Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.3. Yes, I Do!

"Edward William ... kamu nggak lagi ngeprank aku 'kan?!" tanya Agnes seakan-akan tak percaya kekasihnya melamar tanpa tanda-tanda apa pun.

"Ini serius, Agnes. Ke marilah, jawab pertanyaanku tadi!" balas Edward sedikit kesal karena dia masih harus meyakinkan wanita keras kepala itu sekali lagi. Maka dia pun berdiri dari posisi berlututnya di atas pasir pantai.

Mata Agnes berkaca-kaca, dia berlari memeluk erat Edward. Dengan menangis dia pun mengomeli Edward, "Kenapa nggak bilang sejak kita berangkat sih, Cayank?!"

"Kalau aku bilang dulu, nggak surprise dong Agnesku yang telmi!" gurau Edward sembari mengecupi kening dan pipi kekasihnya yang basah oleh air mata. "Sekarang aku butuh jawaban kamu, yes or no, Baby!"

"Yes, I do. Aku selalu menantikan saat ini, Edu. Kita menikah, jangan ditunda-tunda lagi!" jawab Agnes penuh keyakinan. Dia meraih wajah Edward lalu memagut bibirnya dalam-dalam.

Setelah ciuman penuh gairah itu berakhir, Edward pun memasangkan cincin ke jari manis Agnes. Dan sebaliknya, Agnes juga menyematkan cincin pasangan itu ke jari manis Edward. Kemudian mereka saling menatap dan tertawa bersama penuh keharuan.

"Nyonya Edu bakal jadi nama panggilanku beneran dong, Cayank! Aku seneng banget pada akhirnya kita sampai di tahap yang penting ini," ujar Agnes lalu mereka berdua duduk di atas pasir yang masih terasa hangat karena seharian terpapar sinar terik matahari.

Pemandangan landscape Pulau Santorini dari kejauhan bagaikan kerajaan dongeng, rumah dengan atap-atap kubah biru bercahaya dan dinding putih nampak menakjubkan.

"Kita bakal nikah di Santorini seperti impianmu, Cayank. Aku yang akan mewujudkan itu!" kata Edward tanpa terduga.

Sontak Agnes mengalihkan pandangannya dari pemandangan malam kota ke wajah kekasihnya. "Kamu bercanda 'kan, Edu? Aku bahkan belum bilang ke mama papa tentang lamaran mendadakmu ini. Apa kata mereka?!" protes Agnes yang dibuat terkejut berulang kali oleh Edward.

"Nanti juga mereka akan tahu, Agnes. Persoalannya hanya, kamu bersedia nggak? Mumpung kita lagi di Santorini lho, ini bakal jadi kenangan sekali seumur hidup yang nggak bakal terlupakan!" bujuk Edward. Kemudian dia mengambil HP di saku celananya dan menekan nomor kontak bundanya. Nada sambung terdengar beberapa kali.

"Halo, Bunda. Edu lagi sama Agnes di Santorini, kami di Oia. Kalau aku sekalian nikah sama Agnes di sini, apa boleh?" tanya Edward lugas tanpa basa-basi.

Dari loud speaker terdengar suara Nyonya Maria Setiawan dengan latar belakang banyak orang di sekitarnya. "Halo, Edu. Boleh saja, yang penting kalian sudah siap menikah. Sekali ya untuk selamanya. Kami sebagai orang tua kalian pasti akan mendoakan yang terbaik!" pesan bunda Edward.

Alis Edward terangkat naik sambil berkata pelan, "Apa kubilang! Bunda setuju nih, kamu ada mau ngomong nggak, Nes?"

Agnes menghela napas panjang. Dia pun mengangguk sepakat. "Halo, Bunda. Terima kasih atas dukungan dan doa restunya buat kami. Sepulang dari Santorini, kami akan kumpulkan kedua belah pihak keluarga untuk memberi tahu tentang pernikahan ini," kata Agnes sopan.

"Ohh ... iya, ini ada mama dan papa kamu juga lho bersama Bunda. Kamu mau ngomong sama mereka? Silakan!" jawab Nyonya Maria Setiawan lalu menyerahkan ponsel ke tangan Nyonya Sri Ningsih Santosa.

"Halo, Nes. Jadi benar kamu dan Edu mau nikah di luar negeri?" tanya mama Agnes.

"Halo, Ma. Iya, Edu bikin kejutan melamarku barusan dan pengin nikah di Santorini biar berkesan. Apa Mama dan papa nggak keberatan?" balas Agnes dengan hati-hati. Dia takut menyinggung orang tuanya dan dianggap durhaka karena menikah tanpa restu.

Namun, Nyonya Sri justru tertawa riang. "Sudah, kamu nggak usah banyak pikiran yang tidak-tidak. Edward itu cinta banget, makanya sudah nggak tahan buat jadiin kamu istrinya. Mama dan papa setuju dengan pernikahan kalian. Sampai ketemu ya, Nes. Teleponnya Mama tutup dulu!"

Sambungan terputus, Agnes menatap layar gelap ponsel milik Edward lalu menoleh mengembalikannya. "Mama kok yakin banget gitu sih ya, nggak biasanya ..."

"Siapa dulu calon menantunya?!" tukas Edward sembari tertawa sombong.

Agnes mencondongkan kepalanya dan mengecup pipi Edward. "Terlepas dari segala kejutan yang terkesan mendadak ini, aku happy banget, Edu. Kamu pria yang kudambakan untuk jadi suami serta ayah dari anak-anakku," ucapnya tulus.

Maka Edward pun merengkuh tubuh Agnes ke pelukannya dan melepas jasnya untuk dipakaikan ke bahu kekasihnya. "Anginnya kencang, nanti kamu masuk angin!" katanya penuh perhatian.

"Sebentar lagi semua impianmu akan jadi nyata, Nes, atau lebih bagus kupanggil Nyonya Edu?" balas Edward setengah bercanda. Dia menggenggam tangan Agnes yang di jari manis tersemat cincin berlian dengan motif batik Parang Kusumo.

Motif batik itu memiliki arti mendalam dalam pernikahan yang melambangkan cinta sejati yang tak akan pernah putus bagaikan ombak lautan dan diberkahi dengan kesuksesan serta kebahagiaan dalam rumah tangga.

"Tuan Edu, aku cinta kamu!" ucap Agnes sambil tersenyum memancarkan kebahagiaan di wajahnya.

"Kamu secantik bidadari malam ini, Nes. Seluruh jiwa ragaku hanya untukmu!" balas Edward lembut.

Bulan purnama dan gugusan bintang cemerlang di langit menjadi saksi kisah cinta Edward bersama Agnes yang makin sempurna. Heningnya malam ditemani suara ombak memecah perlahan di tepi pantai membuat momen romantis itu begitu indah.

"Sepertinya kita harus pulang ke kamar hotel, udara semakin dingin. Kemejamu pun tipis, Edu!" ajak Agnes lalu berdiri bersama Edward.

Mereka bergandengan tangan menyusuri tepi pantai kembali ke arah hotel. Agnes pun bertanya, "Kapan rencananya kita akan menikah, Edu? Apa besok pagi?"

"Ehm ... nggak secepat itu karena besok masih ada acara seru yang sayang buat dilewatkan!" jawab Edward penuh rahasia.

Agnes memutar bola matanya sedikit kesal, dia pun berkata, "Ini sukanya tuh jadi orang kenapa misterius banget sih! Ayo cerita, besok ada acara seru apa?"

Baru saja mereka melangkah masuk ke area lobi luas Hotel Canavies Oia Suites, suara riuh membahana kompak, "SURPRISE!!"

Mata Agnes sontak terbelalak karena terkejut melihat keluarga Santosa dan keluarga besar Setiawan berkumpul di lobi hotel menyambut kedatangan mereka berdua dari pantai.

"Lho, kok bisa di sini juga semuanya?! Edu ... kamu bikin aku jantungan melulu!" omel Agnes sambil mencubiti pinggang kekasihnya yang malah tertawa terbahak-bahak karena kejutannya sukses besar.

Kak Andre, kakak sulung Edward pun berkata sambil melerai pasangan itu agar tidak berkelahi, "Santai, Nes. Kami transmigrasi dari Jakarta ke Santorini khusus buat kasih dukungan untuk pernikahan kalian kok. Masa nikah mau diem-diem berdua aja sih?!"

"Jadi cuma aku yang nggak tahu rencana besar Edu buat bikin surprise dan flash marriage ini?!" seru Agnes gemas menatap kekasihnya yang segera kabur bersembunyi di balik ayah dan bundanya.

"Sabar ya, Nes. Maksudnya Edu baik kok, dia sudah ngelamar duluan setengah bulan lalu ke Mama dan papa. Kemudian dia merencanakan perjalanan kedua keluarga ke mari untuk merayakan hari istimewa kalian!" terang Nyonya Sri Ningsih Santosa sambil merangkul bahu putrinya yang ngambek.

Kakak kedua Edward yaitu Kak Nesha pun ikut menimpali, "Berhubung kalian acaranya lusa dan besok masih ada seru-seruan. Tidurnya pisah kamar dulu ya. Hihihi!"

Wajah Agnes merona tersipu malu, dia hanya bisa mengangguk patuh dan diboyong keluarga Santosa ke kamar yang telah disiapkan untuknya menjelang acara pernikahan. Dia sempat bertukar tatapan mesra dengan Edward di depan pintu lift sebelum keduanya masuk ke lift yang berbeda dengan keluarga masing-masing.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel