Bab 5 Situs Pertemanan
Di ruang kerja, Raissa segera memeriksa beberapa dokumen yang ada di atas mejanya.
"Isabel, tolong siapkan 1 cangkir hot caramel machiatto," perintah raissa melalui intercom.
"Baik bu, segera saya siapkan."
Raissa mulai merasakan pundaknya capek. Direntangkannya tangannya lebar-lebar. Dia berusaha mengendurkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan.
"Masuk."
"Hai cantik, sibuk sekali?" Terdengar suara sahabatnya Gita yang bernada selalu ceria. Gita sudah seperti saudara kandung, mereka bersahabat sejak duduk di taman kanak-kanak. Tidak seperti Raissa, Gita hanyalah seorang ibu rumah tangga, memiliki 2 anak perempuan usia 4 tahun dan 7 tahun. Dan sekarang sedang menanti anak ketiganya. Usia kandungannya memasuki bulan ke 6. Menurut hasil dokter kali ini bayi yang dikandungnya laki-laki.
"Untuk kamu, selalu ada waktulah."
Segera Gita duduk di sofa sambil menaruh sebuah bingkisan.
"Apa itu?"
"Ini titipan dari ibumu. Dia bilang kamu harus minum vitamin, jangan sampai sakit. Dan segera cari pacar. "
"Aah selalu itu pesannya."
"Lah memang itu yang belum kau miliki, rumah , mobil , karir dan uang sudah kauraih. Cuma satu itu yang belum kau miliki. Ayolah coba kenalan dulu," bujuk Gita.
Raissa berpikir sejenak, sebetulnya ada ketakutan dia sejak dulu. Dia pernah patah hati, karena pacarnya sewaktu kuliah berselingkuh. Sejak itu, dia menutup hatinya rapat-rapat.
"Maafkan kita harus putus, karena kamu terlalu pintar. Aku malu sebagai pasanganmu, yang kubutuhkan sosok gadis yang butuh bantuanku. Bukan pacarku yabg selalu membantuku, lama-lama harga diriku terinjak-injak." Kata Bram, mantannya saat minta putus 7 tahun yang lalu. Kata-kata itu selalu terngiang di benaknya. Tapi kenyataanya, pacarnya selingkuh dengan teman sekostnya. Hancur hati Raissa mengetahui perselingkuhan bram, butuh waktu 2 tahun baginya untuk dapat meredam gejolak dihatinya. Hingga akhirnya dia menutup rapat-rapat hatinya dan mengisi harinya dengan giat bekerja.
"Jangan melamun, kamu masih mengingat bajingan itu?" Tegur Gita, melihat Raissa termenung.
"Tidak, itu masa lalu. Hati ini sudah melupakan dia."
"Bagus, sekarang waktunya bagimu untuk mewujudkan keinginan Tante Mira. Ingat Raissa, umur kita tidak tahu berapa lama di dunia ini." Tutur Gita.
Diingatnya sosok ibunya yang orang tua tunggal, semakin hari semakin berumur. Dia hanya ingin ibunya bahagia. Karena sudah membesarkan dia seorang diri, tanpa sosok seorang ayah. Ya, ayahnya meninggalkan ibu dan dirinya sejak dalam kandungan. Ayahnya meninggal karena tugas negara. Beliau seorang tentara yang patriotik, Raissa selalu bertekat menjaga pesan ayahnya sebelum beliau berangkat menjalankan tugas terakhirnya, yaitu jujur dalam hal apapun dan bekerja keras.
"Baiklah, kali ini kucoba. Tapi tidak menjamin hasilnya." Jawab Raissa setelah dia menarik nafas panjang.
"Nah begitu dong," ujar Gita. Dia sangat senang mendengar kata-kata itu keluar dari mulut manisnya Raissa.
"Tapi aku tidak tahu harus memulai darimana?"
"Nih coba situs ini, bila tidak cocok. Bisa kau swap ke kiri. Bila cocok bisa kau swap ke kanan. Ajak ngobrol lanjut kopi darat, bila terasa nyaman. Tidak perlu pasang foto. Cukup ajak ngobrol saja sebagai awal perkenalan." Panjang lebar Gira menjelaskan tentang situs pertemanan para lajang.
"Boleh kupakai nama samaran?"
"Boleh."
"Aku tidak minta kau langsung kencan. Tapi kau butuh tahap ngobrol yang nyaman dengan para pria. Karena sudah luntur ilmumu tentang itu. Para pria lari begitu melihat tatapan matamu yang tajam. "
"Masa?"
"Coba deh, lunakan sedikit gaya bahasamu. Manja sedikit bukan berarti wanita lemah," kata Gita sambil tertawa geli.
Raissa langsung cemberut mendengarnya, membuat wajahnya menjadi lucu dan menggemaskan.
"Ok, nanti malam setelah pulang kerja kucoba masuk ke situs ini."
"Sip, ok. Aku pulang dulu ya, suamiku minta diriku masak."
"Baiklah. Terima kasih sudah singgah disini."
Setelah cium pipi kiri dan kanan Raissa, Gita keluar dari ruang kerja Raissa.
Raissa termenung sepeninggalan Gita, ditatapnya situs yang direkomendasi sahabatnya itu.
"Sepertinya tidak jadi masalah, tidak diminta foto dan nama bisa disamarkan." Gumam Raissa.
Jari lentiknya mulai mengetik di keyboard, tidak lama kemudian, profilenya sudah siap ditayangkan.
Semoga menemukan sosok yang menarik, tidak menjijikan seperti si serigala itu. Raissa berkata di dalam hati.
Nama yang dipilihnya LadywithRose. Usia 28 tahun. Pekerjaan swasta. Hobi memasak dan nonton film.
Setelah mengikuti petunjuk dan perintah dari situs itu, profilnya siap ditayangkan.
Setelah itu Raissa sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya. Sehingga terlupakan situs yang baru dia ikuti.
Tak terasa waktunya makan malam, isabel mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk"
Isabel memasuki ruang kerja Raissa sambil membawa tempat obat.
"Malam ini mau makan di sini atau di luar, bu?"
"Luar, saya sudah selesai ini. saya sedang simpan filenya."
"Baik bu."
"Kamu pulang saja duluan, saya juga sebentar lagi pulang."
"Terima kasih bu, kalau begitu saya pamit pulang sekarang," kata Isabel.
Segera isabel keluar ruangan dan merapihkan meja kerjanya. Setelah semua sudah rapih, isabel pun turun lift menunu lobby untuk pulang.
Sedangkan Raissa bersiap-siap pulang, dilihatnya semua file sudah tersimpan dengan baik. Raissa segera bergegas keluar dari ruangannya dan menuju lift.
Di lobby, dia baru menyadari bahwa diluar gedung sedang hujan. Waduh, payungnya dimobil. Ada rasa panik di dalam diri Raissa. Dan karena mobilnya sejak siang berada di bengkel, maka malam ini dia pulang menggunakan kendaraan umum. Dan apesnya, sejak tadi panggilan taxi onlinenya tidak ada yang merespond.
"Sepertinya permintaan taxi online sedang tinggi, hmmm. Aku coba saja restauran perancis yang direkomendasi oleh Mary Jane." Kata Raissa dalam hati.
Setelah berpikir lama, dia memutuskan untuk singgah di restaurant yang tidak jauh dari kantornya. Dengan berlari-lari kecil, dia menuju ke restaurant tersebut. Diperjalanan, sebuah mobil porsche warna metalik melewati genangan air bersamaan Raissa sedang berjalan di tepi jalan. Baju Raissa sedikit basah.
"Hey, pakai mata!" Seru Raissa marah.
Mobil itu tetap melaju, tidak menghiraukan teriakan Raissa. Setelah Raissa tiba di gedung restoran yang dia tuju, Dia melihat sebuah mobil porsche warna metalik tiba di muka restoran toi et moi.
"Bagus, kebetulan aku mau makan di situ juga. Jadi ingin tahu siapa pemilik mobil sombong tadi." Geram sekali Raissa.
Dihampirinya mobil itu, tapi pengemudinya sudah turun. Raissa jadi makin penasaran siapa pemiliknya, dilihatnya petugas parkir.
"Pak, ini mobil milik siapa?" Tanya Raissa.
"Milik Monsieur." Jawab petugas parkir itu.
"Monsieur? Siapa dia?" Tanya Raissa lagi.
"Ya, pemilik restoran ini. Sudah ya bu, saya harus ke sana dulu." Petugas parkir itu segera berlalu dari pandangan Raissa
"Oh, baik pak. Terima kasih banyak atas informasinya." Balas Raissa, tapi petugas itu tudak terlalu mendengarnya. Terburu-buru petugas itu membantu keluar masuknya mobil alphard yang baru datang.
