
Ringkasan
Suatu ketika tiba-tiba muncul kabut tebal yang membelah bumi menjadi dua bagian. Jutaan orang terjebak di dalam kabut dalam waktu bersamaan. Disisi lain, dunia dibuat bingung. Tentara, ilmuan peneliti dikirim ke dalam kabut, tapi, sama seperti jutaan orang lainnya. Mereka tidak kembali. Apa yang ada di dalam kabut? Kabut yang setiap tahunnya akan terus melebar memakan wilayah bumi secara perlahan tapi pasti akan semakin luas.
001 Kabut
**Bab 001: Kabut**
Bumi masih berputar pada porosnya, sebagaimana yang telah terjadi selama jutaan tahun. Manusia tetap menjalani kehidupan mereka, bersosialisasi dan hidup berdampingan seperti biasa. Namun, saat ini, di beberapa wilayah Bumi, lebih tepatnya di 13 negara yang dilewati oleh garis khatulistiwa, terjadi kekacauan yang melanda hampir bersamaan.
Tiba-tiba, belasan pesawat komersial yang tengah terbang menghilang dari radar tanpa peringatan. Belasan armada pesawat militer yang menyadari keanehan di angkasa berusaha menghindar, tetapi tak dapat mengelak, dan akhirnya menghilang begitu saja tanpa jejak. Beberapa lainnya sempat melaporkan kejadian ini ke markas pusat sebelum hilang.
Bukan hanya di udara, keanehan juga terjadi di laut dan darat. Di seluruh dunia, berita serupa terus berdatangan, menggemparkan semua orang.
Sebuah kabut aneh muncul begitu mendalam dan menyelimuti segalanya yang masuk ke dalamnya.
---
Di Dalam Bus Pariwisata
Di tengah perjalanan, supir bus pariwisata tampak kebingungan saat mesin kendaraan mendadak mati. Kabut tebal muncul tiba-tiba, seolah meledak dan menghempas seketika, menyelubungi bus dan segala yang ada di sekitarnya.
HEUK!!!
Kegelapan datang begitu cepat, menyelimuti bus dalam sekejap. Semua penumpang terkejut, merasa seolah gravitasi berubah—terasa berat dan tubuh mereka menjadi kaku. Nafas terasa semakin sulit, seolah-olah mereka berada dalam ruangan tertutup dengan oksigen yang terbatas.
Kondisi yang tiba-tiba ini membuat mereka semua terperangah, tsayat akan bahaya yang tak tampak. Di dalam kebingungannya, mereka hampir berpikir serupa, "Ada sesuatu yang berbahaya di luar sana yang membuat kita takut."
Beberapa penumpang yang memiliki mental lebih lemah terdiam, wajah mereka pucat, keringat dingin mulai membasahi dahi. Namun, ada juga yang berusaha mengalihkan perhatian mereka, berusaha menyingkirkan rasa tsayat yang mulai menghantui.
CTEK CTEK CTEK!
Supir bus, yang semakin bingung, terus menekan tombol di panel kontrol, berusaha menyalakan mesin yang tiba-tiba mati.
"Apaan ini?!"
"Kita dimana ini?!"
"Pak supir, kita dibawa kemana?!"
Keluhan dan kekesalan mulai meluncur dari para murid yang duduk di dalam bus. Mereka yang mulai bisa mengatasi ketakutan mereka pun melampiaskannya dengan marah kepada supir, merasa tak nyaman dengan perubahan yang begitu mendalam ini.
"M-m-ma-af... saya juga nggak tahu kenapa bisa begini..." jawab supir yang tampak kebingungan. Meski kesal karena disalahkan, ia merasa tak adil jika ia dijadikan sasaran kemarahan. "Dasar... apa mereka nggak mikir kalau saya juga nggak mau ada di sini?" keluh supir dalam hati.
"Gimana sih, pak? Masa bis rusak masih dipakai?!"
"Tau nih, bayar mahal malah gelap-gelapan begini..."
"Pak, nyalain lampunya! Gelap banget!"
"Iya, cepat, buruan!"
Para murid berteriak dengan suara yang semakin meninggi, menghardik supir bus yang masih kebingungan.
"Anak-anak, tenang!" suara tegas Rezvan, guru fisika yang bertanggung jawab atas 36 murid dalam bus itu. "Kalian semua sudah diberikan pendidikan untuk berperilaku beradab. Pak supir juga orang yang lebih tua dari kalian. Jaga tata krama. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah."
Murid murid langsung diam, sebagian tertunduk, sebagian pura pura tidak tahu.
"Terima kasih, pak guru..." ujar supir bus dengan senyum haru, merasa terhormat dengan sikap Rezvan.
"Enggak apa-apa, pak. Coba usahakan supaya mesin kendaraan bisa nyala lagi." jawab Rezvan sambil menenangkan suasana.
Supir bus mengangguk dan berusaha sekuat tenaga untuk menghidupkan kembali mesin kendaraan.
"Pak guru, hape bapak mati?" tanya Rafandra, kernet bus dengan nada menyelidik.
"Iya, hape saya tiba-tiba mati tadi..." jawab Rezvan.
"Saya rasa hape bapak juga mati, pak..." Rafandra bicara lagi pada pengemudi.
"I-i-ya... kamu tahu, Ndra?!" tanya Marta, supir bus yang kebingungan.
"Kalau hape bapak hidup, saya rasa bapak nggak repot-repot pakai korek gas buat ngecek kendaraan..." ujar Rafandra dengan tegas.
"I-i-ya..." Marta hanya bisa terdiam, menyadari kebenaran dalam ucapan Rafandra.
"Aneh... kok hape kita semua bisa mati barengan?" ujar Rezvan, semakin cemas.
"Saya rasa bukan cuma hape kita yang mati... Atau lebih tepatnya, rusak..." jawab Rafandra dengan nada serius, semakin merasakan ada yang tidak beres.
KRASAK KRUSUK KRESEK
Suasana dalam bis semakin mencekam. Keheningan yang disertai suara gesekan dan keluhan mulai terdengar dari seluruh penumpang yang semakin kebingungan.
"Hape ku mati..."
"Sama, hape ku juga..."
"Bagaimana ini?! Punya saya juga mati..."
Keluhan tersebut semakin menguatkan kecurigaan Rafandra. Dia mulai merasa ada yang tidak beres.
"Ada yang pakai arloji?" tanya Rafandra, sambil mengacungkan korek gas yang nyala apinya sedikit membantu menerangi suasana.
Satu per satu, siswa-siswa dalam bus menggelengkan kepala, saling lirik untuk memastikan jawabannya.
"Saya pakai," jawab Rezvan, sang guru, sambil menyingsingkan lengan kemeja yang menutupi jam tangannya.
Rafandra mendekat dan mendekatkan korek gas untuk memastikan apakah jam tangan Rezvan masih berfungsi.
"Ternyata benar..." ujar Rafandra setelah memeriksa jam tersebut.
"Ada apa, Bang?" tanya Rezvan bingung. "Kok, jam tangan saya ikut-ikutan mati?!"
"Pak Marta, enggak usah dikutak-katik lagi... bis ini udah enggak bisa nyala lagi, udah rusak..." ujar Rafandra dengan nada serius.
"Maksud kamu, Ndra?!" Pak supir menjawab dengan nada sedikit kesal. "Kenapa?"
"Kemungkinan besar ini EMP..." sahut Rafandra, sambil melirik ke arah Rezvan. "Bapak seorang guru teknik, tentu tahu apa maksudnya..."
"EMP?! Kenapa? Ada apa? Apakah natural atau...?" ucapan Rezvan terhenti. Ia sadar kalau ucapan tersebut bisa menambah panik di antara para siswa, jadi ia menahan kalimat itu di benaknya.
"Belum tahu, apakah ada sebab alami atau yang lain..." Rafandra melanjutkan, mencoba menahan diri agar tidak memicu kepanikan lebih lanjut.
Di dalam bis, kerumunan siswa mulai terdengar saling bertanya. Beberapa di antaranya merasa takut dan bingung dengan situasi yang aneh ini.
"Pak guru, ada apa ini?"
"Kok gelap, bukannya masih siang?"
"Apa kita masuk terowongan?"
"Kenapa kita berhenti di sini?"
"Kok suasananya enggak enak?"
Para siswa mulai berkerumun, saling bertanya dan saling mengeluh. Kegelisahan semakin terasa.
"Anak-anak, tenang!" seru Rezvan, mencoba menenangkan mereka.
"Pak... saya, bapak, dan juga Anda, kenek bis... kita sama-sama standby di depan. Kita bertiga sama-sama lihat apa yang ada di hadapan kita, sebelum kita terjebak di dalam kegelapan ini. Apa ada bayangan kita masuk ke tempat apa?" tanya Rezvan dengan nada serius.
Degupan jantungnya semakin cepat, dan cemas mulai menghantui pikirannya. Beberapa siswa yang memperhatikan kejadian ini juga mulai merasakan hal yang sama.
"Maaf pak, saya juga bingung, kok tiba-tiba ada di sini? Saya yakin barusan ada di jalan raya," jawab supir bus dengan wajah pucat.
"Pak, apa jangan-jangan kita masuk SARANJANA?" tanya Arka, murid yang duduk tepat di belakang supir bus dengan wajah sama pucatnya.
"Dek, kamu ngaco ah, masa di jalan raya ada SARANJANA?!" seru supir bus, meski kalimat itu keluar lebih karena melampiaskan kebingungannya sendiri.
"Saranjana masih belum jelas ada atau tidaknya, untuk saat ini kita anggap saja itu hanya legenda, Arka..." jawab Rezvan, mencoba tetap tenang. Namun, di dalam hati
Rezvan, ia merasa ada yang tidak beres.
Dina, yang duduk di samping Arka, ikut menanggapi. "Tapi, Pak Rezvan, kita sama-sama tahu kalau kita barusan ada di jalan raya... gimana ceritanya kita tiba-tiba ada di tempat kek gini?"
"Itu bener, Pak... kalaupun tiba-tiba ada kabut... posisi kita ada di jalan raya yang ramai kendaraan. Bus berhenti mendadak di tengah jalan, kemungkinan tertabrak kendaraan lain sangat besar. Tapi, dari tadi, kita... anteng-anteng aja..." sahut Sari, yang juga merasa heran dengan situasi ini.
Rezvan mencoba tetap tegar, meski di dalam hatinya, keraguan semakin menggerogoti. Sebagai seorang guru, ia tentu saja kesulitan menerima hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Namun, apa yang sedang mereka alami kini, terasa semakin sulit untuk dipahami.
"Anak-anak, kalian harus tenang. Coba cari apa pun yang bisa dijadikan penerangan..." ujar Rezvan, berusaha menenangkan suasana. "Pendapat kamu ada benernya Sari, tapi kalau benar seperti kata Abang kenek... ini ulah EMP, maka itu mungkin terjadi."
Sebagian besar siswa mulai memeriksa barang-barang mereka, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk penerangan. Beberapa dari mereka tidak tahu apa itu EMP, namun rasa malas untuk bertanya membuat mereka memilih untuk diam.
Setelah beberapa waktu, wajah-wajah kecewa mulai terlihat karena mereka tidak menemukan barang yang bisa digunakan untuk menerangi keadaan darurat ini.
"Huft..." dengus Rezvan. "Ayolah, untuk saat ini keadaan darurat... Bapak tidak akan melaporkan kalian. Saya tahu beberapa di antara kalian menyimpan korek gas untuk merokok... keluarkan itu! Kita butuh untuk melihat keadaan di sekeliling..."
Hampir separuh siswa mengangkat tangan mereka, menunjukkan bahwa mereka membawa korek gas.
Rezvan menghela napas, tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis melihat kelakuan anak-anak didiknya.
Marta dan Rafandra pun menahan senyum, teringat akan masa muda mereka yang sama sekali tidak berbeda dari kelakuan anak-anak ini.
—
''Pak, pak...'' panggil Ardi salah satu murid Rezvan yang duduk di tengah barisan kursi.
''Pak, Pak Rezvan, tolong pak...'' pekik Damar yang duduk disebelah Danang sambil melambaikan tangan.
''Ada apa Damar?'' tanya Rezvan yang segera menghampiri Damar yang panik sambil merangkul Ardi.
''Enggak tahu, pak, Danang aneh...'' jawab Damar dengan ekspresi cemas yang tidak jelas terlihat karena gelap.
''Danang...'' panggil Rezvan sambil setengah berjongkok mencoba melihat wajah Ardi yang tertunduk sambil memegang dadanya.
''Saya sulit bernafas pak...'' jawab Danang dengan wajahnya yang pucat membiru, ''Pak, dada saya sakit...'' tambah Danang dengan suara lirih.
''Kamu punya asma?!'' tanya Rezvan dengan nada cemas.
Rafandra yang ikut menghampiri segera mendekatkan korek gas ke arah Ardi untuk melihat kondisinya dengan lebih jelas.
Danang menggelengkan kepalanya sambil terus menahan rasa sakit di dadanya.
Mengernyit dahi Rafandra melihat betapa pucatnya wajah Danang memperlihatkan betapa dia sedang menahan rasa sakit yang kemungkinan besar terasa amat sangat menyakitkan.
Rafandra menoleh ke arah Rezvan dengan ekspresi wajah gusar menjelaskan pada Rezvan bahwa keadaan Ardi sangat buruk.
Rezvan sebetulnya juga telah menyadari hal itu tapi dia seolah ingin mencari harapan bahwa keadaan masih aman terkendali. Sayangnya, melihat ekspresi Rafandra membuat Rezvan sadar kalau hal itu tidak benar.
''Pak...'' panggil Damar dengan nada suara sedikit bergetar, ''Saya juga ngerasa kedinginan, saya juga sama, dari tadi kayaknya mau ngambil nafas susah banget...''
Selang beberapa detik keluhan dan rintihan yang disertai laporan dari yang mendampingi segera terdengar saling bersahutan.
Ternyata, Danang tidak sendirian...
''Apa kalian punya asma?''
Rezvan menanyakan hal yang sama kepada murid yang lain karena panik dia tidak tahu lagi apa yang harus ditanyakan.
Satu per satu murid-murid lain mulai berjatuhan dengan kondisi nyaris sama dengan yang dialami Danang.
Rezvan segera berdiri dan mencari tahu dari muridnya yang lain. Mendengar ucapan Ardi dan Damar hampir semuanya menunjukan ekspresi yang sama dan juga mengangguk membenarkan apa yang dirasakan Ardi dan Damar.
''Ardi, kamu masih bisa tahan?'' tanya Rezvan sambil mencoba membuat Ardi agar lebih baik.
Ardi mengangguk menanggapi pertanyaan Rezvan meski dia bersusah payah untuk itu. Meski masih remaja, egonya sebagai anak laki-laki membuatnya ingin dilihat tidak lemah.
''Yang lain bagaimana?'' tanya Rezvan kepada murid lain yang tampak menunjukkan reaksi yang sama seperti Ardi.
Mereka semua mengangguk hampir bersamaan meski wajah mereka tampak pucat menahan sesak di dada.
''Kabut tebal, udara pekat, suhu dingin... apa ini? Kenapa seolah ada di puncak gunung? Tapi... tetap saja... ini aneh... perasaan apa ini dari tadi? Teror... seolah ada yang lagi merhatiin...'' gumam Rezvan di dalam hatinya, ''Entah apa karena 90% murid adalah cowok, keadaan udah kek gini tapi masih bisa dibilang aman... sebisa mungkin anak-anak itu nahan diri untuk tetap tenang, mungkin kalau muridnya sebagian besar cewek, bisa jadi lain lagi ceritanya...''
''Pak guru merasa seolah kita lagi ada di puncak gunung?!'' tanya Rafandra yang mencoba membaca apa yang sedang dipikirkan Rezvan.
Rezvan mengangguk pasrah karena dia juga merasa tertekan, karena sudah jelas di matanya kalau murid-muridnya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
''Saya juga merasa begitu, tapi, ngilu di tulang, nyeri di otot, perut, dada, yang seolah sedang diremas-remas...'' ujar Rezvan kembali melanjutkan kalimatnya setelah melihat respon Rezvan, ''Kita semua merasakannya. Kita sudah konfirmasi sama anak-anak juga... kalau EMP, enggak akan berdampak pada tubuh seperti ini.''
''Kemungkinan hal itu terjadi tepat saat ledakan kabut tadi, entah kenapa, saya merasa seperti itu...'' sahut Rezvan menanggapi Rafandra, ''Sejujurnya sama seperti yang dirasakan anak-anak... saya juga merasakannya. Bahkan untuk berjalan saja susahnya bukan main.''
''Sepertinya kita semua... Pak Marta juga saya lihat mengurut dada sesaat tadi, dia juga merasakan hal yang sama,'' sahut Rafandra, ''Karena saya juga sedang menahan diri untuk tidak mengeluh bagaimana tersiksanya tubuh saya sekarang. Kita seolah ada di dalam lumpur tebal yang menghambat langkah dengan kepekatan udara seolah di puncak gunung tinggi.''
Rezvan mengangguk menyetujui pernyataan Rafandra karena dia juga merasakan hal yang persis sama tapi dia berusaha untuk menahan diri demi anak-anak yang secara otomatis sekarang bergantung kepadanya.
''Bagaimana ini pak?'' tanya Marta yang menunjukkan wajah cemas mengejutkan Rezvan dan Rafandra yang sedang memikirkan banyak hal.
''Kurang tahu pak, tapi, coba saya turun dulu untuk cek keadaan di luar...'' jawab Rezvan.
BRAK
Belum selesai Rezvan bicara tiba-tiba suara keras sesuatu terhantam terdengar mengejutkan seluruh isi bis. Segera setelahnya terdengar raungan keras entah makhluk apa yang disertai dengan jeritan-jeritan histeris yang saling bersahutan.
''A-a-apaaan itu...''
''Apa itu, ke-ke-kecelakaan bukan, sih?!''
''Apa ada yang ditabrak?!''
Para murid kembali bertanya-tanya, tapi, tidak satupun dari mereka yang berani beranjak dari kursinya masing-masing. Secara naluri, sejak mereka memasuki wilayah aneh yang berkabut, teror ketakutan seolah menyelubungi tubuh mereka, semakin lama, semakin membuat mereka tidak nyaman di tambah dengan tubuh yang kedinginan dan sulitnya bernafas dengan normal.
ARRGGH....
Tiba-tiba jeritan-jeritan histeris kembali terdengar, dan kali ini sangat jelas, terasa seolah ada di sebelah mereka.
BRAK KRAK KREK GUBRAK
Belum selesai mereka terkejut dengan suara jeritan, kembali lagi teror menyelubungi mereka karena suara hantaman diiringi dengan getaran keras seolah terjadi gempa bumi yang membuat bis yang mereka tumpangi bergetar. Segera setelahnya, derit logam yang mencabik, terasa ngilu, nyaring terdengar di antara beberapa suara dentuman yang lebih kecil.
Seluruh penumpang di dalam bus yang ditumpangi Rezvan sontak menunjukkan ekspresi panik dengan pekikkan yang tertahan karena insting mereka. Saling lirik satu sama lain dengan siapa pun yang paling dekat dengan mereka, menunjukkan kalau mereka ketakutan dan saling mencari perlindungan.
''Pak, a-a-apa it-tu pakkk...?'' tanya satu dari tiga murid perempuan yang ada bis Rezvan, suaranya berbisik serak dan gemetar ketakutan.
''Din, kamu tenang dulu...'' ujar Rezvan segera menenangkan anak muridnya,
''Bapak enggak tahu apa itu... tapi, kalian harus tenang. Coba diam, jangan bersuara!''
''Pak, s-su-suuara-suara itu enggak normal...'' ujar Dani ikut bersuara.
''Pak, itu kek ada perang... masa' kita lagi diserang?!''
''Udah!'' seru Rezvan menghardik muridnya yang mencoba membuat teori konspirasi, ''Jangan aneh-aneh kalian... diam, tenang dulu, kita coba cari tahu dulu situasinya!''
Rezvan menghardik muridnya dengan gaya santai tapi jauh di dalam hatinya seolah meminta agar segera ambil langkah seribu. Tapi, jelas dia tidak bisa melakukannya, tempat puluh remaja berusia sekitar tujuh belas dan delapan belas tahun adalah tanggung jawabnya sekarang.
DEG DEG DEG
Degup jantung terdengar ramai beriringan, seolah menggema dalam kesunyian di dalam bis. Mereka semua cemas melihat Rezvan yang berusaha mengalahkan ketakutannya untuk terus melangkah untuk bisa melihat lebih jelas apa yang terjadi di luar sana. Tangan Rezvan jelas bergetar saat dia hendak membuka pintu karena meski mulai samar suara raungan makhluk yang tak terlihat bentuknya masih sayup-sayup terdengar.
BRAK
Baru saja Rezvan memberanikan diri hendak membuka pintu bus, kembali terdengar hentakan keras yang kembali mengejutkan seluruh isi bis.
Keringat dingin yang awalnya lambat, kini mulai deras bercucuran di setiap pelipis orang yang ada di dalam bis. Tanpa sadar, tangan mereka saling memegang erat satu sama lain yang terdekat posisinya dengan mereka.
GUBRAK
Guncangan keras membuat bus bergeser dengan kasar karena ternyata di hantam oleh bis lain yang bentuknya sudah kacau tidak beraturan.
BRAK
Seseorang dengan tubuh bersimbah darah muncul di depan pintu mengagetkan Rezvan hingga nyaris terjerembab karena melangkah mundur secara tiba-tiba.
DOK DOK DOK
Dengan ekspresi histeris penuh kengerian orang yang bersimbah darah itu meminta untuk dibukakan pintu atau semacamnya, jelas terlihat dia sangat putus asa untuk meminta pertolongan.
