
Ringkasan
Warning Bacaan Khusus Dewasa! Edward William, seorang CEO perusahaan kitchen set dan peralatan dapur merk ternama memiliki kekasih bernama Agnes Amelia, selebriti chef yang memiliki jutaan penggemar. Awalnya mereka terbang ke Santorini, Yunani untuk sebuah liburan berdua. Tak disangka Edward melamar Agnes lalu mengajaknya menikah kilat di sana. Sebuah private wedding romantis di tepi pantai saat sunset menjadi kenangan indah tak terlupakan. Mereka melakukan sebuah kesepakatan gila dengan menjalani honeymoon keliling dunia ke tempat-tempat impian yang menakjubkan. Eat, travel, and love. Sepanas apa perjalanan bulan madu mereka? Baca kisah lengkapnya di karya terbaru Agneslovely2014 yang berjudul Edward and Agnes: Our Passionate Honeymoon.
Bab.1. Bermula Dari Liburan Ke Santorini
"Tambahkan parutan keju Mozzarela di atas hidangan dan ... voila menu Pasta Penne Pesto Sauce kita, SEMPURNA! Sampai jumpa di re-cook resep-resep lezat berikutnya ya, Guys!"
"CUT. FINISH!" seru cameraman salah satu kru Agnes mengakhiri rekaman video memasak live di ujung sore itu.
Senyuman merekah di wajah Agnes ketika kekasihnya berkunjung ke studio kitchen tempat dia memproduksi konten masak-masaknya. Dia berlari-lari menghambur ke pelukan Edward sambil tertawa riang. Pria itu menggendongnya dengan begitu mudah.
"Kapan kamu datang, Cayank? Aku kok nggak lihat sih tadi!" tanya Agnes sembari menatap wajah Edward yang mendekat untuk menciumnya.
Belum sempat Edward menjawab, tapi mereka malah terlibat dalam ciuman panas tanpa memedulikan tatapan para kru produksi di studio kitchen.
Saat ciuman mereka berakhir dengan napas terengah-engah Edward menjawab, "Bagaimana aku bisa terlihat kalau matamu tertuju ke sauce pan dan kamera, Baby?! Sebenarnya sudah lama aku di sini sejak kamu menghaluskan kacang pistachio."
"Ohh ... Gosh! Maafkan aku, Edu. Sepertinya memang aku tadi terlalu fokus bekerja. Emm ... apa buket bunga mawar pink itu, kamu yang bawa?" balas Agnes ketika dia melihat karangan bunga-bunga mekar di kursi.
"Yeah ... untuk yang tercantik, kesayanganku!" jawab Edward lalu menurunkan Agnes dari gendongannya.
Agnes berlari-lari kecil ke kursi di pojok dapur lalu menghirup aroma mawar merah muda yang mekar sempurna itu. "Kau selalu bisa membuatku bahagia, Edu. Terima kasih ya!" ucapnya ceria.
Sepasang lengan Edward melingkari pinggang ramping Agnes sambil dia berkata, "Aku ingin mengajakmu liburan weekend ke Santorini, Yunani. Apa kamu mau, Nes?"
"Hahh? Serius atau hanya bercanda, Edu?" balas Agnes seakan-akan tak percaya. Mereka berdua tak pernah membahas liburan ke tempat yang sangat jauh itu dan memang dia sangat menyukai Santorini yang indah.
"Untuk apa aku bercanda? Ya atau tidak, jawab saja, Baby!" tegas Edward seperti biasanya.
"Tentu saja ya! Ohh ... Santorini, mimpi apa aku semalam sampai bisa berlibur bersamamu ke sana?!" seru Agnes disertai tawa gembira.
Edward mengecup pipi kekasihnya yang bersemu merah lalu berkata, "Kamu harus cepat packing baju lalu kita berangkat ke bandara. Pesawat kita sudah menanti di sana!"
"Baiklah, antar aku pulang, Cayank!" tukas Agnes lalu berjalan cepat bersama Edward ke parkiran depan gedung.
Mobil sedan hitam milik Edward meluncur membelah lalu lintas kota Jakarta yang sibuk. Dia menyimpan sebuah kejutan rahasia di Santorini untuk kekasihnya yang telah lima tahun ini menemani kesehariannya. Memang mereka sudah berkali-kali putus nyambung, berkelahi dan berdamai. Namun, tetap saja satu sama lain tak bisa berjauhan terlalu lama.
Hanya butuh sepuluh menit untuk Agnes mengemas pakaian ke kopernya. Dia menyerahkan satu-satunya barang bawaannya ke tangan Edward. Kemudian Agnes bertanya, "Apa kamu sudah mandi tadi, Edu?"
"Sudah. Apa kamu ingin mandi dulu, Nes? Aku bisa menunggumu kok, jangan lama-lama ya, hari semakin malam!" jawab Edward lalu melepas kepergian Agnes ke kamar mandi. Dia duduk di sofa sambil memeriksa laporan perusahaan yang dikirim oleh sekretarisnya di ponsel canggihnya.
Tak lama setelahnya, Agnes sudah siap dengan gaun selutut berbahan kain katun lembut yang nyaman untuk bepergian jarak jauh. Dia menghampiri kekasihnya di sofa dan berkata, "Aku sudah siap nih, Edu. Ayo kita berangkat sekarang!"
Edward tersenyum melihat Agnes yang nampak rapi dan lebih segar, dia menyimpan kembali ponselnya ke saku jas. "Wah, kesayanganku sudah wangi. Yuk kita turun!" balasnya sambil mengecup kening Agnes. Kemudian dia menggandeng tangan kekasihnya menuju pintu keluar apartemen. Tangan kiri Edward menarik koper Agnes yang berukuran sedang.
Kepergian mereka ke bandara diantarkan oleh sopir Edward karena mobilnya harus ditinggal di Jakarta. Pukul 20.00 WIB, pesawat pribadi milik Edward lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju ke Yunani.
Ketika pesawat telah mengudara stabil, pramugari menyajikan menu makan malam untuk para penumpang. Hanya Edward, Agnes, dan beberapa pengawal saja di kabin.
"Ngomong-ngomong kenapa mendadak kamu mengajakku ke Santorini, Edu? Berapa hari kita akan berada di sana?" tanya Agnes penasaran. Kekasihnya yang misterius dan suka berahasia itu memang terkadang membuatnya bingung.
Edward mengunyah pasta dan steak di mulutnya lalu menelan baru menjawab pertanyaan Agnes, "Ada deh alasannya, kamu lihat setelah kita sampai ya, Baby. Kalau durasi liburan kali ini, tergantung kita saja sih, seandainya sudah bosan bisa pulang kapan aja, Nes!"
Jemari Agnes segera mencubit pipi Edward dengan gemas. "Mulai yaa, bikin bingung!" tukasnya.
"Iyalah, nanti terlalu singkat kamu bilang sudah pergi jauh-jauh cuma sebentar liburannya. Kalau terlalu lama juga kamu cepat bosan. Agnes, aku paling tahu kamu, jangan lupakan itu!" kelit Edward.
Mendengar penjelasan Edward, wanita itu tak bisa lagi mendebat dan menyerah pasrah. Bagaimanapun, dia sangat senang dengan apa pun yang diatur oleh Edward untuknya. Pria kesayangannya terlalu manis, untungnya bukan makanan, bisa diabetes Agnes.
Penerbangan jarak jauh dari Jakarta ke Santorini selama 17 jam itu sempat transit di tempat untuk mengisi bahan bakar sebelum akhirnya benar-benar mendarat di Bandara Internasional Santorini (Thira) yang terletak enam kilometer dari pusat kota Fira, ibu kota Pulau Santorini.
Di Santorini masih pukul 08.30 pagi saat mereka turun dari pesawat. Udara masih terasa sejuk dengan langit biru muda terbentang luas di atas pulau indah itu.
"Kita dijemput pegawai hotel, Baby. Itu mereka!" ujar Edward menunjuk ke seorang pria Yunani berusia awal tiga puluhan tahun yang mengangkat papan tulisan 'Welcome Mr. and Mrs. Edward William' di atas kepalanya.
"Wow, nggak sabar untuk mulai liburan kita, Cayank. Ayo!" sahut Agnes antusias. Dia membiarkan Edward menggenggam erat tangan kanannya sambil menghampiri petugas hotel.
Sebuah mobil mini van hitam mengangkut pasangan tersebut bersama tiga pengawalnya yang berbadan tegap menuju ke hotel yang berada di Oia.
Canavies Oia Suites, hotel pilihan Edward itu berada di daerah pantai dan menawarkan fasilitas kolam renang pribadi di balkon kamar dan infinity pool yang menghadap langsung ke pemandangan Laut Aegea.
"Ohh Gosh, lihat itu, Cayank!" tunjuk Agnes dari mobil yang melaju. Dia membuka kaca jendela sehingga angin dari pantai berhembus masuk ke mobil.
"Iya, pemandangan Kaldera-nya terlihat menakjubkan dari sini. Nggak percuma terbang jauh dari Jakarta ya, Nes!" sahut Edward sambil memeluk Agnes dari balik punggungnya. Dia tak sabar menunggu senja turun karena ada sebuah kejutan besar yang telah disiapkan.
Agnes sampai kehilangan kata-kata saking terharunya, dia menghadiahi Edward dengan sebuah kecupan di bibir. "Thank you for everything, Edu. Liburan dadakan kali ini sukses bikin aku speechless, jadi pengin nangis deh!" ucapnya.
"Yaelah, nggak boleh nangis ya. Kan kita happy-happy, gimana sih, Nes?!" omel Edward seperti biasa gemas dengan kekasihnya yang cengeng.
"Ehh ...iya. Sorry, Cayank!" balas Agnes sambil tersipu malu. Puncak kepalanya diusap-usap oleh dagu Edward.
Mobil berhenti di depan pintu lobi hotel tujuan lalu pasangan itu pun turun untuk check-in ulang kamar. Sementara kru hotel sibuk menurunkan koper tamu dari bagasi untuk dipindah ke kamar.
