Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

BAB 5 Gak habis fikir

Sesampainya disolo, omma yang tau kabar kalo putrinya pulang dia sangat senang, karena dia setiap harinya hanya sama inggit, dan dia makin senang karena semua cucunya juga ikut pulang termasuk cucu menantunya, tapi omma nya tidak tau kalo mereka pulang untuk selamanya, dan si omma hanya tau dia akan tinggal dalam waktu yang lama, makanya bawaannya banyak.

Bukannnya ibu rahayu tak mau jujur dengan ibunya sendiri, tapi dia belum siap menceritakannya, dia menunggu hatinya sendiri bisa menerimanya, baru memberitahukan kepada ibunya dengan hati-hati, sedangkan ibu rahayu akan mengajar dikampus tempat dimana inggit kuliah semester akhir, ibu ayu biasanya hanya menjadi dosen kunjungan yang mengajar seminggu sekali, tapi kali ini ibu rahayu sudah menerima tawaran yang dulu sempat ditolaknya untuk kembali menjadi dosen tetap di universitas itu kembali.

Mereka menata semua barang-barangnya dikamar mereka masing-masing, sebenarnya rumah itu adalah rumah ibu rahayu sendiri warisan dari bapaknya sebelum meninggal, bu ayu memiliki satu kakak perempuan, dan satu adik perempuan, semuanya sudah berkeluarga, dan sudah memiliki rumah masing-masing yang satu disolo dan satunya lagi di daerah magelang, jadi ommanya tinggal dirumah ibu rahayu semenjak inggit ketrima kuliah di solo, dia menemani inggit karena kedua orang tua dan adiknya berada dijakarta

“ibu sudah tidur ?” Tanya hamzah ke adiknya, anggi mengangguk

“ham, sepertinya kita harus kerumah bude nurul deh, biar ibu tidak disalahkan, dan biar mereka tau sendiri dari mulut kita bukan mulut orang lain” usul inggit, dan bian setuju karena itu untuk mengantisipasi semuanya

“tapi mbak” hamzah agak keberatan dia sudah terlanjur marah dengan bapaknya

“ham, bagaimanapun dia bude kita, kita tidak boleh kayak gitu, meskipun bapak kayak gitu” hamzah pasrah, dan mereka bertiga berangkat menggunakan mobil ibunya yang ada dirumah, yang biasa digunakan mbak inggit, sedangkan bian menunggu dirumah, takut calon mertuanya membutuhkan sesuatu

Sesampainya dirumah ommanya yang dari pak rosikin yaitu rumah yang sekarang ditinggali oleh keluarga budenya dan omma sendiri, ketika mereka sampai disana hanya ada budenya yang sedang menyapu halaman, dan mungkin ommanya sedang istirahat dikamar, anggi yang lama tak bertemu budenya itu dia langsung berhambur kepelukan budenya, budenya kaget melihat ketiga keponakannya itu datang tanpa memberi kabar, karena biasanya hanya inggit yang datang.

Seperti kesepakatan awal, anggi harus mencegah ommanya untuk ikut datang mengobrol dengan mereka, jadi anggi pergi ke kamar ommanya dan ternyata sesuai dugaan ommanya masih istirahat, sehingga anggi ikut merebahkan diri di samping ommanya sambil memeluknya, baginya pelukan ini sudah lama tak dirasakannya, anggi mengirim pesan ke hamzah untuk memberikan sinyal kalo aman terkendali karena sang omma masih istirahat.

Bude nurul sangat bahagia, karena kedatangan hamzah, tapi ketika basa-basi mereka sudah habis, inggit buru-buru menjelaskan kedatangannya

“bude nurul ada yang ingin kami bicarakan serius dengan bude, sangat serius, makanya kita ke sini” inggit dengan wajah seriusnya, yang membuat budenya semakin penasaran mereka berdua tampak sangat serius

“bude, ada masalah dengan ibu dan bapak, sehingga kita semua sekarang pindah kesini semua, kecuali bapak” inggit membuka percakapannya dengan nada orang yang hampir menangis sedangkan hamzah hanya bisa memegang tangan kakaknya untuk tetap tenang “bapak menghamili asisten dosennya sendiri, dan ibu sangat marah akan itu, ibu memintai cerai tetapi bapak tidak mau, sehingga semalem keputusan ibu kita semua pulang ke solo, dan anggita akan pindah sekolah juga” bude nurul kaget dan tanpa sadar menangis karena mendengar berita itu, anggita dari belakang langsung memeluk budenya untuk menenangkan budenya, anggita sengaja mengunci neneknya yang sedang tidur dikamar, agar tidak mendengarkan percakapan mereka

“bagaimana hal itu bisa terjadi, apa yang ada dipikiran bapakmu?? Bagaimana bude menghadapi ibumu?” anggita pindah disebelah bude nurul, mereka menangis bersama kecuali hamzah

"untuk itu kita semua tidak tau bude, sampau sekarang ibu masih belum mencertikan apapun" jawab inggit, karena dia juga tidak tau, anggita dan ibunya masih sama-sama bungkam

"kamu gak papa kan nduk? gak ada yang sakit? gak kambuh kan sesaknya" bude nurul. meneliti semua badan anggita, karena dia tau kalo keponakannya memiliki riwayat sesak nafas,

"anggi gak papa bude, anggi sehat, ada mbak inggit yang jaga" anggita berusaha menenangkan budenya yang tampak khawatir

"ya sudah, kalian disini, makan siang disini aja, omma pasti nanyain kalian, bentar lagi pak de juga pulang, biar bude ngomong ke pak de untuk mengunjungi ibumu, dan anggi sekolah ditempat pak demu" mereka bertiga hanya mengangguk setidaknya kakak dari bapaknya itu paham akan kondisinya

"nggi, omma udah bangun kali, buka pintunya" celutuk hamzah karena sudah hampir 2jam mereka ngobrol, anggi langsung lari karena melupakan ommanya, dan untung ommanya belum bangun

mereka semua sudah siap dimeja makan bersama omma, pakde, budenya, kebetulan anaknya bude nurul yang seumuran anggita masih ada pelajaran tambahan di sekolahnya "omma, kok seneng banget, apa karena ada cucu kesayangan datang?" pakdenya sambil melirik ke arah anggita

"sudah lama banget enggak ketemu anggi, ketemunya inggit terus, apalagi hamzah kalo g lebaran enggak pulang ke sini" omel ommanya dan semuanya ketawa

mereka harus segera pulang, dengan alasan karena calon suami inggit dirumah nemenin ibu nya, tapi sampai ditengah perjalanan mereka berbelok ke arah cafe yang memiliki ruangan khusus yang kedap suara, karena anggita ingin mencurahkan apa yang dia rasa, dan dia ketahui, dan dia juga enggak mau ibunya tau.

"mbak, mas ham, sebenarnya adek mau cerita, yang adek ketahui" kata anggi membuka awal, hamzah hanya mengangguk

"sebenarnya beberapa bulan yang lalu, ketika ibu ke jogja ngajar disana seminggu, baru berangkat ibu tu, habis nganterin ibu ke stasiun, sorenya bapak pulang tu udah pucet banget, ku suruh istirahat, dan dimasakin bubur sama teteh(pembantu dirumah), besoknya si teteh masakin pagi, emang sudah bilang sih gak sampai sore soalnya ada acara nikahan ponakannya, itu pun bapak udah aku tanyain, anggi libur aja ya buat ngerawat bapak, bapak enggak mau, katanya bapak mau tiduran aja, ya udah anggi masuk sekolah, dan anggi inget banget udah bilang si teteh buat ngunci pintu rumah, soalnya kebiasaan bapak kan kalo sakit bangunnya kalo cuma mau sholat aja, ternyata anggi pulang pintu rumah cuma ditutup, anggi bergegas ke kamar bapak donk, itu juga enggak tertutup rapat, dan anggi melihat mbak tika tidur disebelah bapak, anggi kaget buru-buru masuk kamar, anggi jujur enggak tau apa yang mereka lakukan, hampir magrib, anggi mau ke dapur, ngelihat mbak tika keluar dari kamar bapak, tapi dengan mata sembab kayak habis nangis, dia ngelihatin anggi cuma diam aja, enggak menyapa kayak biasanya, terus ketika hampir magrib mas bian ku telfon, ku suruh nganterin anggi buat nyari makan sama bungkusin makan bapak, niatnya mau cerita mas bian, tapi enggak jadi" cerita anggi terjeda, dia membuang nafas kasarnya

"malamnya ibu juga telfon, aku bilang bapak sakit, dan kayaknya ibu langsung telfon bapak, soalnya pas itu kubilang bapak dirumah, aku lagi keluar sama mas bian nyarikan lauk buat bapak, ketika sampai rumah ibu jiga telfon lagi, kalo bapak kelihatan masih lemes suruh anter ke rumah sakit, katanya ibu mau pulang enggak dibolehin bapak, suruh nyelesaikan tugasnya dan gak perlu khawatir, emang bener sih bapak udah sehatan, bapak pergi ke kampus, sekalian nganterin anggi sekolah, ibu juga udah lega, besok paginya ketika teteh mau nyuci nyamperin adek di kamar, si teteh nanya, kenapa aku haid enggak pake sarung di atas seperai tumben banget sampai bocor, aku kaget donk, aku bilang aku enggak haid, aku juga belum ganti seperai kasur, si teteh bingung darahnya siapa, kan ibu enggak dirumah, mbak inggit juga, tapi si teteh enggak gitu mikirin, dia lalu keluar lagi, sorenya pass aku pulang sekolah dan bapak belum pulang aku nanya ke teteh, kuberanikan nanya meskipun umur adek belum genap 17 tahun" hamzah sudah berkali kali meminum jusnya, dia gak habis fikir adiknya di usia belia melihat hal tak terduga

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel