Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2: Jarum yang Menolak Diam

Malam di desa tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada suara jangkrik yang bersahutan, angin yang menyapu dedaunan, dan sesekali suara anjing menggonggong dari kejauhan. Tapi di dalam kamar kecil Alya, ada satu suara yang lebih mendominasi dari semuanya.

Suara mesin jahit tua itu.

Tek… tek… tek…

Suara itu tidak hanya mengisi ruangan. Ia seperti mengisi kepala Alya, mengisi dadanya, bahkan mengisi setiap ruang kosong dalam pikirannya.

Kain bekas di tangannya sudah mulai berubah bentuk. Jahitan demi jahitan membentuk sesuatu yang mulai menyerupai pakaian sungguhan. Tidak sempurna. Bahkan jauh dari kata rapi jika dibandingkan dengan pakaian di toko kota yang pernah ia lihat dari layar ponsel.

Tapi ada sesuatu di dalamnya.

Sesuatu yang hidup.

Alya berhenti sejenak, menatap hasil jahitannya.

“Kenapa selalu miring di sini…” gumamnya pelan.

Ia menarik napas, lalu membuka kembali jahitannya. Jarum kecil dilepas, kain dibuka, lalu dijahit ulang dengan lebih hati-hati.

Tangannya mulai terasa sakit.

Jari-jarinya penuh bekas tusukan kecil dari jarum.

Tapi ia tidak berhenti.

---

Di luar kamar, ibunya masih terjaga.

Suara mesin jahit yang tidak berhenti sudah menjadi hal biasa di rumah itu. Tapi malam ini, ada sesuatu yang berbeda.

Ibunya berdiri di depan pintu kamar Alya, tidak masuk.

Hanya diam.

Mendengarkan.

Suara itu terdengar lebih cepat dari biasanya.

Lebih terburu-buru.

Seolah orang di balik mesin itu sedang mengejar sesuatu yang tidak terlihat.

Ibunya menghela napas pelan.

“Alya…” gumamnya pelan, tapi tidak jadi mengetuk pintu.

Ia berbalik dan kembali ke dapur.

---

Pagi datang lebih cepat dari yang diharapkan.

Alya tertidur di meja mesin jahitnya. Kepalanya bersandar pada lengan, kain masih ada di tangannya. Mesin jahit sudah berhenti, tapi jarum masih berada di posisi terakhir, seperti waktu yang ikut terhenti bersamanya.

“Bangun.”

Suara ibunya.

Alya membuka mata perlahan.

“Sudah pagi?”

“Sudah hampir siang,” jawab ibunya sambil meletakkan segelas air.

Alya mengusap wajahnya.

“Aku ketiduran…”

Ibunya tidak langsung menjawab. Ia melihat kain di meja.

“Masih belum selesai?”

Alya menggeleng kecil. “Hampir.”

Ibunya duduk di kursi kecil dekat pintu.

“Alya,” katanya pelan, “kamu tidak bisa terus begini.”

Alya berhenti bergerak.

“Begini bagaimana, Bu?”

“Tidak tidur, tidak makan cukup, hanya duduk di mesin itu setiap malam.”

Alya menunduk.

“Tapi kalau aku berhenti…”

Ibunya memotong pelan, “Dunia tidak akan berhenti hanya karena kamu lelah.”

Kalimat itu terasa dingin, tapi nyata.

Alya tidak menjawab.

---

Siang itu, Alya pergi ke rumah Rani.

Rani adalah teman masa kecilnya. Mereka dulu sering bermain di sawah, berlari tanpa tujuan, dan tertawa tanpa beban. Tapi sekarang, jarak di antara mereka terasa lebih jauh, meski rumah mereka masih di desa yang sama.

Rani sedang duduk di depan rumahnya, memotong sayuran.

“Alya?” katanya ketika melihatnya datang. “Jarang kamu ke sini.”

Alya tersenyum kecil. “Aku sibuk akhir-akhir ini.”

Rani mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya.

“Dengan mesin jahitmu itu?”

“Iya.”

Rani berhenti sejenak.

“Kamu masih serius dengan itu?”

Alya mengangguk.

Rani tersenyum tipis, tapi bukan senyum hangat.

“Aku kira itu cuma hobi.”

Alya diam.

“Hobi yang kamu lakukan sampai tidak tidur?”

Alya tidak menjawab.

Rani melanjutkan, “Orang-orang di sini bilang kamu aneh sekarang.”

Kata itu langsung mengenai Alya, tapi ia berusaha tetap tenang.

“Aneh bagaimana?”

“Ya… kamu tidak seperti kita lagi. Kamu sibuk dengan sesuatu yang orang desa tidak peduli.”

Alya menarik napas.

“Aku tidak berubah, Ran.”

Rani menatapnya.

“Justru itu masalahnya,” jawabnya pelan. “Kamu tidak lagi seperti kita, tapi juga belum jadi siapa-siapa di luar sana.”

Kalimat itu membuat udara di antara mereka menjadi berat.

Alya berdiri.

“Aku cuma ingin membuat sesuatu.”

Rani menggeleng.

“Di sini, orang tidak butuh ‘sesuatu’. Mereka butuh hidup yang cukup.”

Alya menatapnya lama.

Lalu berkata pelan, “Kalau semua orang hanya mengejar cukup… siapa yang akan membuat sesuatu yang lebih?”

Rani tidak menjawab.

Alya berbalik dan pergi.

---

Sore itu, Alya duduk di tepi sungai kecil di belakang desa.

Air mengalir pelan, membawa daun-daun kering yang jatuh dari pohon di sekitarnya.

Ia memandang tangannya sendiri.

Bekas jarum.

Luka kecil.

Capek yang tidak terlihat.

“Aku aneh ya…” gumamnya pelan.

Ia tertawa kecil, tapi tidak ada bahagia di dalamnya.

“Kalau aku berhenti sekarang… apa aku akan lebih normal?”

Angin menjawab tidak.

Tentu saja tidak.

---

Malamnya, Alya kembali ke mesin jahit.

Tapi kali ini ia tidak langsung menjahit.

Ia duduk lama.

Menatap kain.

Menatap jarum.

Menatap dirinya sendiri di pantulan kaca kecil di sudut kamar.

“Kalau aku terus begini…” bisiknya, “aku akan kehilangan banyak hal.”

Ia terdiam.

Lalu melanjutkan,

“Tapi kalau aku berhenti… aku juga kehilangan diriku sendiri.”

Tangannya perlahan menyentuh mesin jahit.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menyalakannya langsung.

Ia ragu.

---

Beberapa hari berikutnya, Alya mulai menjahit lebih lambat.

Bukan karena tidak mampu.

Tapi karena pikirannya tidak lagi sesederhana dulu.

Setiap jahitan terasa seperti keputusan.

Setiap potongan kain terasa seperti pilihan hidup.

Di pasar, ia kembali mencoba menjual karyanya.

Tapi hasilnya tidak berubah.

Orang-orang masih lewat.

Masih melirik sekilas.

Masih tidak berhenti lama.

Namun kali ini, Alya tidak hanya berdiri diam.

Ia mengamati.

Ia mulai memahami sesuatu.

Bukan semua orang tidak melihatnya.

Tapi dunia mereka memang tidak dibentuk untuk melihat hal seperti yang ia buat.

---

Suatu sore, gadis sekolah itu kembali datang.

Gadis yang sama seperti sebelumnya.

“Baju yang kemarin… sudah jadi?” tanyanya.

Alya mengangguk kecil.

Ia menyerahkan pakaian itu.

Gadis itu memakainya di belakang lapak kosong.

Ketika keluar, ia berdiri di depan Alya.

Matanya berbinar kecil.

“Aku suka.”

Sederhana.

Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dada Alya bergerak.

“Benarkah?”

Gadis itu mengangguk.

“Kalau aku pakai ini ke acara sekolah… aku merasa beda.”

Alya diam.

Lalu untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia tersenyum.

Bukan senyum kecil yang dipaksakan.

Tapi senyum yang lahir dari sesuatu yang nyata.

---

Malam itu, Alya duduk lebih lama di depan mesin jahitnya.

Ia tidak lagi ragu seperti kemarin.

Tangannya mulai bergerak lagi.

Tek… tek… tek…

Suara itu kembali mengisi kamar kecilnya.

Tapi kali ini berbeda.

Bukan suara pelarian.

Bukan suara paksaan.

Tapi suara keputusan.

“Aku akan lanjut,” bisiknya pelan.

Di luar, angin malam bertiup lebih tenang.

Seolah dunia sedang mendengarkan seseorang yang akhirnya memilih untuk tidak berhenti.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel