Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8 Pertemuan Terpaksa

Raissa sedang asyik menonton acara di TV, tiba-tiba dia teringat akan situs yang direkomendasi oleh Gita.

Diambilnya notebook dari tas kerja, dan langsung dia memasuki situs pertemanan itu. Dilihatnya ada beberapa pesan disana. Ada yang merayu dan ada yang minta fotonya, tapi itu semua tidak membuat Raissa tertarik membalas pesan-pesan itu.

Disaat dia akan mengakhiri situs itu, masuk satu pesan. Dibuka olehnya segera.

Isi pesan itu: Hai, salam kenal. Saya mencari teman bukan pacar, bila berkenan. Tolong balas pesan ini. Terima kasih.

Hmm, sepertinya pria ini menarik untuk dibalas sapaannya. Pikir Raissa

Hai, salam kenal juga. Saya juga hanya mencari teman bukan pacar. Terima kasih. Tulis balasannya Raissa.

Dilihat profilenya bernama Nobody, usia 37 tahun. Tidak ada foto, tidak keterangan apa-apa. Raissa merasa tidak menjadi beban untuk membalasnya.

"Wah, sebentar lagi makan siang. Masak atau order saja ya?" Gumam Raissa.

Disaat Raissa sedang mempertimbangkan pilihannya, terdengar suara bell dari intercom receptionis lobby apartemenya.

"Selamat siang Ibu Raissa, ini dari resepsionis lobby. Ada seseorang yang ingin berbicara dengan ibu." Suara seorang wanita diujung sana.

"Siapa ya?" Tanya raissa.

" beliau bilang perwakilan dari pak Stefan."

Hmm.. dia lagi dia lagi. Mengganggu istirahatku sana. Geram Raissa mendengar nama itu.

"Mana orangnya?" Tanya Raissa.

"Tunggu sebentar, saya berikan telepon ini ke beliau."

"Halo, selamat siang ibu Raissa," sapa seseorang dengan nada sopan.

"Ya, siapa ini?" Tanya Raissa

" Saya Thom utusan dari bapak Stefan."

"Ada perlu apa ya?"

"Saya diperintahkan untuk menjemput ibu menuju ke tempat pertemuan."

"Tolong sampaikan, hari ini hari Sabtu. Waktunya saya beristirahat. Bila ingin bertemu dengan saya, silahkan hubungi isabel di kantor." Balas Raissa dengan nada ketus.

"Mohon dengan sangat ibu bersedia, karena saya bisa dipecat bila saya tidak berhasil membawa ibu."

"Bukan urusan saya."

"Tolong bu, saya ada keluarga yang saya harus tanggung. " suara Thom terdengar semakin memelas.

"Bos kamu itu maunya apa? Ini hari liburku, saya hanya ingin bersantai." Keluh Raissa.

"Dia hanya ingin bertemu dengan ibu, dia merasa pertemuan pertamanya dengan ibu memberikan kesan tidak baik. Jadi beliau mengundang ibu untuk meeting lunch, menindak lanjuti pertemuan sebelumnya. Sebetulnya dia baik bu, tapi orangnya memang kaku." Penjelasan Thom.

"Kaku? Kejam iya."

"Tolong bu, terima undangan dia. Kali ini saja," bujuk Thom lagi.

Teringat kata-kata Ezo tadi pagi, yang menyindir dia karena selalu menolak ajakan siapapun. Hmm, apa kali ini kuterima saja? Toh ini masih berkaitan dengan pekerjaan. Siapa tahu bisa kubujuk dateline kompetisinya menjadi enam bulan, pikir Raissa.

Akhirnya dia putuskan untuk terima undangan Stefan. "Iissh... tunggu sebentar, saya bersiap dulu!" Jawab Raissa dengan semakin ketus.

Thom tersenyum lebar mendengar jawabannya. Sepertinya taktik dia berhasil.

30 menit kemudian, Raissa sudah tiba di lobby apartemen. Dilihatnya oleh Thom, wajah Raissa yang merenggut. Tetapi tetap terlihat cantik.

Tanpa basa basi lagi, Raissa mengikuti langkah Thom menuju ke mobil. Supir mobil langsung membukakan pintunya. Raissa duduk di kursi belakang, sedangkan Thom duduk di samping supir.

Mobil segera melaju ke tempat Stefan sudah menunggunya. Di sepanjang perjalanan, Raissa hanya terdiam sambil memandang keluar. Sementara Thom, selalu memberikan info terupdate posisi mereka kepada Stefan secara diam-diam.

Tibalah mereka di Restaurant Jepang yang bernama sakura garden (さくらガーデン), yang artinya taman sakura. Tampilan bangunannya memberikan kesan Jepang Otentik, dengan banyak patung dan lukisan tentang negeri sakura itu.

Saat Raissa memasuki Restaurant tersebut, dan segera disambut oleh seorang wanita yang berpakaian kimono berwarna putih dengan motif bunga sakuranya yang berwarna pink. Rambutnya pun ditata seperti seorang wanita Jepang Asli.

"Kon'nichiwa Ibu Raissa, Bapak Stefan sudah menunggu di Ruang VVip kami. Mari saya antarkan," suaranya yang lembut dan sopan, membuat Raissa jadi tersenyum manis.

Pintu ruang VVip terbuat dari kayu dengan ukiran emas naga, membuat takjub siapapun yang melihatnya.

Pintu itu dibuka dengan hati-hati olah wanita berkimono itu. Lalu terlihatlah Stefan dengan pakai polo shirt warna biru terang dan celana putihnya, membuat dia terlihat berada di adegan film dimana tokoh utamanya sedang menikmati makan siangnya yang mewah.

"Selamat siang, pak Stefan," sapa Raissa dengan nada datar.

Senyum mengembang di wajah Stefan, melihat Raissa telah hadir dihadapannya. Dengan sikap gentlemannya, dia menarik kursi untuk diduduki oleh Raissa.

"Terima kasih", ucap Raissa.

"Baik , segera keluarkan hidangannya sekarang," perintah Stefan kepada wanita berkimono itu.

"Baik, pak." Wanita itu segera keluar dari ruangan setelah memberikan hormat kepada Stefan.

Tidak lama kemudian, keluar berbagai hidangan dengan tampilan yang sangat memanjakan mata.

"Mari kita mulai," kata Stefan.

"Mulai meeting?"tanya Raissa

"Makan lah, sudah kelaparan diriku menunggumu datang."

"Lah katanya ngajak meeting."

"Tahu bahasa inggris? Meet apa artinya?

"Bertemu."

"Ya sudah, nih cobain deh sushi yang ini. Ikannya langsung dari Jepang. Jarang banget."

"kalau cuma ngajak lunch, jangan maksa begini dong. Saya punya hak menolak. Memangnya kamu siapa?" Ketus Raissa.

"Kalau tidak dipaksa, apa kamu mau datang? Pasti beribu alasan kamu berikan. Dan saya tipikal yang tidak bisa terima penolakan." Balas Stefan dengan tenang.

"Kamu belajarlah, hidup itu tidak selalu diatas. Kadang dibawah juga. Penolakan itu bagian dari kehidupan." Tutur Raissa.

"Di dalam kamusku tidak ada penolakan, yang ada aku menolak, iya."

"Itu Egois," protes Raissa.

"Sudah, mari kita nikmati santapan ini. Sudah lapar dari tadi menunggu tuan putri."

Satu sushi disuapkan stefan ke mulut Raissa, saat Raissa ingin mengatakan sesuatu. Terkejut Raissa, tapi diterima juga suapan itu tanpa disadarinya.

"Enak kan?"

"Iya, segar ikannya."

Raissa menjadi semakin bingung, di kantor kemarin dia terlihat seperti serigala. Tadi malam pun wajah liciknya masih membuat raissa muak.

Tapi sekarang,stefan terlihat lebih tenang, santai dan senyumnya juga terlihat tulus, tidak licik seperti biasanya.

Melihat raut wajah Raissa sudah lebih tenang, Stefan semakin bersemangat memberikan berbagai jenis makanan untuk dicicipi oleh Raissa.

"Cobain soba ini, dibuat dengan resep turun menurun dari keluarga shogun. Susah sekali mendapatkannya." Stefan sambil mengambilkan semangkuk kecil mie soba.

Raissa langsung menghirup kuahnya, dan saat dia memakan mie soba itu. Raissa seperti merasa berada di kampung Jepang Asli. Begitu nikmat dan meleleh mie soba itu di mulutnya.

"Enak kan?" Tanya Stefan.

Raissa hanya bisa mengangguk sambil menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar-binar. Karena dia sangat suma dengan mie soba ini.

"Terenak yang pernah kucicipi."ungkap Raissa.

Stefan senang mendengarnya, dia kembali menawarkan makanan lain ke Raissa, tetapi Raissa sudah jatuh cinta dengan mie soba itu. Jadi kembali Raissa menaruh mie soba di mangkuk kecilnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel