Bab 4
Gadis itu bergelayut meraih lengan suaminya. Menutup pintu, dan mengusap lengan kokoh suaminya. Kulit bersih karena jarang terkena
sinar matahari.
Raka bekerja di dalam ruangan, itu membuatnya terlihat semakin bersih dan tampan. Di mata Dara, pria
itu sangat memesona.
Dara, mendudukkan pria itu. la menyusul dan duduk dipangkuan
suaminya.
"Mau makan, Mas? Atau aku masakin air untuk mandi?" Raka
menatap wajah Dara.
Malam ini, gadis itu sukses membuat suaminya bergejolak. Dia membelai wajah Dara. Sungguh, Dara
menerimanya dengan senang hati.
"Kamu sudah makan?" Dara menggeleng, dia menunggu suaminya. Namun, pria itu belum kembali sampai
beberapa menit yang lalu. "Kita makan dulu,' ungkap Raka.
Gadis itu segera menyetujuinya dan berjalan bersama menuju dapur. Dara memanaskan sayurnya,
mengambilkan piring untuk suaminya.
Lalu menyiapkan nasi dan juga lauk
juga sayur yang telah panas.
Dara sangat bahagia malam ini. Malam pertama di mana dia makan bersama dengan pria itu. Sepertinya
penantian akan berakhir malam nanti.
"Enak nggak, Mas?" Wajar jika dia bertanya. Selama ini, Dara tidak pernah mendengar suaminya memuji
makanan buatannya.
Mereka makan sendiri-sendiri dan di tempat yang berbeda. Itulah kenapa saat ini Dara seakan mendapatkan kontrak dengan nilai jutaan rupiah. Rasanya sangat membahagiakan, dan
menyenangkan. Dia bahkan sampai
lupa bagaimana rasanya menangis atas beberapa bulan yang dia lewati
hampir setiap malam.
Raka mengangguk, "Enak sekali. Makan bareng kamu, jauh lebih enak, Dara. Maafkan, Mas, jika selama ini, Mas selalu meninggalkanmu," ucap
Raka.
Nada bicara yang begitu lembut, dan membuat Dara takjub. Sangat jauh berbeda dengan nada bicara
Raka setiap harinya.
Dara mengusap punggung tangan suaminya dan tersenyum lebar. Seolah mengucapkan terima kasih lewat
sentuhan itu.
Sebagai seorang istri terkadang Dara pernah berpikir, yang macam-macam. Namun, dia tidak pernah menanyakan kemana perginya lelaki itu ketika marah seperti siang tadi. Sampai harus pulang sangat
malam.
Dara selalu berpikir hal baik. Mungkin nongkrong. Karena selama ini, Raka bekerja keras, berangkat pagi pulang malam. Seperti sebuah roda
yang berputar dan tidak terhenti.
Jika Dara terus bertanya, dia hanya takut jika suaminya bosan, dan merasa diinterogasi oleh sang istri. Dara tidak pernah mau ditinggalkan
oleh lelaki itu.
Dara ingin menikah sekali seumur hidup. Bukan seperti tetangga rumahnya yang hampir setiap tahun menikah dan berganti suami. Itu
bukan lah tindakan yang patut ditiru.
Terkadang Dara berpikir apakah mereka tidak takut tertular penyakit
kelamin? Atau sejenisnya?
Usai makan, Dara membersihkan peralatan yang kotor itu, mencucinya dan mematikan kompor, air yang dia masak sudah mendidih. Siap untuk suaminya mandi. Dia menuangkannya pada bak mandi kecil di kamar mandi.
Sungguh, Raka seperti seorang raja.
"Mas, airnya sudah siap," celetuk
Dara. Gadis itu kembali ke wastafel
pencuci piring. Melanjutkan bebersih.
Raka, tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang. Mencium kepala bagian
belakang milik Dara.
"Terima kasih, Sayang. Bersiaplah,
aku menginginkanmu,' bisik Raka.
Jantung Data terasa ingin melompat keluar, ia sangat senang mendengar bisikan merdu dan menghanyutkan itu. Dara berbalik, dan
memeluk leher suaminya.
Tangannya masih penuh dengan sabun cuci, dia tidak peduli. Kebahagiaan sudah memenuhi
hatinya.
"Aku tunggu, Mas," balas Dara. Dia mengecup bibir Raka. Sejenak, dan
pria itu siap membersihkan dirinya.
Kemajuan yang sangat spektakuler yang Dara rasakan. Dia dengan cepat membersihkan piring-piring itu, dan mencuci mukanya di wastafel yang sama. Kemudian
masuk ke kamar dan menyiapkan diri.
Mengenakan pakaian haram satu-satunya yang dia miliki. Hadiah ulang tahun dari salah satu sahabatnya, yang sudah sangat lama
tidak tahu bagaimana kabarnya.
Jangankan membeli baju haram,
membeli makanan yang enak saja,
Dara dan Raka seakan memaksa. Setidaknya mereka bisa makan walau ala kadarnya.
****
Brak!
Suara pintu yang terbanting. Dibuka dengan paksa dan membuat engsel juga penguncinya rusak. Alhasil pintu itu roboh. Rumah itu benar-benar sudah diusia senja. Seharusnya layak renovasi akan tetapi pemilik rumah itu juga tidak memiliki biaya.
Uang sewa setiap bulannya, habis entah untuk apa. Sehingga Dara, sebagai penyewa harus berbesar hati tetap berada di rumah itu, dan membetulkan segala kerusakannya sendirian.
Baginya yang terpenting adalah dia bisa berteduh tanpa harus tertimpa panas dan hujan. Namun tidak menutup kemungkinan jika badai datang, atap rumah mungil itu akan terbawa angin.
Dara tersentak, dia gelagapan karena terkejut. Jantungnya berdegup dengan cepat terasa seperti baru maraton tujuh kali putaran.
Gadis itu tertidur saat kelelahan menggarap naskahnya. la menggunakan lengannya sebagai bantal dan kantuk membawanya ke alam mimpi yang sangat indah.
Pada kenyataannya, semuanya tetap sama. Raka belum mau menyentuhnya. Sebegitu besarnya cinta Dara sampai dia harus terbawa mimpi akan sentuhan lelaki miliknya.
Raka yang melakukannya. Dia yang mendobrak pintu. Membuat Dara seperti orang yang linglung. Menatap kearahnya tanpa sepatah kata.
“Apa? Jangan memulai lagi, aku lelah. Mau tidur," dengus Raka. Dia berjalan ke kamar dan melewati Dara begitu saja.
Kini Dara bingung harus menutup pintunya bagaimana. Pintunya sudah rusak. Ditambah dengan sikap Raka, yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Dulu, dia tidak pernah merusak apapun. Walau dia marah, paling tidak dia hanya pergi, mengetuk pintu dengan benar saat kembali ke rumah.
Dara bangkit dan menutup pintu lalu menarik kursi sebagai tahanan di belakang pintu. Besok pagi dia akan membetulkannya lagi. Hanya memasang engsel saja mungkin Dara bisa melakukannya.
Dara berjalan ke dapur. Ternyata benar, masakannya utuh dan tidak tersentuh. Gadis itu memasukkannya ke dalam kulkas. la akan memanaskan esok pagi. Sehingga besok pagi dia tidak perlu memasak.
Gadis itu membereskan meja dan mematikan lampu dapur dan juga ruang tengah. Tersisa lampu kamar yang redup. Dara mendekati suaminya.
Duduk, di bibir ranjang dan menatap tubuh suaminya. Tubuh yang nyaris sempurna, sehingga setiap malam Dara selalu berharap bahwa tubuh itu yang akan selalu mengungkung dirinya. Membawa Dara pada kepuasan batin yang belum pernah dia rasakan.
la mengelus dada bidang Raka. Tanpa balutan kaos, memainkan jemarinya. Menggoda lelaki itu agar dia bisa mendapatkan apa yang dia minta.
"Mas, aku mohon, bangun sebentar saja. Aku menunggumu,” bisik Dara. Dia bahkan menjulurkan lidahnya untuk memberikan sentuhan pada daun telinga suaminya.
Tidak hanya itu, bahkan Dara menanggalkan satu persatu dan secara perlahan pakaian yang dia kenakan. Mengangkat kakinya seolah memperlihatkan sebuah kenikmatan untuk suaminya.
Namun, pria itu justru memejamkan matanya. Entah tertidur atau tidak yang jelas Dara terabaikan.
Di dalam kamar itu, Dara sudah seperti wanita malam yang berusaha mendapatkan kepuasan. Akan tetapi tidak juga ditanggapi, walau ia sudah membawa jemari suaminya untuk menyentuh rimbunnya hutan belantara yang kecil itu.
"Mas, ayolah. Sekali saja," rintih Dara. Gadis itu menaiki tubuh suaminya. Berusaha untuk membangunkan prianya.
"Dara! Apa-apaan, sih! Aku sudah bilang aku capek! Lagian bisa besok kan?!" bentak Raka. Dia menyingkirkan tubuh Dara. Gadis itu terpental diatas kasur sebelah suaminya.
Malu, dan merasa dirinya tidak dihargai sama sekali. Padahal dia sudah merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Namun, Raka sama sekali tidak menoleh padanya.
Dara mengenakan dasternya dan memunggungi suaminya. Dia menangis, terdiam dan terus menguarkan air mata. Dara tidak tahan lagi dengan sikap Raka.
Dia akan membiarkan kehidupan lelaki itu seperti apa yang dia minta. Dara tidak akan peduli lagi. Toh selama ini perhatiannya tidak pernah ditanggapi kan?
Dendam dan bara. Dara sudah tidak akan lagi mengemis cinta atau bahkan belaian dari Raka. Pertama dia akan mencari tahu apa yang terjadi di balik semua ini. Karena tidak akan ada lelaki yang bisa mengelak keberadaan wanita.
