Bab 2: Pertanda yang Mengkhawatirkan
Malam itu, hujan turun perlahan membasahi Desa Sungai Harapan.
Tetes-tetes air memukul atap seng tua rumah keluarga Hasan, menciptakan suara berirama yang biasanya membuat Sari mudah tertidur. Namun entah mengapa, malam ini perasaannya gelisah.
Ia terus memikirkan kejadian sore tadi.
Wajah ayahnya yang tiba-tiba pucat.
Cara ayahnya memegangi dada seolah sedang menahan sesuatu.
Meski Hasan berkata dirinya hanya kelelahan, Sari merasa ada yang tidak beres.
Di ruang tengah yang sekaligus menjadi kamar tidur keluarga mereka, Hasan tampak berbaring lebih awal dari biasanya.
Biasanya, setelah makan malam, lelaki itu masih sempat memperbaiki alat kerja atau berbincang dengan tetangga.
Namun malam ini, ia hanya diam.
"Ayah benar-benar tidak apa-apa?" tanya Sari pelan.
Hasan tersenyum.
"Tidak apa-apa. Besok juga sudah sembuh."
Sari mengangguk, meski hatinya belum benar-benar tenang.
Di dekat dapur, Aminah sedang membereskan peralatan makan dengan wajah yang tak kalah khawatir.
Sebagai istri, ia mengenal suaminya lebih baik daripada siapa pun.
Ia tahu Hasan sedang menyembunyikan sesuatu.
Namun ia juga tahu bahwa suaminya bukan orang yang suka mengeluh.
Selama masih sanggup berdiri, Hasan akan tetap bekerja.
Keesokan harinya, sebelum azan Subuh berkumandang, Hasan sudah bangun.
Sari yang terbangun karena suara langkah kaki segera duduk.
"Ayah mau ke kebun?"
Hasan mengangguk.
"Kalau tidak bekerja, kita makan apa?"
Jawaban itu membuat hati Sari terasa sesak.
Ia melihat ayahnya mengenakan pakaian kerja yang sudah bertahun-tahun digunakan.
Banyak bagian yang mulai kusam dan sobek.
Namun mereka belum mampu membeli yang baru.
"Ayah jangan terlalu memaksakan diri."
Hasan tersenyum sambil mengusap kepala putrinya.
"Kamu seperti ibumu saja."
"Ayah harus menjaga kesehatan."
"Baik."
Meski menjawab demikian, Sari tahu ayahnya tetap akan bekerja sekeras biasanya.
Itulah Hasan.
Seorang ayah yang rela mengorbankan segalanya demi keluarganya.
Hari itu sekolah berlangsung seperti biasa.
Namun pikiran Sari tidak fokus.
Saat guru menjelaskan pelajaran matematika, pandangannya justru melayang ke luar jendela.
Awan mendung menggantung di langit.
Angin bertiup lebih kencang dari biasanya.
"Sari."
Ia tersentak.
"Iya, Bu Guru?"
"Coba kerjakan soal nomor tiga."
Beberapa murid menahan tawa.
Wajah Sari memerah.
Ia maju ke papan tulis dan berusaha menyelesaikan soal yang bahkan belum sempat ia perhatikan.
Untungnya ia berhasil menemukan jawabannya.
"Bagus," kata guru.
Sari kembali ke bangkunya.
Namun rasa gelisah itu belum hilang.
Entah mengapa ia ingin segera pulang.
Ketika bel sekolah berbunyi, Sari berjalan cepat menuju rumah.
Di tengah jalan, ia bertemu Rahmat.
"Kamu buru-buru sekali."
"Aku ingin pulang."
"Ada apa?"
"Tidak tahu."
Rahmat mengernyit.
"Tidak tahu?"
Sari mengangguk.
"Aku hanya merasa ada sesuatu."
Rahmat tidak mengerti, tetapi ia memilih tidak bertanya lebih jauh.
Mereka berjalan bersama melewati jalan setapak yang mulai becek karena hujan semalam.
Saat mendekati desa, mereka melihat beberapa orang berkumpul di depan rumah warga.
Wajah-wajah mereka tampak serius.
Sari mulai merasa cemas.
Langkahnya semakin cepat.
Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya sedang duduk di teras.
Ekspresi Aminah tampak murung.
"Bu!"
Aminah menoleh.
"Kamu sudah pulang."
"Ayah di mana?"
"Masih di kebun."
Jawaban itu sedikit melegakan.
Namun wajah ibunya masih terlihat khawatir.
"Ada apa?"
Aminah menghela napas.
"Harga karet turun lagi."
Sari terdiam.
Harga karet memang menjadi sumber penghasilan utama keluarga mereka.
Jika harga turun, penghasilan mereka otomatis ikut berkurang.
"Turunnya banyak?"
Aminah mengangguk.
"Sangat banyak."
Sari menggigit bibirnya.
Ia masih terlalu muda untuk memahami ekonomi.
Tetapi ia mengerti satu hal.
Jika penghasilan ayahnya semakin kecil, kehidupan mereka akan semakin sulit.
Menjelang senja, Hasan akhirnya pulang.
Namun kali ini langkahnya tampak lebih berat.
Tubuhnya dipenuhi lumpur.
Wajahnya pucat.
Dan yang membuat Sari terkejut, ayahnya berjalan sambil sedikit terpincang.
"Ayah!"
Ia berlari menghampiri.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak apa-apa."
"Lagi-lagi tidak apa-apa."
Hasan tertawa kecil.
"Tadi terpeleset di kebun."
Aminah segera membantu suaminya masuk ke rumah.
Ketika celana kerja Hasan digulung, terlihat luka memar cukup besar di kakinya.
Sari menahan napas.
"Itu parah."
"Tidak."
"Parah."
Hasan hanya tersenyum.
Namun malam itu ia kembali terlihat kesakitan.
Meski berusaha menyembunyikannya, keluarga kecil itu dapat melihatnya dengan jelas.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan berat.
Harga karet terus merosot.
Penghasilan Hasan semakin sedikit.
Sementara kebutuhan hidup tidak pernah berhenti.
Beras mulai menipis.
Minyak goreng hampir habis.
Bahkan beberapa kali Aminah harus berutang di warung.
Sari melihat semua itu.
Ia melihat ibunya mulai mengurangi porsi makan.
Ia melihat ayahnya bekerja lebih keras.
Ia melihat adik-adiknya yang terkadang menangis karena lapar.
Semua itu membuat hatinya sakit.
Suatu malam, ketika semua orang sedang makan, Hasan tiba-tiba meletakkan sendoknya.
"Ayah sudah kenyang."
Padahal nasi di piringnya masih banyak.
Sari langsung tahu.
Ayahnya sengaja menyisakan makanan untuk anak-anaknya.
Hal yang sama sering dilakukan ibunya.
Mereka berdua selalu mendahulukan keluarga.
Malam itu, setelah adik-adiknya tertidur, Sari duduk di teras rumah.
Angin sungai bertiup pelan.
Langit dipenuhi bintang.
Ia memandangi permukaan Sungai Kapuas yang gelap.
Pikirannya penuh pertanyaan.
Mengapa hidup begitu sulit?
Mengapa ayah dan ibunya harus bekerja sekeras itu?
Mengapa ada orang yang hidup berkecukupan sementara keluarganya harus menghitung setiap butir beras?
Air mata perlahan mengalir di pipinya.
Namun ia segera menghapusnya.
Ia tidak ingin menangis.
Karena ia tahu menangis tidak akan mengubah apa pun.
Yang dibutuhkan keluarganya adalah harapan.
Dan ia ingin menjadi harapan itu.
Beberapa hari kemudian, sebuah kabar datang ke desa.
Sebuah perusahaan kayu sedang membuka lowongan pekerja harian.
Banyak pria desa tertarik, termasuk Hasan.
Upah yang ditawarkan jauh lebih besar dibanding hasil menyadap karet.
Namun pekerjaan itu juga jauh lebih berbahaya.
Saat makan malam, Hasan membicarakannya.
"Aku mungkin akan mencoba bekerja di sana."
Aminah langsung mengangkat kepala.
"Di perusahaan kayu?"
Hasan mengangguk.
"Itu berbahaya."
"Tapi penghasilannya lebih baik."
"Kalau terjadi sesuatu bagaimana?"
Hasan terdiam.
Sari ikut mendengarkan.
Ia bisa melihat kegelisahan di wajah ibunya.
Namun ia juga memahami alasan ayahnya.
Mereka membutuhkan uang.
Sangat membutuhkan.
"Aku akan hati-hati," kata Hasan akhirnya.
Aminah tidak menjawab.
Ia hanya menundukkan kepala.
Malam itu suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Keesokan harinya, Hasan berangkat lebih pagi.
Ia ingin mendaftarkan diri ke perusahaan kayu tersebut.
Sari berdiri di depan rumah memperhatikan ayahnya berjalan menjauh.
Untuk pertama kalinya, perasaan tidak nyaman kembali muncul.
Lebih kuat dari sebelumnya.
Seolah-olah ada sesuatu yang akan terjadi.
Sesuatu yang besar.
Sesuatu yang tidak bisa dihindari.
"Ayah!"
Hasan menoleh.
"Iya?"
"Hati-hati."
Hasan tersenyum hangat.
"Tentu."
Lalu ia melanjutkan langkahnya.
Sari terus memperhatikan sampai sosok ayahnya menghilang di balik tikungan jalan.
Ia tidak tahu mengapa dadanya terasa sesak.
Seolah hatinya sedang mencoba memperingatkan sesuatu.
Namun ia tidak mengerti apa.
Di kejauhan, awan hitam perlahan mulai berkumpul.
Angin bertiup semakin kencang.
Dan tanpa disadari siapa pun, roda takdir mulai bergerak menuju arah yang akan mengubah kehidupan keluarga Hasan selamanya.
Sebuah ujian besar sedang menanti.
Ujian yang akan memaksa Sari meninggalkan masa kecilnya lebih cepat daripada yang pernah ia bayangkan.
