Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3: Jejak Benang yang Mulai Terlihat

Pagi itu, langit desa tidak terlalu cerah, tapi juga tidak gelap. Awan menggantung tipis seperti kain tipis yang belum selesai dijahit di atas bumi. Suara kehidupan desa mulai terdengar pelan—langkah orang menuju ladang, suara air dari sumur, dan ayam yang berlarian mencari makan.

Di dalam rumah kecil itu, Alya sudah bangun lebih awal dari biasanya.

Namun kali ini ia tidak langsung duduk di mesin jahit.

Ia berdiri di depan cermin kecil yang retak di sudut kamar.

Menatap dirinya lama.

Ada lingkaran gelap di bawah matanya.

Tangannya masih ada bekas tusukan jarum.

Rambutnya sedikit berantakan.

“Apa aku terlalu jauh?” gumamnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Hanya dirinya sendiri di dalam cermin yang membalas tatapan itu.

---

Di meja kayu, gaun itu masih tergantung setengah jadi.

Gaun yang sama yang dipakai gadis sekolah itu kemarin.

Alya mendekat, menyentuh kainnya perlahan.

Kali ini bukan hanya kain.

Tapi sesuatu yang mulai punya cerita.

Ia mengingat senyum gadis itu.

Sederhana.

Tapi jujur.

Dan untuk pertama kalinya, Alya merasa bukan hanya ia yang memberi sesuatu pada dunia.

Tapi dunia juga memberi sedikit ruang untuknya.

---

“Alya!”

Suara ibunya dari dapur memecah lamunannya.

“Ambil air dulu!”

“Iya, Bu,” jawab Alya.

Ia keluar rumah, mengambil air dari sumur di samping.

Saat menarik ember, ia melihat beberapa tetangga lewat.

Biasanya mereka hanya lewat begitu saja.

Tapi hari ini sedikit berbeda.

Salah satu ibu berhenti.

“Ini anaknya Bu Sari kan?” katanya kepada orang lain.

Alya mendengar itu.

Ia tetap fokus menarik air.

“Ternyata dia yang bikin baju untuk anak sekolah kemarin ya.”

Suara itu tidak keras.

Tapi cukup jelas untuk didengar.

Alya tidak menoleh.

Tapi tangannya sedikit berhenti satu detik.

---

Setelah kembali ke rumah, Alya duduk di depan mesin jahitnya.

Hari ini ia tidak langsung menjahit.

Ia membuka beberapa kain bekas.

Mengelompokkan.

Mengamati.

Dan mulai membuat sketsa kecil di kertas bekas.

Ibunya memperhatikan dari dapur.

“Sekarang kamu mulai gambar juga?” tanya ibunya.

Alya mengangguk.

“Kalau mau buat sesuatu yang lebih baik, aku harus mulai merencanakan, Bu.”

Ibunya diam sejenak.

“Kamu belajar dari siapa?”

Alya tersenyum kecil.

“Dari melihat.”

Ibunya menggeleng pelan.

“Kamu ini aneh ya… belajar tanpa guru.”

Alya tertawa kecil.

“Mungkin memang tidak semua orang punya guru, Bu.”

---

Hari itu, Alya tidak menjahit sampai malam.

Ia hanya merancang.

Menggambar.

Membayangkan.

Dan untuk pertama kalinya, mesin jahit itu tidak menjadi pusat segalanya.

Tapi alat yang menunggu perintah.

---

Beberapa hari kemudian, kabar mulai menyebar lagi di desa.

Bukan kabar besar.

Tapi cukup untuk membuat orang mulai memperhatikan Alya sedikit lebih lama.

“Katanya baju buatannya dipakai di acara sekolah lagi.”

“Anak itu makin serius ya…”

“Entah jadi apa nanti dia.”

Alya mendengar semuanya dari jauh.

Kadang dari pasar.

Kadang dari jalan.

Kadang dari percakapan yang tidak sengaja ia lewati.

Tapi kali ini, ia tidak lagi merasa kecil seperti sebelumnya.

Bukan karena ia lebih kuat.

Tapi karena ia mulai mengerti satu hal:

orang tidak harus langsung mengerti sesuatu untuk mulai memperhatikannya.

---

Suatu sore, gadis sekolah itu datang lagi.

Kali ini dengan wajah sedikit gugup.

“Alya…” katanya pelan.

“Ada apa?” tanya Alya.

Gadis itu memegang ujung seragamnya sendiri.

“Aku mau minta tolong lagi.”

Alya mengangguk.

“Acara sekolah berikutnya lebih besar.”

Ia berhenti sebentar.

“Aku ingin pakai sesuatu yang… lebih beda lagi.”

Alya terdiam.

Lebih beda.

Kata itu seperti pintu yang sedikit terbuka lebih jauh.

“Kalau aku buat, mungkin tidak langsung selesai cepat,” kata Alya jujur.

Gadis itu mengangguk cepat.

“Aku tidak masalah.”

Alya menatapnya lama.

Lalu tersenyum kecil.

“Kalau begitu, aku akan coba.”

---

Malam itu, Alya mulai bekerja lebih serius.

Bukan hanya menjahit.

Tapi benar-benar menciptakan.

Ia memotong kain dengan lebih hati-hati.

Menggabungkan warna yang sebelumnya tidak pernah ia coba.

Membongkar jahitan lama yang menurutnya tidak cukup baik.

Mesin jahit kembali berbunyi lebih lama dari biasanya.

Tek… tek… tek…

Namun kali ini, suara itu tidak terasa seperti beban.

Tapi seperti irama.

---

Di tengah malam, ibunya masuk ke kamar.

Alya masih bekerja.

“Belum tidur?” tanya ibunya.

“Aku hampir selesai bagian ini.”

Ibunya melihat kain di meja.

Kali ini berbeda.

Lebih rapi.

Lebih berani.

Lebih “hidup”.

“Ini untuk siapa?” tanya ibunya.

“Untuk gadis itu lagi,” jawab Alya.

Ibunya mengangguk pelan.

Lalu duduk di kursi dekat pintu.

“Alya…”

“Apa, Bu?”

“Kalau nanti orang mulai benar-benar melihat kamu… kamu siap?”

Alya berhenti menjahit.

Pertanyaan itu tidak ringan.

Bukan tentang bisa atau tidak.

Tapi tentang apa yang terjadi setelahnya.

“Aku tidak tahu,” jawab Alya jujur.

Ibunya mengangguk.

“Tidak apa-apa tidak tahu.”

Lalu menambahkan pelan,

“Yang penting kamu tidak berhenti hanya karena takut.”

---

Hari pengambilan pakaian datang.

Gadis sekolah itu datang dengan mata berbinar.

Ketika mencoba pakaian itu, ia terdiam lama di depan cermin kecil di rumah Alya.

“Aku terlihat berbeda…” katanya pelan.

Alya berdiri di belakangnya.

“Bagaimana rasanya?” tanya Alya.

Gadis itu tersenyum.

“Seperti… aku bukan orang biasa lagi.”

Kalimat itu membuat Alya diam.

Bukan karena sombong.

Tapi karena ia menyadari sesuatu.

Pakaiannya bukan hanya kain.

Tapi cara seseorang melihat dirinya sendiri.

---

Sore itu, gadis itu pergi ke acara sekolah.

Alya tidak ikut.

Ia hanya duduk di depan rumah.

Menunggu.

Bukan hasil.

Tapi cerita.

---

Malamnya, gadis itu kembali.

Napaknya cepat.

Wajahnya penuh emosi.

“Alya!” katanya dari jauh.

Alya langsung berdiri.

“Bagaimana?”

Gadis itu berhenti di depannya.

Lalu tersenyum lebar.

“Semua orang lihat aku.”

Hening.

“Aku dipanggil ke depan panggung.”

Hening lagi.

“Dan semua orang tanya… siapa yang buat bajuku.”

Alya terdiam.

Tangannya sedikit gemetar.

Bukan karena takut.

Tapi karena sesuatu yang selama ini ia tidak pernah benar-benar rasakan sedang terjadi.

“Dan aku bilang…” lanjut gadis itu, “…Alya dari desa.”

---

Malam itu, Alya duduk lebih lama di depan mesin jahitnya.

Tidak menjahit.

Hanya duduk.

Menatap mesin itu.

Menatap kain di meja.

Menatap hidupnya sendiri.

“Aku mulai terlihat…” bisiknya pelan.

Di luar, angin malam bertiup lembut.

Dan untuk pertama kalinya, desa kecil itu tidak hanya menjadi tempat Alya bermimpi.

Tapi tempat di mana mimpinya mulai menyentuh dunia lain.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel