Pustaka
Bahasa Indonesia

Gadis Desa Jadi Ratu Fashion

153.0K · Tamat
Gioni
113
Bab
8
View
9.0
Rating

Ringkasan

Alya, seorang gadis sederhana dari desa, memiliki mimpi besar menjadi desainer fashion terkenal. Berbekal mesin jahit tua peninggalan ibunya, ia memberanikan diri meninggalkan kampung halaman untuk mengejar cita-cita di kota besar. Perjalanan Alya tidak mudah. Ia harus menghadapi kemiskinan, penolakan, persaingan sengit, dan keraguan terhadap kemampuannya. Bersama Dimas dan Rina, ia membangun koleksi fashion pertamanya dari nol hingga berhasil memukau dunia mode nasional. Kesuksesan itu mempertemukannya dengan Elena Moreau, seorang tokoh berpengaruh di dunia fashion internasional, yang membuka pintu menuju panggung dunia. Namun, jalan menuju puncak masih panjang. Alya harus menghadapi rival-rival baru, pengkhianatan, intrik bisnis, dan ujian yang mengancam menghancurkan mimpinya. Mampukah seorang gadis desa mempertahankan jati dirinya di tengah gemerlap dunia fashion dan akhirnya menjadi Ratu Fashion yang menginspirasi jutaan orang? Sebuah kisah tentang mimpi, kerja keras, persahabatan, cinta, dan keberanian mengubah takdir dengan jarum dan benang.

RomansaMetropolitanDewasaSweetMenyedihkanBaperKehidupan SosialCogan

Bab 1: Benang dari Rumah Kayu

Kabut pagi masih menggantung di atas desa kecil itu ketika suara ayam jantan bersahut-sahutan dari kejauhan. Udara dingin menyelinap masuk melalui celah dinding rumah kayu yang sudah mulai tua, membuat siapa pun yang berada di dalamnya enggan untuk bangun terlalu cepat.

Tapi Alya sudah terjaga.

Ia duduk di tepi ranjangnya yang sederhana, menatap kedua tangannya yang sedikit kasar. Tangannya bukan tangan yang halus seperti yang sering ia lihat di majalah atau video yang diam-diam ia tonton di ponsel bekas miliknya. Tangannya adalah tangan pekerja—tangan yang terbiasa dengan kain, benang, dan luka kecil dari jarum yang sering tak sengaja menusuk.

Di sudut kamar kecil itu, sebuah mesin jahit tua berdiri diam.

Mesin itu bukan sekadar alat.

Itu warisan.

Warisan dari ayahnya yang sudah lama tiada.

Alya tidak pernah benar-benar melihat ayahnya menjadi penjahit besar. Yang ia ingat hanya suara mesin jahit yang sama—derit pelan, ritmis, seperti detak jantung kedua di dalam rumah ini. Setelah ayahnya pergi, mesin itu sempat lama tidak disentuh. Sampai akhirnya Alya yang kembali menghidupkannya.

Dengan tangannya sendiri.

Dengan tekad yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti dari mana asalnya.

“Alya!”

Suara ibunya memecah kesunyian dari dapur kecil di luar kamar.

“Bangun. Air sudah panas!”

Alya menghela napas pelan. Ia bangkit, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu berjalan keluar.

Rumah itu kecil. Sangat kecil bahkan untuk standar desa mereka. Dinding kayu yang mulai pudar warnanya, lantai yang kadang berderit saat diinjak, dan dapur sederhana yang selalu dipenuhi aroma kopi hitam dan nasi hangat setiap pagi.

Ibunya sedang menyiapkan sarapan sederhana: nasi, sambal, dan telur dadar tipis.

“Tidurmu larut lagi?” tanya ibunya tanpa menoleh.

Alya tidak langsung menjawab. Ia duduk di bangku kayu.

“Sedikit, Bu.”

Ibunya menghela napas. “Kamu terlalu sering duduk di mesin itu.”

Alya menatap meja.

“Kalau aku tidak duduk di situ, Bu… aku tidak tahu harus jadi apa.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Ibunya berhenti sejenak, lalu melanjutkan aktivitasnya seperti tidak mendengar sepenuhnya.

“Jadilah orang yang cukup makan,” jawabnya pelan. “Itu saja sudah cukup di dunia ini.”

Alya tersenyum kecil, tapi bukan senyum bahagia.

Lebih seperti senyum yang sudah terlalu sering dipakai untuk menutupi sesuatu.

Di luar rumah, suara kehidupan desa mulai terdengar: orang-orang pergi ke ladang, suara motor tua melintas, dan percakapan ringan para tetangga yang terdengar dari kejauhan.

Tapi di dalam kepala Alya, ada suara lain.

Suara yang tidak dimiliki orang lain di desa itu.

Suara tentang gaun.

Tentang panggung.

Tentang sesuatu yang lebih besar dari jalan tanah dan sawah yang membentang di belakang rumahnya.

---

Setelah sarapan, Alya kembali ke kamarnya.

Mesin jahit tua itu masih di tempatnya.

Ia duduk di depannya, menyentuh permukaannya yang dingin.

“Masih hidup ya…” gumamnya pelan.

Ia mulai menginjak pedal.

Seketika, suara itu muncul lagi.

Tek… tek… tek…

Suara yang sudah ia hafal sejak kecil.

Ia menarik kain bekas dari tumpukan kecil di sampingnya. Tidak ada kain mahal di sini. Tidak ada bahan mewah. Hanya sisa-sisa kain dari orang-orang desa yang kadang ia kumpulkan.

Bagi orang lain, itu sampah.

Bagi Alya, itu kemungkinan.

Ia mulai menjahit.

Pelan.

Hati-hati.

Namun tangannya masih sering berhenti.

Bukan karena tidak bisa.

Tapi karena terlalu banyak pikiran yang mengganggu.

“Kalau aku salah, bagaimana?”

“Kalau ini tidak jadi apa-apa?”

“Kalau orang tetap menganggap aku hanya anak desa biasa?”

Jarum mesin itu terus naik turun, tapi pikirannya tidak selalu ikut bergerak.

---

Siang itu, Alya pergi ke pasar desa.

Pasar selalu menjadi tempat di mana semua orang bertemu tanpa peduli siapa mereka.

Petani, pedagang, ibu rumah tangga, anak-anak sekolah—semuanya bercampur dalam suara tawar-menawar dan aroma campuran sayur, ikan, dan makanan panas.

Alya membawa beberapa hasil jahitannya.

Tidak banyak.

Hanya beberapa potong pakaian sederhana yang ia buat dari kain bekas.

Ia berhenti di sudut kosong dekat lapak sayur.

Menggantung satu karyanya.

Lalu menunggu.

Orang pertama lewat.

Melihat sekilas.

Tidak berhenti.

Orang kedua lewat.

Mengernyit sedikit, lalu pergi.

Orang ketiga tertawa kecil.

“Ini baju siapa yang aneh begini?”

Alya diam.

Tangannya menggenggam ujung kain tasnya.

Seorang ibu mendekat.

“Ini jualan?” tanyanya.

“Iya, Bu,” jawab Alya cepat.

Ibu itu mengamati dari atas ke bawah.

“Untuk dipakai ke mana ini?”

Alya ragu sejenak. “Bisa dipakai ke acara… atau sekolah.”

Ibu itu tertawa kecil.

“Di sini orang pakai baju buat ke sawah, Nak. Bukan buat gaya-gayaan.”

Kalimat itu tidak dimaksudkan untuk menyakitkan.

Tapi tetap saja, ada sesuatu yang jatuh di dalam dada Alya.

Ibu itu pergi.

Dan Alya tetap berdiri di tempat yang sama.

---

Sore mulai turun ketika pasar mulai sepi.

Hampir semua orang sudah pulang.

Alya masih di sana.

Menatap satu karyanya yang tidak terjual.

Tangannya perlahan merapikan kain itu kembali.

Seolah ingin memastikan tidak ada yang salah.

Tapi justru itu yang membuatnya sadar.

Bukan kainnya yang salah.

Bukan jahitannya yang buruk.

Tapi dunia di sekitarnya yang belum melihatnya.

---

Saat ia hendak pulang, seseorang mendekat.

Seorang gadis sekolah.

Seragamnya sedikit lusuh, tasnya sederhana.

“Ini buatan kamu?” tanyanya.

Alya mengangguk.

Gadis itu menyentuh kainnya pelan.

“Halus…”

Alya diam, menunggu.

Gadis itu menatapnya lama.

“Kalau aku pakai ini ke acara sekolah… boleh?”

Pertanyaan itu membuat Alya terdiam.

Untuk pertama kalinya hari itu, seseorang tidak menolak.

Tidak menertawakan.

Tidak meremehkan.

“Aku tidak punya uang banyak,” lanjut gadis itu pelan.

Alya tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa. Aku bisa sesuaikan ukurannya.”

Gadis itu tersenyum balik.

Dan untuk pertama kalinya hari itu…

karya Alya tidak lagi terasa sia-sia.

---

Malamnya, Alya duduk di dekat jendela.

Angin masuk pelan.

Mesin jahitnya diam.

Tapi pikirannya tidak.

Ia memikirkan gadis tadi.

Ia memikirkan pasar.

Ia memikirkan kata-kata orang-orang.

“Untuk apa ini?”

“Tidak cocok di sini.”

“Aneh.”

Namun ada satu hal yang lebih kuat dari semua itu.

Senyum kecil gadis sekolah tadi.

Alya menoleh ke mesin jahitnya.

“Kalau dunia belum mau melihat aku…” bisiknya pelan, “aku akan buat mereka terpaksa melihat.”

Ia berdiri.

Menyalakan mesin jahit itu lagi.

Dan malam di desa kecil itu kembali diisi oleh suara:

tek… tek… tek…

Seperti awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.