Pustaka
Bahasa Indonesia

Forgive?

47.0K · Tamat
rainkurnia99 (Taeyin)
34
Bab
4.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

dihianati teman, bahkan suami yang sangat kau cintai itulah yang diriku rasakan tapi hanya aku yang mencintainya bukan dia yang mencintai ku. tapi hanya aku! seakan takdir mempermainkan ku kami di pertemukan tapi dalam keadaan aku tak mengingat nya sama sekali! bagaimana ini! dan rahasia terbesarnya terbuka. "lepaskan aku tidak ingin berakhir menyedihkan bersamamu" "kau adalah miliku, kau di takdirkan untuk bersamaku, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu, bahkan sedikitpun" "tapi kau lebih dulu yang membuangku, dulu!" "lupakanlah hal itu, dan maaf kan aku" "melupakan hal yang mudah tapi memaafkan? aku tidak tahu"

RomansaPresdirRevengeKeluargaPernikahanSweetMenyedihkanBaperTuan Muda

1. Kesalahan

Semua terjadi begitu cepat.

Membuat perempuan yang menjadi korban akan semua yang terjadi di sini hanya mampu berusaha mengembalikan kepercayaan seseorang yang kini sudah memandang nya hina!

Hei dia di sini juga adalah korban.

Tapi terlambat seakan memang tak ada yang berpihak kepadanya ia hanya menunduk menangis meratapi kesalahan yang memang bukan menjadi keinginan nya.

"Kumohon percayalah ini bukan kesalahanku," ucap perempuan itu berulang kali menggeleng geleng kepala berusaha mengapai tubuh lelaki di hadapannya bahkan kini semakin sulit untuk di gapai, dari dulu memang lelaki yang menjadi suaminya itu sangat membencinya dan tidak pernah menganggap nya ada apa lagi setelah kejadian ini mungkin ia akan di campakkan.

"Dasar menjijikan," ucapan tajam yang terlontar dari bibir lelaki itu sungguh membuat hati wanita yang berstatus sebagai istrinya itu berdesir sakit.

"Kau menjijikan dan begitu kotor," lanjutnya lagi.

"Kumohon Zavier percayalah ini semua bukan kesalahan ku," mohon perempuan itu lagi dengan wajah sembab dan pucat sungguh ia butuh di lindungi saat ini dan berharap seseorang akan datang dan memeluknya erat membisikan kata kata menenangkan di telinganya.

Sementara lelaki yang di panggil panggil sebagai Zavier hanya membuang muka tak sudi menatap seakan ia adalah makhluk paling hina di sini, di sebuah kamar hotel yang entah sejak kapan sudah mendapati dirinya hampir terlepas dari seluruh busananya ia bahkan tidak ingat.

"Clariena bisa membuktikan bahwa ini semua hanya sebuah kesalahpahaman," teriak perempuan itu lagi mencoba meminta pertolongan kepada sahabat baiknya itu karena ia yakin Clariena pasti akan membuktikan dia tidak bersalah biar bagaimana pun mereka adalah sahabat bukan, dan sudah seharusnya saling membatu karena sebelumnya clariena ada di sana.

Zavier pun segera menolehkan kepalanya dan menatap gadis cantik sangat cantik yang berdiri dengan anggun di sampingnya meminta penjelasan.

"Kau juga ada di sana tepat sebelum pesta itu berlangsung, bukan kah kita pergi bersama?" Quenzie berusaha menekan kembali ucapnya berharap temannya akan mengiyakan itu semua.

Sementara Clariena perempuan cantik sangat pintar berkedok itu kini langsung memasang wajah iba seakan dia sedang di lempar kan tuduhan saat ini, dan Quenzie yang mencium bau tak bersahabat hanya bisa mengeram kesal ini tidak adil! ia bahkan sangat mempercayai perempuan yang menjadi sahabatnya itu, tapi apa ini!

Clariena hanya tersenyum lembut sangat anggun semuanya nampak cantik secara alami berbanding terbalik dengan dirinya yang berpenampilan selalu over make up Quenzie pun sudah lupa bagaimana wajah aslinya yang natural, andai dia tidak gegabah dua tahun lalu mungkin ini semua tidak akan terjadi, cinta sudah membuat dia melupakan segalannya, seandainya saja ia menurut mung__.

"Apa yang kau bicarakan quen, apa kau sekarang mencoba melemparkan semua kesalahan mu padaku?" Sandiwara Clariena mulai bermain membuat Quenzie memejamkan matanya meremas kuat dadanya yang terasa berkurang pasokan udara.

Apa mereka sekarang sedang bersekongkol untuk menyingkirkan nya

fikir Quenzie tajam.

"Clariena kau pasti sedang bercandakan, bukannya kau yang mengajakku untuk datang ke pesta itu!" Quenzie masih berusaha untuk meminta sahabatnya itu menjelaskan kebenarannya bahwa ini semua tidak benar.

"Apa yang kau bicarakan, jelas jelas saja waktu kejadian itu aku sedang mengerjakan proyek kampus bersama teman temanku,” balas Clariena lagi sebelum pandangan nya berubah tajam sesaat kemudiaan berubah menjadi meremehkan menatap Quenzie dengan iba sekan memang mereka beda level untuk saat ini.

"Ups! maaf kau orang bodoh yang tidak bersekolah tinggi tidak akan mengerti apa yang aku bicarakan bukan?" kalimat tajam Clariena sukses membuat Quenzie mendongkak dan menatapnya tak percaya, bagaimana Calriena bisa mengatakan kata kata tajam itu padanya bukankah mereka selama ini adalah sahabat.

Seharusnya dia tidak boleh terlalu bodoh dan naif sehingga tidak menyadari kelakuan serta sifat Clariena sesungguhnya, selama ini ia selalu mendukung Quen dalam segala hal mengagung kan nya selalu memuji dirinya dan bahkan selalu berpihak padanya apa bila ia selalu berada di posisi tersulit sehingga ia akan mengangap bahwa Clariena adalah sosok yang akan selalu melindunginya karena itu Quen menganggap Clarie sebagai sahabat baik nya, harusnya ia sadar dari awal ini semua adalah rencana siasat Clariena untuk menjebaknya dia adalah rubah!.

"Hmm," Zavier berdehem mencoba menyadarkan Clariena akan ucapannya.

"Maaf, aku tak seharusnya menyingung nyonya Zuera, walaupun itulah kenyataannya!" balas Clariena lagi di iringi dengan senyuman kecil di akhir.

Quenzie menatap sahabatnya dengan pandangan terluka sangat terluka.

Seakan tak punya hati Zavier segera berbalik meninggalkan sosok yang kini sudah terduduk di lantai itu dengan punggung dingin tak tersentuh bahkan menoleh sedikit pun ia enggan.

Perjuangan yang aku lakukan selama ini hanya sia sia? kau bahkan tidak memandangku sama sekali, aku bahkan rela meninggalkan segalanya demi dirimu, sedangkan kau bahkan berpihak padaku sedikitpun tidak! batin perempuan itu berteriak sedih ia begitu kesakitan untuk menghadapi takdir ini.

"Terserah kalian mau melakukan apa kepadanya, aku sudah tidak perduli, dia bukan siapa siapaku." putus lelaki tersebut sontak saja membuat perempuan itu kembali histeris berteriak memohon kepada suaminya ini bukanlah ke inginan nya ia sama sekali tidak menginginkan hal ini terjadi.

"TIDAK JANGAN! KUMOHON ZAV INI SEMUA BUKAN SALAH KU!" teriak Quenzie kencang berusaha membuat sosok punggung tegas itu menoleh dan menolongnya dari ketiga lelaki bertubuh besar dan berwajah sangar di dalam kamar ini, sungguh ia begitu ketakutan.

Tanpa keraguan sedikitpun Zavier meninggalkan ruangan tersebut dan tak berniat berbalik sedikitpun, sementara Clariena menatap remeh Quenzie.

"Kenapa kau tega? kita adalah sahabat bukan? kenapa kau tidak memberitahu kan kebenarannya pada Zavier?" teriak Quenzie meminta pengertian sahabatnya yang bahkan kini tak pantas untuk di sebut sahabat.

"Hahahahah, sahabat?apa kau begitu naif, siapa yang ingin bersahabat denganmu? orang bodoh dan miskin seperti mu tidak pantas berada di samping Zavier, dan menjadi nyonya Zuera" ucapan Clariena begitu sakarstik dan menyakitkan bagi Quenzie membuatnya semakin tak percaya bahwa Clariena lah yang menusuknya dari belakang.

"Clarieana kau!" Quenzie kehabisan kata kata tak mampu lagi tuk berbicara.

"Kau benar, aku lah orang yang akan menggantikan mu untuk menjadi nyonya Zuera mulai dari sekarang, jadi kau nikmati saja permainan ini ya." Clariena tersenyum sinis sebelum ia memanggil ketiga lelaki pelaku yang menghancurkan hubungan antara Quenzie dan Zavier.

Clariena pun memberikan segepok uang begitu banyak membuat Quenzie terbelalak kaget jadi, ini semua adalah perintah dari Clariena.

"Keterlaluan!" teriak Quenzie kesal.

"Kenapa kau merasa tidak adil, seharusnya kau berdoa supaya dilahirkan untuk menjadi gadis yang terlahir di keluarga yang kaya raya jangan di keluarga miskin yang tak pantas bersanding dengan Zavier" ucap Clariena lagi sebelum meninggalkan ruangan ini.

"Ingat kalau kalian sudah selesai bersenang senang, dengan dia, habisi saja, jangan sampai dia menjadi menghalang jalan ku untuk menjadi nyonya Zuera!" peringat Clariena lagi dengan kejam membuat Quenzie yang sendari tadi berusaha melarikan diri kini tak bisa karena terjerat oleh ketika lelaki berbadan kekar tersebut.

****

Dengan pakaian yang sudah tak layak lagi di pakai darah mengalir dari sudut bibirnya akibat tamparan yang terlalu keras dari ketiga bajingan itu, untung saja ia tidak terlambat jika tidak maka semuanya akan sia sia.

Entah tuhan yang sedang berbaik hati padanya atau memang ia belum di takdirkan untuk mati, Quenzie mendapati bahwa ia masih bisa kabur dari bencana itu.

"Hiks hiks.” tangisnya sepanjang jalan ia meratapi kebodohan yang telah ia lakukan selama dua tahun ini, ia bahkan rela meninggalkan segalanya demi mengejar cinta yang ia anggap terbalas dan nyata.

Seharusnya ia tidak usah datang, dan mencoba membuktikan semuanya.

California!

Bahkan negara ini tidak pernah terlintas di fikiran nya selagi ia masih menginjak bangku perkuliahan dua tahun yang lalu, sebelum segalanya berubah setelah ia menemukan sebuah buku diary biru tua dan usang tetapi isi di dalamnya begitu membuat Quenzie jatuh cinta hanya sekali membacanya, ia bahkan sudah tidak ingat kapan ia memiliki buku seperti itu.

Dan menemukan nama terlarang yang tak seharusnya ia dekati dan berakhir tragis saat ini 'Zavier Talafa Zuera’ sosok yang mampu menggetarkan segala isi hatinya seorang pemuda yang ternyata pengusaha terkaya di dunia sekaligus California, dan melakukan segala cara agar ia bisa bersama lelaki itu walau jelas jelas ia tahu bahwa orang itu sama sekali tidak mencintainya, menyedihkan bukan? tapi itulah yang terjadi, dua tahun sebelum Quenzie menikah dan berhasil menjadi nyonya Zuera, ia sudah bertemu dengan ‘Clariena Gueri Datosa’ salah seorang bangsawan California keluarga kaya raya walaupun belum seberapa ketimbang Zuera. Serta Diora ibu dari Zavier sendiri yang menjadi batu loncatan pertama alasan kenapa dia bisa menikah bersama lelaki yang dia cintai saat ini.

Dan mereka bersahabat sebelum hari ini terjadi di mana semua topeng terbuka bahkan terlambat untuk sekedar menyesalinya sekarang, ia sudah tidak punya siapa siapa lagi.

Andai waktu itu aku tidak usah sombong dan sok tidak perduli kebaikan yang di kasihkan oleh daddy dan bunda

Quenzie masih merutuki kebodohannya sebelum dua tahun lalu, ia bukan lah orang biasa hanya itu.

"Maaf kan Ziezie bunda ini semua salah Ziezie yang keras kepala semoga kalian hidup baik baik saja," Quenzie berbicara sepanjang perjalanan nya.

"HEI, MAU KABUR KE MANA? BERHENTI!" teriak seseorang di belakang membuat tubuh Quenzie bergetar hebat di hutan belantara ini kenapa mereka masih bisa mengejar nya? dengan jantung yang berpacu cepat Quen segera berlari sekuat mungkin.

Tapi dia sudah tidak sanggup lagi, dan dia juga tidak ingin berakhir tragis menjadi korbannya pemerkosaan di hutan ini, tidak ia tidak mau.

Sampai akhirnya ia melihat mobil melaju kencang ke arah merka tanpa fikir panjang Quenzie langsung berlari ke hadapan mobil tersebut hingga tubuhnya terpental jauh.

"BRAK"

Hentakan tersebut terdengar sangat kencang, menghentikan pergerakan ketiga orang tersebut, bahkan ia tak berniat maju bahkan untuk selangkah lagi.

"Bagaimana ini?" teriak yang pertama.

"Sudah kita tinggalkan saja, aku tidak ingin di tuduh sebagai pembunuh!" teriak yang kedua.

"Benar bukannya kita memang di tugaskan untuk membunuhnya, jadi kita tidak usah repot-repot untuk mengotori tangan kita sendiri.” ucap yang terakhir, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari lokasi kejadian.

Tepat ketika ketiga pemuda tersebut membalikan badannya tubuh Quenzie terhempas di aspal dan matanya yang mengabur menatap punggung ketigannya ia merasa sedih dan meratapi nasib nya sendiri.

Apa aku akan mati sekarang.

Apa aku sudah mati.

Satuhal yang aku inginkan aku ingin melupakan hal ini semua seakan ini semua tak pernah terjadi, termasuk dirimu, aku tidak ingin mengingat bahkan mendekati dirimu sedikitpun, ini terlalu menyakitkan*.

Mudah melupakan tapi susah untuk memaafkan.

Kalimat terakhirnya terhenti tepat saat matanya tertutup, seseorang yang menabraknya segera turun dari mobil dan segera menghampiri nya.

"Nona bangun nona!" lelaki itupun menepuk nepuk pipi perempuan tersebut sebelum memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.

****

Lelaki tersebut terus berjalan jalan mondar mandir tanpa henti ia begitu khawatir, tujuanya ke negara ini bukan nya untuk menabrak seseorang melainkan untuk mencari, dan ini apa apan ini.

Deringan ponsel di sakunya pun segera mengalihkan perhatian nya.

"Ada apa mom?" balas pemuda itu cepat karena memang panggilan yang di lakukan oleh ibunya itu adalah panggilan video.

"Bagaimana apa kau sudah menemukan nya!" tanya wanita paru baya tersebut langsung tanpa ragu.

"Belum mom, jangankan menemukannya aku bahkan sudah menabrak seseorang," balas pemuda itu lagi lantas membuat orang di seberang berteriak terkejut lebih tepatnya hanya dua wanita paru baya sementara para suami hanya meletot terkejut.

"APA KATAMU? menabrak anak siapa?" suara yang sangat melengking itu membuat si pemuda panik.

“Mom ini rumah sakit." peringatan pemuda itu lagi, sebelum akhirnya ponsel ibunya berpindah posisi.

"Tante mohon sama kamu, tolong temukan dia buat tante, ini semua sudah cukup buat dia menghilang, sudah hampir lima negara kita cari tapi tidak membuahkan hasil." dengan mata sembab perempuan paru baya tersebut berbicara sambil menangis.

"Baik tante tenang saja damien pasti akan membawa nya kembali." tegas pemuda itu degan yakin.

Sebelum akhirnya ruangan UGD itu terbuka dan menampilkan sosok dokter yang pertama damien hampiri.

"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Damien cepat, hingga ia tidak ingat masih melakukan panggilan video itu.

"Keluarga atau suami pasien?" tanya dokter sementara Damien hanya mengangguk bingung ingin menjawab apa.

"Syukur lah dia sekarang sudah baik baik saja, dan sudah di pindahkan di ruang rawat inap." jelas dokter tersebut segera Damien pergi ke sana menuju ruang kamar wanita yang ia tabrak tadi.

Perlahan setelah ia memasuki kamar tersebut terdengar tetesan infus dan perempuan terbaring dengan lemah tak berdaya, wajah yang sulit di jelaskan jelek atau cantik? ia pun tidak tahu karena penampilannya yang sudah terbalut full dengan make up tebal serta aliran darah yang menganggu.

"Damien, mommy mau melihat orang yang kau tabrak!" suara tersebut langsung mengagetkan Damien, ia lupa mematikan panggilan nya.

"Mommy tidak usah, biar ini Damien yang urus." balas sang anak keras kepala.

"Damien tante ingin melihatnya?" kali ini bukan nya mommy Damien yang memohon membuat Damien tidak punya permohonan lain selain mengarahkan kameranya kearah sosok yang terbaring lemah di sana.

'prank'

Itu bukan suara alat medis yang terjatuh ataupun ponsel Damien melainkan...

"Sae yeon, apa yang kau lakukan? kenapa kau membanting ponsel ku?" oceh di seberang sana membuat Damien segera memfokuskan kan dirinya lagi di layar video itu.

Tanpa menunggu respon istrinya Bryan langsung mengambil ponsel itu.

"Tidak ada masalah apa apa," Brayn segera menenangkan Damien.

"Bawa dia!" suara Sae Yeon langsung membuat semua perhatian tertuju padanya.

"Siapa yang kau bawa sea?" Vanya langsung bertanya sewot.

"Hust!" thomas langsung menghentikan kebiasaan memotong istrinya.

"Damien," sae yeon langsung merebut kembali ponsel itu dari tangan suaminya.

"Bawa dia kembali kesini, dan pindahkan semua perawatannya di Indonesia!" perintah Sae Yeon menjadi akhir dari penutup video call walupun masih banyak yang ingin di tanyakan tapi kan bisa di tampung.