Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.4. Keseruan Menjelang Lepas Masa Lajang

"TING TONG! TING TONG!"

Agnes baru saja membuka mata setelah tertidur pulas semalaman, pagi ini dia terbangun di kamar hotel yang berbeda dari mulanya bersama Edward. Mereka harus berpisah sementara menunggu hari pernikahan yang sudah dekat.

"Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini? Masih jam enam juga!" gumam Agnes sambil merapikan rambut panjangnya yang terurai dengan tangan. Dia bergegas membukakan pintu untuk tamunya.

Ketika pintu terayun membuka, Agnes langsung terkesiap dan menutup mulut dengan telapak tangannya. Matanya membulat melihat wanita-wanita cantik itu berdiri di hadapannya seolah-olah baru saja keluar dari pintu ke mana saja Doraemon.

"Hai, Nes! Syok banget kayaknya lihat kami. Hahaha!" sapa Zemi lalu menghambur memeluk sahabatnya yang akan segera melepas masa lajang itu.

"Ya ampun, kapan kalian datang? Zemi, Sanaya, Marsha, Diandra, Caroline, Laura! Wow ... rame banget jadinya nih!" seru Agnes menyambut hangat bestie-bestie serta asisten pribadinya yang bernama Laura itu.

Marsha pun membawa Agnes masuk ke dalam kamar agar mereka tidak membangunkan tetangga kamar hotel lainnya karena heboh mengobrol di lorong. Dia pun berkata, "Wah ... nggak nyangka si Bos Edu bakalan ngewujudin impian kamu buat nikah di Santorini lho, Nes! Kami diundang secara exclusive sama Edu dan naik private jet dari Jakarta langsung ke mari."

"Hmm ... Edu memang penuh misteri, dia nggak ada cerita rencanain semua ini. Malahan orang tua kami sudah diajak berunding perihal lamaran dan wedding di sini setengah bulan lalu, kata Mamaku. Tapi, jujur semua kejutannya itu so sweet dan bikin aku jadi wanita paling bahagia di dunia ini!" ucap Agnes dengan wajah berseri-seri, tak mampu menyembunyikan perasaannya.

Caroline yang melihat pemandangan dari balkon kamar berdecak kagum. "Ini keren banget sih tempatnya, Nes. Aku yakin wedding kalian bakalan kayak fairy tale!" ujarnya.

Mendengar perkataan Caroline, sahabat Agnes lainnya yaitu Diandra menyeletuk, "Pagi ini kita ke pantai yuk. Water sport dan sun bathing pastinya asyik banget tuh!"

Semua wanita di kamar itu menyahut antusias, mereka juga tak sabar untuk menjelajahi pantai di Pulau Santorini yang indah. Tanpa menunggu lama lagi, semuanya diajak sarapan bersama di hotel oleh Agnes sebelum mulai beraktivitas.

Open bar and kitchen di dekat kolam renang hotel menjadi tempat mereka sarapan pagi bersama. Floating breakfast dengan sajian khas masakan ala Yunani membuat para wanita muda cantik jelita itu menikmati suasana pagi cerah dengan riang gembira.

Zemi yang mengenakan bikini berwarna celestial blue mencicipi Greek salad di kolam sambil berkata, "Baru sampai di sini aja rasanya sudah betah nih, ntar suami ngajak pulang malah mager. Gimana tuh? Hehehe!"

Agnes ikut tertawa seraya menyahut, "Berarti kita sehati ya, kemarin aku bilang ke Edu kalau pengin tinggal di Santorini. Ternyata kamu juga mikir begitu, Zemi!"

"Ya siapa yang nggak akan betah kalau tempatnya nyaman dan indah begini, Nes!" timpal Marsha yang juga berendam di kolam sambil menikmati jus jeruk segar.

Tak lama kemudian circle Edward juga menyusul ke Open Bar and Kitchen itu. Pria-pria tampan berperawakan gagah nan kekar memamerkan abdomen serta lengan berotot yang menakjubkan. Mereka menatap pasangan masing-masing dari kejauhan dengan penuh cinta. Tidak ketinggalan Edward juga yang merindukan calon mempelai wanitanya setelah berpisah semalaman.

"Edu ... sabar dulu, Man. Acara weddingnya besok kok, sekarang kamu seru-seruan dulu lah sama kami!" tegur Rahez, suami Zemi yang juga sobat karib Edward karena terpergok memandangi terus gadis di seberang kolam itu.

Sebastian dan Jeremy juga merangkul bahu sepupunya di kanan kiri. Jeremy berkata, "Ini hari terakhir masa lajang kamu lho, Edu. Nikmati sebelum jadi suami dan calon ayah!"

"Hmm ... kalian benar. Ayolah, buruan pesan sarapan. Kayaknya floating breakfast seperti circle Agnes asyik juga tuh, Bas. Pesenin dong buat kita berenam!" ujar Edward.

Para eksekutif muda itu sengaja terbang bersama dari Jakarta untuk memberikan dukungan menjelang pernikahan sahabat mereka. Ada Roger, suami Sanaya, Rahez yang menjadi pasangan sah Zemi, Sebastian dan Diandra yang masih pengantin baru, Jeremy yang baru saja putus dengan Caroline masih gagal move on, yang terakhir Arnold-Marsha yang berteman sejak kecil dan berakhir di pelaminan juga.

Asisten pribadi Agnes yaitu Laura berbisik-bisik ke telinga Agnes, "Hey, itu yang rambutnya gondrong dan tinggi namanya siapa, Nes?"

"Yang mana sih?" Agnes mencoba mencari sosok yang ditanyakan oleh Laura.

"Itu lho, yang celana renang hijau biru!" tunjuk Laura malu-malu.

"Ohh ... dia Jeremy, mantannya Olin, kenapa? Kamu jangan-jangan naksir dia ya, Lau?" Agnes terkikik melihat wajah gadis itu merona bak udang rebus.

Dengan malu-malu Laura berkata pelan, "Ganteng bingits sih. Kenalin dong, mumpung dia lagi jomblo. Lainnya ganteng juga, sayangnya sudah pada taken!"

"Ntar ya, kubilang ke Edu dulu. Jeremy itu sepupu dekatnya sih. Lebih enak kalau dikenalin sama dia saja, jangan aku!" jawab Agnes lalu melanjutkan sarapan paginya.

Rombongan para pria dan wanita berencana menghabiskan waktu hari ini di pantai. Semua membawa tas masing-masing yang berisi barang pribadi seperti lotion sunblock SPF 60, kipas tangan elektrik, botol air mineral, handuk, dll.

"Main banana boat yuk! Siapa yang mau ikut?" seru Sanaya penuh semangat.

"Wah, ikutan dong!" sahut Diandra. Semua wanita itu juga ingin ikut naik banana boat.

Sementara para pria memilih main voli pantai kecuali Jeremy yang paling suka surfing. Dia membawa papan selancar pinjaman dari hotel menuju ke perairan lepas pantai.

Edward berseru kepada sepupunya itu, "Hey, Jemmy. Hati-hati kamu surfing sendirian!"

"Chill out, Edu. Aku sudah biasa kok!" sahut Jeremy lalu mulai berenang di atas papan seluncur menuju lautan lepas.

Dari atas banana boat, Caroline sempat bersitatap dengan Jeremy yang melewatinya. "Hello, My Ex. Tambah cantik aja kamu!" sapa Jeremy sembari mengedipkan mata menggoda Caroline.

Gadis itu memutar bola mata lalu membalas, "Awas digigit hiu atau ditelan orca, Jem!"

Jeremy hanya tertawa ringan menanggapi candaan pedas mantan kekasihnya lalu melanjutkan berenang ke tempat yang berombak tinggi.

Para wanita berteriak histeris saat banana boat hilang keseimbangan terkena ombak pasang. Mereka terjun ke dalam air laut dan segera berenang untuk naik lagi ke banana boat.

Setelah puas main air, Agnes dan teman-temannya kembali ke tepi pantai untuk berjemur. Minuman dingin dan buah segar pesanan mereka telah disajikan di meja kayu yang berada di bawah payung lebar.

"Voli pantainya sepertinya seru tuh, kita nonton yuk sambil kasih semangat tim pasangan masing-masing!" usul Diandra yang suaminya sedang melakukan smash telak ke sisi lapangan Edward-Rahez.

Agnes pun menyahut, "Wah ... Sebastian berada di tim rival Edward. Ayo kita ke dekat lapangan, Gengs!"

Kehadiran para wanita membuat pemain voli yang bertanding makin semangat. Tak terkecuali Edward, dia bermain keras agar bisa mencetak banyak skor untuk timnya bersama Rahez.

"Semangat, Edu!" teriak Agnes dari pinggir lapangan sambil melompat-lompat kecil.

"Yes, Baby. Kami pasti menang!" balas Edward mengerlingkan matanya kepada Agnes dan meniupkan kiss bye sebelum melakukan servis bola berikutnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel