Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

005 Berguling

**Bab 005: Berguling**

Rezvan menahan napas, menatap Rafandra yang masih berdiri waspada di dekat bangku yang miring. Mata pria itu terus menyapu kabut di luar, tajam dan penuh kewaspadaan.

‘’Ini bukan sekadar binatang… sesuatu yang lebih besar, lebih berbahaya, ada di sana.’’

Rafandra bergumam di dalam hati sambil melindungi dua murid perempuan yang duduk berdekatan dan satu murid lain di depannya.

Udara di dalam bus terasa semakin sesak. Dinginnya merayap di kulit, tapi keringat dingin tetap mengalir di pelipis.

Detak jantung Rezvan berdentum keras di telinganya sendiri. Dan saat itu juga, sebuah kesadaran menghantamnya—“Bukan hanya sesuatu… Ini banyak. Sepertinya dari berbagai arah…”

“Kita terjebak di tengah sesuatu…” sambung Pak Marta.

BRAG! BRAG! BRAG!

Langkah berat mengguncang tanah.

Getarannya merambat melalui badan bus, menjalar dari lantai hingga ke tulang belakang para penumpang. Setiap hentakan terasa terlalu berat untuk disebut langkah hewan biasa.

Napas kasar terdengar dari luar. Diselingi geraman rendah yang membuat bulu kuduk berdiri.

Murid-murid tidak bisa melihat apa pun. Kabut terlalu tebal, menelan seluruh pandangan di balik jendela yang retak dan gelap. Namun justru karena tidak bisa melihat itulah, rasa takut mereka menjadi semakin liar.

Rafandra berkali-kali memberi isyarat agar mereka tetap merunduk dan diam, tapi suara di luar sudah cukup untuk menebarkan teror.

Beberapa murid mulai menangis diam-diam.

Sebagian menggigit lengan baju sendiri agar tidak berteriak. Yang lain memejamkan mata rapat-rapat, mencoba berpura-pura kalau semua ini hanyalah mimpi buruk.

DUG! BRAK! DUG! GUBRAK!

Makhluk itu kembali menghantam bus.

Sekali. Dua kali.

Berulang-ulang.

Entah sedang mencoba membalik kendaraan itu… atau mencari sesuatu di dalamnya.

DEG. DEG. DEG.

Detak jantung terdengar bersahutan di seluruh kabin.

Napas tertahan. Tubuh gemetar. Ketakutan menumpuk perlahan, terasa begitu pekat hingga udara sendiri seolah ikut membeku.

Naluri purba mereka memahami satu hal: Jangan bersuara.

Satu suara saja mungkin cukup untuk menarik perhatian sesuatu di luar sana.

Air mata mulai jatuh tanpa bisa ditahan. Keringat dingin membasahi leher dan punggung.

Tubuh-tubuh muda itu membeku dalam ketakutan, sementara imajinasi mereka memutar kemungkinan paling buruk.

“I-i-ibuu…”

“A-a-a-yahhh…”

“Aku takut… ngeri…”

“Harusnya gue nggak ikut… harusnya gue di rumah aja…”

“Kenapa darmawisatanya ke sini? Kenapa nggak ke Borobudur kek, atau ke mana gitu…”

“Prank… ini pasti cuma prank…”

“Gua mau pulang…”

“Ini cuma mimpi. Ini cuma mimpi…”

“Bego! Harusnya gue masuk SMA! Kenapa malah ke SMK Teknik—isinya cowok semua! Coba masuk SMA, paling nggak bisa ngerasain pacaran!”

Keluhan, penyesalan, doa lirih, dan suara tangis bercampur menjadi satu di tengah gelap yang menyesakkan.

Di sisi lain, Rafandra masih berdiri tegap di dekat pintu bus. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk menjaga keseimbangan. Tatapannya tajam.

Waspada.

Seperti predator yang sedang menunggu serangan berikutnya.

Sementara itu, Rezvan berjongkok di sela bangku-bangku yang miring, rahangnya mengeras.

Ia memaksa dirinya tetap sadar. Tetap berpikir. Tetap menjadi guru bagi murid-muridnya.

GRRHH… HURRFF… GRRHH… HURRFF…

Suara napas kasar itu terdengar lagi.

Dekat. Terlalu dekat.

Makhluk itu belum pergi.

Dan tidak seorang pun tahu apa sebenarnya yang sedang berdiri di luar sana.

KRANGG!!

Benturan keras menghantam sisi bus.

Tubuh-tubuh terpental.

Jeritan langsung pecah memenuhi kabin.

Bus terguncang hebat.

Lalu—

KREEEEKKKKKK…

…bus mulai terguling perlahan.

Logam berderit panjang. Kaca pecah berhamburan. Badan bus menghantam tanah yang tidak rata.

“AAAKKKHHHH!!”

“PEGANGAN!!”

“KITA MUTER!! KITA MUTER!!”

BRAKK!! GRUKK!!

Benturan demi benturan menghantam tubuh mereka.

Pohon. Batu. Tanah keras.

Seluruh badan bus seperti dilempar dan dipukul berkali-kali oleh sesuatu yang jauh lebih besar.

Tubuh-tubuh saling bertabrakan.

Sebagian terlempar ke lorong. Sebagian menghantam kursi. Jeritan bercampur dengan suara logam dan kaca yang remuk.

Setiap detik terasa seperti pertaruhan hidup dan mati.

Rezvan ikut terhempas keras ke sisi bangku. Bahunya membentur besi kursi hingga terasa nyaris copot.

Namun di tengah rasa sakit itu, refleksnya masih bekerja. Ia meraih tangan seorang murid yang hampir terpental ke sisi jendela pecah.

“Pegang ini! Jangan lepas!” teriaknya sambil menahan tubuhnya sendiri.

Jantungnya berdetak kacau. Tapi pikirannya masih berusaha mencari cara untuk melindungi anak-anak itu.

Di sisi lain, Rafandra menahan beberapa murid agar tidak terlempar lebih jauh. Tubuhnya menghantam dinding bus berkali-kali, namun ia tetap memaksa berdiri.

Matanya masih terus mengawasi kabut di luar.

BRAAAKK!! GRUUUK!!

Bus menghantam sesuatu yang keras.

Tubuh semua orang kembali terpental.

Beberapa murid mulai histeris.

Rafandra langsung menutupi kepala salah satu murid dengan tubuhnya sendiri agar tidak membentur logam.

“Tetap tenang! Berpegang pada apa pun yang kokoh!” teriak Rafandra di tengah suara benturan.

Rezvan mengangguk cepat meski napasnya tercekat. “Merunduk! Pegang kursi! Jangan berdiri!” serunya pada murid-murid lain.

Di luar sana, bayangan besar samar bergerak di balik kabut.

Tidak jelas. Tidak utuh. Tapi cukup untuk membuat seluruh tubuh merinding.

KRRRANGG!!

Akhirnya bus berhenti berguling.

Namun posisinya kini miring tajam. Hampir terbalik.

Suara dari luar masih terdengar.

Berat. Bergema.

Seolah sesuatu yang sangat besar sedang mendorong badan bus perlahan dari luar.

DUUG!! GRUUUKKK!! DUGGHH!!

Tanah bergetar setiap kali sesuatu itu menyentuh badan kendaraan.

HHRRRGHHHH!!

Hembusan napas kasar terdengar dari luar kabut.

Dekat sekali.

Kulit semua orang langsung meremang. Tidak ada yang berani mendekati jendela.

Apalagi mengintip keluar. Lalu—

Sunyi.

Tidak ada hantaman. Tidak ada raungan. Hanya suara napas terengah.

Desis angin lembab. Atau mungkin… Kabut itu sendiri.

Bus miring hampir tujuh puluh derajat, tersangkut di antara tanah keras dan batang pohon.

Gravitasi terasa berubah. Lantai kini seperti dinding. Kursi berubah menjadi pijakan sekaligus jebakan.

Kaca-kaca di sisi kiri pecah berhamburan. Serpihannya tersebar di mana-mana.

Logam berderit pelan setiap kali seseorang bergerak.

Rezvan tersadar perlahan. Tubuhnya terhempas di antara bangku yang kini menggantung di atasnya. Bahunya terasa remuk. Kepalanya berdenyut. Darah hangat mengalir dari pelipis kanannya.

“…Aah…” Ia mengerang pelan. Setiap tarikan napas menusuk dadanya.

Di dalam bus, suasana berubah menjadi lebih buruk.

Tangisan. Erangan kesakitan. Suara minta tolong. Ketakutan.

“Tolong…”

“Saya nggak bisa gerak, kakiku…!”

“Tidak terlihat apa pun…! Gelap banget… tolong!”

“Pak… Pak Guru… tolong…”

Rezvan mendengar semuanya. Namun tubuhnya sendiri nyaris tidak bisa bergerak.

Dunia terasa berputar.

Darah menetes dari dahinya. Bahunya terasa seperti robek. Ia mencoba bicara, tapi yang keluar hanya napas serak yang patah-patah.

Tak jauh darinya, Rafandra mulai bangkit perlahan.

Satu sisi wajahnya berdarah. Napasnya berat. Namun matanya tetap tajam. Tetap fokus.

Naluri bertahan hidupnya bekerja penuh.

Hitung korban. Lindungi yang masih hidup. Dan—tetap sadar.

“Pak… Marta…?” suara Rafandra rendah dan berat di tengah suara logam yang masih berderit.

Ia merayap menuju kabin pengemudi.

Pak Marta terlihat setengah sadar. Tubuhnya gemetar hebat. Darah menetes dari dahinya. Namun ia masih hidup.

GGRRRUUUHHHHHH…

Suara makhluk itu terdengar lagi dari luar.

Tapi kali ini—terasa jauh. Hanya saja… belum pergi.

Kehadirannya—masih terasa—entah apa yang sedang dilakukannya di luar sana.

Yang jelas, sesuatu itu masih di sekitar mereka.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel