BAB 7 Jaga Diri
“hmm... apa?” alta mengkat paggilan ketika dia sedang asyik main game dengan papinya, iya alta selalu main game bertanding dengan papi dan adik bungsunya, tapi ini sementara adik bungsunya mendapat hukuman untuk belajar dikamarnya, dan semua gadgetnya disita maminya karena nilainya dia anjlok padahal mau ujian kelulusan untuknya
“boy, sahabatku yang dari rumah Eyang butuh tempat buat tinggal selama dia menempuh pendidikan S2 di kota S, bolehkah dia tinggal di apartemenmu?” alta menghentikan main gamenya, dan duduk disebelah maminya yang lagi asyik mewarnai kukunya
“cewek?” tanya alta
“iya boy, kasihan dia boy, dia butuh tempat, kamu kenal dia kok dulu pernah bertemu sekali, dia anaknya bibi yang bekerja di yayasan budhe inggit, yang orangtuanya hanya jualan soto di alun-alun kota SL” iya alta dulu pernah ikut sekali ke sana pas ulang tahun yayasan, dan dia emang dikenalkan lula dan arun dengan seorang gadis kecil yang terlihat seumuran dengan lula
“iya tau, gak masalah suruh tinggal di kamar sebelah aku yang biasa kamu pakai” dia tak pernah bisa menolak si manja lula, dan dia juga tau lula berbuat begitu karena tak tega, dan emang lula memiliki hati yang baik selalu menolong teman-temannya yang kesusahan
“makasih ya boy, kamu balik kapan ke kota S?, karena dia sudah masuk perkuliahan sekitar dua minggu lagi?” tanya lula lagi setelah mendapatkan persetujuan kakak sulungnya
“aku masih lama, mungkin masih dua bulanan, jadwalku belum keluar, aku masih ngerjain project juga sama papah fian di luar kota” jelasnya
“aku akan ke kota S lusa, berarti dia tinggal dulu disana ya boy, biarkan dia adaptasi dengan kota S itu” alta hanya berdehem “makasih boy, l love you brother”
“I love You too manja” jawab alta dengan sebutan manja untuk adiknya itu
“mami ada di situ nggak? Mau ngobrol” setelah menjawab ada alta menggeser layarnya mrngalihkan ke panggilan video
“mi, putri manjamu telfon” sang mami langsug menyudahi kegiatannya, dan mengambil alih HP putranya
“iyes anak mami, ... masih di eyang atau udah balik apartemen?” tanya maminya
“masih di eyang mi, lagi rebahan dikamar, mi lula boleh minta tolong?” maminya mengangguk
“mi sahabat lula sama incess butuh kerjaan, dia sahabat lula yang orang tuanya jualan soto di alun-alun itu lho” iya lula dan arun emang sering cerita tapi dia enggak pernah ketemu Cuma sekali ketemu ketika ulang tahun yayasan
“iya mami tau, apa yang bisa mami bantu” tetap dengan ramahnya kalo dengan anak-anaknya apalagi lula yang selalu ceria, keceriaan selalu menular keada orang sekitarya
“dia ketrima S2 di kota S mi, tapi dia butuh kerjaan untuk biaya hidupnya dia, sedangkan tapi lula sudah bilang ke boy untuk dia dibolehin tinggal di apartemen boy” maminya selalu percaya pada penilaian anak-anaknya
“boleh, kamu ajak aja ke tempat tante siska (orang yang mengelola cafe maminya) dan mintalah kerjaan ke dia” lula tersenyum, dia sangat tau maminya tak pernah mempersulit anak-anaknya “tapi boy masih lama disini, dia masih dapat tugas dari papi sama papah fian”
“iya mi tau, tadi sudah ijin ke boy kok, lula setelah ngurusin kampus nanti nganterin dia ke kota S, dan dia akan langsung tinggal disana, dan adaptasi” maminya mengangguk setuju
“jangan lupa, kamu bilang ke General manager, kalo dia akan menempati apartemenku, biar enggak dikira penyusup, selebihnya urursanku” alta berteriak ke adiknya untuk mengingatkan, agar temannya legal menjadi penghuni apartemen
“iya siap bosku” lula paham kalo masalah itu, “mi makasih ya, salam buat papi, minta nitip cium pipi dari anaknya yang paling cute” maminya hanya menggeleng
“salam buat eyang, suruh jaga kesehatan, enggak boleh capek-capek” setelah menapatkan anggukan dari putrinya baru dia mematikan telfonnya
“kamu enggak masalah boy tinggal sama sahabat adekmu?” tanya maminya meyakinkan
“enggak masalah mi, gampang itu mah, lagian alta masih lama baliknya” maminya percaya dengan anaknya “lagian alta bisa tidur di hotel tau kosan temen alta” maminya setuju
“apapun itu boy, jagalah dia, perlakukan dia seperti kamu memperlakukan adik perempuanmu, karena papi yakin semua teman adikmu adalah wanita baik-baik, apalagi dia yang ikut kerja di yayasan kan, meskipun papi tidak mengenalnya” kali ini papinya yang angkat bicara
“iya pi alta tauu, tenang aja, jangan khawatir” alta meyakinkan kedua orangtuanya, dan mereka melanjutkan permainannya
“udah ah, nunggu kalian lama, mami mau ngecek baby brondong mami dulu” karena sudah hampir setengah 10 malam, jadi dia beranjak untuk istirahat tapi mau ngecek dulu ke kamar anak bungsunya yang sebelahan dengan kamar alta
**
Sehari sebelum tita berangkat ke kota S dia ke tempat eyangnya lula untuk berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas semua bantuan untuk keluarganya “hati-hati ya ta disana, eyang yakin alta bisa jagain kamu, dan lula sangat pas menitipkan kamu pada alta, meskipun kalian tak saling kenal dengan alta”
“iya eyang, terima kasih, lain waktu tita akan mampir jika pulang kesini” jawab tita dengan penuh kesopanan, karena sekarang tita sedang berhadapan dengan eyang putri dan bunda inggit sebagai atasannya
“besok kereta jam berapa? Lula belum bilang sih jamnya, dia hanya bilang berangkat besok dengan kereta yang sama denganmu” tanya bunda inggit kali ini, karena lula belum sempet mampir ke rumah eyangnya
“besok jam 9pagi bun,.. dan lula akan menemani tita sekitar semingguan” jelasnya
“iya yang penting kamu hati-hati di kota orang, bisa jaga diri ya ta, eyang percaya kamu, kalo soal lula eyang tak perlu khawatir dia terlalu mandiri seperti kedua kakaknya dan maminya, dan dia bisa jaga diri” nasehat eyangnya, tita sudah dianggap cucu sendiri semenjak dia bersahabat dengan kedua cucunya, dan eyang juga yang membantu tita untuk yakin sembuh atas kesedihan dari perginya kedua orangtuanya.
“kamu sudah siap ta, enggak ada yang tertinggalkan?” ibunya memastikan kepada putrinya yang sudah prepare memasukkan semuanya kedalam kopernya yang enggak terlalu besar, karena tita dilarang membawa banyak barang oleh lula, disana semua sudah tersedia, cukup membawa baju dan semua keperluan kuliahnya aja
“bakalan kangen sama kamu kak” kedua adiknya memeluk tita
“kakak juga bakalan pulang kalo liburan dan punya rejeki, ngapain nangis coba?” tita membalas pelukan kedua adiknya “yang penting kalian sekolah yang bener, bantuin ibu bapak, dan gak boleh nakal” kedua adiknya menagngguk
“kalo ada rejeki lebih ibu bapak akan menjengukmu nduk” kali ini bapaknya tita berbicara
“iya tita tau pak, jangan dipaksakan, nanti kalo tita udah dapat kerja sampingan dan ada rezeki lebih tita tranfer ke ibu”
“jangan mikirin kita, pikirin masa depanmu dan cita-citamu, itu yang buat bapak bahagia”
