Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

"Darajangan gila. Oke, Raka belum mau menyentuhmu, jangan sampai kamu kehilangan Daramu hanya karena jari sialan milikmu. Rasanya tidak akan enak!" cercanya pada diri sendiri.

Wanita murahan, mungkin begitu orang menyebutnya, tetapi jika ada yang mengetahui kalau saat ini Dara melumuri tubuhnya dengan sabun dan menikmati sentuhan disetiap permukaan kulitnya yang halus.

Dia tidak memiliki kulit yang putih, tetapi kuning Langsat seperti kebanyakan wanita Indonesia.

"Ah—" hingga tanpa sadar desahan itu harus keluar begitu ujung benda sintalnya tersentuh oleh jemarinya.

"Sial! Sial!" Dara melempar sabun batangnya dan menyirami tubuhnya hingga bersih. Sampai tidak lagi ada busa yang menempel pada badannya.

Kemudian mengambil lagi sabun itu mencucinya dan meletakan pada tempatnya. Sayang bukan, sabun masih besar jika harus dibuang. Sadar diri dia bukan orang berada.

Setelah itu, ia pun melilitkan handuk untuk membungkus tubuhnya. Membiarkan air rambutnya menetes membasahi lantai. Rambut yang hitam legam dan panjang.

la berjalan mendekati lemarinya mencari pakaian yang nyaman, karena cuaca hari ini sangat panas, bahkan panas luar dan dalam diri Dara. Gadis itu hanya ingin mengenakan tanktop dan hot pant.

Jangan sampai ada tamu atau bahkan anak didiknya datang. Jika tidak, mereka pasti akan menyangkut pautkan apa yang dia kenakan saat ini dengan pekerjaannya. Bukankah ibu-ibu Indonesia selalu begitu?

Katanya guru itu panutan harus bisa digugu. Jadi dalam berpakaian dan tingkah laku harus sesuai. Mereka tidak tahu kah kalau guru juga punya kehidupan sendiri? Punya Masalah, punya kesenangan sendiri? Toh ini di rumah. Jika mereka sampai melihatnya, itu artinya bukan salah Dara.

Tanpa menggunakan bra, sudah sore Dara memang jarang mengenakan benda itu. Tidak baik untuk kesehatan, apa lagi jika yang menggunakan besi, bisa memicu kanker.

la memindahkan handuk yang melilit tubuhnya ke rambut. Agar tidak terus menetes dan membasahi pakaian yang baru dia kenakan.

Setelah itu, melihat sekeliling mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya. Jika sudah rapi dan beres gadis itu akan kembali berkutat dengan ponsel ataupun laptopnya. Dara menulis dengan dua benda itu. Karena terlalu banyak duduk juga sangat menyakiti punggungnya.

Mengenakan kacamatanya agar penglihatannya tidak sampai rusak. Tidak lucu bukan, pendapatan yang belum sepenuhnya menutup kebutuhan hidupnya tetapi sampai matanya rusak?

"Huh-gas Dara. Kita ngehalu, tulis aja tulis apa yang kamu mau dan mereka mau. Urusan sange atau apa itu namanya, belakangan ‘kan? Turuti apa yang mereka minta agar kamu tidak ditinggalkan,’ lirihnnya.

Selalu menyemangati dirinya sendiri dengan caranya sendiri. la mulai mengetik, sepuluh jari semua bekerja. Terkadang dia bisa tersenyum sendiri, terkadang juga menangis meraung sendiri.

Tunggu! Bukankah dia melupakan sesuatu? Biasanya dia akan menelepon suaminya untuk mengingatkan makan?

Dara terhenti, dia menatap ponsel yang ada di samping laptopnya. Mati dan tidak ada notifikasi apapun. la menghela napasnya.

"Abaikan, Dara abaikan. Jangan pikirkan dia. Mau dia hidup atau mati, dia tidak akan bercinta denganmu! Akh! Ini pikiran kenapa hanya itu sih?! Sial!" Dara kesal sendiri. Menganggap bahwa yang ada dalam benaknya hanya kemesuman yang hakiki.

Kembali gadis itu melanjutkan pekerjaannya, pekerjaan sekaligus hobi dan bahan untuk menuangkan apa yang tidak bisa dia dapatkan dalam dunia nyatanya kedalam novel ciptaannya. Tidak jarang dia juga menggunakan kisahnya sebagai alur, tetapi hanya sepenggal demi sepenggal. Tidak full kehidupan nyata yang dia jalani. Sama saja itu akan membuka aibnya.

Mungkin hanya ketika dia mengambil sikap yang dia ras benar, dia akan tulis. Jika itu menyangkut dirinya yang buruk, tentu saja dia akan memendamnya dengan sangat dalam. Setiap kali menuliskan apa yang

menurutnya berat, itu hanya seputar berhubungan badan. Dia tidak tahu, bagaimana rasanya, lalu bagaimana dia menuangkan kedalam setiap kalimatnya?

Dara berusaha, terkadang dia harus menonton film lucknut untuk mencari tahu bagaimana cara mereka melakukannya hanya demi untuk menyelesaikan satu part yang akan dia unggah. Bukan untuk kepentingannya.

Disaat pasangan lain menontonnya untuk meningkatkan gairah, Dara sungguh sangat menyedihkan, dia menonton hanya untuk bahan halunya. Jika untuk kenyataannya bahkan tanpa menonton gairahnya sudah menggebu dan bergejolak.

"Andai aku jadi Grace, punya kekasih yang romantis, panas lagi. Seru kali, ya," rintihnya. Dia baper dengan apa yang dia tulis.

Belum puas dia mengagumi sosok yang dia ciptakan sendiri. Tiba-tiba pintu rumahnya terketuk. Membuat dirinya terkejut dan membelalakkan matanya.

Dara tidak ingin terlinat konyol didepan siapapun yang saat ini berdiri di balik pintu rumahnya. la berlarian mengambil minum ke dapur, mencuci mukanya. Bisa dilihat dan dibayangkan bagaimana wajah-wajah seseorang yang terlalu terselimuti dengan kabut gairah yang membuncah? Akan sangat terlihat dengan wajah sayu yang memohon dan mengiba.

Dara tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya. Dia memang menginginkan belaian, tetapi jangan sampai pada orang yang salah. Jika bisa hanya pada suaminya, jika tidak bisaentahlah kemana dia harus berpulang. Setidaknya selagi dia dengan wajah sayu yang memohon dan mengiba.

Dara tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya. Dia memang menginginkan belaian, tetapi jangan sampai pada orang yang salah. Jika bisa hanya pada suaminya, jika tidak bisaentahlah kemana dia harus berpulang. Setidaknya selagi dia masih bisa menahannya kenapa harus risau walau itu sangat menyiksa dirinya.

“lya sebentar!" teriak Dara, sembari berjalan membukakan pintu. Dara menarik gagang pintu berkarat itu dan Siapa yang datang?

Dara menarik gagang pintu yang telah karatan tersebut. Mungkin lebih tepat disebut usang, karena masih aman ia sentuh tanpa meninggalkan bercak apapun.

"Ya—" Mulutnya menganga. Melihat seseorang yang berdiri di depan pintunya. Lengkap dengan seragam ekspedisi juga paket ditangannya.

Bukan itu yang membuatnya terpesona. Akan tetapi, mata yang memukau. Sayang dia menutup wajahnya dengan masker, sehingga Dara tidak bisa melihat keseluruhan wajahnya. Namun, dilihat dari matanya saja sudah bisa dipastikan bahwa dia adalah laki-laki yang keren.

Dara mengerjapkan matanya berulang kali, agar tidak kepergok mengagumi sosok yang ada didepannya. Dara membuang mukanya di balik pintu tanpa menutup pintunya. Dia hanya membuka setengah pintu itu. Kemudian ia menarik napas dengan dalam, dan mengembuskannya secara perlahan. "Ada yang bisa saya bantu?" Suara lembut Dara seolah menghipnotis pria itu.

Ternyata bukan hanya Dara yang terkejut. Namun, laki-laki itu pun juga sama halnya seperti Dara. Pria itu justru menatap Dara dari atas sampai bawah. Seolah men-scan penampilan wanita yang ada dihadapannya saat ini. Mungkin satu kata dalam benaknya muncul ‘Mempesona’

Kakinya yang panjang, dengan dada yang tidak terlalu besar, tetapi masih padat sudah pasti membuat siapapun yang melihatnya berpikiran liar. Terlebih penampilan Dara yang benar-benar panas di senja hari ini.

"A—anu—" Pria itu tergagap. Jelas, niatnya hanya bertanya di rumah itu, tetapi harus mengalami uji nyali yang membuatnya ingin segera berpulang dan mencari pelampiasan. Sabun mandi, baby oil, atau handbody.

Dara seolah sudah tidak lagi grogi. Dia menatap lekat mata pria itu. Sembari menunggu kata yang belum juga terselesaikan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel