BAB 6
BAB 6 Gak Habis Fikir II
Flashback Kartika,…
“
“
“
“teh, bapak belum pulang ya??”Tanya anggi ke teteh pas teteh lagi ngelipetin cucian tadi pagi yang sudah kering, si teteh hanya menjawab dengan gelengan kepala “teteh aku mau nanya tapi jangan cerita ke siapapun, termasuk ibu ataupun lainnya” langsung si teteh siaga, karena biasanya anggi tak pernah seperti itu, dia selalu menanyakan apapun tinggal Tanya
“teh maaf, harus menanyakan ini, mungkin aku enggak pantas bertanya hal semacam ini, missal karo seorang masih perawan tapi dia melakukan sesuatu sama seorang pria pertama kali apa akan ada seperti darah haid?” tetah kaget dengan itu, dia bingung mau jawabnya gimana “jawab aja teh, adik pengen tau”
“iya neng anggi, emang gitu setau teteh, dan itu menyakitkan bagi wanita untuk pertama kalinya, tumben banget kamu nanya gitu?”tatapan teteh penuh dengan curiga
“itu lho teh adik curiga sama mbak… “ omongannya keputus karena bapaknya anggi datang dan melihat anggi ke ruang makan “bapak udah makan? Teteh masak nya udah selesai nih” kata anggi sambil memberikan air putih ke bapaknya
“nanti ya, bapak mandi dulu” sambil mengusap pucuk kepala anaknya yang paling kecil
“neng anggi gimana tadi??” Tanya si teteh pelan-pelan sambil melihat kesana kemari
“Lanjut besok aja lah teh, udah ada bapak, kalo teteh udah selesai pulang aja, udah malam juga” kata anggi yang enggan melanjutkan pembicaraannya karena bapak udah dirumah
“ya udah, teteh pulang dulu, ada apa-apa telfon ya neng” pamit si teteh, karena emang kalo enggak ada ibunya si teteh bakalan sampai magrib, soalnya masakin anggi dan bapaknya, tapi kalo ada ibu rahayu dirumah makan malam tanggung jawab ibu rahayu
Selama berhari-hari hingga ibunya anggi pulang anggi tidak mendapati kartika datang ke rumah itu, hanya bian yang datang buat ngajak makan calon adik iparnya itu, dan ibu rahayu yang melihat suaminya cemas setiap kali berdua dengannya menjadi khawatir, bapaknya anggi itu semacam khawatir mau mengatakan sesuatu tetapi selalu tidak jadi, ibunya anggi pun juga tak menanyakannya, dia tak pernah memaksakan suaminya untuk berbicara, dia sangat menghargai suaminya itu, yang telah menemaninya selama hampir 23 tahun bersama
Ketika itu kedua orang tua hamzah sedang menghandiri rapat bersama rector kampus, dan kebetulan hari itu juga anggita pulang sebelum teteh pulang “neng mau ada yang teteh bicarakan, tapi teteh takut” kemudian mereka berdua saling berbicara di halaman belakang, tempat teteh menjemur cuciannya
“kapan hari teteh pas membersihkan kamarnya mas hamzah, masih agak siang sih neng, bapak juga belum berangkat, mbak tika masuk langsung nyelonong ke kamar bapak” kebetulan kamar mereka bersebelahan “teteh kebetulan pintunya juga eggak ditutup rapat, kamar bapak malah kayaknya enggak ditutup, soalnya teteh dengar dengan jelas, mbak tika pake nada marah ke bapak, bapak pun juga marah” anggita heran, bagaimana pun tika adalah mahasiswa bapak yang seumuran anaknya, bagaimana bisa dia marah
“teteh bingung takut salah omong, tapi teteh jelas dengar neng, itu yang bikin teteh kepikiran beberapa hari ini” anggita menyakinkan teteh untuk tetap percaya pada dirinya “saya enggak mau tau pak, bapak harus menikahiku, karena kalo aku tetap menikah dengan hamzah dan hamzah tau kalo aku sudah tak perawan pasti dia bakal menyesal, dan tak aka nada laki-laki yang mau menikahiku gara-gara anda pak” itu kalimat yang diucapkan kartika, si teteh langsung memapah anggi ke kamarnya, karena teteh takut asmanya kambuh karena mendengar ceritanya
“adik enggak apa-apa teh, lanjutakan aja, anggi juga pengen tau” kata anggi yang sudah bersandar di tempat tidurnya, dan teteh duduk di sebelahnya
Tete,h melanjutkan ceritanya dan menirukan perkataan bapak “kamu juga enggak bisa menyalahkan aku semuanya, kenapa disaat aku seperti itu kamu juga enggak keluar dari kamarku, justru kamu juga membiarkanku melakukannya, dan aku juga sudah bilang maaf kepadamu, aku akan bertanggung jawab atas dirimu dan masa depanmu, jika kamu hamil aku bertanggung jawab atas anakmu dan biayanya hingga nafasku berhenti, tapi kasih waktu aku, untuk memberitahukan semua ini kepada istriku” terdengar banget bapaknya frustasi
Anggi sangat kaget, ternyata bapaknyaselingkuh ketika ibuknya tidak dirumah “the, ingat yang aku tanyakan tempo hari???” si teteh mengangguk sambil mengambil gelas yang dipegang anggi “ingat darah di sprei yang ada noda darah yang kamu kira darah haid adik?”si teteh mengangguk lagi
“neng, kamu mencurigai mbak tika?” si anggi ganti mengangguk “Astagfirullah jangan su’udzon gak baik” kata teteh mengingatkan
“adik enggak curiga teh, pas itu pulang sekolah adik mau ngelihat kondisi bapak, kebetulan pintu kamar bapak enggak tertutup rapat, disitu aku lihat mbak tika tidur di sebelah bapak, lebih tepatnya keplanya nempel di dadanya bapak” si teteh tak kalah kagetnya, bagaimana bisa, dia yang tiap hari ngurusin rumah ini malah enggak tau kalo itu sprei yang dicucinya adalah yang dipake di kamar majikannya, iya karena sprei dirumah itu memiliki warna biru terang semua, hampir warna biru, jadi si teteh emang gak begitu merhatikan motifnya, kecuali yang dikamar hamzah
“neng, teteh buatkan jeruk hangat ya, teteh takut sama kondisimu, kamu istirahat ya” teteh keluar dari lantai atas dan pergi ke dapur, si teteh itu sangat tidak percaya majikannya seperti itu, tapi tika juga sama aja
Ketika si teteh hendak naik ke atas membawa jeruk hangat untuk anggita, dia bertemu ibu rahayu yang akan masuk kamar, dan baru datang “anggi kenapa teh?” Tanya ibu rayahu yang khawatir dan enggak jadi masuk kamarnya
“kecapean bu, katanya pusing tadi pulang sekolah”ibu rahayu dan teteh bergegas ke kamarnya anggi, dan ibu rahayu langsung mengecek dahi anaknya
“adik enggak apa-apa bu, kecapean aja tadi banyak tugas disekolah” kata anggi sambil mengedipkan matanya ke arah ibunya, dan si teteh paham maksudnya untuk tetap diam sementara waktu, dan semenjak itu, keadaan rumah semakin kacau, dimana bapaknya jarang bergurau dengan ibunya kayak biasanya, emang dasarnya ibu rahayu enggak banyak omong juga, dan terlihat anggi juga tak bisa manja kepada bapaknya seperti biasanya, dia lebih menghindari sang bapak, dimana kekecewaan sudah menguasai anggita
Teteh sering mengingatkan anggita untuk tetap bersikap baik dengan bapaknya, tapi anggita susah untuk bersikap seperti biasa, justru anggita sering main keluar bersama teman-temannya ataupun calon kakak iparnya, dia enggak mau melihat bapaknya terlalu lama, ibu rahayu pun sempet curiga dengan anggita Karena sikapnya, tapi dia tak pernah mendapatkan jawaban dari putrinya, dan ibu rahayu juga memaklumi karena itu masa pubernya dan pasti labil, kayak inggit dulu.
Dan yang paling parah adalah seminggu sebelum hari kemarin, mas bian datang malam-malam kerumah dengan asisten dosennya bapak yang satunya yang sekarang udah S2, ternyata kerjaan mbak tika dititipkan ke dia, karena sudah 3hari tika enggak ada kabar, dia seperti menghilang, dan ketika itu juga bapak memberitahukan ke ibu pas mas bian dan asistennya bapak udah pulang.
Ketika itu anggita ke dapur untuk mengambil minum sebelum dia tertidur, dan jelas banget bapak minta maaf kepada ibu, ibu hanya diam sambil memegang kepalanya, bapak jujur kalo dia penyebab tika menghilang, dan dia juga telah tidur dengan tika sekali ketika dia pergi dinas, awalnya karena kesadarannya terganggu ketika panasnya sangat tinggi. Ibu rahayu tetap tidak mengeluarkan satu katapun dia hanya berlalu masuk kamarnya hamzah dan menguncinya, dan bapaknya pun juga masih tetap di depan TV menunggu ibu keluar, anggita pergi ke kamarnya, dan menguncinya. Malam itupun ibu rahayu tidak bisa tidur memikirkan itu semua, dia keluar kamar melihat suaminya terbaring di sofa tidak tega dan mengambilkan selimut, dan mematikan lampu.
