Bab 5: Uang Pertama, Mimpi Pertama
Pagi di Desa Sungai Harapan kembali dimulai dengan suara ayam berkokok dan deru perahu-perahu kecil yang menyusuri Sungai Kapuas.
Namun pagi itu terasa berbeda bagi Sari.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan ayahnya, ia bangun dengan semangat yang begitu besar.
Masih gelap ketika ia membuka mata.
Biasanya, Aminah yang lebih dulu terbangun.
Namun kali ini Sari sudah duduk di tepi tikar sebelum ibunya bangun.
Ia menoleh ke arah sudut ruangan tempat uang hasil jualannya kemarin disimpan dalam sebuah kaleng biskuit bekas.
Jumlahnya memang tidak banyak.
Tetapi bagi Sari, uang itu memiliki arti yang sangat besar.
Itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri.
Hasil dari keberaniannya mengambil langkah pertama.
Sari tersenyum kecil.
Lalu ia segera bangkit menuju dapur.
Ketika Aminah keluar dari kamar beberapa menit kemudian, ia mendapati putrinya sudah menyiapkan kayu bakar.
"Kamu bangun terlalu pagi."
Sari tertawa kecil.
"Sari tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Pikiran Sari senang."
Jawaban polos itu membuat Aminah tersenyum.
Sudah lama ia tidak melihat putrinya seceria ini.
Sejak Hasan mengalami kecelakaan, Sari memang tampak lebih dewasa.
Terlalu dewasa untuk anak seusianya.
Kadang-kadang Aminah merasa sedih melihatnya.
Karena masa kecil yang seharusnya penuh permainan perlahan digantikan oleh kekhawatiran dan tanggung jawab.
Namun pagi itu, untuk sesaat, Sari kembali terlihat seperti anak-anak pada umumnya.
Penuh semangat dan harapan.
"Ayo kita buat lagi."
Mata Sari berbinar.
"Iya, Bu."
Mereka kembali membuat pisang goreng.
Kali ini jumlahnya lebih banyak.
Empat puluh buah.
Aminah awalnya ragu.
Bagaimana jika tidak habis?
Bagaimana jika dagangan mereka tersisa banyak?
Tetapi Sari yakin.
Kemarin saja habis.
Hari ini pasti bisa.
Setelah semua siap, ia membawa dagangan ke pasar.
Di perjalanan, ia bertemu Rahmat.
"Kamu jualan lagi?"
Sari mengangguk.
"Tentu."
Rahmat tersenyum.
"Kamu benar-benar serius."
"Aku harus membantu Ayah dan Ibu."
Rahmat terdiam beberapa saat.
Kemudian ia berkata pelan.
"Aku kagum padamu."
Sari merasa wajahnya memanas.
Untung Rahmat segera berjalan menuju sekolah sehingga ia tidak perlu menjawab.
Hari itu, pasar lebih ramai dibanding kemarin.
Beberapa orang mulai mengenali Sari.
"Gadis pisang goreng datang lagi."
"Yang kemarin jualannya cepat habis itu?"
Sari tersenyum malu.
Awalnya ia hanya duduk menunggu pembeli.
Namun kali ini ia mencoba lebih berani.
"Pisang goreng hangat!"
"Pisang goreng baru matang!"
Suaranya lebih lantang.
Lebih percaya diri.
Ternyata hasilnya cukup baik.
Pembeli mulai berdatangan.
Beberapa ibu rumah tangga membeli untuk sarapan keluarga.
Beberapa pekerja membeli sebagai bekal.
Bahkan seorang sopir perahu membeli lima buah sekaligus.
Menjelang jam masuk sekolah, dagangannya kembali habis.
Tidak tersisa satu pun.
Sari hampir melompat kegirangan.
Dua hari berturut-turut.
Dua hari dagangannya laku habis.
Ia segera berlari menuju sekolah.
Meskipun terlambat beberapa menit, wajahnya tetap dipenuhi senyum.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang sama.
Bangun sebelum fajar.
Membantu Aminah membuat pisang goreng.
Berjualan di pasar.
Pergi ke sekolah.
Membantu pekerjaan rumah.
Belajar pada malam hari.
Awalnya tubuh Sari merasa kelelahan.
Namun perlahan ia mulai terbiasa.
Bahkan nilai sekolahnya tetap baik.
Hal itu membuat Hasan dan Aminah sedikit tenang.
Mereka khawatir pekerjaan tambahan akan mengganggu pendidikannya.
Tetapi sejauh ini, Sari mampu menjalankan semuanya.
Meski demikian, kehidupan mereka masih jauh dari mudah.
Penghasilan dari berjualan hanya cukup untuk membantu kebutuhan sehari-hari.
Belum cukup untuk melunasi utang.
Belum cukup untuk membuat keadaan benar-benar membaik.
Namun setidaknya mereka tidak lagi merasa putus asa.
Suatu sore, setelah pulang sekolah, Sari duduk di samping ayahnya di teras rumah.
Matahari mulai tenggelam di balik pepohonan.
Langit berubah menjadi warna jingga yang indah.
Hasan memandangi sungai sambil memegang tongkatnya.
"Ayah."
"Hm?"
"Kalau Ayah sehat lagi, Ayah ingin melakukan apa?"
Hasan tersenyum.
"Bekerja."
Sari tertawa.
"Ayah selalu bicara soal bekerja."
"Lalu apa lagi?"
"Misalnya kalau punya banyak uang."
Hasan berpikir sejenak.
"Ayah ingin membangun rumah yang lebih baik."
Sari menoleh.
"Rumah besar?"
"Tidak harus besar."
"Lalu?"
"Asal tidak bocor saat hujan."
Mereka tertawa bersama.
Sari memandang atap rumah mereka yang memang sudah tua.
Ketika hujan deras turun, beberapa bagian selalu menetes.
Ia tiba-tiba membayangkan rumah yang lebih bagus.
Rumah yang nyaman untuk ayah dan ibunya.
Rumah yang tidak membuat mereka khawatir setiap musim hujan tiba.
"Aku akan membangunkannya."
Hasan menatap putrinya.
"Kamu yakin?"
Sari mengangguk.
"Sangat yakin."
Hasan mengusap kepala putrinya.
Meski terdengar seperti mimpi seorang anak kecil, ia bisa melihat kesungguhan di mata Sari.
Dan untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, ia percaya.
Beberapa minggu kemudian, sebuah masalah baru muncul.
Pohon pisang di belakang rumah mulai berkurang.
Jumlah buah yang siap panen tidak lagi sebanyak sebelumnya.
Aminah mulai khawatir.
"Kalau begini kita tidak bisa terus berjualan."
Sari ikut memikirkan masalah itu.
Mereka membutuhkan bahan baku.
Tetapi membeli pisang dari desa lain berarti mengurangi keuntungan.
Malam itu, Sari memutar otak.
Ia tidak ingin usaha kecil mereka berhenti.
Karena untuk pertama kalinya, ia melihat secercah jalan keluar dari kesulitan keluarga mereka.
Keesokan harinya, setelah sekolah, ia berjalan mengelilingi desa.
Ia memperhatikan berbagai aktivitas warga.
Ada yang menjual sayur.
Ada yang menjual ikan.
Ada yang membuat kue.
Tiba-tiba ia melihat sesuatu.
Seorang nenek sedang menjual singkong rebus.
Harganya murah.
Dan banyak yang membeli.
Sari berhenti.
Sebuah ide muncul di kepalanya.
Jika pisang sulit didapat, mungkin mereka bisa menjual makanan lain.
Mungkin singkong goreng.
Atau ubi goreng.
Bahan-bahannya lebih mudah ditemukan.
Ia segera berlari pulang.
"Ibu!"
Aminah yang sedang mencuci pakaian menoleh.
"Ada apa?"
"Aku punya ide."
Biasanya kalimat itu membuat Aminah waspada.
Karena ide-ide Sari sering kali muncul tiba-tiba.
Namun kali ini ia mendengarkan dengan serius.
Setelah mendengar penjelasan putrinya, Aminah tampak berpikir.
"Singkong goreng?"
"Iya."
"Hm."
"Kita bisa mencoba."
Hasan yang ikut mendengar pembicaraan itu tersenyum.
"Sepertinya kita punya pengusaha kecil di rumah."
Sari tersipu.
"Ayah bercanda."
"Tidak."
Hasan menggeleng.
"Pengusaha itu bukan soal uang."
"Lalu?"
"Soal mencari jalan ketika orang lain menyerah."
Kalimat itu tertanam dalam benak Sari.
Ia tidak sepenuhnya memahami maknanya saat itu.
Namun suatu hari nanti, ia akan mengingat kata-kata tersebut berkali-kali.
Minggu berikutnya mereka mulai menjual singkong goreng.
Hasilnya tidak sebaik pisang goreng.
Namun tetap cukup untuk menghasilkan keuntungan.
Sari mulai belajar sesuatu yang baru.
Tidak semua usaha langsung berhasil.
Kadang-kadang harus mencoba berbagai cara sampai menemukan yang tepat.
Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga.
Pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah.
Suatu malam, ketika sedang menghitung hasil jualan bersama ibunya, Sari menyadari sesuatu.
Jumlah uang dalam kaleng biskuit mulai bertambah.
Masih sedikit.
Sangat sedikit.
Namun lebih banyak dibanding sebelumnya.
Ia memandangi tumpukan uang itu dengan mata berbinar.
"Ada apa?" tanya Aminah.
"Sari senang."
"Karena uangnya?"
Sari menggeleng.
"Bukan."
"Lalu?"
"Karena kita mulai bergerak maju."
Aminah terdiam.
Lalu tersenyum.
Putrinya memang berbeda.
Banyak anak seusianya mungkin hanya melihat uang.
Tetapi Sari melihat harapan.
Melihat kemungkinan.
Melihat masa depan.
Malam semakin larut.
Satu per satu anggota keluarga mulai tertidur.
Namun Sari masih terjaga.
Ia duduk di dekat jendela sambil memandangi langit malam.
Bintang-bintang berkelap-kelip di atas Sungai Kapuas.
Di dalam kaleng biskuit bekas tersimpan hasil kerja keras mereka selama beberapa minggu terakhir.
Jumlahnya belum cukup untuk mengubah hidup.
Belum cukup untuk melunasi utang.
Belum cukup untuk membangun rumah impian ayahnya.
Tetapi bagi Sari, uang itu adalah sesuatu yang lebih besar.
Itu adalah bukti bahwa keadaan bisa berubah.
Bukti bahwa kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya.
Bukti bahwa seseorang bisa melangkah maju meski hanya sedikit demi sedikit.
Sari menggenggam kedua tangannya.
Lalu tersenyum pada dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memiliki mimpi yang sangat jelas.
Bukan sekadar ingin hidup lebih baik.
Bukan sekadar ingin membantu keluarga.
Ia ingin menjadi seseorang yang mampu mengubah nasibnya sendiri.
Dan jauh di dalam hatinya, sebuah keyakinan mulai tumbuh.
Keyakinan bahwa suatu hari nanti, meski jalannya panjang dan penuh rintangan, ia akan berhasil.
Karena setiap perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil.
Dan langkah kecil itu telah ia ambil.
