Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

BAB 4 Meninggalkan

“aku sudah mengambil keputusan mbak inggit, aku akan mengantarkan ibu ke solo, dan anggi, aku akan membersihkan semua barangku, aku kan ikut ibu” kata hamzah yang sudah geram tak mau banyak bicara

“kita pulang ke solo mala mini mbak, kasihan ibu jika harus menundanya lagi” kata hamzah lirih, dia sudah tak bisa berfikir apapun

“aku bilang mas bian dulu” mereka berdua kembali keruang tamu, dan suasana tegang masih sangat terasa diantara mereka

“ibu, anggi kita pergi malam ini, bereskan barang kalian” hamzah sebagai anak cowok satu-satunya harus bisa melindungi ketiga wanita yang disayangnya, dan dia harus bisa tegas mengambil keputusan

“mas bian, tolong bantuin mbak inggit buat beresin semuanya, aku mau bicara sama bapak dan kartika” bian langsung berdiri mamapah calon ibu mertuanya, karena bian tidak tega melihat ibu mertua yang dihormatinya seperti itu

“ham, aku mau bicara” kata kartika setelah mereka tinggal bertiga yaitu hamzah, bapaknya dan kartika

“enggak perlu yang ada dibicarakan tika, aku mau bicara dengan bapak saya, kamu tak berhak ikut campur” bentak hamzah, dan kartika langsung diam

“jaga suaramu ham, yang sopan” bapaknya hamzah langsung menggunakan nada tingginya karena hamzah membentak kartika, dan kekecewaan hamzah terlihat jelas, dia berfikir jika dia mengatakan akan pulang ke solo malam ini dia bisa memberikan ancaman kepada bapaknya dan sedikit membawa penyesalan untuk bapaknya, ternyata yang di dapat, terlihat wajah bapaknya yang marah

“sepertinya hamzah sudah tau pak, dan niat hamzah ingin mengobrol baik-baik dengan bapak, ternyata perlakuan bapak seperti ini, jadi saya tidak perlu membicarakan apapun dengan anda” niat hamzah adalah berbicara dengan bapaknya, bagaimanapun dia meminta maaf telah memilih ibunya, tapi karena bentakan pak rosikin yang membuat hamzah tidak jadi menghormati ayahnya

“setelah kalian hidup selama 23 tahun, saling berbagi kesedihan, kebahagian, dan sama sama membangun karir dari 0, justru kamu merusak kepercayaan ibuku, dimana ibuku selalu sabar menghadapimu, merawat anggi, merawat kita semua dengan telaten, apa kamu pantas disebut ayah jika kamu menghianti ibuku dengan seorang mahasiswa, asdosmu sendiri, anda memiliki nama yang sangat baik di kampus, berwibawa sesuai namu Rosikin Wibawa, tapi perilakumu sangat-sangat tak baik bagi seorang dosen yang berwibawa” kata hamzah dengan sangat kecewa “satu hal lagi bapak dosen rosikin wibawa, jangan harap aku akan menginjakkan kakiku disini, dan jangan harap aku akan memanggilmu lagi dengan sebutan bapak” kata hamzah sambil berlalu menuju kamarnya untuk membereskan semua barangnya

Bian turun dari lantai atas dengan membawa dua koper besar milik anggita, anggita membawa semua barang, dan bukunya sehingga dia memerlukan dua koper besar, anggita hanya meninggalkan sedikit barangnya, dan inggit yang tak terlalu banyak memiliki barang dirumah itu dia membawa kopernya sendiri dan tas tenteng ditangannya, hamzah dari lantai bawah membawakan dua koper besar milik ibunya, yang berisi pakaian, jilbab dan buku-buku mata kuliah ibunya yaitu tentang seni dan desain, dia emag seorang laki-laki tak terlalu banyak memiliki barang.

Pak rosikin hanya melihat anak-anaknya lalu lalang dengan membawa koper-koper mereka, pak rosikin masuk kamar untuk menemui istrinya “dek ayu” kata pak rosikin memanggil nama istrinya dengan namanya sendiri ketika mereka belum memiliki anak, karena setelah memiliki anak panggilannya berubah menjadi ibu.

“maafin aku, mas bener-bener minta maaf, apa kamu beneran akan meninggalkanku, apa kamu tidak akan memaafkanku, aku khilaf” kata penyesalan keluar dari mulut pak rosikin, tapi ibu rahayu alias ibunya hamzah hanya diam, dia mecoba menahan diri agar tidak menangis

“apapun keputusanmu, aku tidak akan menceraikanmu ayu, itu keputusanku” kata pak rosikin, bagaimanapun dia sangat mencintai istrinya, tapi entah godaan apa yang terjadi sampai dia bisa menghamili mahasiswa sendiri dia juga tidak tau, setan yang telah merebut pikirannya ketika itu

“bu, semuanya sudah siap” kata inggit yang datang masuk ke kamar orang tuanya, dan inggit menunggu ibunya di ambang pintu, inggit masih memberikan kesempatan orang tuanya untuk berbicara

“mas rosik, aku pergi dulu, sesuai janjiku aku tidak akan pernah kerumah ini lagi, dan semoga kamu bahagia dengan keluarga barumu, jadilah bapak yang bertanggung jawab” kata ibu rahayu, sambil berpamitan kepada suaminya, dan dia mencium punggung tangan suaminya itu untuk terakhir kalinya, dia menahan agar tidak mengeluarkan air matanya “Asslamu’alaikum” ibu rahayu keluar dengan dituntun putri tertuanya, dan ketika itu bian juga berniat menghampiri mereka di kamarnya untuk segera berangkat

“bian, tolong jaga putri bapak, dan calon ibu mertuamu” titah pak rosikin, dan bian mengangguk, karena emang bian adalah mahasiswa semester akhir dari prof. rosikin dan bian juga adalah calon suami putrinya

“bian pamit pak, Asslamu’alaikum” bian emang sangat menghormati dosennya itu, tapi dia sangat kecewa dengan temannya yaitu kartika, bisa-bisanya dia hamil anak dari dosen sekaligus calon mertuanya itu. Mereka pergi, hamzah dan anggi menunggu ibu dan kakaknya dimobil, mereka sudah tak mau melihat bapaknya lagi.

Mereka pergi menggunakan mobil milik keluarga bian yaitu kijang innova sehingga semua barangnya muat, setelah keluar dari kompleks perumahan dosen itu ibu rahayu melepaskan semua air mata yang telah dipendamnya, hamzah yang mendengar itu hatinya sangat hancur, dia tidak pernah melihat ibunya menangis, dia selalu melihat ibunya ceria, selalu tersenyum, dan selalu sabar karena kemarahan sedikutpun tidak pernah keluar dari dalam diri ibunya.

Ibu rahayu menangis sejadi-jadi, entah sudah berapa hari dia memendam semua itu, inggit dan anggi yang tak tega langsung memeluk ibunya, mengelus punggung ibunya, mbak inggit masih bisa menahannya, sedangkan anggi karena umurnya yang masih muda dan labil, dia menangis sejadi-jadinya karena melihat ibunya yang menangis

Hamzah yang duduk disebelah sopir hanya bisa melihatnya, hatinya cukup terluka melihat kakak, adik dan ibunya seperti itu, sedangkan bian yang saat ini sedang menyopir dia hanya bisa melihatnya dari kaca sepion yang di tengah, bian juga sangat terluka, bian sangat menyayangi mereka, terutama sangat hormat kepada sepasang dosen yang mengajar dikampusnya itu tapi beda jurusan, mereka terlihat sangat terpelajar, dan keduanya sangat berwibawa apalagi ibu rahayu, dia memiliki wajah ke ibuan yang penuh kesabaran, dan terlihat sangat berpendidikan dan sayang terhadap keluarga, makanya dia berani mendekati putrinya dan berani melamar putrinya setelah hampir tiga tahun menjalani LDR solo-jakarta.

Ibu rahayu mungkin kelelahan karena dia menangis selama berjam-jam, sehingga dia tertidur dikursi belakang, dengan inggit yang bersender di pundak ibunya, sedangkan anggi tertidur dengan bantalan paha ibunya,.

“mas bian maafkan keluargaku yang telah merepotkanmu, dan maaf untuk semuanya” kata hamzah sambil menyetirkan mobilnya

“tenang aja ham, mas ikhlas demi kalian, kalian juga keluarga mas, mas tidak akan meninggalkan kalian dalam kondisi seperti ini, lagian mas juga sayang sama inggit” jelas bian, perkataan bian keluar dari dalam hatinya sendiri, dan hamzah merasa bersyukur kakaknya memiliki calon suami bian, sangat penyayang dan pengertian terhadap kakaknya, setidaknya hamzah bisa lega ketika ada seorang yang baik yang akan merawat kakaknya, jadi dimasa depan dia bisa focus terhadap anggi dan ibunya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel