Bab.5. Malam Pesta Barbekyu Di Tepi Pantai
Seperti yang telah diumumkan oleh Edward di grup chat khusus acara wedding, petang ini akan diadakan pesta barbekyu bersama keluarga dan teman-teman dekat Agnes-Edward di tepi pantai yang masih berada di area hotel tempat mereka menginap.
Tungku perapian untuk membakar berbagai bahan barbekyu telah disiapkan karyawan hotel bersama aneka daging, pelengkap, serta bumbu dasar yang bisa diracik sesuai selera tamu.
Suara riuh rendah canda tawa rombongan itu terdengar hingga kejauhan sehingga membuat para tamu hotel lainnya penasaran. Beberapa obor penerang dipasang di sekitar area pesta barbekyu agar tidak terlalu gelap.
"Aku akan buatkan bumbu olesan dan rendaman untuk beberapa jenis protein hewani. Nanti tolong kamu dan teman-teman pria yang membakar di tungku ya, Edu!" ujar Agnes sambil sibuk di depan meja kayu yang penuh berbagai bahan masakan.
"Okay, Cayank. Semua siap membantumu, tenang saja. Tapi, jangan lama-lama soalnya hari mulai malam dan semua pasti sudah lapar!" jawab Edward yang berdiri mendampingi Agnes mempersiapkan pesta barbekyu.
Kak Andre bermain gitar bersama Rahez yang juga jago memainkan beberapa alat musik seperti drum dan piano. Lagu-lagu pantai dari grup band Steven and The Coconut Tree dimainkan sambil bernyanyi beramai-ramai.
"Udah kelar nih bahan yang buat dibakar, Cayank. Coba panggil Jeremy dan Arnold untuk menolongmu memasak!" kata Agnes seraya menyerahkan beberapa tray berisi daging sapi mentah, ikan laut, lobster, udang, cumi, dan kerang.
"Siap, Baby. Kubawa ya ini semua!" sahut Edward sigap.
Ternyata semua mau membantu mengolah bahan-bahan untuk pesta barbekyu. Para wanita menemani Agnes, sedangkan para pria mendampingi Edward. Alhasil, gelombang pertama masakan cepat matang dan siap disantap.
"Kirim ke meja para orang tua dulu deh, Edu!" usul Sebastian.
"Ahh ... iya, benar juga katamu!" tukas Edward lalu membawa piring berisi daging sapi, lobster, ikan laut, dan cumi-cumi. Hasil bakaran pertama diantarkan ke meja papa mama Agnes dan ayah bundanya. "Silakan menikmati duluan, nanti keburu dingin, Ma, Pa, Ayah, dan Bunda!" kata Edward sopan.
"Wah, beneran kami makan duluan nggakpapa nih?" tanya Papa Iman Santosa pada calon menantunya sambil terkekeh.
"Iya, Pa. Soalnya masih banyak sih yang belum dibakar. Nanti bisa nambah lagi kalau kurang," jawab Edward.
"Wow, aromanya menggugah selera banget nih. Siapa yang bumbuin?" kata bunda Edward.
"Agnes yang bikin bumbunya, Bunda. Kami para cowok yang bakarin semuanya. Coba deh cicipin ya!" jawab Edward. Kemudian dia pun pamit kembali ke tempat teman-teman dan sepupunya sedang sibuk membakar ikan, daging, dan lain-lain.
Tak lama kemudian Agnes dibantu oleh Zemi dan Marsha membawakan menu karbohidrat seperti nasi putih, mashed potato, dan jagung manis rebus ke meja para orang tua. Lalapan segar juga terhidang di piring lebar bersama beberapa jenis sambal buatan Agnes dan teman-temannya.
Aroma sedap menguar di udara seiring masakan yang dibakar matang sempurna. Semua pun duduk di bangku panjang dengan meja kayu yang ada beberapa jumlahnya. Tawa ceria menghiasi acara pesta barbekyu malam itu. Ada yang bercerita tentang bisnisnya, ada pula yang menceritakan kehamilan pasangannya, tak ketinggalan topik hot terkini mengenai perang dan dampaknya ke Indonesia serta secara universal.
"TING TING TING!" Suara gelas diketuk dengan sendok menarik perhatian semuanya di meja-meja tersebut.
Kak Andre mengangkat gelas berisi wine ntuk bersulang bersama. Dia memberikan kata sambutannya, "Malam ini, kita di sini berkumpul merayakan momen Edward dan Agnes melepas masa lajang terakhir kalinya. Mari kita doakan agar acara pernikahan pasangan yang saling mencintai ini berlangsung lancar esok hari. Cheers!"
"CHEERS!" sahut semua yang hadir di pesta barbekyu malam itu sambil mendentingkan gelas ke rekan kanan kirinya.
Agnes dan Edward yang duduk bersebelahan meneguk wine sembari berbagi tatapan penuh cinta. Binar-binar kebahagiaan terbias nyata di wajah mereka.
Masakan yang ada di meja diserbu bersama-sama tanpa tersisa. Rasa manis gurih berpadu sempurna membuat lidah bergoyang. Setelah semua kenyang, acara selanjutnya adalah menyanyi, berdansa, dan menari di tepi pantai ditemani api unggun.
Kak Andre memainkan gitar dengan lantunan nada lagu I'm Yours yang dipopulerkan oleh Jason MRaz. Dia memulai intro lagu dari bait awal hingga pada bait kedua, istrinya menyahut merdu, "Well, open up your mind and see like me. Open up your plans and, damn, you're free. Look into your heart and you'll find love, love, love, love. Listen to the music of the moment, people dance and sing. We're just one big family and it's our God-forsaken right to be loved, loved, loved, loved, loved!"
Edward menarik tangan Agnes untuk berdiri lalu berdansa dengannya. Dia menyanyi nyaring, "So I won't hesitate no more, no more. It cannot wait, I'm sure. There's no need to complicate. Our time is short. This is our fate, I'm yours!"
Para wanita langsung bercieh-cieh menyoraki pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.
"Semangat, Nes, Edu!" seru Diandra yang duduk dipeluk dari belakang oleh Sebastian, suaminya.
"Ayo, Dian ... kita gabung joget bareng mereka! Masa kalah sih romantisnya sama yang mau bikah besok?" ajak Sebastian.
"Hahaha. Bas, kamu ini kok nggak mau kalah sih?" sahut Diandra yang akhirnya berdiri juga dan turut berdansa bersama suaminya mengikuti irama lagu yang asyik itu.
Kak Nesha bersama suaminya juga ikut menari dengan gembira. Tak hanya mereka, Zemi dan Rahez tak mau ketinggalan, mereka juga ikut berjoget. Di samping mereka Roger dan Sanaya turut berdansa mesra. Malam yang sungguh indah bertabur ribuan bintang dengan lantunan lagu cinta.
Sementara Jeremy yang baru saja putus dengan Caroline memilih menemani Kak Andre bermain gitar juga. Lagu berikutnya yang juga menjadi favorit kakak sulung Edward yaitu Paradise yang dipopulerkan oleh Cold Play melanjutkan kemeriahan malam itu.
"When she was just a girl, she expected the world. But it flew away from her reach. So she ran away in her sleep and dreamed of. Para-para-paradise, para-para-paradise, para-para-paradise ...," nyanyi kakak sulung Edward penuh penghayatan seolah-olah menikmati setiap lirik kata lagu tersebut.
Tatapan mata Laura tak lepas dari Jeremy yang begitu menarik baginya. Dia tersenyum curi-curi pandang melihat pria tampan itu bermain gitar. "Duh ... bolehlah buatku aja si Jeremy, ya Tuhan!" bisiknya.
Sedangkan, Caroline menatap sendu mantan pacarnya yang masih dia cintai. Namun, papanya melarang keras hubungan mereka. Tiada kata yang terucap dari bibir gadis itu. Dia hanya berharap baik Jeremy maupun dirinya akan menemukan pasangan yang mencintai mereka seperti Edward dan Agnes.
Jus buah segar yang dipesan Edward ke karyawan hotel dibagikan ke semuanya satu per satu. "Kalian semua berbagi keceriaan begitu antusias, jangan sampai ada yang dehidrasi!" kata Edward disambut tawa ceria rekan-rekannya.
