Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

006 Bus Yang Miring

**Bab 006: Bus Yang Miring**

Rafandra menggertakkan gigi. Tubuhnya menegang. Lalu ia berteriak—

“SEMUA! YANG MASIH BISA GERAK, BANTU YANG LUKA!! DUDUK DI TEMPAT PALING RENDAH, JANGAN BANGKIT! TUNGGU INSTRUKSI!!”

Suaranya membelah kepanikan. Menembus tangisan dan suara logam berderit.

Beberapa murid yang masih sadar mulai bergerak perlahan.

Lutut mereka gemetar. Tangan mereka bergetar. Namun mereka mulai membantu satu sama lain.

Rezvan akhirnya berhasil duduk bersandar pada bangku yang miring.

Napasnya berat. Setiap tarikan terasa menyakitkan. Namun ia sadar—Ia tidak boleh tumbang sekarang.

Murid-muridnya masih hidup. Dan mereka membutuhkan dirinya.

Di luar kabut, bayangan makhluk itu bergerak perlahan. Sabar. Mengintai.

Bus yang rusak parah itu kini terasa seperti perangkap. Dan akhirnya, mereka benar-benar memahami satu hal:

Ini bukan lagi perjalanan darmawisata.

Ini adalah perjuangan untuk bertahan hidup.

KREEEK…

Suara logam kembali terdengar.

Bus bergoyang pelan.

Semua tubuh langsung membeku.

KREEEKKK…

Salah satu sisi bus kembali bergeser perlahan.

Lalu—

DUGG!!

Hentakan keras datang dari bawah.

Tubuh-tubuh kembali merosot. Sebagian menjerit. Sebagian menahan napas.

Terdengar suara kayu retak dari bawah bus. Sesuatu yang sebelumnya menahan berat kendaraan itu mulai amblas.

Bus miring semakin ekstrem. Debu dan serpihan kayu beterbangan. Retakan kecil muncul di kaca yang tersisa.

Tidak ada yang berani bergerak sembarangan. Mereka tahu—sedikit saja keseimbangan berubah, bus ini bisa terguling lagi.

Kabut di luar tetap menelan seluruh pandangan.

Dunia luar terasa tidak nyata. Hanya ada suara. Dan rasa takut.

HHRRRUFFFF…

Suara napas itu kembali terdengar dari luar.

Pelan. Parau. Kasar.

Beberapa murid langsung menutup mulut mereka sendiri agar tidak bersuara.

“Jangan gerak,” bisik Rafandra pelan namun tegas. ‘’Tetap tenang di posisimu.’’

Rezvan perlahan menoleh ke arahnya.

Hanya siluetnya saja yang terlihat dalam gelap.

Pria itu masih berdiri sambil berpegangan pada tiang penyangga. Tatapannya menembus kabut.

Seorang murid menekuk lututnya erat-erat. Yang lain saling menggenggam tangan. Tidak ada yang berani bicara keras.

Detak jantung mereka sendiri terasa seperti suara guntur kecil di tengah kesunyian.

Rafandra perlahan bergerak mendekati jendela yang pecah sebagian ujungnya. Matanya mengintip ke luar. Namun ia tidak berani terlalu lama.

Bus yang miring ini terasa seperti perahu karam yang bisa jatuh kapan saja. Dan di luar sana—

Kabut menyembunyikan sesuatu yang tidak bisa mereka pahami.

Hening. Sunyi.

Detik demi detik berjalan sangat lambat. Lalu suara Rezvan terdengar pelan dari belakang. “Bang, kamu mendengarku?”

“Ya,” jawab Rafandra singkat.

“Mereka… sudah tenang?” tanya Rezvan ragu.

“Yang mana?” sahut Rafandra datar.

Rezvan mengernyit kesal. “Makhluk itu, tentu saja!” serunya tertahan.

“Mana saya tahu, saya tidak bisa melihat apa pun saat ini,” jawab Rafandra.

Ia lalu menoleh ke arah murid-murid.

“Hei, siapa pun di sini, coba raba apa pun di sekitar kalian. Cari korek gas yang sudah terpental entah ke mana. Kita butuh cahaya untuk memantau situasi…”

“Jangan bergerak lebih jauh dari posisi kalian. Asal ada satu saja yang menyala, itu sudah cukup,” tambahnya tegas.

Dalam gelap, mereka meraba-raba dengan tangan gemetar. Mencari apa saja yang bisa menjadi sumber cahaya.

Ctik… Ctik… Ctik…

Bunyi pemantik terdengar.

Lalu—

Nyala api kecil muncul di tengah gelap.

Cahaya oranye redup menari di udara, memantul di logam bus yang penyok dan berdarah.

“Om Kenek, ini, ketemu…” suara Damar terdengar lega meski masih gemetar.

“Gunakan itu untuk melihat sekelilingmu. Cari, apakah ada lagi…” sahut Rafandra.

Ia perlahan bangkit. Wajahnya meringis saat rasa sakit menjalar di seluruh tubuh.

“Bakalan item biru deh…” keluhnya pelan sambil meraba tubuhnya sendiri.

Tangannya memeriksa lengan, rusuk, bahu, dan kaki.

“Bagus… kayaknya bonyok doang. Enggak ada yang patah…” gumamnya pelan.

Nyala kecil dari korek gas itu kini menjadi satu-satunya jangkar di tengah dunia yang runtuh.

Satu titik cahaya kecil… di tengah kabut dan teror yang belum menunjukkan wujud aslinya.

Beberapa saat kemudian, satu lagi korek gas berhasil ditemukan. Rafandra segera menyalakannya. Titik cahaya redup itu menari di tengah gelap, membelah kabut tipis di dalam bus. Dengan cahaya kecil itu, ia mulai memantau keadaan di sekeliling.

Bus masih miring tajam. Beruntung, anak-anak yang sejak tadi mencengkeram bangku tidak sampai terlempar lebih jauh. Tubuh mereka tertahan, meski napas masih tercekat dan tangan terus gemetar.

Lalu cahaya korek itu bergerak ke bawah. Jantung Rafandra langsung terasa dicekik.

Kekacauan.

Tubuh-tubuh anak-anak saling bertumpuk di lantai bus. Posisi mereka kacau akibat benturan dan kemiringan bus. Ada yang tertindih kursi. Ada yang terjepit di sela bangku. Darah, lebam, dan lengan atau kaki yang bengkok tidak wajar membuat tengkuk Rafandra menegang.

“Sial…” gumamnya di dalam hati. Rahangnya mengeras. “Ini buruk… sangat buruk.”

“Bang?” panggil Rezvan pelan. Nadanya ragu, nyaris tenggelam di antara suara napas dan bunyi logam yang berderit pelan.

“Tetap tenang!” seru Rafandra.

Langkahnya tetap mantap meski seluruh tubuhnya nyeri.

Wajah serius Rafandra langsung membuat alarm di dalam diri Rezvan berbunyi. Sesuatu benar-benar tidak beres.

Rafandra menarik tubuh Rezvan pelan, menuntunnya ke bagian bawah bus yang kini menjadi titik terendah. Nyala korek di tangannya memantul di lantai miring, menerangi sekilas tubuh-tubuh terluka di bawah sana.

Cahayanya terlalu remang.

Yang terlihat hanya bentuk samar, bayangan tubuh yang bertumpuk, dan kilatan darah yang membuat dada sesak.

Rezvan masih belum benar-benar menyadari seberapa parah keadaan mereka.

“Pak, bisa bergerak?” tanya Rafandra pada Pak Marta.

Pak Marta masih tampak linglung, tapi ia mencoba keluar dari bangku pengemudi.

Rafandra segera menopangnya agar tidak tergelincir akibat kemiringan bus.

“Sepertinya bisa…” ucap Pak Marta setelah memastikan tubuhnya masih sanggup bergerak.

“Pak, tolong bantu…” kata Rafandra lagi. Suaranya pelan. Tapi tekanannya berat.

Pak Marta terkesiap sesaat, lalu langsung mengangguk dan mengikuti.

“Stabilkan langkah kalian, atau kalian akan meluncur ke bawah dan memperburuk keadaan…” perintah Rafandra tegas namun tetap terkendali, sementara mereka bergerak perlahan di atas lantai bus yang licin dan miring.

Saat mereka semakin dekat, pemandangan di bawah menghantam Rezvan dan Pak Marta seperti pukulan dingin.

Tubuh mereka menegang. Napas tercekat. Keringat dingin mengalir di pelipis. Air mata langsung muncul tanpa sadar.

Di bawah sana hanya ada luka, darah, tubuh-tubuh yang saling tertindih, dan kepanikan yang nyaris tidak berbentuk lagi.

Realitas brutal itu membuat jantung mereka seperti berhenti berdetak sesaat.

Rafandra melirik Rezvan.

Guru muda itu gemetar. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Wajahnya pucat, matanya kosong menatap anak-anak didiknya yang terkapar di bawah.

Tak seorang pun di dalam bus mengetahui bahwa di saat mereka sedang berjuang mempertahankan hidup, ribuan kilometer di luar sana dunia juga mulai berubah.

Apa yang mereka kira hanya kecelakaan aneh… ternyata hanyalah awal.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel