Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10 Suasana Mencair

Mobil Stefan melaju menuju daerah Kemang. "Pak Broto, tolong anterin kami di coffeeshop diujung jalan ini." Perintah Stefan dengan santun.

Terkejut Raissa mendengarnya, wah ternyata dia bisa sopan juga dengan orang yang lebih tua walaupun statusnya sopir, kata Raissa dalam hati. Mulai dia menjadi merasa nyaman berada di dekat Stefan.

"Tadi itu siapa?" Tanya Raissa

"Dia bukan siapa-siapa? Kenapa? Nona Raissa merasa cemburu?" Goda Stefan.

Langsung Raissa cemberut mendengarnya, wajahnya dipalingkan melihat keluar jalan.

"Mamanya dia berteman dengan mamaku, tapi aku tidak pernah ngobrol dengan dia. Dan mama juga tahu, aku tidak mudah suka dengan seorang wanita."

"Terus kamu sukanya laki-laki?" Tanya Raissa.

"Ya ampun, tidak mungkin. Aku normal."

"Oooh, kirain." Raissa pun tertawa kecil melihat tingkah Stefan yang panik.

Mendengar Raissa tertawa, Stefan jadi ikut tertawa. Suasanapun menjadi mencair.

*****

Di coffe shop, mereka memilih duduk di balkon di lantai 2. Suasananya mengambil tema vintage, terlihat teduh dan cozy banget.

Ada beberapa meja telah terisi. Tapi mereka akhirnya bisa duduk di sudut balkon.

"Mau pesan apa?" Tanya Raissa.

"Ikuti kamu saja," jawab Stefan.

"Hmm, ice caramel machiatto?" Dengan ragu Raissa bertanya

"Iya tidak apa-apa. Pesan saja 2. Tambahin croissant ya, yang tuna. Tadi belum kenyang makannya, dasar nenek lampir mengganggu saja."

Raissa akhirnya yang memesan menunya, 2 ice caramel machiatto dan 1 croissant tuna.

"Kamu tidak pesan makanan?" Tanya Stefan

"Tidak, sudah cukup kenyang." Jawab raissa.

"Raissa, eh boleh kupanggil namamu dengan santai?" Tanya Stefan.

"Boleh."

"Panggil aku Stefan juga ya," pinta Stefan.

"Ok. Tapi kalau urusan kerja, kita tetap profesional ya."

"Sip. Terutama tentang taruhan itu, tetap ya." Sambil tertawa lebar, stefan menggoda Raissa.

"Siapa takut," dengan melotot Raissa me jawabnya.

Tidak lama, waiters membawakan pesanan Raissa. Dan mereka pun segera menikmatinya sambil bersenda gurau. Suasana sore itu , membuat mood kedua semakin happy.

"Terima kasih, sudah mau menemani hari Sabtuku."

"Sebetulnya sih tidak mau, kamu kan yang memaksa banget," keluh Raissa.

"Hahaha, iya. Untuk bisa dapat waktu dengan nona raissa yang cantik ini,harus dipaksalah." Goda Stefan.

"Aah mulai ya jahatnya.Tapi kenapa kamu mau ngajak aku makan siang? Kan kita juga baru kenal kemarin,saat meeting itu."

"Meeting kita itu terlalu singkat, kamu terlalu emosi menerimanya. Jadi lebih baik kita bertemu lagi dalam situasi yang berbeda."

"Ya, itu karena kamu banyak memcibir dan menghinaku. Jadi marahlah."

"Aku minta maaf untuk itu." Pinta Stefan.

"Ya, aku maafkan. Ada lagi alasan lain?" Tanya Raissa lagi.

"Karena hanya kamu yang berani menjawab tantangan dariku. Berarti kamu wanita kuat dan pemberani. Bukan seperti wanita-wanita lain yang hanya mengandalkan kekuatan orangtua atau lainnya.Kuhargai keberanianmu." Panjang lebar Stefan mencoba menjelaskannya.

"Ooh begitu, kirain kenapa?" Gumam Raissa

"Loh , kamu kira karena aku naksir kamu? Hahaha, jangan mimpi," ujar Stefan.

"Iish, siapa juga yang mikir begitu." Raissa menggerutu

"Seleraku akan wanita sangat tinggi standartnya."

"Iya, saking tingginya jdi seperti nenek lampir yang tadi, hahaha", celetuk Raissa .

Sebetulnya aku memang mulai ada rasa dengan mu Raissa, tunggu saja, kamu akan tahu siapa dan apa isi hatiku. Kata Stefan dalam hati.

"Loh senyum-senyum sendiri, teringat nenek lampir yang tadi ya?" Canda Raissa.

"Cih, siapa juga yang mau sama dia," renggut Stefan.

"Hahahaha, ternyata lucu juga wajahmu kalau merenggut." Ujar Raissa. Tiba-tiba terasa sakit di perutnya."aduh".

"Loh kamu kenapa?" Tanya Stefan.

Raissa diam sejenak mencoba menetralkan rasa sakit di perutnya. Stefan langsung minta air hangat ke waiter.

Waiter mengantarkan pesanan itu segera, raissa langsung mengambil obat dari tasnya. Suasana jadi hening, wajah Raissa sedikit meringgis.

"Kamu sudah enakan? Butuh ke rumah sakit?" Tanya Stefan lagi.

Raissa menarik nafas panjang, " tidak usah. Sekarang sudah baikan."

"Yakin?"

"Iya, ini biasa kok. Memang aku ada penyakit maag sejak dulu."

"Maag? Harusnya jangan minum kopi. Sini kopinya kubuang. Minum air hangat ini saja dulu." Stefan langsung membawa pergi minuman Raissa.

Raissa mau protes tapi tidak digubris oleh Stefan.

*****

Tidak terasa hari pun dah semakin sore, raissa kembali ke apartemennya.

"Terima kasih banyak ya," kata Raissa sambil tersenyum.

"Sama-sama, lain kali temanin aku lagi ya."

"Boleh, tapi jangan memaksa. Kalau aku bilang tidak ya tidak. "

"Ok tuan putri." Jawab Stefan

"Terima kasih pak broto, sudah mengantarkan saya."

"Sudah tugas saya, nona Raissa."

Tidak lama, mobil pun melaju jalan. Raissa tetap berdiri dimuka lobbi, sampai mobil Stefan tidak terlihat lagi.

Saat Raissa memasuki lobby, resepsionis memberikannya sebuah buket bunga mawar. Dilihat nama dia. Dan tertulis pesan : Jaga kesehatan, jangan minum kopi lagi. Sampai bertemu kembali.

Pipi Raissa langsung merona merah dan terasa panas. Duh, Stefan kamu ini ternyata tidak sejahat serigala ya. Kata Raissa dalam hati.

*****

Di apartemennya, Raissa kembali tersenyum melihat buket bunga yang sudah dia taruh dalam vas dan dikasih air. Hati Raissa menjadi berbunga-bunga.

Telepon genggamnya berdering, membuyarkan lamunannya.

"Halo," sapa raissa.

"Neng, kamu kemana aja? Tadi siang aku ke apartemenmu, tapi kata resepsionis kamu sedang keluar. " kata Gita dengan penuh khawatir.

"Ya, jalan-jalan dong. Kan hari sabtu, hari libur." Jawab Raissa dengan santai.

"Tapi kamu kan biasanya kalau sabtu di rumah aja." Selidik Gita

"Iya, sekali-kali beda jadwal nggak apa-apa kan?"

"Telepon kamu kenapa tidak aktif?" Tanya Gita.

"Kamu itu melebih cerewetnya ibuku. Teleponku tadi lowbatt. Ini aku baru pulang, langsung kucharge." Panjang lebar Raissa berusaha memberikan penjelasan ke Gita.

"Hmm, kayak kamu menutupi sesuatu deh. Aku kenal kamu banget, neng. Tadi pergi sama siapa? Hayuk jujur saja," Gita tetap berusaha mengorek informasi lebih dari Raissa.

"Iish, mana ada?" Langsung panas wajahnya Raissa. Pipinya merah. Kalau gita melakukan video call makin mencurigai dirinya habis bertemu dengan seorang pria, pasti berita ini akan tersebar cepat kemana-mana.

"Udah ya, aku mau mandi dulu." Ucap Raissa berusaha menghindari pertanyaan lebih lanjut dari Gita. Segera dia menutup teleponnya, tanpa menunggu respond dari Gita.

Setelah itu, Raissa melihat ke cermin. Dan dia semakin panas melihatnya. Buru-buru sia mengambil handuk, dan langsung mandi, untuk menenangkan dirinya sendiri.

Hey Raissa, kamu itu rivalnya dia. Ingat perusahaannya mau memakan perusahaan kamu. Jangan-jangan ini taktik busuk dia, supaya kamu kalah. Kata pikirannya Raissa.

Hey Raissa, laki-laki itu tampan, kaya dan sangat baik denganmu. Kalau dia jodohmu, nggak apa-apa kan? Kata hatinya Raissa.

"Aaarggh... " Raissa makin galau. Diambilnya handuk mandi, dia langsung menyegarkan diri di kamar mandi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel