Bab 7 Pulang Ke Rumah
Raissa membuka pintu apartemennya, terasa hampa. Tidak ada yang menunggu dia di rumah, karena ibunya lebih memilih tinggal di kampung daripada di kota besar.
"Mama tidak cocok dengan udara di sini, lebih baik mama tinggal bersama bude mu di Salatiga." Rayu mamanya waktu minta ijin pulang ke kampungnya enam bulan yang lalu.
Berat hati Raissa melepas ibunya, tapi dia ingin ibunya bahagia. Jadi dia relakan ibunya yang memilih meninggalkan ibukota. Dikala rasa rindu menyergapnya, dia biasanya memasak masakan resep ibunya. Walaupun baginya masakan yang dimasak ibunya langsung jauh lebih enak.
Dihempaskan tubuhnya di sofa yang empuk. Rasa kantuknya semakin terasa. Teringat olehnya bahwa dia harus mengirim pesan terima kasih kepada stefan, tapi kirim kemana? Aah besok aja,pikirnya.
Belum sempat, dia masuk dunia mimpi. Ada suara dering telepon yang membangunkannya.Dibiarkan telepon itu berdering, karena raissa merasa sangat lelah. Tapi telepon itu tiada henti berdering. Sehingga raissa mengangkatnya.
"Halo," sapa raissa dengan nada kantuk.
"Raissa, besok bisa tidak ikut ke acara ultah temanku?"
"Eh, ini siapa ya?" Tanya Raissa.
"What?? Are you drunk?" Tegur suara dari teleponnya.
"Tidak ,aku ngantuk dan lelah. Siapa ini?"
"I am your prince, baby."
"Aiyo, pasti ini Ezo. Sama bos jangan bertingkah."
"Hahaha, dikantor memang kamu itu bos, diluar bukanlah."
"Ok,besok pagi kukabari. Mau tidur dulu, lelah sekali hari ini."
"Kamu habis darimana? Lembur dikantor?" Selidik Ezo.
"Tidak, bukan lembur."
"Lalu apa?" Tanya Ezo lagi.
" sudah, lain kali kuceritakan. Mataku sudah banyak lemnya, tidak bisa dibuka lagi. Sampai besok ku kabari ya. Selamat malam."
"Okay princess, selamat malam." Balas Ezo sambil menutup saluran teleponnya.
Keesokan paginya, Raissa terkejut saat bangun masih di sofa dan dilihatnya dia masih memakai pakaian masih sama dengan semalam.
"Untung hari ini weekend, kalau tidak, hal ini bisa memalukan datang terlambat ke kantor," ucap raissa sambil melakukan streching tangan dan menarik nafas yang panjang.
Segera Raissa menyiapkan bathtub dengan air hangat dan sabun spa. Dipasangnya lilin - lilin aromatherapy di dekat bathtub.
"Mari kita bersantai hari ini!" Seru Raissa.
Segera dia berendam sambil menikmati alunan musik klasik favorit dia yiruma. Pagi ini Raissa merasa bahagia dan relax karena bisa bersantai sejenak dari penatnya tugas-tugas kantor.
Garam mandi digosok-gosoknya dengan lembut. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti alunan piano.
1 jam kemudian, Raissa pun selesai melakukan aktivitasnya di kamar mandi. Wajahnya sekarang terlihat segar dan bercahaya. Raissa segera menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan paginya.
Sebetulnya Raissa sangat senang memasak, tetapi kesibukannya sebagai senior executive membuat dia hanya bisa masak di hari libur saja . Dilihatnya lampu tanda notifikasi telepon genggamnya berkedip- kedip.
Saat Raissa meraih telepon genggamnya, dilihatnya sudah ada puluhan panggilan tak terjawab. Sepertinya tanpa dia sadari merubah telepon genggamnya menjadi mode diam.
Dilihatnya banyak pesan juga di Whatsappnya dari Ezo, Gita dan ada nomor yang tidak dikenalnya.
Tertulis pesan dari Ezo (princess, nanti jam 2 siang kujemput ya, tolong temanin aku kepesta ultah temanku. Pleaseeee...)
Hmm, kalau merayu manggilnya princess, dasar playboy cap ayam.
Pesan dari Gita (Hai Neng, bagaimana update tentang situs itu? Ada yang ganteng?)
Ini kok dia lebih cerewet dari ibuku sih, gerutu Raissa dalam hatinya.
Pesan dari nomor tidak dikenal (Ibu Raissa, direktur kami , bapak stefan, meminta waktu ibu untuk ketemu dengan beliau lagi hari ini, untuk membicarakan hal yang sangat penting, mohon dibalas kapan ibu bisa meluangkan waktunya?)
Hmm, ini hal penting apa dan memang siapa dia? Duh, paling males mikirin kerja kalau lagi weekend begini. Nanti saja kubalasnya.
Raissa pun setelah merubah mode telepon genggamnya kembali ke nada dering, dia langsung melahap sarapan yang sudah dia masak, sambil diiringi alunan musik dari Michael Buble.
Jari lentiknya mulai mengetik beberapa pesan balasan untuk Ezo dan Gita. Tidak lama kemudian, Ezo menelepon dia.
"Halo Ezo," sapa Raissa.
"Kenapa tidak bisa?" Tanya Ezo dengan gusar.
"Sudah kujawabkan di WA."
"Iya, tapi kalau kamu tidak bisa, siapa yang temanin aku?" Ezo mulai bernada memelas.
"Sudah ajak saja maya," jawab Raissa.
"Cih, mana mau dia dadakan begini."
"Pasti mau, ku kirimin pesan ke dia ya?"
"Jangan, biar aku saja," cegah Ezo. "Nanti malah lebih cerewet kalau kau yang bilang duluan."
"Tapi kamu suka kan dengan kecerewetannya dia?" Goda Raissa.
"Terpaksa, bukan karena suka. Bolak balik dia asyik mencubit pinggangku, lama-lama berlubang hingga ke ginjal ini." Keluh Ezo.
"Itu tandanya Maya sayang dengan kamu," Raissa makin mengoda Ezo.
"Bagaimana dengan mu? Banyak pria yang mengajakmu kencan, semua kau tolak?" Ezo membalas menggoda.
"Kasusku beda, yang mendekatiku orangnya aneh-aneh." Protes Raissa.
"Aneh bagaimana? Berkencan saja belum, langsung menghakimi sifat seseorang. Mau jadi perawan tua?"
Ya sudah, lain kali kuterima ajakan kencan. Jangan cerewet. Sekarang kamu hubungi Maya dan selamat bersenang-senang ya." Kata raissa sambil menutup teleponnya.
"Eit..," belum sempat Ezo berbicara lagi, saluran telepon sudah terputus.
Raissa mengirim pesan kepada nomor yang tak dikenalnya itu.
Terima kasih atas undangannya, tetapi alangkah lebih baiknya pertemuan ini diatur dengan sekretaris saya. Silahkan hubungi dia di hari senin. Karena hari ini hari Sabtu. Oh ya, tolong sampaikan rasa terima kasih saya atas tumpangan mobilnya semalam. :) tulis Raissa.
*****
Stefan sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca berita dari tabletnya. Tiba-tiba, asisten pribadinya yang bernama Thom menghampirinya.
"Bos, Ibu Raissa sudah menjawab pesan yang sudah saya kirimkan." Lapor thom kepada Stefan. Sambil memperlihatkan isi balasan dari Raissa.
"Cih, wanita ini jual mahal sekali."
"Kirim mobil langsung ke apartemennya, langsung jemput dia saja," perintah Stefan.
"Tapi bos, Ibu Raissa bisa marah besar kalau terlalu dipaksakan." Thom berusaha mengingatkan Stefan.
"Betul juga apa katamu, watak dia keras." Stefan setuju dengan ucapan Thom.
"Jadi bagaimana bos?" Tanya Thom.
Stefan berpikir keras, dia tidak mau Raissa lepas dari genggamannya. "Aku harus mendapatkannya," kata hatinya Stefan.
"Kamu coba bujuk dia yang baik, buat alasan yang masuk akal. Misalnya kau ku pecat bila dia tidak mau ikut." Saran Stefan.
"Bos, aku tidak bisa berakting."
"Siapa yang berakting, itu akan terjadi. Kau kupecat bila hari ini tidak berhasil," gertak Stefan dengan nada dingin.
"Iya, iya bos. Jangan begitu lah." Thom langsung keringatan mendengarnya.
"Ya sudah,kamu jemput dia sekarang."
"Baik bos,langsung diantar kemana ibu Raissa?"tanya Thom lagi.
"Bawa dia ke Restaurant jepang yang biasa."
"Baik pak."
Thom sudah menjadi asisten Stefan sejak 8 tahun terakhir, jadi dia sudah hafal restoran kesukaan atasannya ini. Segera dia mengatur semuanya sesuai perintah yang diberikan.
"Tunggu saja sampai kapan kamu tetap jual mahal kepadaku," gumam Stefan sambil menyeruput kopinya lagi.
