Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 6 Jalan Keluar

“bu, sebenarnya tata belum selesai bicara tadi” kata tata ketika sudah sampai rumah dan kedua orang tua angkatnya sedang bersantai

“sebenarnya tata S2 nya pertukaran pelajar di kota S bu, bukan disini” ibu lastri kaget karen amikirnya dia mendapatkan beasiswa dikampusnya yang sama “tata bingung bu, sedangkan tata juga harus bekerja buat biaya hidup tata, tapi tata tak mengenal kota S sama sekali” tata terlihat murung

“kak, ini kan cita-cita kakak, ya udah dijalani aja, masalah biaya biar bapak dan ibu fikirkan, dan kakak juga masih punya tabungankan?” tata mengangguk, pamannya berusaha memberikan semangat untuk kepnakan tersayangnya itu, dan bu lastri mengangguk setuju

“pasti ada jalan sayang, kamu berdoa sama allah” ibunya mengingatkannya

Seperti mendapatkan kekuatannya lagi tita akhrinya semangat lagi “tita akan berusaha bu, tita akan bekerja sampingan juga disana, doain tita ya bu pak” ibu lastri memeluk keponakannya dengan erat

“selalu sayang, ibu bapak dan adik-adik selalu mendoakan kalian, untuk resignmu dari yayasan bicarakan dengan bunda inggit ya kak, bunda inggit sudah membantu kita banyak”

“iya bu, tita tau, tanpa bunda inggit tita mungkin tak bisa menjadi tita yang sekarang”

“ya udah istirahatlah, ibu juga mau istirahat” perintah ibunya dan tita masuk kamar

“kamu serius ta mau resign?” tanya bunda inggit selaku pengelola dan pemilik yayasan kids to world

“iya bun, tita keterima mendapatkan beasiswa S2 tapi dikota S, cita-cita tita menjadi psikiater” tita menjelaskan dengan detail tentang situasi deia sekarang

“kamu udah nyari tempat buat tinggal, dan kerja buat sambilan?” tita menggelngkan kepalanya, tita menjelaskan kalo dia enggak ada kenalan, sedangkan teman-teman tita yang kuliah disana juga sudah pada sibuk kerja dan tita juga tidak punya banyak teman, karena keseharianya dia adalah berteman dengan anak-anak dan orang yayasan “kapan kamu mulai masuk kuliahnya” tanya bunda inggit untuk memastikan

“dua minggu lagi bun, tapi tita kepengennya minggu ini sudah disana, dan melihat-lihat kerjaan yang bisa tita lakukan, agar tidak merepotkan ibu bapak” jelasnya

“Assalamu’alaikum budhe” dengan penuh ceria seseorang masuk keruangan bunda inggit

“wa’alaikumsalam lula” lula langsung berhambur kepelukan budhenya “penyelamatmu datang tita” bunda inggit langsung tersenyum

“budhe lagi serius sama tita ya, ya udah lula tunggu di taman aja” kata lula

“enggak sayang, budhe sudah selesai sama tita” dan tita menyetujui perkataan atasannya “kapan kamu nyampai? kok enggak ngabarin budhe? Kabur dari mami mu?” curiga inggit

“dua jam yang lalu nyampainya, enak aja kabur, orang minggu depan lula udah masuk kuliah, udah disuruh balik mami dan biasa sama mami suruh mampir ke eyang dulu” jelas lula, budhenya hanya mengangguk paham

“ke sini mau nyariin tita kan? Ni bawa aja, tita udah selesai kok” lula langsung tersenyum bahagia tau aja budhenya “masmu enggak ke ikut ke sini?” tanyany alagi

“enggak, boy masih sibuk bantuin papi ngerjain projek budhe, biasalah sama-sama susah diganggu kalo sudah berkutat di depan laptop” setelahnya mereka berdua pergi

“murung aja kamu? Kenapa?” tanya lula ke sahabatnya, tita dan lula selisih 1 tahun, tita seumuran dengan arun, tapi di lebih deket dengan lula, karena lula sering ke yayasan daripada arun, kalo sama arun hanya by WA aja kadang, by telfon

“enggak lagi bingung aja” jawab tita dengan berjalan ke depan ke arah tempat edukasi outdoor murid-murid “arun udah berangkat ya” dia menanyakan arun yang beberapa hari lalu chat tita menanyakan kabar

“bingung kenapa, ceritalah ta, kayak biasanya, iya udah dua bulan lalu dia berangkat, dianterin mami papi, awal-awal telfon mami terus tiap hari, kadang pas mami lagi meeting, sekarang udah terbiasa dia”

“aku mendapatkan beasiswa S2” lula yang mendengar itu langsung baahagia dia memeluk sahabatnya itu “tapi dikota S bukan di sini” tita menampilkan wajah sedihnya, iya dia bingung dengan kondisi ekonominya

“takut enggak ada biaya?” tita mendapatkan pertanyaan itu langsung diam seribu bahasa “kan ada aku, aku pinjemin uang ya?” tita menggeleng, dia malu setiap ada masalah selalu lari ke tita “kenapa?sungkan?” tita diam “kenapa harus sungkan sih, lagian kita kenal enggak setahun duatahun ta, kita kenal dari kecil” kata tita sambil mengayunkan ayunan yang dia duduki

“aku enggak mau ngrepotin kamu, kamu dan arun selalu membantuku” jawab tita dengan sedih

“kamu memkirkan masalah ini sudah berapa hari?” tita masih membisu “pati sudah lama kan? Dan aku yakin sebentar lagi perkuliahan sudah dimulai” tita mengangguk “ini ni yang gak aku suka sama kamu, kamu selalu memikirkan masalahmu sendiri, sedangkan kamu punya aku” kali ini lula bener-bener ngomel “kampus mana, kamu diterima dikampus mana?” tita menjelaskan nama kampusnya itu

“kapan kamu mulai kuliah?”

“dua minggu lagi, tapi senin depan aku harus menyerahkan semua dokumenku dulu”

“aku anterin dihari sabtu kita ke kota S naik kereta, tapi aku dari kota Y, karena aku harus menyelesaikan registrasi sementer baruku lusa” tita malah cemberut mendengar lula seperti itu

“aku enggak mau ngrepotin kamu” jawab tita

“siapa yang direpotin, aku lebih sedikit familier dengan kota S, sedangkan kamu tak pernah kesana, aku akan membantumu menyari tempat tinggal, dan kerja sambilan, dan kamu tak usah kembali ke sini dulu, kamu akan mulai tinggal di kota S ketika penyerahan berkas-berkasmu” lula sudah tak bisa dibantah, itulah lula ketika berhadapan dengan sahabatnya yang dia sayang, bahkan arun sangat mewanti-wanti untuk tetap berhubungan dengan tita dimanapun mereka berada

“apa kamu yakin kita langsung bisa seperti itu” tita masih ragu

“i’m sure girl” jawab lula “aku masih ada waktu luang sekitar seminggu sebelum kembali ke kota Y, dan selama itu pula aku bisa menemanimu dikota S, meskipun aku tak hafal dengan kota itu”

“makasih la, makasih, aku lega dengan jalan keluar yang kamu berikan” dia memeluk lula

“cita-citamu lebih pentinng ta, aku yakin kamu bisa mengatasi semua ini” tita mengangguk “bicaralah kepada orangtuamu, bilang kalo kamu akan menempati apartemen milik orangtuaku, dan untuk pekerjaan akan dicari sambil jalan” tita yang mendengar itu langsung kaget

“apartemen orangtuamu? Kamu yakin orang miskin sepertiku sanggup tinggal disana?”

“kenapa enggak sanggup, kamu tinggal nempati aja, dan memenuhi kebutuhanmu sehari-hari tanpa harus membayar sewanya, lagian apartemennya juga tak jauh dari kampusmu” tita masih terlihat ragu “tenang aja, setelah ini aku telfon mami, setelah mami pulang kantor”

“terima kasih banyak a, kamu selalu menolongku, selalu memberikan jalan keluar padaku, aku merasa malu selalu merepotkan kamu, setiap aku ada masalah ekonomi”

“siapa bilang ini gratis, kamu tetap harus membuat komik untuk diposting di platform aku” iya lula adalah pemilik salah satu platform bacaan online, yaitu komik ataupun novel, dan sekarang sudah banyak yang bekerjasama dengannya untuk mempublikasikan karya mereka, yang tentunya juga mendapatkan keuntungan bagi hasil juga

“kalo itu selalu siap bos, aku hanya libur posting selama seminggu aja” lula yang mendengar jawaban tita malah tertawa

“makan yuk ta, aku traktir, kamu bawa motorkan?” tita tak menolak sama sekali, sehingga dia bisa mengobrol lebih lama dengan sahabatnya itu karena duahari lagi lula akan kembali kekota Y “aku telfon budhe inggit dulu”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel