Bab 5
Dendam dan bara. Dara sudah tidak akan lagi mengemis cinta atau bahkan belaian dari Raka. Pertama dia akan mencari tahu apa yang terjadi di balik semua ini. Karena tidak akan ada lelaki yang bisa mengelak keberadaan wanita.
Namun, Raka seakan tidak menyukai wanita. Benarkah dia gay?
Dara mengusap wajahnya dengan kasar, dia harus tidur malam ini. Selanjutnya misi pencarian akan dia lakukan. Pernikahannya hanya diatas kertas. Jika hanya alasan ekonomi saja Dara sudah mulai tidak bisa mempercayainya.
* Senin pagi, Dara terbangun pagi buta. Langsung menulis sembari menunggu matahari terbit. Dia akan membetulkan kerusakan yang ditimbulkan Raka kemarin. Sementara pria itu, dia tidak mau tahu apapun.
Bangun tidur pukul lima pagi dia mandi dan langsung berangkat ke kantor. Memangnya kantor mana yang bukanya sedini itu?
Tidak pamit dan juga tidak ada kata basa-basi lagi. Sejak kejadian semalam. Keduanya saling berdiam diri. Dara juga tidak akan menanyakan apapun lagi saat ini. Juga tidak akan memintanya untuk memakan masakannya. Dia benar-benar akan mengabaikan Raka. Sudah cukup
bakti yang dia tunjukkan selama ini.
Jika tidak dihargai bukankah itu artinya memang tidak ada harga untuknya di mata pria itu? Untuk apa mengemis? Dara masih muda, dia bisa bersenang-senang seperti yang dilakukan Raka, MungkinUsai menulis, hal selanjutnya yang dia lihat adalah membuka inbox dari komentar para pembaca. Dara menggarap dua novel sekaligus. Menulis fantasi dan romansa. Dua genre yang sangat jauh berbeda, kompleks dan bertolak belakang.
Pembaca fantasi jauh lebih royal. Mereka memberikan tip tidak tanggung-tanggung. Terlebih komentar mereka selalu seputar cerita yang ada. Sangat jauh berbeda dengan komentar di cerita romantis miliknya.
[ Sangat keren, aku mau Logasho itu mati di tangan Martino. ]
[Pertarungan sengit. Logasho harus mati ditangan Martino ]
[ Aku kasih tip, biar kamu Thor, buat Logasho mati di tangan Martino ]
Dara tersenyum. Mereka semua sangat kompak. Hampir seluruh komen isinya sama. Akan tetapi dengan cara penulisan dan logat yang berbeda.
Satu komentar yang sangat jauh berbeda dari semuanya. Bahkan beda dengan isi ceritanya. Akun dengan nama A’
[ Ingin bertemu dengan penulis keren ini. Aku yakin dia adalah lelaki yang menyukai alur cerita sejarah hebat. Risetnya tidak main-main ]
Dara menatapnya. Sunggingan senyum itu merekah begitu saja. Dia meletakkan kembali ponselnya dan, mulai berbenah. Mungkin akan membalas semua pesan itu nanti ketika semua pekerjaannya usai.
Pukul setengah tujuh semua pekerjaan rumah dara selesai. Dia tidak perlu memasak hari ini. la menyiapkan bekalnya dengan menunya semalam. Kemudian bersiap dengan sepedanya, sepeda kayuh.
Untuk pergi ke sekolah.
Mengajar anak-anak TK. Setidaknya dia tetap mendapatkan pendapatan dari hasil mengajar. Ketika pulang dari sekolah pukul dua belas, Dara harus memberikan les private pada anak sekolah dasar.
Satu kelas yang para orang tuanya setuju untuk menerima jam tambahan itu. Hingga sampai di rumah pukul empat sore. Begitu
keseharian Dara. Setelah itu, dia akan berkeliling mencari cucian kotor milik orang-orang yang mau menyewa jasa cucinya.
Tidak mudah bagi Dara. Namun, dia ingin menjadi wanita yang tidak bergantung pada lelaki. Apa lagi setelah kejadian semalam. Sungguh dia sangat sakit hati karena penolakan yang di lakukan suaminya sendiri.
*****
"Besok Ibu minta kalian belajar di rumah, saja. Jika ada masalah langsung chat, ibu, oke. Soalnya, ibu ada pertemuan sama murid Bina Karya (SMA),’ tutur Dara.
Sore ini adalah jadwalnya untuk memberikan pelajaran tambahan untuk murid-murid dari berbagai sekolah yang datang ke rumahnya. Meski kecil, rumah itu masih layak untuk menerima tamu.
Terkadang kedatangan mereka mampu mengusir kesepian yang Dara rasakan. Walau sejujurnya dia sudah sangat lelah setiap hari hari berkutat dengan banyak kegiatan.
“Baik, Bu. Tapi, lusa kita datang lagi ‘kan?"
Dara menyunggingkan senyum sembari mengangguk. "Tentu, jangan sampai orang tua kalian mengeluarkan uang untuk ibu, tapi kalian libur terus," candanya. Mereka tertawa, seolah tahu apa yang Dara maksud. Namun, bukankah memang seharusnya mereka sudah tahu, kelas lima SD sudah bisa mengetahui banyak hal bukan?
Beberapa dari mereka yang usai beberes semua bukunya pun berbaris untuk mencium punggung tangan Dara. Siap untuk kembali ke rumah masing-masing.
Sepeninggalan bocah-bocah itu, wanita muda ini bangkit, menutup pintu dan mengintip anak didiknya yang berjumlah delapan bocah itu dari jendela yang tertutup oleh korden. Rumah yang memiliki jendela besar sehingga angin bisa leluasa masuk dan menerbangkan kordennya.
Setelah mereka tidak lagi terlihat, Dara mencari sapu. Dia harus membersihkan rumahnya. Menyapu lantai dan mengepelnya. Kemudian makan, dia akan memanaskan lagi sayur semalam dan memakannya.
Tidak ada yang salah bukan makan makanan masakan semalam asalkan masih layak. Namun, rasanya akan semakin asin. Dara tetap akan menikmatinya sampai satu sendok suap terakhir.
Setelahnya ia mencuci piring yang baru saja dia gunakan kemudian duduk sejenak sebelum mandi. Sifat seperti kebo setelah makan mandi. Masa bodoh, tetapi itu yang dilakukan Dara. Toh, dia di rumah sendirian untuk apa harus berdandan cantik jika tidak ada yang memujinya atau bahkan menyentuhnya.
Kembali ia membuka ponselnya. Membaca dan membalas komentar dari para pecinta karyanya. Dara tidak percaya diri menyebutnya sebagai penggemar. Dia tidak setenar itu. Senyum ayu itu terus terulas. Akan tetapi, tidak jarang juga dia berkecil hati karena komentar pedas mereka.
Dara menarik napas dan mengembuskannya dengan perlahan. “Kalian bisa saja," gumamnya begitu membaca pesan yang meminta membuat adegan di mana anak SMA kemarin melakukan hal gila lagi.
Padahal itu terlarang, andai tidak sesuai alur dia pasti tidak akan menulisnya, karena dia tahu hal itu sangatlah meresahkan. Bagaimana jika ada anak SMA yang mempraktikkan hal itu? Dara hanya berharap mereka mematuhi pedoman rate usia. Dara sudah memberikan peringatan bahwa ceritanya bergenre dua puluh satu plus dengan new Adult konten.
Sudah pasti akan banyak adegan-adegan terlarang. Jika mereka memaksakan untuk membaca, bukan salah Dara. Dosa ditanggung masing-masing dan kenikmatan pun hanya mereka yang berbuat yang merasakan.
Entah kenapa, hanya memikirkan hal itu, rasanya tubuh Dara meremang. Dia resah dan kembali gelisah.
Dara membelai sendiri pahanya, menarik daster yang dia gunakan. Hingga jemari lentiknya menyentuh tempat paling sensitif miliknya. la bergelinjang. Napasnya memburu dan sungguh Dara bisa gila karena hal itu.
"Tidak! Dara, kamu normal! Jangan gila!" Secepat yang dia bisa, ia menarik tangannya yang sudah mulai kelayapan memberikan sentuhan menjijikkan pada dirinya sendiri.
Bukankah, jika dia yang melakukannya sendiri akan terasa sangat menjijikkan? Jauh berbeda jika lelaki yang melakukannya, sekalipun hanya dengan jari tengah mereka, mampu menggerakkan sekujur tubuhnya. Bahkan lidah yang kecil dan tidak bertulang juga tidak berotot pun mampu mengangkat pantat dan pinggul bukan?
Dara berlarian ke kamar dan langsung menghilang di balik pintu kamar mandi. Menanggalkan semua pakaiannya dan mulai meraih gayung. Menyirami seluruh tubuhnya. Air dingin itu akan menenangkan dirinya walau Dara justru akan menggigil kedinginan nantinya.
Miris! Dia telah menikah tetapi seperti janda yang haus akan sentuhan. Salahkah jika dia terlalu memimpikan hal indah itu? Bukankah semua orang butuh sentuhan? Sekalipun mereka bilang seks bukan hal utama. Akan tetapi tidak dipungkiri bahwa setiap insan butuh seks, butuh berhubungan badan, merengkuh kenikmatan yang mampu mengurangi stress akibat penatnya bekerja seharian.
"Dara jangan gila. Oke, Raka belum mau menyentuhmu, jangan sampai kamu kehilangan Daramu hanya karena jari sialan milikmu. Rasanya tidak akan enak!" cercanya pada diri sendiri.
