Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

BAB 2 Alesan

Dosen wanita sekitar umur 45 tahunan memasuki ruang kuliah dan di ikuti oleh beberapa mahasiswa dibelakangnya, maklum aja anak teknik kalo dosennya belum lewat di depannya, mereka belum punya niat untuk masuk kuliah

“silahkan duduk dengan zig-zag kita adakan quiz sekarang” kata dosen itu, dan para mahasiswa dan mahasiswinya langsung membentuk formasi yang di inginkan, sedangkan naira langsung diperitahkan hamzah dan teman-temannya untuk duduk di kursi depannya, di dalam ruangan itu hanya ada 4 mahasiswi dan mereka duduknya emang berpencar-pencar.

Dosen membagikan lembar jawaban dan sudah menampilkan soal di layar proyektor di depan, semua penghuni ruangan itu seperti mengheningkan cipta taka da suara apapun karena mereka sedang sibuk berfikir, mereka diberikan waktu hingga jam kuliah selesai yaitu 120menit, naira yang sudah selesai dia sengaja masih tetap duduk dan memainkan bolpoinnya, karena menurut intruksi raina dia harus keluar sesudah dosen itu keluar, karena dosen fisika itu tidak mau di dahului oleh mahasiswanya meskipun jam mata kuliahnya sudah lewat.

“raina, mau kemana, 10 menit lagi ada jam?” tegur hamzah ketika naira hendak buru-buru ke parkiran

“mau pulang ke kos dulu ham, mau ngambil sesuatu” jawab naira buru-buru, hamzah mempersilahkan naira pergi

“buruan tunggu depan kos, aku anterin ke kampus” telfon naira singkat, untuk mengintruksikan raina agar bersiap keluar kos, sesampainya di kos naira sudah melihat raina berdiri didepan, dan dia memberikan tasnya, dan langsung tancap gas ke kampusnya raina, tapi dia hanya menurunkan raina di depan gerbang seperti biasa enggak sampai dalam parkiran

“raina, kamu bolos lagi?” telfon hamzah ke raina “ ini dosen udah jalan” omel hamzah

“enak aja bolos, ini aku lewat jalan pintas, barusan ketemu tu dosen gila di bawah tangga” kata raina sambil lari-larian takut kedulan tu dosen killer masuknya

Raina masuk kelas tepat di depan dosennya, jadi duluan raina yang melangkahkan kakinya, dan dia duduk disebelah hamzah dengan ngos-ngosan karena kehabisan nafas “aku gak ada minum, adanya permen, mau nggak?” tawar hamzah dan raina mengangguk

“lagian ngapain pulang kos sih, kurang kerjaan amaat, udah tau break 10menit doank” omel hamzah

“tadi lupa, pagi tadi aku nyuci pake mesin cuci kos, pass waktu mepet keinget ada quiz cucian ku tinggal” raina mencari alas an, “hahaha, makanya ganti baju, basah kena air”

“silahkan presentasikan tugas minggu kemarin, seperti biasa ladies first, siapa dulu dari kalian berempat yang mau maju” kata dosennya, kalo raina sudah pasti dia memilih paling terakhir, dia seperti naira yang tak mau menonjol dan sok pinter

Selesai presentasi dan mata kuliah selesai, raina dan keempat temen cowoknya itu seperti biasa di kantin, kantin yang penuh dengan mhasiswa, dan semua omongan yang didengernya adalah omongan para lelaki yang mengandung banyak kosa kata yang tak patut di dengar

“neng raina, mau makan apa?” Tanya ibu kantin penjual nasi sayur di kampus yang sudah hafal dengan raina, karena jarang para mahasiswi yang cepat akrab dengan penjual makanan di kantin

“enggak ah bu, raina jus apukat aja, barusan makan” hamzah dan ketiga temannya langsung menengok sejak kapan dia makan, orang dari tadi mereka bersama “maksudny bu, aku masih kenyang sarapan tadi, belum lapar” jawab raina sambil cengengesan karena hampir saja keceplosan, karena emang tadi sebelum kuliah dia makan dulu dikos, karena pagi tadi dia masak ketika naira pergi ke kampus menggantikan dirinya

“tumben ameet lho ai, biasanya habis quiz makan mu kan lahap karena ke kuras” celetuk salah satu temannya itu yang bernama brian, nerissa hanya cengengesan aja

Dikampus lainnya si naira yang kampusnya bertolak belakang dengan kampus raina, yaitu banyak mahasiswinya dari pada mahasiswanya, dan pastinya saling uji kecantikan satu sama lain, tapi tidak dengan naira, justru dia paling jengkel melihat orang yang sok kecantikan itu

“ehhh, ada si kutu buku yang sok kecantikan dan sok dibutuhin” sinder seorang wanita yang bernama elena, pasalnya naira selalu dimintai tolong oleh beberapa dosen untuk mengumpulkan tugas teman-teman sekelasnya, padahal dia bukan seorang asisten dosen, tapi dengan begitu tak membuat naira sombong, kalo bisa memilih sih naira memilih menolak menolong para dosen itu

“eh ingeet ya, yang sok kecantikan itu kamu, bukan nai, lagian kamu sirik ameet jadi orang, perbaiki nilaimu kalo kamu ingin diperhatikan dosen, jangan ngurisn cover doank” balas teman naira yang selalu dengannya itu, siapa lagi kalo bukan melani, setiap naira ketemu elena pasti bakalan seperti itu dan yang membalas pasti melani, karena emang naira tipe orang yang males ngeladeni orang gila kayak dia.

“ngapain juga ngeladenin orang sinting kayak dia, ayok nai masuk kelas” tangan naira ditarik oleh melani untuk meniggalkan elena dan pengikut elena

“alesan aja masuk kelas, bilang aja kalo kamu tu kalah, dasar cupu” teriak elena yang kemudian dikasih tepukan tangan oleh pengikutnya

“are you oke nai?” Tanya melani takut naira sakit hati

“tenang mel, kayak enggak tau mereka aja, aku baik-baik aja” jelas naira “mel, entar habis kuliah terakhir ikut aku ke jurusan ya, dipanggil aku sama ketua jurusan” dan melani mengangguk, karena semenjak dia bertemu dengan naira dia paham semua mata kuliah, karena sering ngerjain tugas bareng di perpus atau kantin, sering diskusi bareng juga

“kuliah dan quiz saya semester ini sampai disini, sampai ketemu di pertemuan semester depan, jika kalian ada yang mengambil mata kuliah saya” kata dosen itu sambil mengakhiri jam mata kuliahnya, dikampus naira emang tinggal quiz aja, karena dia minggu depan udah ujian UAS semester dua untuk memasuki kulliah semester tiga

“aku mau ngikuti apapun yang kamu ambil nai, hahahah, biar otakku enggak beku” kata melani, dan naira hanya tersenyum mendengar temannya itu

Mereka berdua berjalan ke parkiran kampus untuk pulang, karena kuliah hari ini selesai, dan tidak ada tugas apapun yang harus dikerjakannya

“kok motorku berat?” kata naira, dan dia melihat ke belakang, ternyata ban motornya yang belakang kemps, sehingga susah jalan

“emang kamu lupa isi angina nai” naira menggeleng, “ya udah aku bantuin dorong sampai perempatan belakang kampus, semoga tukang tambal bannya masih buka” melani tidak jadi pulang dan mereka mendorong motor bersama hingga 200 meteran dari parkiran kampus, meskipun sudah hampir malam, tapi biasanya kalo melani lewat masih buka sih

“kasihan ameet, dorong motor” kata elena dan teman-teman elena ikut ketawa ngakak ketika melihat naira dan melani mendorong motor, dan elena naik mobil bersama teman-temannya seperti sengaja gitu

“sepertinya mereka tersangka utama deh nai” tebak melani geram

“biarin aja apa mau mereka, enggak perlu dipikirin, anggep aja kita olahraga, ntar sampai rumah langsung tidur” naira berusaha tenang

“aku yakin mereka, kan hari ini tu orang udah debat sama kita, semoga semester depan kita enggak ketemu sama dia” oceh melani yang enggak selesai-selesai

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel