Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. surat kontrak

Inda berjalan dengan santai memasuki kawasan gedung entertainment di iringi dengan Donny walaupun dia agak sedikit cerewet tetapi sifat itu hanya di tunjukannya di hadapan Inda dan orang terdekat lainnya.

"Inda kamu kok dateng nya siang banget?" Tegur Vina yang bertugas untuk mengurus segala perlengkapan dan penampilan make up nya artis cantik itu.

"Itu tu salahnya Don Don, dia enggak bangunin aku," Inda menatap Donny dari pantulan kaca yang saat ini melototkan matanya tajam banding balas Inda dengan semangat memeletkan lidah.

"Fitnah itu Vin, jelas jelas kebo itu yang susah di bangunin bilang, sepuluh menit lagi terus, sampe dua jam lebih!" serga Donny cepat membela diri ia tak ingin kalah akan fitnahan aktris nakal yang berada di bawah naungan nya ini.

"Mana ada jelas jel___," Inda yang memulai untuk berdebat terhenti karena di potong oleh seseorang.

"Mbak Inda Kim?" Panggilan salah seorang membuatnya menoleh dan memberi pandangan bertanya.

"Di suruh direktur utama untuk menghadap ke ruangan nya!" Lanjut perempuan itu lagi kemudian berlalu, Inda hanya mengangguk tanda akan dia mengerti dan segera pergi ke sana.

****

Tanpa aba aba di suruh duduk inda langsung duduk di kursi hadapan direktur utama gedung ini serta di temani oleh Donny sebagai manager nya.

"Ada apa pak memanggil saya?" tanya Inda terlebih dahulu membuka percakapan.

"Apa Donny belum memberitahu kepada kamu?" Bukannya menjawab orang itu justru kembali bertanya membuat Inda merasa jengkel, dan mengendikan bahu tanda ia tak mengerti.

"Baiklah kalau begitu saya hanya ingin memberitahukan mengenai tawaran pengajuan kerja kepada kamu, yang begitu padat." Jelas pak Darwin lagi sebagai kepala Entertainment perusahaan ini sementara Inda masih diam dan menyimak kalimat selanjutnya.

"Dan seperti nya keberuntungan berada dalam gengaman mu sekarang, salah satu perusahaan terkenal di California membutuhkan model untuk brand nya, dan kamu terpilih untuk menjadi kandidat utama untuk brand itu." jelas Darwin tak kentara menutupi wajahnya dari senyuman yang amat membosankan di mata Inda.

Oh sungguh ia malas untuk di atur, semua berjalan atas ke inginanya termaksud Karir nya bukan?

"TOLAK!" satu kalimat yang keluar dari bibirnya Inda mampu memecahkan segala suasana membuat Donny yang awalnya hanya diam saja menoleh tak percaya.

"Eh kecebong, kalo mau main jangan sekarang, ini kita sedang dalam mode serius loh!" peringat Donny terkejut akan mulut Inda yang di bilang ya terlalu jujur.

"APA KAMU BILANG! TOLAK! kau tau Inda mereka sanggup membayar lima kali lipat lebih tinggi dari tawaran yang lain!" Kali ini Darwin yang terkejutnya bukan main hal itu lantas saja membuat Inda maupun Donny menutup kuping karena teriakan terlalu merdu hingga dapat menjernikan kuping mereka.

"Kalau begitu bapak saja yang jadi model brand mereka!" Balas Inda tak kala sengit ia sungguh tidak menyukai seseorang lebih mementingkan keinginannya sendiri ketimbang ke inginan rekan. "Aku tidak ingin berkerjasama atas paksaan!" Lanjutnya lagi kemudian langsung meninggalkan ruangan itu tanpa menunggu jawaban sang pemimpin perusahaan.

Donny yang mengikuti langkah Inda berjalan yang mirip dengan berlari kecil, mengejar orang yang keras kepala di hadapannya itu begitu melelahkan.

"Hei gadis manja berhenti berlari tunggu aku." Donny berbicara dengan nafas tersegal segal ia sungguh lelah mengikuti langkah gadis keras kepala di hadapannya ini, begitu melelahkan sungguh.

Inda pun berhenti dan menoleh ke arah Donny dengan pandangan jengkel ia begitu kesal hari ini mood nya langsung down akibat berita maut yang di sampaikan oleh bos nya.

"Kenapa kau begitu lambat." kesal Inda kepada Donny

"Bukan aku yang lambat tapi kau yang berlari," balas Donny tak mau kalah mereka saling melotot tajam.

"Ah sudahlah, berdebat dengan mu menghabiskan waktu dan tenaga ku saja." putus Inda kemudian.

"Apa kau bilang?" bantah Donny tak terima karena di anggap seperti itu oleh Inda sampai saat ia ingin melayang kan kembali protestan tapi jati telunjuk Inda lebih dulu menyapa bibirnya.

"Hustt! simpen dulu ya." ucap Inda lagi membuat Donny mendelik sebal.

"Kau serius tidak ingin menerima tawaran ini?" Donny bertanya lagi sedikit jengkel memang tapi tetap di jawab oleh Inda.

"Memangnya dari wajahku menunjukan sedang bermain?" Balas Inda tak kala lagi lebih tepatnya pernyataan.

"Tapi apa alasannya?" Tanya Donny lagi membuat Inda seketika menoleh dan tersenyum menunjukan retetan giginya.

"Karena jadwalnya bertabrakan dengan rencanaku ke L.A."

Sungguh di luar dugaan jawaban seorang Inda mampu membuat Donny mengusul dada naik turun berusaha tidak menjambak kuat rambut aktris cantik di samping nya ini, ia fikir Inda menolak karena ada alasan pribadi yang menyebabkan ia tak ingin menginjakan kaki di negara itu.

"Apa kau gila? atas dasar apa kau pergi ke sana?" tanya Donny tak habis fikir ia begitu gemas hingga ingin menenggelamkan sosok itu ke rawa rawa.

"Donny, kau tahu kemarin aku mendapat email dari Damien katanya dia ingin mengajakku makan malam untuk menghadiri acara pertunangan sahabat baik nya, dan dia ingin aku jadi partner nya nanti." Jelas Inda membuat Damien mau tak mau kehabisan kata kata ia fikir ada apa ini sungguh di luar dugaan nya.

"Kau benar benar sudah gila, melepaskan tawaran yang amazing demi sebuah pesta!" Ungkap Donny jujur terlalu jujur sungguh membuat Inda hanya mengendikan bahunya tanda tak perduli yang penting dia senang.

*****

Ini lah kehidupan seorang Zavier Zuera seorang pengusaha terkenal di dunia di penuhi dengan sejuta misteri serta berparas yang mampu membuat kaum hawa bertekuk lutut di bawahnya, tapi jangan terlena akan ketampanan nya karena di dalamnya ia menyimpan banyak rahasia gelap maupun tidak.

"Bagaimana apa kau sudah menemukan nya?" tanya Zavier sedikit sedih dalam kalimatnya dengan tangan yang menguncang gelas wine di tangannya.

"Belum tuan, seakan memang menghilang bak di telan bumi semua kabar mengenai nyonya telah hilang." Jelas Exel menghadirkan kilatan kemarahan di mata Zavier sketika dia membanting gelas yang berada dalam gengamannya dengan kuat.

'prakk'

"Apa saja yang kalian kerjakan selama setahun terakhir ini?" Kesal Zavier marah ia sungguh ingin meluapkan segala kekesalannya kepada siapa pun.

"Maaf tuan." Exel menundukan kepalannya dalam berusaha meminta permohonan maaf.

"Cari dia cari sampai dapat, bahkan ke ujung dunia pun, kalian harus membawanya kehadapanku!" perintah Zavier tegas kemudian ia segera berjalan menuju meja kerjanya menarik salah satu laci dan mengeluarkan sebuat buku usang berwarna biru seperti diary ya diary.

Tepat sehari setelah Zavier mengusir dan tak ingin berhubungan dengan Quenzie dia pun menyuruh semua pelayan yang ada di rumah ini untuk membakar segala barang dan benda benda yang berhubungan dengan wanita yang ia anggap menjijikan itu, sampai akhirnya ia menemukan buku ini awalnya ia berniat membakarnya sampai saat lembaran itu terbuka menampilkan sebuah guratan yang menurutnya sangat berarti, hingga hanya ini yang tersisa tak ada lagi yang lain.

Saat Zavier mengangkat buku itu nampak dua lembar foto terjatuh dari dalamnya.

Yang satu menampakan seorang gadis cantik Asia alami sewaktu kecil dan di sebelahnya seorang anak lelaki yang tak asing... ya itu dirinya.

Sedangkan yang satunya lagi perempuan remaja berseragam sma dengan wajah putih bersih natural tanpa make up sedang tersenyum menatap kamera, pandangan Zavier terhenti menatapnya dan mengelus pelan wajah di foto itu, pantas saja Zavier tidak mengenalinya sama sekali karena selama ini perempuan itu selalu tampil dengan make up yang full dan menjijikan di matanya sampai akhirnya penyesalan lah yang ia dapatkan.

perempuan itu adalah pelengkapnya dia adalah segalanya bagi Zavier.

perempuan itu adalah dia .

suara ketukan membuat Zavier segera menyimpan dengan cepat buku itu dan kembali pada posisi semulanya.

"Tuan ada berita buruk!" Exel segera berucap membuat kening Zavier mengerenyitkan bingung.

"Tawaran kontrak kita di tolak tuan!" Balas Exel lagi membuat Zavier kembali mendidih karena ucapan Exel tadi.

"Berani beraninya dia, cepat Exel kau lakukan segala cara agar dia tidak menolak atau tidak berikan email nya padaku!" geram Zavier sebelumnya tak pernah ada yang berani menolaknya dalam segi apa pun dan ini berani beraninya dia di tolak oleh seorang aktris kecil, ia tidak tahu apa bahkan dengan sekali perintah jari maka kehidupan gadis itu akan hancur hinga ke akar.

'Baik tuan akan saya kirimkan." Exel segera.mengirimkan email sang aktris kepada Zavier yang bertugas mengirimkan langsung email kepadanya.

******

Pagi ini sungguh pemandangan yang langkah bagi perusahaan ini, di karenakan seorang Inda Kim datang dengan mimik wajah kesal serta lucu mungkin bagi yang menyaksikan acara nyambek nya secara langsung itu.

Vina yang melihat hal itu segera menelfon seseorang di seberang sana yang kini mungkin masih bergelung di dalam selimutnya.

"Ada apa kau menelfon ku pagi sekali?" kesal orang di seberang.

"Kau di mana? seharusnya sebagai manager kau harus selalu berada di sekitar aktris mu." balas Vina tak kalah jengkel saat menyadari bahwa Donny masih tertidur.

"Aku masih tidur, lagian Inda juga pasti masih molor di kamarnya kau tahu sendiri kan dia itu seperti apa?" balas Donny malas membuat Vina semakin geram.

"Itu dia masalahnya pagi ini Inda datang dengan raut wajah tak bersahabat sepertinya dia sedang kesal dan saat ini ia berjalan menuju ruang direktur!" Seruan Vina panjang-lebar membuat Donny tersungkur dari tempat tidurnya.

"Kau bercanda?" tanya Donny tak yakin.

"Apa aku tidak ada kerjaan lain selain membohongimu!" balas Vina skarstik panggilan pun terputus.

Donny segara melihat jam yang tertera di dinding kamar nya.

05.30

"Apa gadis itu gilaa?" kesal Donny lagi.

"Masalah apa lagi yang akan dia buat!" lanjutnya lagi masih menggerutu tapi tetap bersiap menuju kantor.

'BRAK'

Hentakan kasar pintu utama membuat Darwin yang awalnya sedang bersantai pagi menjadi terkejut akibat kedatangan seseorang yang tidak ia duga duga.bahkan mungkin tergolong mustahil.

"Apa mataku bermasalah akhir akhir ini?" tanya Darwin berusaha mengusap matanya berulang kali dan melihat sosok itu lagi dan lagi, tapi tetap saja sosok Inda lah yang masih terpampang membuat Darwin bingung.

"Berikan surat kontrak itu!" Ucap Inda dengan nada datar membuat Darwin binggung, sejurus kemudian ia dengan semangat memberikannya kepada inda.

Tanpa menunggu lagi inda segera membawa surat itu pergi menjauh dan meninggalkan ruangan Darwin.

"Kenapa dia bawa pergi? seharusnya cukup di tanda tangani di sini, pasti ada yang tidak beres." dengan gelagapan Darwin segera berlari keluar menyusul Inda yang membawa surat kontrak itu pergi tetapi terlambat.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel