Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11 - Unit Gawat Darurat

Semalaman Raissa kurang nyenyak tidurnya, banyak hal yang dipikirkannya. Dia berguling ke berbagai sisi ranjangnya, belum nemukan posisi nyaman untuk tidur.

Diraihnya handphonenya, dilihat waktu sudah menunjukan pukul 01:15 dini hari.

"Ya ampun, masih lama fajar tiba ini. Apa karena minum caffein tadi sore ya, jadi susah tidur. Aargh..."

Raissa bangkit dari ranjang, dan mulai membuka aplikasi barunya. Dilihatnya ada balasan dari nobody.

Nobody : Hi, LadyinRose. Pasti bunga Favoritnya bunga mawar. Itu artinya kamu orangnya romantis. Hahahaha. Semoga kita bisa bertemu suatu saat nanti.

Hmm , orang ini terlihat menyenangkan, raissa tersenyum membaca pesan singkat itu.

Segera dia membalasnya.

Hai, nobody. Seperti namanya, kurasa kamu itu orangnya misterius penuh curigaan ya. Tenang, aku bukan serial killer. Hahaha, balas Raissa di chat situs itu.

Setelah dia melihat-lihat pesan baru yang masuk, tidak ada niatnya tuk membalasnya, karena semuanya hanya seperti pesan rayuan. Mual Raissa melihat rayuan gombal pulau kelapa.

Tapi rasa mual ini, kenapa makin menjadi? Raissa langsung menuju ke kamar mandi, semua makan malamnya dimuntahkannya. Raissa langsung lemas terkulai.

Raissa mencoba mencari obat mual di kotak persediaan obatnya. Tapi tidak ada satupun obat yang bisa mengurangi rasa mualnya.

Dilihatnya jam masih pukul 02:30. Terlalu dini hari untuk memghubungi Gita. Apa aku jalan keluar cari apotek 24 jam ya? Selain rasa mual, dan perutnya juga terasa nyeri sekali.

Tanpa pikir lebih lama lagi, segera diraihnya sweaternya dan topi rajutnya. Cuaca saat itu terasa sangat dingin, karena hujan baru berhenti setelah mengguyur kota jakarta sejak jam 7 malam tadi.

Dilihatnya lokasi apotek 24 jam terdekat melalui aplikasi peta IC4U, ternyata cukup dekat, bisa dicapai dengan jalan kaki selama 20 menit.

Keadaan jalan sangat sepi, lampu jalan menyinari langkahnya. Raissa berjalan dengan langkah lebih cepat. Ada sedikit rasa was was dihatinya. Perutnya semakin terasa nyeri. Nafasnya mulai tersenggal senggal dan ada keringat dingin.

Tidak lama kemudian, Raissa tiba di apotek 24 jam. Dia mencoba menanyakan ke apoteker obat yang biasa diminum. Saat dia berada di meja apoteker, dia ditegur seseorang dari belakang.

"Nona Raissa?"

"Ya," jawab raissa dengan lirih sambil menoleh ke arah belakang. Dilihatnya Shawn yang menyapanya.

"Loh, kok pucat sekali?" Tanya Shawn.

Belum sempat menjawabnya, Raissa kehilangan kesadarannya. Semuanya terlihat buram dan perlahan menjadi gelap.

****

Telepon Stefan berdering kesekian kalinya, dengan rasa malas Stefan mengangkatnya. Hampir saja dia memaki peneleponnya. Kalau dia tidak mendengar nama Raissa disebutkan.

"Apa?! Raissa? Bawa langsung ke RS adhinatha segera! Perintah Stefan dengan nada panik dan penuh rasa khawatir.

"Baik, kami segera ke sana." Ujar Shawn lewat telepon.

"Iya, aku langsung jalan sekarang." Kata Stefan. Telepon langsung dimatikan, Dia langsung berganti pakaian. Diambilnya kunci mobil dengan terburu-buru.

Sesampainya dia di Basement parkiran mobilnya, dia langsung menuju mobil bmw Z3 warna putih.

Dihidupkannya mesin mobil tersebut, tidak lama kemudian Stefan langsung tancap gas. Ditengah perjalanan, dia menghubungi direktur operasional RS Adhinatha. Dengan sigap semua team dokter yang bertugas saat itu diperintahkan menunggu di depan pintu emergency. Kamar terbaik langsung disiapkan, dimana kamar itu dipersiapkan hanya untuk keluarga Adhinatha, tetapi karena ini perintah langsung dari Stefan. Direktur Operasional langsung menginstruksikan perintah ke bawahannya.

Saat mobil Shawn tiba di area Emergency Unit, semua petugas dengan sigap membawa Raissa yang masih pingsan dengan ranjang yang sudah disiapkan. Dokter langsung memeriksa detak jantung dan selang oksigen langsung dipasangkan.

Saat dokter memeriksa perutnya, dia menduga ada sesuatu di dalam perutnya. Segera dia perintahkan untuk periksa USG. Hasilnya dengan cepat terlihat, ada pembengkakan di usus buntunya. Langsung diperintahkan Raissa untuk dioperasi saat itu juga.

Stefan tiba di RS adhinatha saat hasil USG keluar, langsung dia menandatangani semua dokumen RS yang dibutuhkan. Supaya proses operasi dapat dilaksanakan segera.

Stefan dan Shawn menunggu di ruang tunggu kamar operasi. Stefan baru pertama kali berada di ruangan itu. Biasanya dia menunggu hasil dokter di ruang tunggu khusus.

"Shawn, bagaimana kamu bisa bertemu dengan dia?" Tanya Stefan, ada rasa cemburu di nadanya.

"Jangan curiga dulu, aku baru pulang habis kencan dengan Neta artis kontroversial itu. Terus aku mampir ke apotek 24 jam untuk membeli kondom. Stokku sudah habis, kebetulan lewat, ada apotek 24 jam, kumampir. Siapa sangka aku bertemu dengan Raissa. Saat kusapa, dia langsung pingsan. Untung aku sempat memegangnya." Ungkap Shawn panjang lebar.

Satu jam kemudian, Dokter kepala menemui Stefan untuk melaporkan bahwa Keadaan Raissa semakin lemah, dokter mengatakan usus buntunya telah berkomplikasi. Sehingga waktu operasi lebih lama dari umumnya operasi usus buntu.

Raissa membutuhkan banyak kantong darah. Golongan darah Raissa A rhesus +. Persediaan darah yang ada kurang. Untuk mengambil lagi darah di PMI butuh waktu yang lama dengan segala prosedur birokrasinya.

Stefan memiliki golongan darah yang sama dengan Raissa, tanpa pikir panjang lagi, Stefan langsung mengajukan diri untuk mendonorkan darahnya.

Terkejut team medis yang mendengarnya, karena Stefan adalah pemilik dari RS Adhinatha, bersedia menyumbangkan darahnya untuk pasien wanita itu. Gosip mulai menyebar di dalam RS, Adhinatha. Siapa gerangan wanita ini? Tapi Stefan tidak peduli, dia lebih mengkhawatirkan keadaan Raissa.

Stefan langsung dibawa ke lab rumah sakit. Rs adhinatha adalah rumah sakit swasta yang berfasilitas sangat lengkap. Labotariumnya diakui menjadi laboratorium yang terlengkap dan terbaik di Indonesia dan se-Asean. Banyak pasiennya datang dari luar negeri untuk berobat di sana.

Butuh waktu 2 jam, supaya darah yang diambil bisa diberikan ke pasien. Stefan diminta untuk istirahat karena diambil darah cukup banyak. 2 kantong sekaligus. Kepalanya terasa pusing dan pandangan berkunang-kunang.

Shawn yang dari awal menemani Stefan, membawa roti dan teh manis untuk diberikan ke Stefan.

"Nih, makan dulu. Biar ada tenaga lagi," ujar Shawn sambil melempar roti ke Stefan.

"Aku tidak biasa makan roti selain roti buatan chef pilihan." Tolak Stefan

"Sudahlah bro, ini belum jamnya buka cafetaria. Makan yang ada dulu. Biar bisa temanin Raissa. Sebentar lagi dia dibawa ke ruang ICU."

Akhirnya Stefan menurut, dimakannya juga roti itu.

"Rotinya kurang enak." Keluhnya.

"Sudah diam aja, makan yang benar." Shawn sampai geleng-geleng kepala melihat Stefan cemberut dan rada susah menelan roti itu.

Setelah dipelototin Shawn , akhirnya habis juga roti dan teh manis itu. Stefan langsung merasa lebih enak, tidak merasakan pusing lagi.

Tidak lama kemudian dokter kepala datang untuk mengabarkan bahwa operasinya berjalan lancar, kondisi Raissa sudah stabil dan sekarang sudah dibawa ke ruang ICU. Raissa masih belum siuman.

Stefan pun lega mendengarnya, dia tersenyum lebar. Shawn mengajak Stefan pulamg untuk istirahat, tapi Stefan menolaknya. Dia ingin berada di dekat Raissa, saat dia siuman nanti.

Lelah membujuk Stefan pulang, dan tidak berhasil. Akhirnya Shawn pun pamit pulang untuk beristirahat, Meninggalkan Stefan seorang diri di sana.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel