Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5: Retakan di Antara Mimpi dan Desa

Pagi itu Alya tidak langsung bangun seperti biasanya.

Ia terbaring di kasurnya, menatap langit-langit kayu yang sudah mulai retak di beberapa bagian. Setiap retakan itu sudah ia hafal bentuknya, seperti hafal garis di telapak tangannya sendiri.

Biasanya, pikirannya sudah penuh sebelum matahari benar-benar naik.

Tentang kain.

Tentang jahitan.

Tentang ide baru yang harus ia kejar.

Tapi pagi ini berbeda.

Yang ada hanya satu hal yang terus berulang di kepalanya.

Undangan itu.

Lomba desain tingkat kecamatan.

Dan kemungkinan untuk pergi lebih jauh dari desa.

Ia menarik napas pelan, lalu bangkit duduk.

Di sudut kamar, mesin jahit tua itu masih diam seperti biasa. Tidak bersuara, tapi terasa seperti sedang menunggu.

Menunggu keputusan.

---

“Alya!”

Suara ibunya dari dapur terdengar lebih keras dari biasanya.

“Bangun. Sudah siang.”

Alya berdiri dan keluar kamar.

Di dapur, ibunya sedang menata piring.

Tidak ada percakapan pagi yang ringan seperti dulu.

Tidak ada pembicaraan kecil tentang cuaca atau pekerjaan.

Yang ada hanya keheningan yang tertahan.

Alya duduk.

Ibunya menuangkan teh ke gelas.

“Kamu belum jawab undangan itu?” tanya ibunya akhirnya.

Alya menggeleng pelan.

Ibunya tidak langsung menanggapi.

Ia duduk di seberang Alya.

“Kamu tahu, kalau kamu pergi, itu bukan perjalanan sebentar,” katanya pelan.

Alya menatap gelasnya.

“Aku tahu, Bu.”

“Dan kalau kamu pergi…” lanjut ibunya, “kamu akan berubah.”

Alya menoleh.

“Semua orang berubah,” jawabnya pelan.

Ibunya tersenyum kecil, tapi tidak sepenuhnya hangat.

“Tidak semua orang berubah dengan cara yang sama.”

---

Setelah sarapan, Alya keluar rumah.

Langkahnya tidak seperti biasanya.

Tidak langsung menuju mesin jahit.

Tidak langsung mencari kain.

Ia berjalan tanpa tujuan jelas.

Sampai akhirnya kakinya membawanya ke pasar desa.

---

Pasar masih sama seperti dulu.

Ramai.

Penuh suara.

Penuh bau campuran sayur, ikan, dan makanan panas.

Tapi Alya merasakan sesuatu yang berbeda.

Orang-orang mulai melihatnya lebih lama dari biasanya.

Bukan sekadar lewat.

Bukan sekadar pandangan cepat.

Tapi tatapan yang mengandung sesuatu.

“Dia itu kan yang dari lomba…”

“Alya ya?”

“Yang bikin baju acara sekolah itu…”

Alya mendengar potongan-potongan itu tanpa benar-benar berhenti.

Ia berjalan pelan.

Seolah sedang melihat dirinya sendiri dari luar.

---

Di salah satu sudut pasar, ia berhenti.

Tempat di mana dulu ia pernah berdiri dengan gaun pertamanya.

Tempat di mana orang pertama kali menertawakannya.

Ia menatap kosong ke arah lapak itu.

Dulu ia merasa kecil di sini.

Sekarang ia tidak tahu harus merasa apa.

---

“Alya?”

Suara itu membuatnya menoleh.

Gadis sekolah itu berdiri tidak jauh darinya.

Gadis yang pertama kali memakai hasil karyanya.

“Aku dengar kamu diundang lomba besar,” katanya.

Alya mengangguk.

Gadis itu tersenyum kecil.

“Ternyata benar…”

Alya memperhatikan wajahnya.

Ada sesuatu yang berbeda.

Bukan hanya senang.

Tapi juga cemas.

“Kenapa kamu ke sini?” tanya Alya.

Gadis itu ragu sejenak.

“Aku cuma ingin bilang… terima kasih.”

Alya mengernyit.

“Terima kasih?”

Gadis itu mengangguk.

“Kalau bukan karena baju itu… aku mungkin tidak akan berani naik ke panggung waktu itu.”

Alya terdiam.

Gadis itu melanjutkan, “Aku merasa… aku bukan orang penting. Tapi waktu pakai bajumu… aku merasa dilihat.”

Kalimat itu masuk ke dalam hati Alya lebih dalam dari yang ia kira.

---

“Alya.”

Suara lain menyusul.

Kali ini Rani.

Ia berdiri di belakang mereka.

Alya langsung merasakan suasana berubah.

Rani melihat gadis itu sebentar, lalu kembali ke Alya.

“Jadi kamu benar-benar akan ikut lomba itu?” tanya Rani.

Alya mengangguk pelan.

Rani menghela napas.

“Kamu tahu ini akan mengubah segalanya kan?”

Alya tidak langsung menjawab.

“Semua orang bilang begitu,” katanya akhirnya.

Rani tertawa kecil.

“Karena itu benar.”

---

Mereka bertiga berdiri dalam keheningan singkat.

Gadis sekolah itu perlahan mundur, merasa tidak nyaman dengan suasana.

“Aku pergi dulu ya…” katanya pelan.

Alya mengangguk.

Gadis itu pergi, meninggalkan dua orang yang dulu pernah dekat, tapi kini terasa seperti berada di dua dunia berbeda.

---

Rani menatap Alya lama.

“Kamu masih Alya yang dulu?” tanyanya tiba-tiba.

Alya mengernyit.

“Kenapa kamu tanya begitu?”

“Karena Alya yang dulu tidak pernah berpikir untuk pergi dari desa ini.”

Alya diam.

Rani melanjutkan, “Sekarang kamu sudah punya pilihan yang tidak semua orang di sini punya.”

“Aku tidak merasa punya apa-apa,” jawab Alya pelan.

Rani tersenyum miris.

“Itu masalahnya. Kamu tidak sadar kamu sudah berubah.”

---

Sore hari, Alya kembali ke rumah.

Langit mulai berubah warna.

Oranye lembut menyebar di atas desa.

Ia duduk di depan rumah, menatap jalan tanah yang mulai sepi.

Ibunya duduk di sebelahnya.

“Kamu bertemu Rani?” tanya ibunya.

Alya mengangguk.

Ibunya tidak bertanya lebih jauh.

Hanya diam.

---

“Aku takut, Bu,” kata Alya tiba-tiba.

Ibunya menoleh.

“Takut apa?”

“Aku takut kalau aku pergi… aku tidak bisa kembali seperti dulu.”

Ibunya mengangguk pelan.

“Dan kamu ingin kembali seperti dulu?”

Alya terdiam lama.

Jawaban itu tidak mudah.

Karena dalam dirinya, sudah ada bagian yang tidak ingin kembali.

Tapi juga ada bagian yang masih takut kehilangan rumahnya.

---

Malamnya, Alya duduk di depan mesin jahit.

Tapi kali ini tidak langsung menyentuhnya.

Ia hanya duduk.

Menatapnya.

Seolah mesin itu bukan lagi sekadar alat.

Tapi simbol dari semua pilihan yang sedang ia hadapi.

Ia berdiri perlahan.

Membuka lemari kecil.

Mengeluarkan kain yang belum pernah ia gunakan.

Kain yang ia simpan untuk sesuatu yang “besar”.

Ia meletakkannya di meja.

Lalu duduk kembali.

---

“Kalau aku tidak pergi…” gumamnya pelan, “aku akan terus bertanya-tanya.”

Ia berhenti.

“Kalau aku pergi… aku mungkin akan kehilangan banyak hal.”

Hening.

Di luar, suara jangkrik mulai terdengar.

Angin malam masuk lewat celah jendela.

Alya menutup mata sebentar.

Lalu membuka kembali.

Tangannya perlahan menyentuh mesin jahit.

Dan kali ini, ia menyalakannya.

Tek… tek… tek…

Suara itu kembali memenuhi kamar.

Tapi sekarang, bukan lagi sekadar suara kerja.

Melainkan suara seseorang yang akhirnya mulai mendekati keputusan besar dalam hidupnya.

Dan di antara tiap jahitan yang mulai terbentuk malam itu, Alya sadar:

tidak ada pilihan yang benar-benar mudah—

hanya pilihan yang berani diambil, atau ditinggalkan selamanya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel