Bab 4: Pintu Kecil Menuju Dunia yang Lebih Besar
Pagi di desa itu terasa lebih ramai dari biasanya, meskipun tidak ada yang benar-benar berubah di permukaannya. Ayam tetap berkokok, ibu-ibu tetap pergi ke sumur, dan suara motor tua tetap melintas di jalan tanah yang sama.
Tapi bagi Alya, sesuatu sudah bergeser.
Bukan di desa.
Tapi di dalam dirinya.
Ia berdiri di depan rumah, memegang secangkir air hangat yang dibuat ibunya. Matanya memandang jalan kecil di depan rumah yang selama ini ia lewati tanpa banyak pikiran.
Sekarang jalan itu terasa berbeda.
Seolah bukan lagi sekadar jalan pulang-pergi.
Tapi jalan yang mungkin akan membawanya ke tempat lain.
---
“Alya.”
Suara ibunya memanggil dari belakang.
“Ya, Bu?”
Ibunya berdiri di ambang pintu, menyeka tangan di celemek.
“Ada orang cari kamu.”
Alya mengernyit.
“Siapa?”
Ibunya mengangkat bahu kecil. “Katanya dari kecamatan.”
Kata itu langsung membuat jantung Alya sedikit berubah ritme.
Kecamatan.
Bukan tetangga.
Bukan teman desa.
Alya meletakkan gelasnya perlahan.
“Di mana mereka sekarang?”
“Di depan rumah.”
---
Di depan rumah kecil itu, sebuah motor berhenti.
Dua orang berdiri di sana.
Salah satunya mengenakan pakaian rapi, membawa map di tangan.
“Alya?” tanya orang itu.
“Iya,” jawab Alya pelan.
Orang itu tersenyum sopan.
“Kami dari panitia lomba desain tingkat kecamatan.”
Alya terdiam sejenak.
Panitia lomba.
Orang yang selama ini hanya ia dengar dari cerita.
“Dan kami dengar kamu sudah beberapa kali membantu membuat desain untuk acara sekolah.”
Alya mengangguk pelan.
Orang itu membuka mapnya.
“Kami ingin mengundang kamu untuk ikut lomba resmi bulan depan.”
Kalimat itu jatuh begitu saja di udara.
Tidak dramatis.
Tapi berat.
Sangat berat.
---
Alya tidak langsung menjawab.
Ibunya berdiri di belakangnya, tidak ikut campur, tapi jelas mendengar semuanya.
“Lomba?” ulang Alya pelan.
“Ya,” jawab orang itu. “Ini lomba desain pakaian tingkat kecamatan. Pemenangnya akan dikirim ke tingkat kabupaten.”
Kabupaten.
Kata itu terdengar lebih jauh dari apa pun yang pernah ia bayangkan.
“Peserta biasanya dari sekolah mode atau penjahit kota kecil,” lanjut orang itu. “Tapi kami juga membuka kesempatan untuk talenta dari desa.”
Alya menatap map itu lama.
Seolah di dalamnya ada sesuatu yang tidak terlihat.
“Kenapa saya?” tanyanya akhirnya.
Orang itu tersenyum kecil.
“Kami mendengar tentang karya kamu dari acara sekolah.”
Hening.
“Desain yang dipakai salah satu peserta menarik perhatian juri kecil kami.”
Alya menelan ludah.
Gadis itu.
---
Setelah orang itu pergi, Alya masih berdiri di tempat yang sama.
Ibunya masuk kembali ke rumah.
Alya tidak langsung mengikuti.
Ia menatap jalan yang dilalui motor itu hingga hilang di tikungan.
Lalu duduk pelan di bangku kayu depan rumah.
---
“Alya.”
Ibunya duduk di sebelahnya.
“Kamu mau ikut?” tanya ibunya langsung.
Alya diam lama.
“Aku tidak tahu, Bu.”
Ibunya mengangguk.
“Kamu takut?”
Alya menghela napas.
“Bukan takut… tapi ini terasa terlalu besar.”
Ibunya tersenyum kecil.
“Dulu mesin jahit itu juga terasa terlalu besar untuk kamu.”
Alya menoleh.
Ibunya melanjutkan, “Tapi kamu tetap duduk di depannya setiap malam.”
---
Hari itu, Alya tidak menjahit.
Ia tidak menggambar.
Ia hanya duduk.
Merenung.
Untuk pertama kalinya, ia tidak sedang menciptakan sesuatu.
Tapi sedang memilih.
---
Malamnya, Rani datang lagi.
Kali ini tanpa senyum seperti dulu.
“Aku dengar kamu diundang lomba,” katanya langsung.
Alya mengangguk pelan.
Rani duduk tanpa diminta.
“Jadi benar.”
Alya tidak menjawab.
Rani menatapnya lama.
“Kamu akan pergi dari desa ini ya?”
Alya terdiam.
“Aku belum memutuskan.”
Rani tertawa kecil, tapi pahit.
“Semua orang yang mulai ‘terlihat’, akhirnya pergi.”
Alya menatapnya.
“Aku belum pergi.”
“Belum,” Rani menekankan. “Tapi akan.”
Hening.
Rani melanjutkan, “Kamu sadar nggak, Al… sejak kamu mulai dengan mesin itu, kamu sudah tidak benar-benar di sini lagi.”
Alya menunduk.
“Aku masih di sini.”
“Tapi pikiranmu tidak.”
Kalimat itu seperti benang yang menarik sesuatu di dalam dada Alya.
---
Setelah Rani pergi, Alya tidak langsung masuk rumah.
Ia berjalan ke belakang, ke arah bukit kecil di pinggir desa.
Tempat itu sepi.
Hanya suara angin dan daun.
Ia duduk di rumput.
Menatap desa dari atas.
Rumah-rumah kecil.
Sawah.
Jalan tanah.
Semua terlihat sederhana.
Terlalu sederhana untuk mimpi yang mulai tumbuh di dalam dirinya.
“Aku mulai dari sini…” gumamnya pelan.
Ia menatap tangannya.
“Dan sekarang… aku ditarik ke tempat yang belum pernah aku lihat.”
---
Malam semakin turun.
Alya masih di bukit itu.
Ibunya datang menyusul, membawa selimut kecil.
“Kamu di sini dari tadi?” tanya ibunya.
Alya mengangguk.
Ibunya duduk di sampingnya.
“Kamu sudah jawab undangan itu?”
Alya menggeleng.
Ibunya menatap desa di bawah mereka.
“Kalau kamu pergi… kamu tidak akan sama lagi.”
Alya menoleh.
“Aku takut itu, Bu.”
Ibunya tersenyum kecil.
“Semua orang takut berubah.”
Alya diam.
“Tapi kamu juga tidak bisa terus tinggal di tempat yang sama hanya karena takut berubah.”
---
Hari-hari berikutnya menjadi berat.
Alya mulai lebih sering diam.
Mesin jahitnya tidak lagi seaktif dulu.
Ia memegang kain, tapi sering berhenti sebelum menjahit.
Setiap keputusan terasa seperti langkah besar.
Desa atau kota kecil di kecamatan.
Aman atau tidak dikenal.
Tetap Alya lama atau Alya yang baru.
---
Suatu sore, gadis sekolah itu datang lagi.
Kali ini wajahnya tidak ceria seperti sebelumnya.
“Alya…” katanya pelan.
“Ada apa?”
“Aku dengar kamu diundang lomba besar.”
Alya mengangguk.
Gadis itu menunduk.
“Kalau kamu pergi… kamu masih ingat aku?”
Alya terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi berat.
“Kenapa kamu tanya begitu?”
Gadis itu tersenyum kecil.
“Karena semua orang yang berhasil… biasanya lupa dari mana mereka mulai.”
Alya merasa dadanya sesak sesaat.
“Tapi aku belum berhasil,” katanya pelan.
Gadis itu menatapnya.
“Tapi kamu sudah mulai terlihat.”
---
Malam itu, Alya duduk di depan mesin jahitnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menyalakan mesin itu.
Ia hanya menatapnya.
Lama.
Hening.
“Aku harus memilih…” bisiknya.
Di luar, angin malam bergerak pelan.
Seolah menunggu keputusan seseorang yang sedang berdiri di antara dua dunia.
Dan di dalam kamar kecil itu, Alya akhirnya mengerti satu hal:
ini bukan lagi tentang bisa atau tidak.
Tapi tentang berani melangkah… meskipun tidak tahu apa yang menunggu di depan.
