Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

“Tidak perlu, Da. Aku akan cuci muka saja, lalu tidur. Badanku sakit sekali, terkena angin malam, belum lagi duduk di depan komputer berjam-jam, membuat semua ini

sangat melelahkan,' tukasnya.

Dara menunduk, setiap hari dia harus mendengarkan keluhan suaminya, dia bahkan memendam rasa lelah yang dirasakan olehnya.

“lya, Mas. Maafkan Dara, ya. Dara juga sedang berusaha mencari tambahan kerja lagi jadi, Mas tidak perlu lembur lagi," lirih Dara yang merasa bersalah setiap kali dirinya mendengar keluhan lelakinya.

"Tidurlah!" Raka meninggalkan wanita itu dan menghilang di balik kamar mandi. Kamar mandi yang kecil tanpa bathtub impian banyak wanita. Tidak ada shower yang mengguyur tubuhnya.

Semuanya manual dilakukan, menggunakan tangan jika mereka ingin berhemat.

Kembali air mata itu menetes tanpa sebab, mungkin Dara tidak menyesal dengan semua keterbatasan ekonomi ataupun perjuangan beratnya. Dia sudah biasa bekerja dengan keras sejak sebelum menikah.

Namun, yang dia sesalkan adalah seakan semua usahanya tidak pernah berharga di mata lelaki itu. Raka, seakan membuat Dara terlihat seperti tidak bekerja, dan hanya mengandalkan hasil dari suaminya.

Keluar dari kamar mandi, pria itu langsung merebahkan tubuhnya, dengan kaos tipis yang menutup dadanya dan rambut setengah basah.

Raka menarik selimut dan memunggungi Dara. Gadis itu menatap suaminya, dia....

****

Dara menatap punggung suaminya, dia ingin menyentuhnya tetapi, takut pria itu marah. Namun, Dara tetap mencobanya, karena dia hanya ingin memijitnya. Dia ingin membuat lelakinya nyaman berada

disamping dirinya.

"Mas, aku pijit, ya?" lirih wanita itu, tangannya mulai menekan-nekan bahu suaminya, berpindah pada punggung dan kembali ke bahu lagi.

Tidak ada jawaban dari pria tersebut, Dafa memijitnya, dia yakin bahwa suaminya akan merasa sangat nyaman.

Terkadang, Dara ingin merasakan dia juga di pijit, tetapi dia tahu, suaminya sudah pasti sangat lelah dan tidak bertenaga ketika kembali ke rumah. la selalu mengeluh dan mengeluh.

Dara, tidak kuasa melihat wajah lelaki yang telah berkorban banyak untuk dirinya itu, menyesal dan sampai sakit karena ulahnya.

Ulahnya karena mereka harus miskin. Karena mereka harus kekurangan. Karena mereka harus bekerja siang dan malam tanpa lelah.

Lebih tepatnya Dara mengesampingkan rasa lelah dan penat yang melanda dirinya.

"Mas, sudah, ya. Aku tidur, kita tidur," gumamnya, dia berharap ada sentuhan malam ini.

Sentuhan yang Dara ingin, tetapi malam ini sepertinya tidak akan pernah terjadi, karena Raka sudah menghilang dibalik mimpinya, dia telah kehilangan kesadaran dan melebur dalam alam mimpi.

Dara tidur menghadap pada suaminya, meskipun yang dia lihat hanyalah punggung.

Punggung yang lebar dan kuat, tubuh yang mau menjaga dirinya selama ini.

Aku mencintaimu, Mas. Semoga Tuhan memberikan kesehatan untukmu, dan untukku, untuk kita. Aku ingin memiliki anak, Mas, batin Dara.

Gadis itu bergumam, dalam diamnya, memikirkan banyak masa depan. Jika dulu dia bisa hidup dalam kesederhanaan, lalu kenapa dirinya dan suaminya serta anaknya nanti harus ragu?

Dara yakin, jika semuanya akan bisa teratasi, tidak semuanya akan tetap seperti ini. Dara yakin, bahwa ketika dia hamil semuanya akan berubah, rejekinya akan semakin bertambah.

Banyak orang yang mengatakan hal demikian bukan? Bahwa anak selalu membawa rejeki untuk kedua orang tuanya. Itulah yang diinginkan Dara.

Terlebih, dia pasti akan mendapatkan hati Raka kembali seperti dulu, jika diantara mereka telah tumbuh buah hati mereka.

Terlelap dan tenggelam dalam segala pemikiran yang dia rasakan. Dara, harus menahan keinginan itu hingga Raka, mau untuk menyentuh dirinya.

Lelaki itu tidak pernah memberikan hak Dara, nafkah yang dia berikan hanya berupa materi, bagaimana dengan nafkah batin gadis itu yang bahkan setelah pernikahan mereka yang berusia satu tahun, lelaki itu belum juga menggumulinya.

***

Pagi ini pukul tiga dini hari. Gadis itu bangun dan mulai mengetik ceritanya. Setelah itu ia harus memasak dan mengerjakan aktivitas lain sebagai istri.

Mencuci, dan juga membuat sarapan serta bekal makan siang sang suami. Kemudian dia harus mengajar di sekolah TK. Siang hari dia memberikan pelajaran tambahan sampai sore karena harus mengadakan dua kali pertemuan. Pagi dan sore.

Setelah itu dia kembali memasak untuk makan malam untuk dirinya sendiri, semua makanan yang dia masak hanya dia makan sendirian. Saat malam, Dara tidak pernah merasakan makan bersama dengan suaminya.

Mulai saat ini, dia akan mengurangi masak di malam hari. Tidak ingin selalu membuang makanan. Terkadang dia selalu

memberikan makan malam keesokan harinya pada tetangganya.

Begitu setiap harinya, hingga dia tidak tahu lagi harus alasan apa kali ini. Usai makan malam dia akan kembali mengetik dan mengerjakan laporan untuk sekolah yang dia ajar.

Membuat dan mengeprint materi yang akan dia ajarkan besok pada anak didiknya. Kemudian seperti biasa, dia akan menunggu suaminya untuk pulang.

Waktu berulang seperti itu setiap hari. Selama itu dan akan terus seperti itu, sampai Dara berani bertanya kenapa suaminya melakukan hal itu padanya.

Semuanya, lembur, tidak ingin menidurinya, tidak mau makan malam bersama dengannya. Atau bahkan dia akan bertanya apakah makan siang yang dia bawakan selalu dimakan olehnya atau orang lain?

Namun, Dara tidak mau bertanya, karena dia tidak mau membuat suaminya marah. Hidupnya sudah cukup sulit dengan semuanya.

Jika itu dia lakukan, maka, dia juga harus siap bertengkar dengan suaminya. Lebih baik diam, dan menjalani semua putaran yang tidak akan berhenti seperti saat ini.

Malam ini, Dara tersenyum ketika melihat komentar dari para pembacanya. Dia masih belum seterkenal banyak penulis lain.

Namun, dia tetap terus berusaha menyajikan dan mengetik setiap kata yang disukai banyak orang.

Membaca komentar lucu dari pembacanya sangat membuatnya senang, dia bisa menarik kedua sudut bibirnya. la membalasnya dengan ungkapan terima kasih.

Tidak banyak yang berkomentar, tetapi semuanya hal positif yang bisa membangkitkan semangatnya untuk terus belajar dan berusaha untuk membuat para pengikutnya senang.

Dara melirik jam, kali ini tanpa sadar sudah jam sepuluh lebih. Namun, tetap saja Raka belum pulang. Bahkan dia tidak mengirimkan pesan apapun pada istrinya. -

Selalu Dara yang menelepon, selalu Dara yang mengirimkan kabar, bertanya dan juga mengingatkan untuk Raka tidak terlambat makan malam ataupun siang.

"Mas? Bisa pulang cepat hari ini? Sebenarnya tidak cepat, karena ini sudah jam sepuluh. Mas, jangan terlalu keras sama dirimu,' lirih Dara.

Begitu panggilannya tersambung dan dijawab oleh lelakinya. Tidak ada kata sapaan yang dilontarkan Raka. Jika Dara tidak berbicara maka, panggilan itu akan berakhir.

Suara ketikan pada keyboard terdengar dengan jelas, Raka benar-benar bekerja hingga larut malam.

Raka meminta mengubah panggilannya menjadi video. Kini keduanya bisa melihat wajah masing-masing.

"Dara, setiap hari aku maunya juga begitu. Tapi aku harus cari tambahan uang kan? Sampai kapan kita terus ngekost? Kita harus mengumpulkan banyak uang, untuk bisa membeli rumah. Meskipun tidak besar setidaknya kita tidak memikirkan membayar tiap bulannya kan?"

Background Raka, benar-benar dinding kantornya dengan logo kantor pusat yang besar. Lelaki itu tidak pernah berbohong pada siapapun.

Wajah Dara seketika kembali merasa bersalah. Harusnya dia tidak curiga bahwa suaminya berselingkuh. Akan tetapi pikirannya, membuat wanita itu terus menuduh suaminya dalam diam yang dia lakukan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel