Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

“lya, Mas. Aku rasa kita bisa menyisihkan uang sedikit-sedikit. Jangan lembur setiap hari. Aku tidak mau kamu sakit. Aku butuh kamu, Mas. Aku pengen kamu ada saat

malam,’ pinta Dara.

"Maaf, Da. Sebaiknya kamu istirahat. Aku akan pulang satu jam lagi," jawabnya. Kemudian panggilan pun berakhir.

Lagi-lagi selalu jam sebelas, dan bisa molor sampai jam satu dini hari. Dara terus berusaha agar lelakinya tidak bekerja sampai larut malam. Semua sudah dilakoni. Bahkan untuk tidur siang sama sekali dia tidak pernah merasakan.

Demi agar tidak terlihat bahwa dia memanfaatkan suaminya, hanya lelaki yang bekerja. Menghapus semua pandangan itu agar dia juga bisa membuat keluarganya bahagia.

***

Hari Minggu pagi. Seperti biasanya, Raka dan Dara akan tetap berada di rumah. Namun, tetap dengan kesibukan masing-masing.

Raka selalu berada di depan laptop. Tidak ada satu menit pun waktu untuk Dara. Wanita mana yang tidak kesal seperti itu selama satu tahun belakangan?

"Mas? Kenapa sih kamu kerja terus? Aku tahu kamu kerja buat aku. Kita belum memiliki anak, kamu tidak perlu melakukan semua ini. Habiskan waktumu denganku, hanya itu yang aku mau."

Pada akhirnya, kata-kata itu terungkap. Entah bagaimana reaksi dari Raka. Seperti tetap dingin dan cuek.

"Da, kamu tahu kan kita tidak memiliki apapun jika kita tidak bekerja," jawab pria itu dengan enteng.

"Haruskah dengan seharian penuh bekerja? Tanpa berhenti? Mas, kamu punya aku, aku membantumu, berapapun yang kamu kasih ke aku.

Aku tidak pernah meminta lagi dan lagi kan? Cukup, itu sudah cukup buat aku. Peluk aku, habiskan hari Minggu bersamaku, Mas."

Dara menatap suaminya dengan lekat, dan menempatkan tangannya pada paha lelaki itu. Raka menarik dirinya dari hadapan layar kotak seukuran empat belas inci itu dan

menyandarkan tubuhnya.

la menghela napas dengan kasar. "Dara, kamu tidak mau merubah hidupmu? Kamu tidak mau menjadi wanita sosialita seperti istri para pekerja lainnya?"

Raka menatap istrinya dengan seksama, dia ingin tahu jawabannya. Karena dia bekerja untuk wanita itu.

"Tidak." Dara menggeleng. "Aku tidak membutuhkan itu, Mas. Aku terbiasa hidup sederhana, cukup, meskipun tidak mewah, asalkan bisa makan setiap hari. Bisa berobat ketika sakit, dan bisa berteduh ketika hujan dan panas. Aku tidak butuh sosialita yang semua orang berlomba memamerkan kekayaan suami. Aku bukan wanita seperti itu," tutur Dara.

Dia sangat terlihat serius dengan semua ucapannya. Bahkan matanya tidak bergerak menghindari netra milik Raka.

"Aku hanya mau kamu tidur bersamaku, bercinta bersamaku, dan membuatku hamil. Mas, kita sudah setahun menikah. Tapi, alasan kamu tetap sama. Aku tahu kamu kerja, aku percaya. Tapi, ini hari Minggu. Aku ada bersamamu, tidak bisakah kita melakukan apa yang aku inginkan? Apakah aku tidak menarik untukmu?"

Raka membuang muka dan kembali menghela napas yang sangat berat, seakan dia tidak bisa bernapas lagi.

"Cukup. Aku tidak mau mendengar kamu mengoceh tentang hal itu. Kita punya banyak waktu untuk itu bukan?"

Jawaban yang sama sekali tidak diinginkan oleh Dara. Dia benar-benar kehabisan kesabaran. Rasanya Dara ingin mengamuk. Setiap kali diajak berbicara Raka selalu seperti itu.

"Mas, satu tahun. Ini bukan waktu yang sebentar. Jawab jujur pertanyaan aku, apakah kamu tidak pernah sedikitpun ingin menyentuhku?"

Raka tidak menjawab, dia justru memilih untuk pergi dan meninggalkan rumahnya. Dia tidak ingin sampai melukai hati istrinya karena jika dia marah, bisa saja dia memukul wanita itu.

"Mas, jangan pergi. Maaf, maaf jika aku salah. Aku hanya i—" Raka memotong ucapannya dengan mengangkat tangannya.

Tanpa menjawab dia menaiki motornya dan menghilang tertelan jarak. Dara hanya bisa menatapnya.

Kepergian yang selalu disesali Dara, tidak bisakah dia menahan diri untuk tidak mengungkapkan hal itu?

Gadis itu menangis di balik pintu. Merosot di atas lantai dan memeluk lututnya.

Air mata membasahi pipi dan juga lututnya. Dara kembali kesepian di tengah banyaknya suara yang bermunculan di luar sana.

Suara tetangga yang bergurau dengan anak-anak mereka. Suara teriakan ibu yang memarahi anaknya, juga suara musik yang di putar sangat kencang oleh anak dari salah satu tetangga yang lain.

Namun, di rumah Dara sangat sepi dan hening. Hanya ada suara tangisannya.

Bisakah Dara bertahan? Semua keinginannya tidaklah mahal, hanya memiliki anak yang kebanyakan wanita inginkan.

***

Sampai menjelang malam. Raka tidak juga kembali. Impian untuk makan malam bersama dengan orang terkasih kembali pupus. Dara benar-benar seperti seorang istri yang tidak dianggap.

Jika tidak menyukai kehadirannya, lalu untuk apa Raka menikahinya? Bahkan rela keluar dari rumah demi wanita itu? Semua seperti puzzle yang harus diselesaikan.

Sembari menunggu suaminya kembali, Dara memilih untuk menekuni lagi rutinitasnya. Menulis cerita.

Membuat novel sebaik yang dia bisa. Keyakinannya sangat kuat bahwa dia akan sukses di jalan itu. Seberat apapun rintangan yang akan datang, dia akan hadapi, asalkan jangan terus tentang suaminya yang bersikap aneh setiap hari sepanjang setahun ini.

Setiap wanita akan sangat merindukan belaian, perhatian dan juga sentuhan dari lelaki dambatan hatinya. Namun, kasus Dara benar-benar seperti misteri.

Menulis pun seakan tidak konsen, pikiran Dara tetap mencari keberadaan suaminya. Bahkan pria itu meninggalkan ponselnya di rumah. Entah sengaja atau tidak yang pasti Raka pergi hanya menggunakan baju yang melekat di badannya.

Akan tetapi dompet tidak pernah yang namanya tertinggal. Dia selalu ingat dan mengantonginya sepanjang hari, bahkan tidurpun tidak keluar dari saku celananya.

Mereka bukan orang berada yang memiliki pakaian-pakaian khusus untuk tidur harus ganti dengan kimono atau sejenisnya.

Jika lelah dari kantor dan tidak sempat mandi, Raka hanya akan mengganti baju, mencuci tangan dan kaki, serta muka, kemudian tidur.

"Kemana kamu, Mas? Sudah malam," gumam Dara, dia menyibak kelambu di jendela, dan mengintip ke luar rumahnya. Berharap ada sosok yang dia cari, atau suara motor Raka yang berhenti di halaman rumah itu.

Dara berbalik dan kembali duduk. Dia akan tetap menunggu. Wanita itu berharap bahwa malam ini akan menjadi malam panjang untuknya. Sungguh hanya itu yang dia inginkan saat ini.

Dara kembali berkutat dengan laptopnya. Mengetik kata demi kata. Menuangkan imajinasi dalam serangkaian kalimat yang indah. Mendayu, penuh dengan prosa.

Dia sudah menulis banyak genre untuk waktu lima tahun belakangan. Pengikutnya sudah lumayan banyak. Namun, dia belum pernah mencetak bukunya.

Gadis itu masih belum percaya diri, dia masih ragu dan menganggap bahwa karyanya tidak akan laku jika dibukukan.

Dara lebih memilih untuk menjualnya pada platform online, dengan kontrak singkat, dan mendapatkan bayaran dengan memperbarui ceritanya setiap hari.

Malam ini, tanpa sengaja dan mengikuti alur yang ada. Dia harus menulis tentang seorang remaja yang melawan akal sehatnya demi tetap bisa menjalin hubungan dengan kekasihnya.

Rela memberikan kesuciannya sebagai bukti cinta pada pria yang satu sekolah dengannya. Pergaulan remaja masa kini yang sangat meresahkan.

Menuliskan dengan prosa ungu, sebuah adegan bercinta dua remaja yang masih duduk di bangku SMA. Tanpa sadar, bahwa justru dirinyalah yang terangsang dengan

setiap kata yang tertuang dalam sebuah ketikannya.

Dirinya basah, merasa panas, dan seluruh tubuhnya bergetar. Sejenak Dara berhenti. Mengambil napasnya dengan dalam-dalam. la segera berlari ke kamar mandi. Membersihkan dirinya, dia tahu dirinya sedang mengeluarkan cairan yang dinamakan dengan cairan pelumas.

Semua wanita bahkan pria akan mengalami hal yang sama jika dirinya terangsang. Baik dari sentuhan, menonton berbagai adegan di drama atau bahkan menulis dan membaca seperti yang dialami Dara.

Gadis itu kembali dan melanjutkan lagi, sampai dia menyelesaikan satu chapter. Punggungnya terasa sakit, matanya juga gatal.

"Syukurlah selesai," lirin Dara. Dia mengucek mata dan menatap jam yang menempel di dinding ruang tamunya. Tepat pukul sebelas malam. Saat itu juga suara motor Raka terdengar.

Senyum Dara merekah, dia segera membereskan laptopnya setelah meng-upload babnya. Kemudian bergegas untuk membuka pintu. Menyambut suaminya dengan senyuman paling cantik yang dia miliki.

"Mas," sapa Dara. Raka menatapnya. Dia tidak mengira bahwa Dara ternyata belum tidur.

Gadis itu bergelayut meraih lengan suaminya. Menutup pintu, dan mengusap lengan kokoh suaminya. Kulit bersih karena jarang terkena sinar matahari.

Raka bekerja di dalam ruangan, itu membuatnya terlihat semakin bersih dan tampan. Di mata Dara, pria itu sangat memesona.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel