Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.2. Lamaran Tak Terduga Di Tepi Pantai

Angin sepoi-sepoi dari Laut Aegea berhembus menerbangkan tirai tipis di pintu balkon yang terbuka. Agnes yang tertidur di salah satu ranjang twin bed di kamar hotel mulai membuka mata. Spontan dia menoleh ke sisi ranjang sebelahnya dan menemukan Edward sedang berbaring miring memandanginya.

"Hai, My Queen. Apa sudah puas tidurnya?" sapa Edward disertai senyuman di wajah tampannya yang bergaris rahang tegas.

Agnes tertawa kecil lalu duduk di tepi tempat tidur. "Yap, sepertinya cukup untuk melanjutkan aktivitas berikutnya, Cayank. Apa rencana kita untuk sore ini?" jawab Agnes lalu melihat ke arah balkon.

"Bagaimana kalau berenang di private pool saja dulu? Nanti sehabis makan malam kita bisa menyusuri bibir pantai sambil melihat hamparan bintang di langit," usul Edward praktis.

"Ide bagus, kalau begitu ayo kita ganti pakaian renang, Edu!" Agnes segera bangkit dari tepi tempat tidur dan mulai membongkar kopernya. Dia memang membawa beberapa bikini serta pakaian renang bermodel mini dress yang lebih tertutup. Dia pun bertanya, "Apa boleh pakai bikini?"

"Why not, Baby? Kamu hanya bersamaku di private pool," jawab Edward lalu dia berganti celana renang warna hitam.

Langit biru di atas Pulau Santorini terbentang menakjubkan, senja belum turun dan pemandangan ke arah pantai masih terlihat jelas dari tepi private pool di balkon kamar hotel yang dihuni Edward dan Agnes.

Setelah berenang bebas ke sana ke mari di air jernih yang terasa sejuk sedikit hangat karena paparan sinar terik matahari, mereka beristirahat di tepi kolam.

"Dari sini Kaldera nampak jelas, Edu. Menakjubkan sekali, bentukan tapal kuda runtuhan gunung berapi yang terisi air itu, biru gradasi dari biru tua hingga biru muda. Ditambah lagi penataan bangunan yang seragam berwarna dinding putih dengan kubah biru, bagus sekali kelihatannya dari kejauhan!" ujar Agnes terkagum-kagum menikmati panorama alam di seberangnya.

Edward pun menyahut sembari memeluk Agnes dari balik punggung, "Kita berada di Oia, salah satu desa di tebing Kaldera yang bisa menikmati sunset terindah di Santorini, Baby!"

"Kamu selalu memikirkan segalanya yang terbaik untuk kita, Edu. Sepertinya tak lama lagi senja akan turun. Bagaimana kalau kita tunggu saja di sini sebentar sambil berenang?" kata Agnes. Dia menatap langit yang mulai berubah warna menjadi gradasi lembayung, jingga, dan keemasan di dekat cakrawala.

"Boleh, setelah itu kita bisa turun ke restoran hotel untuk makan malam," jawab Edward.

Agnes membalik badan lalu bersandar pada dada bidang Edward. "Liburan jauh kali ini luar biasa, Cayank. Terima kasih untuk kejutan manis yang kamu persiapkan untukku!"

"Kehadiranmu yang membuat liburan ini sempurna, Nes. Kuharap kita bisa menikmati setiap momen indah di Santorini dan menjadikannya sebagai kenangan yang tak terlupakan selamanya!" balas Edward disertai helaan napas panjang. Dia memiliki satu kejutan besar yang benar-benar dirahasiakan dari kekasihnya.

Perlahan bibir Agnes memagut lembut bibir Edward, dia mensyukuri apa yang dimilikinya saat ini bersama pria tercintanya. Setiap momen kecil kebersamaan mereka yang terasa membahagiakan.

Sunset indah di Santorini menjadi saksi cinta yang semakin mendalam di antara sepasang kekasih itu.

"Ohh ... kita harus mengambil foto momen ini, Edu. Aku mau ke kamar sebentar mencari HP-ku!" seru Agnes heboh ketika melihat matahari mulai mendekati garis cakrawala.

"Hati-hati, Cayank. Jangan sampai terpeleset karena terburu-buru!" pesan Edward sambil melihat Agnes keluar dari kolam.

Kemudian mereka pun duduk di tepi kolam sambil merekam video matahari yang bergerak turun perlahan terbenam di balik cakrawala. Momen dramatis itu disertai perubahan warna langit menjadi biru gelap keunguan dengan taburan bintang-bintang cemerlang bak berlian mahal.

"Amazing, Baby!" tukas Edward saat dia memutar ulang hasil rekaman video amatir yang mereka buat bersama barusan.

"Ini bakal jadi kenang-kenangan yang indah buat kita. Kukirim ke akun media sosial dan tag kamu ya, Cayank?" ujar Agnes.

Setelah itu mereka mandi sebentar lalu turun ke restoran yang ada di lantai lobi hotel. Ternyata wisatawan yang menginap di sana cukup banyak. Meja-meja terisi turis dari berbagai negara berbeda, hanya Edward dan Agnes yang berasal dari Indonesia.

"Selamat malam, Tuan dan Nyonya. Apa sudah siap memesan?" sapa waitress berdarah Yunani asli yang cantik bak aktris Holywood dengan rambut ikal pirang yang panjang.

Edward membantu memesankan menu setelah berdiskusi dengan Agnes sebentar. "Nona, kami ingin memesan masing-masing menu seporsi yaitu Mousaka, Fava, Souvlaki dengan pita bread, Bakaliaros, Grilled Octopus, Baklava, dan dua gelas Assyrtiko wine!"

Waitress mengulangi pesanan Edward lalu berpamitan untuk menyiapkan menu.

"Hidangan ala Yunani memang unik dan penuh gizi. Sepertinya aku akan membuat konten re-cook menu yang kita pesan malam ini, Edu!" kata Agnes yang masih terpukau dengan buku menu di tangannya. Dia membaca keterangan setiap hidangan dari bahan, serta metode memasaknya yang dicantumkan singkat di situ.

"Kamu pasti bisa memasaknya sendiri setelah melihat menu pesanan kita datang serta mencicipi cita rasanya. Masak buatku juga ya, tapi jangan pedas!" sahut Edward sambil tertawa renyah.

Agnes pun menjawab, "Sepertinya orang Yunani lebih suka rasa gurih, asin, dan asam dipadukan dengan rempah-rempah. Tenang saja, Edu!"

Tak lama menunggu, menu pesanan mereka dihidangkan oleh waitress di atas meja bundar. Kemudian dia berkata, "Selamat menikmati sajian restoran kami. Bila ada yang ingin dibantu lainnya, Anda bisa memanggil waitress lagi, Tuan dan Nyonya!"

Menu yang mereka pilih bervariasi dari ikan cod, daging sapi, dan gurita. Semuanya lezat dengan cita rasa khas Yunani yang unik. Bawang putih, oregano, dan segarnya lemon serta olive oil berpadu. Ditemani anggur putih lokal yang menyempurnakan orkestra rasa dalam mulut, makan malam serasa berpesta berdua.

"Wah ... kenyang sekali. Ide bagus untuk berjalan-jalan di pantai sebelum kembali ke kamar, Edu!" celetuk Agnes sambil menepuk-nepuk perutnya yang penuh.

Edward pun tertawa. "Kita harus bergerak untuk membakar kalori melimpah barusan, Nes. Jangan sampai jadi sumber penyakit!"

"Yuk berangkat ke pantai, Cayank!" sahut Agnes lalu Edward membantu memundurkan kursinya.

Pantai terletak tidak jauh dari lokasi hotel tempat mereka menginap. Suara deburan ombak memecah di bibir pantai terdengar bagaikan simfoni alam liar yang menenangkan jiwa. Genggaman tangan lebar Edward terasa hangat di tangan Agnes, sepasang kekasih itu menyusuri pantai berjalan kaki sambil melihat ke angkasa.

"Aku pengin tinggal di sini kalau bisa. Sayangnya, ada pekerjaan yang memaksa kita harus kembali menjalani rutinitas sehabis liburan usai, Edu!" ujar Agnes berandai-andai belaka.

Edward menoleh menatap kekasihnya lalu menjawab, "Kamu bisa membuat konten memasak outdoor juga, Nes. Kenapa harus kuatir?"

"Kamu harus masuk kantor, Edu. Masa aku sendirian di sini dan kamu di Jakarta?" debat Agnes, mencoba untuk logis. Mereka pun tak lagi bergandengan tangan.

Agnes berbicara panjang lebar mengenai rencana menghabiskan sisa waktu liburan mereka di Santorini. Saking asyiknya sampai dia tak sadar Edward sudah tidak berada di sampingnya lagi. Maka dia pun segera membalik badan mencari kekasihnya itu.

"Edu, kamu ke mana sih?!" ucapnya sebelum terkesiap melihat pria kesayangannya sedang berlutut dengan kotak cincin terbuka di tangan.

"Agnes Amelia, would you marry me, Baby?" Edward menatap wanita di hadapannya dengan penuh kesungguhan, dia tidak bercanda kali ini.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel