Bab 3
BAB 3 Problem
“mel, ku otw ya, … buruan siap-siap kamu” sms naira ke melani,
“na, aku keluar bentar,.. cuciannya tinggal jemur, sama udah aku masakin lauk” kata naira, sedangkan orang yang diajak ngobrol udah balik tidur lagi
Disaat naira udah keluar dari garasi parkiran ada sesosok yang memanggil raina, naira yang otomatis denger langsung mendongak dan melihat sesosok itu “kamu ngapain disini?” Tanya naira yang masih tercengang
“aku dari tadi telfon kamu, sms kamu, gak kamu balesin dan enggak kamu angkat” naira makin yakin, kalo dia perlu sama raina, dan raina masih tidur aja gara-gara sampe subuh nonton drakor
“ah … maaf enggak denger, kayaknya sih pas aku dikamar mandi, ada apa?” Tanya naira yang menghampiri hamzah yang duduk di teras kos-kosannya
“mau minta tolong, anterin aku ke stasiun, aku mau pulang Jakarta soalnya montorku ku tinggal di bengkel depan situ” naira lega hanya nganterin dia kestasiun doank, kalo itu tak perlu bangunin raina
Dan mereka boncengan, sambil ngobrol “kamu mau kemana ai” Tanya hamzah, karena dia ingat dia udah rapi gitu
“mau ke toko buku bentar, mau nyari novel sama beberapa buku buat kubaca” jawab naira singkat, karena emang bener sih dia janjian sama melani buat ke toko buku mencari buku buat kuliahnya sama beberapa novel, dan pastinya series terbaru komik detective conan, kesukaannya dia sama raina, dikos aja udah numpuk tu dirak bukunya mereka seriesnya detective conan
“makasih ya ai, ini kunci motor sama STNK ku, minta tolong ambilkan nanti sore, nitip motorku dikosmu dulu sampai aku balik” sambil meberikan uang 50.000 an 2 lembar buat banyar jasa servicenya, setelah itu naira pergi setelah melihat hamzah sudah memasuki stasiun, dan dia kembali ke kosannya melani
“pinter banget nai, katanya OTW” omel melani yang udah nungguin naira sampai lumutan
“maaf-maaf, tadi ada temen kos minta anterin stasiun, hahaha” jawab naira cengengesan
“enggak sampai sore kan, .. aku disuruh pulang kerumah tanteku, katanya udah lama enggak pulang kesana” dan mereka membuat kesepakatan sebelum jam 15.00 sudah dipastikan pulang kos
“tumben, bentar doank” raina melihat saudara kembarnya jam 14.15 sudah balik kos
“biasa melani mau ke rumah tantenya, eh ini titipan” raina menerima pemberian dari tangan naira bingung, STNK atas nama Hamzah, kunci Motor, sama uang
“dia datang kesini? Ketemu kamu?” naira hanya mengangguk, “untung aku enggak balas pesannya dia, sampai aku balesin lhak iyo kita ketahuan” guman raina
“itu kamu disuruh ambil motornya di bengkel depan kompleks, terus nitip motornya ke kamu, orangnya udah aku anterin ke stasiun, tadi ke sini mau minta tolong anterin ke stasiun, tapi enggak kamu angkat telfonnya” jelas naira, “buruan, hari minggu bengkel tutup jam 15.00” kata naira sambil ngingetin raina yang masih santai nonton TV
“inggeh dek dinda naira” celetuk raina sambil beranjak dan mengganti bajunya untuk ke bengkel ngambil titipan hamzah, semenjak kuliah semester 2 hingga sekarang raina tu selalu sama hamzah, dia dituntun hamzah banget dalam mata kuliah pemrograman, bukan karena apa-apa raina tu sudah kayak adiknya hamzah yang bernama anggita, dimana dia tomboy kayak adiknya itu,..
“ibu, bapak, dek anggi, mbak inggit, mas bian, dan kamu baby, ngapain pada disini sih?” Tanya hamzah yang kaget ketika masuk rumahnya penuh dengan semua anggota keluarganya, padahal mbak inggit dan tunangannya itu ada di solo, sedangkan yang paling dia curigai ngapain kartika alias pacarnya hamzah itu ke sini bersama keluarganya
“hamzah duduk sayang” kata ibunya hamzah, terlihat dimuka sang ibu wajah yang capek dan terlihat emosi yang tertahan dimukanya, hamzah nurutin kata ibunya, dia duduk di sebelah adik kesayangannya yang masih duduk di kelas 3 SMP
“ibu ingin bicara sayang dengan kalian semua, dengerin ibu” kata ibunya, terlihat wajah pak roshikin alias bapaknya hamzah yang sudah pasrah
“ibu sudah memikirkan ini dengan baik selama beberapa hari, dan keputusannya ibu akan pulang kerumah omma di solo, silahkan siapa yang mau ikut ibu, ibu tidak memaksa siapapun, ibu hanya membawa anggita, dan hari ini kepindahan sekolah anggita sudah ibu urus, ibu tidak memaksakanmu ham, sama inggit, kalian sudah besar” kata bijak ibu rahayu ibunya hamzah keluar, sedangkan dia masih belum paham apa yang dimaksud oleh ibunya, dia menanyakan kepada semuanya tapi taka da jawaban
“ham, ikut mbak sebentar” inggit mengajak hamzah ke halaman belakang untuk membicarakan ini semua
“mbak ibu kenapa?” Tanya hamzah setelah mereka sampai di halaman belakang “apa yang terjadi, kenapa semuanya tegang gini”
“ham dengerin mbak inggit, ibu sama bapak mau pisah” hamzah langsung kaget
“kenapa mendadak begini?” Tanya hamzah, “kenapa mereka mau pisah, kartika juga disini” hamzah semakin tidak paham
“apa kamu tau kartika siapa?” Tanya inggit dengan pelan
“kartika pacar aku, dia mahasiswanya bapak, dan sekarang dia asdosnya bapak?, mbak inggit kira aku lupa” Tanya hamzah ganti dia masih tak paham
“karena kartika sedang hamil anaknya bapak” hamzah kaget dengan perkataan kakaknya, bagaimana bisa pacarnya, yang sudah dia pacari selama 2tahun hamil dengan bapaknya sendiri, hamzah semakin tak habis fikir dengan semua ini
“awalnya mbak enggak tau ham, mbak pulang kesini seperti biasa pulang rutin, dan ketika masuk rumah, ibu sama bapak berantem hebat, anggita nangis dipojokan ruang tamu, aku sama mas bian langsung nyamperin anggi dan membawanya kedalam kamarnya, badannya sudah bergetar, nangis sesenggukan, mbak takut asmanya kambuh, mbak juga enggak tau si anggi udah berapa jam nangis kayak gitu, dia udah enggak mampu untuk berjalan, sampai mas bian menggendongnya ke kamar, sampai disitu mbak masih belum bisa mengerti kenapa dengan ibu bapak, ibu hanya meminta pisah, itu yang selalu keluar dari mulutnya ibu, selain itu ibu tidak ada kata yang lainnya, tau sendiri kan kamu gimana ibu, dia tak pernah membagi semua hal dengan kita dia hanya memendamnya tanpa ada pembicaraan dengan kita semua. Dan kamu tau tak ada suara apapun dari anggi, dia pingsan ham, mbak sama mas bian makin takut, mas bian memutuskan membawa anggi ke klinik, dan kamu tau ketika mbak sama mas bian turun dari kamar melihat bapak yang telah menampar ibu, mbak kaget ham, sumpah, mbak gak pernah lihat bapak sekasar itu kepada ibu, ibu hanya menangis di ruang tamu, dan bapak terdiam di depannya, ibu hanya melihati kita ketika kita keluar rumah dengan membawa anggi, bukankah itu pertama kalinya ibu tidak khawatir dengan anggi?” cerita inggita sambil nangis, ham masih tidak percaya dengan keluarganya, apalagi pacarnya, Problem yang tak pernah ada dikeluarganya, kenapa sampai seperti ini.
