Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 12 - Raissa Siuman

Stefan memerintahkan asistennya, Thom untuk menghubungi kantor tempat Raissa bekerja untuk memberitahukan keadaan Raissa saat ini. Thom langsung sigap menghubungi asistennya Mary Jane, karena hari ini masih hari minggu, kantor sedang libur.

Mary Jane saat dihubungi oleh asistennya, dia berada di kediamannya, dia memerintahkan asistennya untuk menghubungi pihak keluarganya Raissa. Mary jane langsung menuju RS Adhinatha.

Di Rumah sakit, Mary Jane melihat Stefan duduk di ruang tunggu keluarga pasien ICU. Langsung dia menghampiri Stefan.

"Selamat pagi, pak Stefan," sapa Mary Jane.

"Selamat pagi juga, Ibu Mary Jane." Balas Stefan.

"Bagaimana keadaannya sekarang?"

"Operasinya berjalan lancar tadi pagi. Saat ini kondisinya masih tahap pemulihan pasca operasi. Dia ada di ruang ICU."

"Terima kasih Pak Stefan sudah banyak membantu Raissa, bila tidak ada pak Stefan entah bagaimana nasibnya Raissa." penuh rasa terima kasih Mary Jane kepada Stefan.

"Kebetulan saja, Shawn bertemu dia di apotek 24 jam. Karena dia panik, shawn hubungi saya. Langsung saya arahkan untuk dibawa ke sini. Kebetulan Rumah sakit ini milik keluarga saya, jadi segala prosedur bisa segera saya kendalikan." Penjelasan Stefan.

"Sepertinya pak Stefan lelah, silahkan istirahat dulu pak. Biar saya yang menunggu di sini. Memang di kota ini Raissa tidak ada keluarga, hanya ada saya dan Gita sahabat kecilnya yang selalu menjaganya. Ibunya berada di kampung halaman."

Stefan merasa dia bukan siapa-siapanya Raissa saat ini, jadi dia memilih mengikuti permintaan Mary Jane dengan rasa enggan.

Supaya dia tidak jauh dari RS Adhinatha, Stefan memilih menginap di Hotel bintang 6 yang ada di area sebelah RS. Urusan pekerjaan dialihkan menjadi via conference call.

Setiap 2 jam, Stefan menghubungi direktur RS untuk menanyakan status perkembangan kesehatan Raissa. Team dokterpun menjadi lebih hati-hati dalam menyampaikan informasi yang ada, dan di ruang ICU khusus, Raissa mendapatkan perawatan yang sangat maksimal.

Mary Jane dan Gita yang juga menyusul ke Rumah sakit hanya bisa berusaha tegar melihat kondisi Raissa yang berada di dalam ruang ICU. Tapi mereka tahu RS, Adhinatha merupakan Rumah sakit terbaik, jadi ada rasa kelegaan dihati mereka memgetahui Raissa menjalani perawatan di sana.

****

Dua malam Raissa berada di ICU, akhirnya raissa menunjukan perkembangan yang semakin baik. Alat bantu pernafasannya sudah dilepas, tetapi kesadaran dia belum pulih 100 persen. Kesadaran dia timbul tenggelam, dan team dokter menyatakan, Raissa bisa di bawa ke kamar perawatan.

Raissa sudah bisa dipindahkan ke ruang ICU. Kondisinya cukup stabil kata kepala dokter yang memimpin operasinya. Mendengar itu, Stefan langsung merasa lega.

Stefan langsung mendatangi rumah sakit. Kamar yang dipersiapkan untuk Raissa sudah ditaruh beberapa vas bunga segar. Luasan kamarnya cukup luas, ada ruang duduk, ruang makan dan ada pantrynya juga. Sekilas terlihat seperti sebuah apartemen tipe studio. Interiornya sangat istimewa, dengan pemilihan material interior dan furniture kelas atas. Suasana terasa sangat modern dengan pemilihan warna putih dengan aksen gold yang mendominasi ruangan itu.

Stefan melihat bunga-bunga pesanannya sudah ditata dengan baik oleh pihak rumah sakit, menambah keindahan ruangan perawatan Raissa.

Raissa sudah berada dikamar perawatan saat Stefan masuk ke dalamnya. Nafas Raissa terdengar teratur, wajahnya sudah tidak sepucat seperti sebelumnya. Raissa terlalu lemah kondisinya, sehingga Raissa kesadarannya datang dan pergi.

Ingin rasanya Stefan memegang tangannya dan mengecup keningnya. Tapi dia menahan diri untuk itu semua. Karena hubungan dia masih di tahap awal, jangan sampai Raissa mengira dia laki-laki mesum.

Gita mengetuk pintu kamar, dia membawa makanan untuk Stefan. Karena Gita tahu beberapa hari ini, Stefan menjaga Raissa. Dia hanya mau berterima kasih, baginya Stefan adalah pahlawan yang telah menyelamatkan sahabat yang sudah seperti saudara kandungnya.

"Selamat siang pak Stefan, ini saya bawakan masakan saya untuk makan siang bapak. Sebagai rasa terima kasih saya." Ucap Gita sambil memberikan box makanan.

"Tidak usah repot-repot, jangan terlalu sungkan sama saya. Terima kasih untuk makanan ini."

Stefan menerimanya box makanan itu dengan senyum dan sikap yang sopan.

Gita semakin kagum melihat betapa sopannya sikap Stefan. Langsung dipikirannya untuk menjodohkan dengan Raissa. Sepertinya ini menjadi pasangan yang tepat untuk Raissa, pikir Gita sambil senyum tipis.

"Bagaimana rasanya?" Tanya Gita

"Enak banget," puji Stefan dengan tulus.

"Benaran? Tidak bohong kan?"

"Benaran."

"Itu makanan kesukaan Raissa. Sejak kecil kami tumbuh bersama, dia dan ibunya tetanggaan dengan kami."

"Ayahnya kemana?" Tanya Stefan.

"Ayahnya menghilang saat dinas terakhirnya. Info terakhir dia masuk ke dalam hutan di kalimantan untuk mengejar para teroris. Saat kejadian Raissa baru berumur 10 tahun." Penjelasan Gita.

"Oh begitu, kampung halamannya dimana?"

"Salatiga," jawab Gita. "Pak Stefan, saya titip Raissa. Tolong jaga dia dengan baik."

"Tenang saja nona Gita, saya akan menjaga dia dengan baik. Tolong panggil saya Stefan saja, panggilan bapak terasa terlalu formil." Ujar Stefan.

"Baik Stefan, saya tidak akan sungkan lagi." Balas Gita sambil tersenyum.

Dikarenakan dia harus menjemput anak-anaknya dari sekolah, Gita pamit kepada Stefan dan menitip pesan untuk mengabarinya perkembangan keadaan Raissa.

Stefan membuka laptopnya dan mulai membaca email yang dikirim asistennya. Saat dia sedang serius membaca laporan yang diterima, Raissa mulai terbangun dari tidur panjangnya.

"Hati-hati, jangan banyak bergerak dulu," tegur Stefan saat melihat Raissa berusaha bangun dari ranjang.

"Huh, kamu siapa?" Tanya Raissa heran. Pandangan dia masih buram. Suaranya terdengar parau

"Ini aku, Stefan."

"Stefan?" Heran Raissa

"Aku dimana? Dan sudah berapa lama aku disini?"

"Kamu berada di RS Adhinatha, sudah 3 hari kamu dirawat disini. Pelan-pelan, kamu masih ada bekas operasi di perut."

"Operasi? Kenapa?"

"Usus buntu mu pecah. Dan ada komplikasi lainnya."

Terdiam Raissa mendengar penjelasan Stefan, dia berusaha memahami semuanya.

"Tadi Gita menjenguk mu, cukup lama dia di sini. Sekarang dia sudah pulang karena mau menjemput anak-anaknya dari sekolah."

"Gita? Hmmm, baiklah. Terima kasih."

"Kamu mau makan atau minum?" Stefan mencoba menawarkan sesuatu.

"Boleh," jawab Raissa.

"Kupesanin bubur ya, supaya ususmu tidak berat kerjanya. Setelah 3 hari tidak diisi apapun." Saran Stefan.

"Ok."

Stefan langsung memanggil staff dapur RS adhinatha. Dia meminta dibuatkan bubur. Segera dapur bekerja keras membuatnya, butuh waktu 35 menit. Bubur itu siap tersajikan. Stefan mencoba suapi Raissa, agak canggung suasananya. Tapi Raissa tidak bisa berbuat apa-apa. Dia lemah dan tidak ada orang lain yang bisa membantunya.

"Bagaimana?" Tanya Stefan, setelah satu suap masuk ke dalam mulut Raissa.

"Lumayan." Jawab Raissa dengan lirih.

"Mary Jane kemarin datang ke sini juga, dia bilang kamu fokus kesembuhanmu saja. Urusan kantor sudah diambil alih."

Raissa hanya mengganguk lemah, dia masih merasa pusing. Setelah lima suap bubur, Raissa menyerah. Dia kembali memejamkan matanya. Stefan langsung meredupkan lampu di kamar, supaya Raissa bisa istirahat.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel