Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7

Dara seolah sudah tidak lagi grogi. Dia menatap lekat mata pria itu. Sembari menunggu kata yang belum juga terselesaikan.

“lya, kenapa, Mas?" ulang Dara. Waktu terus berputar bukan? Dia belum selesai dengan kegiatannya. Tidak hanya menunggu laki-laki yang tetap menatapnya dan seolah ingin memakan dirinya.

"Sasaya mau tanya, Mbak. Rurumah Bu Sofi kok nggak adanggak ada orang, ya?"

Dara melongok keluar pintu. Tanpa mempedulikan laki-laki yang masih membatu ditempatnya. Rambut Dara yang masih terbungkus dengan handuk menyentuh wajah pria tersebut. Handuk yang basah itu lah yang menyentuhnya, bukan rambut. Aroma sampo yang digunakan Dara menyeruak masuk pada indera penciuman sang kurir. Sampai-sampai ia harus memejamkan matanya. Pertama karena terkejut dengan tindakan gadis itu. Kedua karena dia menikmati aroma yang tidak asing menurutnya tetapi seperti baru dihidungnya.

Jantungnya seolah terpacu bagaikan berada diarena balap, atau seperti saat dia menghilangkan paket yang ingin diantarkan. Lebih tepatnya ketinggalan paket di kantor ekspedisi, tetapi dia telah berada di lokasi. Uji nyali yang mendebarkan.

"Mungkin pergi, Mas. Mau titip ke saya atau gimana?" tukas Dara. la sudah kembali ke posisi awalnya. Tersenyum dengan ramah pada tamunya.

"Bisa?"

Terkadang banyak tetangga yang tidak ingin. Walau hanya sekedar titip barang milik tetangganya. Mereka menganggap itu sangat merepotkan, akan tetapi di sisi lain sebagai kurir, jika tetangga yang mau dititipkan barang milik tetangga itu adalah hal yang melegakan. Sehingga mereka bisa menjalankan tugas yang lain. Mengirimkan barang milik customer yang lain.

"Bisa dong. Sini perlu tanda tangan nggak?" seloroh Dara. Dia kembali menyunggingkan senyumnya. Sungguh, deretan gigi yang rata dan putih itu menyambut si kurir.

"Sekalian nomor teleponnya juga boleh, Mbak," timpalnya. Ingin bercanda tetapi, jika dia dapat betulan bukankah itu yang dinamakan sekali tepuk dua nyamuk? Hanya berharap.

Dara hanya tersenyum tipis, ia meraih paket yang terulur padanya juga mengambil kertas yang sama-sama berada dihadapannya saat ini, guna untuk mendapatkan coretan tangan milik gadis itu.

"Selesai," katanya. Dara memberikan lagi kertas itu, tetapi tidak dengan paketnya. la yang akan menyerahkan pada pemiliknya nanti.

“Tunggu, Mbak. Ada satu lagi, saya harus memotret mbak. Bukan sebagai kepentingan pribadi kok, untuk laporan dan juga bukti."

"Kan sudah tanda tangan,” protes Dara, tetapi tidak dengan nada yang menyolot. Dia lembut, benar-benar bukan seperti gadis bar-bar.

"Saya lupa, sudah tidak perlu begitu sekarang. Ini buku lama yang masih nyangkut di tas,’ kilahnya.

Berarti benar ini adalah untuk kepentingan pribadi? Tentu saja tidak, tetapi sekali lagi dia memiliki kesempatan besar dalam sekali jalan. Beruntung, mungkin saja Dewi Fortuna sedang berpihak kepadanya, atau

Dewa Neptunus memberkati dirinya.

"Hem,oke. Tapi, sebaiknya saya harus ganti pakaian dulu,’ papar Dara.

"Maaf, Mbak. Tapi saya tidak ada waktu untuk menunggu. Saya masih harus mengantarkan barang-barang itu ke tempat yang lain," katanya, sembari menunjuk ke arah motor yang terparkir di depan rumah Sofi yang tidak terlalu jauh dari lokasinya saat ini.

"Baiklah, jangan sampai anak-anak tahu," gumamnya. Pria itu dengar tetapi pura-pura tuli. la tersenyum miring dan mengarahkan kamera ponselnya pada wajah Dara. Setengah badan. Oh-andaikan bisa dia memotret sampai bawah. Mungkin bisa jadi bahannya menghalu setiap malam. Serta jadi dosa sepanjang hidup bagi Dara.

"Baik, Mbak. Terima kasih, maaf mengganggu Anda."

Dara mengangguk. la kembali menutup pintu setelah pria itu berbalik badan. Dara melangkah mendekati bufet mini di sisi kiri pintu tepat di samping jendela. la meletakkan paket itu di sana. Agar terlihat setiap dia melangkah. Jika sampai di tempat lain dia akan lupa dan bisa jadi paket itu tidak sampai ke pemiliknya, karena keteledoran Dara juga karena kesibukannya.

Gadis itu kembali melanjutkan pekerjaan. Mengetik dengan serius dan harus menyelesaikan tugasnya hari ini. la harus menulis banyak kata. Jika ingin besok beristirahat. Pertemuannya dengan anak-anak Bina Karya sudah pasti menghabiskan banyak waktu, karena pasti pembahasan yang ada selalu bercabang-cabang entah kemana.

Mendidik anak usia remaja, memasuki masa pubertas itu, mungkin bukan lagi pubertas, tetapi beranjak dewasa itu susah-susah gampang. Mereka paham tetapi tetap menjalankannya. Mereka tahu salah, tetapi rasa penasaran terkadang mendorong mereka untuk mendekati hak tersebut. Entah apapun itu, tetapi yang pasti adalah hal yang berbahaya.

Bergabung dengan geng motor, begal, atau bahkan mabuk-mabukan dan bahkan pengguna dan pengedar barang haram. Kumpul kebo, dan segala macam. Jika tidak ada sosok peran pendamping sudah pasti mereka akan lusuh dari pengawasan.

Seharusnya tidak hanya orang tua dan guru. Akan tetapi warga, tetangga. Mereka bisa saling membantu dengan catatan menasihati dengan hati. Dengan aksi bukan intonasi dan instruksi.

Pukul tujuh Dara selesai dengan tulis menulis. la berganti pakaian. Celana panjang yang ketat, dengan t-shirt berwarna putih dengan bagian leher dan ujung lubang tangannya berwarna hitam. Mengingat rambutnya seperti ekor kuda.

Memakai topi dan ia memesan ojek untuk pergi ke kantor suaminya. Dia benar-benar melakukan tugas yang telah dia rencanakan. Menjadi mata-mata untuk suami sendiri, sadis!

Masa bodoh dengan semua itu. Dara hanya ingin tahu, apakah Raja benar ada di kantor atau semua hanya tipu muslihat, manipulasi, pendustaan Raka semata.

Sejujurnya Dara tidak ingin menjadi wanita yang over thinking pada laki-lakinya. Akan tetapi, Raka lah yang mengharuskan Dara menjadi wanita seperti demikian.

Padahal, yang dia minta tidaklah sulit. Terlebih, wanita juga sudah terangsang sedikit saja, tidak butuh waktu lama untuknya mencapai pusat gairahnya. Apakah waktu sesingkat itu, Raka tidak mau mengabulkannya?

Ojek yang dia pesan sudah standby di depan rumahnya. Dara memberikan sedikit pengharum pada tubuhnya. Alias menyemprotkan parfum si bagian lekukan tubuhnya. Leher, pergelangan tangan dan lengan.

Setelah itu ia pun keluar. Dia menghampiri laki-laki tersebut. Tidak terlalu muda juga tidak terlalu tua. Mungkin usianya sekitar empat puluh tahunan.

Dara tersenyum menyapanya. Meraih helm yang diulurkan padanya. Memakainya dan siap duduk di bagian belakang motor.

Beat hitam siap menemani setiap perjalanan Dara. Meliuk ditengah malam yang mulai kian gelap. Lampu-lampu jalan sudah banyak yang berpendar. Kuning, putih serta sorot merah yang terdapat di bagian belakang kendaraan yang memenuhi jalanan malam ini.

"Mas Raka?"

*****

Dara tiba di kantor di mana suaminya bekerja. Namun, ia harus mengalami drama yang luar biasa di luar gedung tersebut. Berseru dengan satpam, karena tidak ada yang boleh masuk kecuali karyawan atau staf kantor. Padahal Dara sudah menjelaskan ratusan kali bahwa dia adalah istri salah satu karyawan di sana. Bagaimana bisa dia menjadi mata-mata jika masuk saja dia kesusahan.

Dara kesal, dia harus mencari cara agar dia bisa masuk. Akan tetapi mustahil baginya, itu satu-satunya pintu masuk yang bisa dilalui oleh semua orang. Satu pintu di belakang juga pasti tertutup rapat karena sudah malam. Hanya pintu utama yang pastinya masih terbuka, menunggu

semua orang untuk keluar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel