Bab 6 Makan Malam Bersamanya
Raissa memasuki restaurant "Moi et Toi", yang menyajikan masakan perancis. Dilihatnya meja-meja sudah banyak terisi.
"Halo madam, berapa orang?" Tanya penerima tamu.
"Hanya 1 orang," jawab Raissa.
"Baik madam, mari ikuti saya."
Tiba-tiba Raissa menabrak seseorang yang kebetulan memegang minuman red wine, membuat baju Raissa terpecik warna merah.
"Hey, kamu membuat bajuku rusak." Tegur Raissa dengan nada kesal.
"Loh yang menabrak siapa, kok kamu yang marah-marah, nona Raissa."
Terkejut Raissa mendengar sosok itu menyebut namanya. Ditatapnya wajah sosok itu, semakin Raissa terkejut. Ternyata itu Shawn.
"Hai nona Raissa, bertemu lagi kita. Kalo dua kali bertemu dalam satu hari itu artinya kita berjodoh." Sapa Shawn.
"Iish, berjodoh? Lagi apes saja saya," ujar Raissa sambil berusaha membersihkan noda-noda wine di bajunya. Tanpa memperdulikan Shawn, Raissa langsung menuju restroom.
Setelah Raissa membersihkan pakaiannya yang terkena wine sebisanya, Raissa menutupi noda dengan scarf yang kebetulan ada di dalam tasnya. Raissa mematut dirinya, puas dengan hasilnya, Raissa beranjak keluar Restroom.
"Aduh." Raissa membentur dada seseorang saat beranjak keluar restroom.
"Sepertinya kamu suka mengikuti saya."
Dilihatnya pria itu, dan senyum liciknya terlihat. Raissa melotot karena terkejut, pria itu adalah Stefan.
Aduh, apes banget ketemu serigala di sini. Pikir Raissa.
"Siapa yang mengikuti? Ini restaurant lebih dekat jaraknya dengan kantorku. Justru kamu yang mengikutiku," gerutu Raissa.
"Loh, ini restaurant milikku keluargaku. Apa salah, kalau aku mampir ke sini?" Tanya Stefan dengan nada sombong.
"Tidak salah. Kalau begitu saya yang salah pilih restaurant malam ini. Terima kasih pak stefan, saya akan mencari restaurant lain."
Saat Raissa hendak beranjak, tangannya dipegang Stefan. Ditepisnya segera oleh Raissa.
"Maksudnya apa? Jangan sentuh saya!"
"Maafkan saya, tetapi diluar hujan semakin deras, saya lihat baju kamu sudah agak basah. Daripada masuk angin, lebih baik kamu makan di sini saja. Sepertinya pertemuan kita selalu dalam kondisi yang tidak santai. Perkenankan saya untuk mentraktir nona Raissa makan malam bersama saya." Dengan lembut Stefan berkata kepada Raissa.
"Makan malam berdua?"
Disentil hidungnya Raissa oleh stefan sambil tertawa.
"Jangan mimpi," ujar Stefan. "Sepertinya nona Raissa sangat tertarik untuk makan berduaan saja denganku."
"Iissh, tidak pernah terpikirkan!" Seru Raissa, sambil hendak beranjak meninggalkan Stefan.
"Sudah, mari ikut saja," kata stefan sambil menarik tangan Raissa, tidak peduli Raissa berusaha menarik tangannya. Tapi tenaga Stefan lebih kuat, akhir Raissa nurut mengikutinya.
Di depan pintu ruang VIP, raissa terkesima dengan interior di dalamnya. Serasa berasa di paris. Interiornya begitu indah seperti ruangan yang ada di versailles.
"Hai semua, lihat siapa yang kutemukan."
"Wah, kau membawa seorang wanita cantik."
"Siapa dia? Korban barumu lagi?"
"Dia itu nona Raissa, senior executive di IC4U," Kata Shawn.
Ingin rasanya Raissa kabur, 1 serigala sudah membuat dia mual. Sekarang ada 3 serigala lainnya di ruangan itu.
"Perkenalkan, ini Shawn, Alex dan Daniel," Stefan memperkenalkan semua yang ada.
"Guys, ini nona Raissa. Karena kita butuh yang indah-indah, jadi kuajak saja dia bergabung makan malam dengan kita."
"Setuju, mual benar aku lihat muka-muka bajingan ini. Kalau ada 1 bidadari turun dari langit hadir di sini, diriku akan bahagia selamanya." Ujar Alex sambil membentangkan tangannya lebar-lebar.
"Lebay," komentar Daniel.
"Iissh, ini ungkapan hatiku yang paling jujur loh," Protes Alex.
"Maafkan saya yang sudah membuat bajumu terkena wine," kata Shawn dengan tulus meminta maaf kepada Raissa.
Raissa hanya membalas dengan anggukan dan senyum tipis.
"Hey Stefan, ternyata kamu normal juga. Kukira kau pacaran dengan Shawn," goda Alex.
"Bajingan kau,aku normal dari dulu. Si babi satu ini yang selalu mengganggu ketenanganku." Ujar Stefan sambil menuding ke arah Shawn.
"Aku? Kau yang mengganggu kencan-kencanku sebelumnya." Protes Shawn sambil melempar bantal kursi ke muka Stefan.
Dan semuanya Tertawa terbahak-bahak, membuat suasana menjadi sangat riuh. Hanya Raissa yang tetap diam, ingin dia pamit pulang. Diliriknya Stefan, Raissa dengan wajah memelas meminta ijin untuk pulang, Stefan menggelengkan kepalanya.Akhirnya Raissa duduk makan malam bersama mereka, tidak banyak Raissa berkata-kata. Dia ingin segera menyelesaikan makan malamnya dan segera pamit pulang, itu yanh ada di dalam benaknya.
Sepanjang makan malam, Stefan menatap Raissa dengan tajam. Tidak dihiraukannya, teman-temannya asyik membahas tentang artis sexy, fluktuasi harga saham dan emas.
Wanita ini sangat keras kepala, tapi makin sering kulihat dia, makin menarik melihat dia. Sejauh ini, tidak ada satupun kaum hawa yang menolak pesonaku. Jadi makin seru taruhan ini, empat bulan lagi dia bertekuk lutut dihadapanku, Kata Stefan dalam hati.
Raissa menoleh ke arah stefan, dilihatnya Stefan tersenyum kepadanya. Membuat Raissa makin mual melihatnya.
Menu yang disajikan, banyak yang Raissa tidak tahu namanya. Semuanya dalam bahasa perancis,Raissa hanya bisa pasrah dipesanin menu makan malamnya oleh Stefan. Raissa mencoba makan sesuap dengan sedikit ragu. Dan setelah dia merasakan satu suap, dia lega ternyata rasanya enak. Walaupun lebih enak rendang dan nasi goreng menurut Raissa.
"Terima kasih atas makan malamnya, hari sudah semakin larut, saya pamit duluan. Lain kali saya akan membalas makan malam ini dilain waktu." Ucap Raissa sambil bersiap berdiri. Dan semua pria yang ada segera berdiri, mengikuti tata krama eropa yang menganut "lady's first".
Raissa segera berjalan keluar Restaurant, dan sebuah mobil mewah telah membukakan pintu untuknya.
"Maaf , sepertinya salah orang. Ini bukan mobil milik saya."
"Ini mobil tuan Stefan. Silahkan masuk nona, saya diminta tuan muda untuk mengantar pulang nona."
"Terima kasih pak, saya pulang sendiri saja."
"Tapi nona, ini sudah larut malam.tidak baik nona yang cantik ini sendirian masih di jalan. Mari nona." Sopir itu langsung membuka makin lebar pintu mobilnya.
Raissa menjadi dilema, satu sisi betul apa yang dikatakan pak sopir ini. Tapi ini mobil milik serigala. Kalau aku diculik bagaimana?
Keraguan terlihat jelas diwajahnya, dan langsung disadari pak sopir itu. "Saya pasti mengantar ke kediaman nona dengan selamat," supir itu berusaha meyakinkan Raissa.
Raissa melihat penampilan pak supir sangat sopan dan santun dalam berbicara, wajahnya jugs sangat kebapakan. Raissa memutuskan untuk masuk ke dalam mobil tersebut.
Sebelum mobil itu melaju, pak supir itu memohon untuk diarahkan jalan pulangnya. Karena lalu lintas saat itu tidak terlalu padat, karena sudah sangat malam. Dalam waktu 20 menit, mereka telah tiba di muka lobby gedung apartemennya.
"Terima kasih pak, atas tumpangannya." Ucap Raissa dengan tulus.
"Ini sudah menjadi tugas saya, nona. Selamat beristirahat, saya harus kembali menjemput tuan muda lagi. Karena mobil porschenya dipinjam pak Shawn malam ini."
Dan mobil segera berlalu dari pandangan Raissa, kata-kata terakhir supir tadi mengingatkan kejadian sebelum dia tiba di restoran toi et moi.
"Jadi yang membuat bajuku basah, ternyata si serigala itu. Aargh! Bodoh sekali aku," keluh Raissa sambil tepuk jidatnya.
