Bab 9 Siapa Kamu
Entah karena suasana restoran itu begitu tenang, alunan musik alat traditional Jepang membuat Raissa semakin menikmati waktu makan siangnya, ditambah lagi menu-menu yang tersaji memang lezat semua.
Sikap Stefan juga lebih melunak dibandingkan sebelumnya, walaupun pembicaraan mereka masih terdengar kaku satu sama lainnya. Tapi setidaknya, tidak ada yg saling memaki.
Ketenangan mereka terusik, terdengar suara seorang wanita yang memanggil-manggil nama Stefan dengan nada manja yang dibuat-buat. Sepertinya pengelola restaurant dan para pelayan restoran berusaha mencegah wanita itu masuk ke dalam.
"Biarkan aku masuk, aku tunangan Stefan!" Ketus suara seorang wanita di balik pintu VVIP.
"Pak Stefan sedang bersama tamu, beliau berpesan untuk tidak diganggu." Cegah pelayan restoran. "Beliau sedang meeting."
"Aku tidak peduli, aku tunangannya! Minggir kalian!"
Belum sempat Stefan menginstruksikan kepada ke pelayan untuk mengunci pintu ruangan itu. Wanita itu sudah membuka paksa pintu itu.
Alona melihat Stefan dan Raissa, dia langsung cemburu. Segera dia memasang senyum manis di wajahnya untuk merayu Stefan.
"Sayangku Stefan, kemana saja? Kamu kenapa lunch tidak mengajakku?" Dengan nada manja Alona menyapa Stefan.
Alona berpakaian bermerek kelas atas dari bajunya, sepatu hingga tasnya, dandannya begitu tebal, dengan bulu matanya yang anti badai dan lipstik 3 lapis, terlihat begitu berlebihan. Parfum yang dikenakan begitu menyengat bagaikan dia mandi di dalam bak parfum. Potongan baju yang dipilihnya terlalu terbuka, sehingga belahan dadanya dan juga pahanya terlihat jelas. Selendang bulunya warna putih menggantung di lehernya. Berbagai perhiasan berlian dia kenakan, seperti anting, kalung, cincin dan juga gelang.
Stefan buang muka, karena dia muak melihat penampilan Alona, bagaikan penari kabaret yang tidak tepat digunakan disiang hari.
Dia segera menghampiri Stefan tanpa menghiraukan Raissa yang duduk di sebelah Stefan.
Dengan cueknya dia duduk dipangkuannya Stefan sambil merangkul lehernya Stefan. Terlihat sangat mesra siapapun yang melihatnya.
"Apa-apaan ini? Kamu tahu darimana aku di sini?" Terdengar Stefan panik dan gusar melihat tingkah alona. Diliriknya Raissa, tapi Raissa seperti tidak terlalu peduli. Dia tetap melahap sushi yang ada dipiringnya dengan santai.
"Alona, kalau mau duduk di kursi. Jangan buat onar," tegur Stefan dengan nada keras.
Alona akhirnya pindah duduk ke kursi di sebelah Stefan, ditariknya kursi itu hingga sangat berdekatan dengan Stefan.
"Sayang, aku selalu tahu kamu ada dimana saja? Kan aku calon istrimu." Kata Alona sambil merangkul lengan Stefan.
Stefan segera menepisnya, di dorongnya kembali kursi itu sehingga agak menjauh. Alona cemberut.
"Calon istri apaan? Tidak ada. Kamu bukan siapa-siapanya aku!" Teriak Stefan.
"Sayang, mama kamu setuju kok. Dia yang bilang sendiri ke mommyku. Segera kita akan melangsungkan pertunangan, itu kata mommyku." Kata Alona sambil mendekati lagi kursinya ke Stefan.
"Jangan mimpi! Tunangan saja dengan mamaku. Duh, hilang nafsu makanku. Hayo Raissa, kita pindah tempat saja". Kata Stefan dengan penuh emosi. Ditariknya lengan Raissa untuk segera meninggalkan ruangan itu. Terkejut Raissa tiba-tiba dipaksa jalan oleh Stefan.
"Dia Siapa? Cih, penampilannya saja terlihat kampungan. Bukan high class, dia tidak sepadan denganmu, Stefan. Lihat tubuhku sexy, sedangkan dia seperti kurang gizi, payudaranya pun tipis. Hahahaha" nyinyiran Alona sambil menuding ke arah Raissa.
Raissa mendengar dirinya dibilang kampungan, langsung mendidih. Segera ditepisnya tangan Stefan, Raissa berjalan dengan elegan menuju Alona yang berpenampilan sangat sexy dengan make up tebalnya itu.
"Hi nona mulut bau, jangan pernah bilang penampilanku kampungan. Lihat diri, siapa kamu? Kalau ada polisi fashion, anda sudah ditangkap, karena mengkontaminasi fashion sebenarnya."
"Apa maksud kamu! Pakaian, sepatu, tas semuanya brand ternama, sedangkan kau, hanya gembel yang dipungut stefan. Jangan mimpi jadi pacarnya, karena aku tunangannya" Seru Alona sambil bertolak pinggang.
"Cih, siapa juga pacarnya. Dan nona mulut bau, mau pakai brand ternama sekalipun karena mulut baumu, terlihat jadi barang imitasi semuanya. Seperti bulu matamu yang imitasi, bibirmu yang penuh silikon dan wajah kaku karena detox. Senyum sedikit sudah langsung retak." Balas Raissa dengan tenang.
"Kamu…," geram Alona mendengarnya, mukanya menjadi sangat merah dan matanya melotot.
"Hahahaha, balasan yang bagus. Mari kita tinggalkan dia di sini." Ujar Stefan sambil tepuk tangan.
"Sayang, kau tega meninggalkan aku?" Rajuk Alona, dia masih berusaha merangkul lengan Stefan. Tetapi high heels yang dikenakan terlalu tinggi, sehingga Alona tidak bisa berlari menghampiri Stefan.
"Silahkan kamu habiskan sisa makanan ini, kami sudah tidak berniat lagi makan di sini." Ujar Stefan. Tanpa memperdulikan Alona lagi, stefan menarik lengan Raissa. Dan Raissa segera mengikuti langkah Stefan.
"Stefan , kau tega sekali padaku?!" Jerit Alona sambil menangis meraung-raung.
Di depan restaurant, supir dengan sigap membuka pintu mobil. Setelah Stefan dan Raissa duduk di dalam, mobil melaju dengan segera.
Didalam ruang VVIP, Alona mengamuk. Dilemparnya semua piring yang ada di meja. Pelayan restoran berusaha menenangkan Alona, tetapi tidak berhasil. Alona semakin menjadi-jadi marahnya, dirusaknya cermin dengan pigura emas di ruangan itu, vas bunga di lempar ke dinding.
Pelayan Restoran memanggil manager restoran untuk menghadapi Alona. Segera manager restaurant menghampiri ruang VVIP tersebut, dilihatnya betapa rusaknya ruangan itu sekarang. Makanan berserakan di karpet, vas bunga pecah berkeping-keping, dan piring-piring pecah dimana-mana.
"Maaf nona, restaurant ini milik keluarga pak Stefan. Semua barang yang nona pecahin akan kami kirimkan tagihan biaya ganti ruginya. Nilainya satu milyar rupiah." Ujar Manager tersebut.
"Jangan gila, masa barang-barang jelek ini semahal harga itu. Kamu mau menipu saya?"
"Tidak nona, itu piring, cermin dan vas adalah koleksi keluarga, yang sangat terbatas jumlahnya. Karpet di ruangan ini dibuat dari benang emas dikirim langsung dari Osaka, menodai carpet ini tidak mudah untuk dibersihkan. Silahkan nona hubungi pak Stefan perihal ini."
Tangan Alona yang hendak melempar piring, segera terhenti. Gemetar dia mendengar penjelasan itu. Karena dia tahu keluarga Stefan adalah keluarga kaya yang sudah turun menurun, merajai berbagai bidang bisnis. Keluarga dia juga kaya, tapi dibandingkan Stefan hanyalah sebuah kutu.
"Dan untuk tagihan makan siang ini, pak Stefan berpesan bahwa nona yang akan membayarnya juga.
"Ya sudah, akupun sudah puas melemparnya. Kirim saja tagihannya ke alamat rumahku." Dengan langkah sombong Alona meninggalkan restaurant itu.
"Lihat aja nanti Stefan, kamu akan jadi milikku. Tapi tadi perempuan kampungan itu siapa namanya?" Gumam Alona sambil menuju mobilnya bmw seri 1 warna biru muda.
"Awas kau perempuan kampung, Tunggu pembalasanku!" Teriak alona dengan kesal, sambil memukul setir mobilnya.
Dilihatnya make up dia luntur, segera dia merapihkannya. Baginya penampilan nomor satu. Setelah puas mematut diri di kaca, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
