuk ibunya.
Saat mereka tiba di klinik, suasana terlihat ramai.
Banyak keluarga pekerja berkumpul di luar bangunan.
Wajah-wajah cemas terlihat di mana-mana.
Beberapa perempuan menangis.
Beberapa anak memeluk orang tua mereka.
Perasaan takut dalam diri Sari semakin membesar.
Ia dan Aminah segera masuk.
Seorang petugas kesehatan menghampiri mereka.
"Keluarga Pak Hasan?"
Aminah mengangguk cepat.
"Suami saya bagaimana?"
Petugas itu tampak ragu.
"Beliau sadar."
Sari sedikit lega.
Namun kelegaan itu tidak bertahan lama.
"Tapi..."
Kata itu terasa seperti pisau yang menusuk dada.
"Tapi apa?"
"Beliau mengalami cedera cukup serius."
Ketika akhirnya mereka diperbolehkan masuk, Sari hampir tidak mengenali ayahnya.
Hasan terbaring di ranjang.
Kepalanya diperban.
Lengan kirinya dibalut kain putih.
Beberapa luka terlihat di wajahnya.
Tubuh lelaki yang selama ini selalu tampak kuat itu kini terlihat begitu rapuh.
"Ayah..."
Suara Sari pecah.
Hasan perlahan membuka mata.
Saat melihat istri dan putrinya, ia berusaha tersenyum.
"Kenapa menangis?"
Air mata yang selama ini ditahan akhirnya jatuh.
Sari menggenggam tangan ayahnya.
"Tidak apa-apa, Ayah akan sembuh."
Hasan menatapnya lembut.
"Iya."
Namun bahkan Sari bisa mendengar kelemahan dalam suara itu.
Aminah duduk di samping ranjang.
Matanya merah karena menangis.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Hasan menarik napas pelan.
"Salah satu pohon jatuh ke arah yang tidak seharusnya."
"Ya Allah..."
"Aku sempat menghindar."
"Lalu?"
"Kakiku tertimpa batang pohon."
Sari langsung menoleh ke arah kaki ayahnya yang tertutup selimut.
Tiba-tiba rasa takut yang lebih besar muncul.
Ia mulai memahami bahwa ini bukan sekadar luka biasa.
Malam itu dokter akhirnya menjelaskan kondisi Hasan.
Cedera yang dialaminya cukup berat.
Tulang kaki kanannya mengalami kerusakan serius.
Ia membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih.
Bahkan belum ada jaminan bahwa ia bisa kembali bekerja seperti sebelumnya.
Kalimat terakhir itu menghancurkan hati keluarga kecil tersebut.
Hasan adalah tulang punggung keluarga.
Jika ia tidak bisa bekerja...
Bagaimana mereka akan hidup?
Bagaimana mereka akan membeli makanan?
Bagaimana mereka akan membayar kebutuhan sehari-hari?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Sari.
Malam itu ia tidak bisa tidur.
Ia duduk di luar klinik memandangi langit.
Hujan turun perlahan.
Udara malam terasa dingin.
Namun dingin itu tidak seberapa dibandingkan rasa takut yang memenuhi hatinya.
"Sari."
Ia menoleh.
Hasan sedang memandangnya dari jendela kamar perawatan.
Sari segera masuk.
"Ayah kenapa belum tidur?"
Hasan tersenyum lemah.
"Ayah justru ingin bertanya hal yang sama."
Sari duduk di samping ranjang.
Beberapa saat mereka terdiam.
Lalu Hasan berbicara.
"Kamu takut?"
Air mata kembali muncul.
Sari mengangguk.
"Sangat takut."
Hasan menggenggam tangannya.
"Dengarkan Ayah baik-baik."
Sari menatap wajah ayahnya.
"Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita."
Ia terdiam.
"Terkadang kita kehilangan sesuatu."
Hasan menarik napas pelan.
"Terkadang kita jatuh."
"Jangan bicara seperti itu."
"Tapi itu kenyataan."
Sari menunduk.
"Ayah belum mati."
Meskipun suasana sedih, Hasan masih sempat tertawa kecil.
Sari ikut tersenyum di tengah tangisnya.
"Tapi suatu hari nanti, Ayah pasti tidak akan selalu ada di sampingmu."
"Jangan."
"Karena itu kamu harus menjadi kuat."
Sari menggigit bibir.
"Janji?"
Air mata mengalir di pipinya.
"Janji."
Beberapa hari kemudian, Hasan diperbolehkan pulang.
Namun kepulangannya tidak membawa kebahagiaan seperti yang diharapkan.
Ia harus menggunakan tongkat.
Ia tidak mampu berjalan jauh.
Dan dokter melarangnya melakukan pekerjaan berat.
Kenyataan itu terasa sangat pahit.
Hari demi hari berlalu.
Tabungan kecil yang mereka miliki mulai habis.
Penghasilan tidak ada.
Sementara kebutuhan hidup terus berjalan.
Aminah mulai bekerja lebih keras menjual hasil kebun.
Namun hasilnya tidak seberapa.
Sering kali mereka hanya makan dua kali sehari.
Bahkan terkadang hanya sekali.
Sari melihat semuanya.
Ia melihat ayahnya yang merasa bersalah karena tidak bisa bekerja.
Ia melihat ibunya yang diam-diam menangis saat malam.
Ia melihat adik-adiknya yang mulai mengerti bahwa keluarga mereka sedang mengalami kesulitan besar.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sari menyadari sesuatu.
Masa kecilnya perlahan mulai berakhir.
Ia masih berusia sepuluh tahun.
Namun kehidupan tidak peduli tentang usia.
Kehidupan hanya peduli apakah seseorang mampu bertahan atau tidak.
Malam itu, ketika semua orang sudah tidur, Sari duduk sendiri di teras rumah.
Sungai Kapuas mengalir tenang di bawah cahaya bulan.
Ia memandangi kegelapan di kejauhan.
Lalu menggenggam kedua tangannya erat-erat.
Dalam hati, ia membuat sebuah janji.
Janji yang akan mengubah seluruh hidupnya.
"Aku akan membantu Ayah dan Ibu."
Suaranya pelan.
Namun penuh keyakinan.
"Aku tidak akan membiarkan keluarga kita hancur."
Angin malam berembus perlahan.
Seolah membawa sumpah itu ke seluruh penjuru sungai.
Dan tanpa disadari Sari, malam itulah awal dari perjalanan panjang yang akan membentuk dirinya menjadi perempuan tangguh yang kelak dikenal banyak orang.
Perjalanan seorang gadis Kalimantan yang menolak tunduk pada nasib.
