004 Ketenangan di Tengah Ketegangan
**Bab 004: Ketenangan di Tengah Ketegangan**
Lengkingan gajah menggema nyaring di tengah kegelapan, saling bersahutan satu sama lain.
Bersamaan dengan itu, derap langkah-langkah berat mengguncang tanah di sekitar mereka.
DUM...
DUM...
DUM...
Setiap hentakan terasa hingga ke dalam tulang, merambat melalui lantai kendaraan, membuat badan bus bergetar dan berguncang pelan.
Suasana yang sejak tadi sudah menyesakkan kini berubah menjadi mencekam. Lalu, di sela-sela kebisingan itu, terdengar sesuatu yang lain.
Sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Arrggghhh..."
"Toloooonnnggg...!"
"Menyingkir dariku!"
Jeritan.
Pekikan.
Hardikan.
Suara-suara manusia tanpa wujud yang jelas.
Tak terlihat siapa yang berteriak.
Tak terlihat dari mana asalnya.
Hanya suara-suara menyayat dan memilukan yang bergema di tengah kegelapan, seolah datang dari segala arah sekaligus.
Lalu—
DUAGH!
Sebuah hantaman keras kembali menghajar badan bus yang mereka tumpangi.
Seluruh kendaraan berguncang hebat, membuat beberapa murid refleks berpegangan pada kursi masing-masing.
Rasanya seperti ada sesuatu yang sangat besar baru saja menabrak bus dari luar.
KREEEKKK… KRAAANG!!
Derit logam melengking nyaring, memekakkan telinga. Dinding bus seperti sedang diremas sesuatu.
Semua penumpang membeku.
Tidak ada yang benar-benar berani berteriak lagi. Hanya suara napas tercekat dan isak kecil yang terdengar di dalam gelap.
Insting bertahan hidup mereka mulai mengambil alih.
Diam.
Jangan menarik perhatian.
Jangan bergerak.
Peringatan itu muncul secara naluriah.
“Pa… pak… a-apa itu, Pak…?” suara Dina keluar lirih dan gemetar. Tangannya mencengkeram sandaran kursi begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
Rezvan segera menoleh. “Din, kamu tenang dulu…” katanya cepat. Namun bahkan suaranya sendiri terdengar bergetar. Ia memandang murid-muridnya satu per satu.
Wajah-wajah ketakutan. Mata membesar. Tubuh gemetar.
“Bapak enggak tahu apa itu… tapi kalian harus tenang. Jangan bersuara dulu!”
Di luar, suara gesekan logam kembali terdengar.
“Pak…” suara Dovi kecil namun jelas di tengah keheningan. “Suara itu… mengerikan…”
“Pak, itu kayak… kayak ada perang…” murid lain menimpali dengan suara gemetar.
“Sudah!” bentak Rezvan tiba-tiba.
Suaranya memotong kepanikan yang mulai membesar.
Ia menarik napas kasar sebelum melanjutkan. “Jangan mikir aneh-aneh dulu! Kita harus tenang… kita cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi.”
Meski begitu, di dalam dirinya sendiri, Rezvan sadar—ia sama takutnya dengan mereka.
Sebagian dirinya ingin lari sejauh mungkin dari tempat ini. Namun puluhan murid di dalam bus membuatnya tetap berdiri di sana. Dan tanggung jawab itu terasa jauh lebih menakutkan daripada suara apa pun di luar.
KRAK… KREEEK… GUBRAK!
Bus kembali bergetar.
DEG. DEG. DEG.
Suara detak jantung terasa menggema di telinga. Semua mata kini tertuju pada Rezvan.
Guru muda itu menelan ludah. Lalu perlahan melangkah menuju pintu bus. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang logam.
Logikanya berkata ia harus mengetahui apa yang ada di luar. Namun nalurinya terus berteriak agar jangan membuka pintu itu.
BRAK!!
Sebelum ia sempat menarik tuas—hantaman keras kembali menghajar bus.
Tubuh-tubuh di dalam kabin terlonjak kaget.
GUBRAK!!
Bus bergeser beberapa meter ke samping.
Bukan karena gempa. Sesuatu mendorongnya dari luar.
Dari kaca depan yang retak, samar-samar terlihat bayangan besar bergerak cepat di balik kabut.
Terlalu besar.
BRAK!!
Sesuatu menghantam sisi depan bus.
Lalu—
DOK! DOK! DOK!
Rezvan membeku.
Di balik kaca pintu—seorang manusia muncul.
Tubuhnya bersimbah darah. Wajahnya pucat. Matanya membelalak penuh teror.
Orang itu menghantam kaca sambil menempelkan kedua tangannya yang berlumuran darah.
Noda merah mengalir perlahan di permukaan kaca.
“Astaga…” desis Rezvan.
DOK! DOK! DOK!
Orang itu kembali menghantam kaca.
Putus asa.
Mulutnya terbuka lebar, mencoba berteriak sesuatu, namun yang terdengar hanya suara napas kasar bercampur darah.
Kernet itu berdiri tegak. “Menjauh dari pintu,” ucapnya pelan namun tegas.
Itu bukan saran. Itu perintah.
Rezvan menoleh sekilas.
Wajah kernet pucat, tetapi matanya tetap fokus. Tajam dan waspada. Seolah ia tahu sesuatu yang jauh lebih buruk sedang mendekat.
Namun Rezvan tidak bisa diam. Ada orang yang meminta tolong di luar sana. Ia bergerak cepat menuju pintu.
“Kita harus—”
SYUUUTTT—GRABB!!
Sesuatu bergerak dari luar dengan sangat cepat memotong ucapan Rezvan.
Sosok berdarah itu tiba-tiba menghilang dari balik kaca.
Tak sempat menjerit. Hanya darah yang tersisa, menempel di kaca pintu.
Tubuh Rezvan membeku.
Sekilas—ia melihat bayangan hitam besar bergerak di balik kabut. Tidak jelas bentuknya. Namun nyata. Terlalu nyata.
Kernet langsung menarik bahu Rezvan keras-keras. “Tenang!” serunya. Tangannya gemetar, tapi cengkeramannya kuat.
Rezvan masih terpaku menatap darah yang mengalir perlahan di kaca. “Ap… apa tadi itu…?” bisiknya.
Kernet tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar. Lalu terdengar suara samar dari balik kabut.
Srak… srak… srak…
Suara sesuatu yang sedang menyeret sesuatu lain.
Berat. Basah. Perlahan.
Tubuh Rezvan masih ditahan kernet itu.
Pria itu menggeleng pelan. Sinyalnya: Jangan lakukan hal bodoh.
“Kita harus tahu apa itu!” bisik Rezvan penuh tekanan.
“Saya juga penasaran, Pak… tapi lihat situasinya!”
Tatapannya tajam. Ia juga tegang. Namun emosinya masih terkendali.
“Abang lihat sendiri dia terluka… dia butuh bantuan…”
“Kita bisa bantu orang lain kalau kita sendiri masih hidup,” jawabnya tegas. “Kita sama-sama lihat apa yang baru terjadi. Itu bukan sesuatu yang normal.”
Rezvan menelan ludah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. “Lalu kita cuma diam saja?!” suaranya meninggi.
Naluri seorang guru membuatnya sulit menerima keadaan itu.
Kernet itu menepuk bahunya perlahan. “Jangan lupa, Pak… tanggung jawab utama bapak itu mereka.”
Rezvan terdiam. Perlahan ia menoleh ke arah murid-muridnya.
Gelap. Tapi dari siluet-siluet yang bisa dilihatnya saat ini. Wajah-wajah ketakutan itu langsung terbayang dan menghantam kesadarannya.
Tiga puluh enam remaja itu ketakutan. Rezvan tidak bisa melihat mata yang membesar. Tubuh gemetar. Tangan saling menggenggam.
Tapi otaknya bisa memprediksi semua itu dalam simulasinya. Anak-anak itu menunggunya. Orang dewasa yang mereka percayai akan menjaga mereka.
Akhirnya Rezvan menghembuskan napas panjang dan mengalah.
Ia kembali memandang kernet itu.
Sejak awal masuk ke dalam kabut, pria itu terus bersikap waspada. Terlalu tenang untuk ukuran kernet bus biasa. Firasatnya terus mengatakan hal yang sama: pria ini tidak sesederhana kelihatannya.
“Bang, nama saya Rezvan. Abang?” tanyanya pelan.
“Rafandra,” jawab pria itu singkat tanpa menoleh.
Rezvan sedikit kesal dengan sikap dinginnya, tapi ia menahan diri. Ia lalu memandang Pak Marta. “Pak supir?”
“S-sa-saya… Marta…” Suara sopir itu gemetar. “Lalu sekarang kita harus gimana? Enggak mungkin kita cuma duduk nunggu kayak—”
Mata Rafandra tiba-tiba melebar. Wajahnya langsung berubah tegang.
“Semua merunduk di bangku sekarang!!”
Ia berteriak keras sambil berlari ke arah murid-murid yang masih kebingungan. Dan hanya dalam hitungan detik—
GRAK!! GUBRAK!!
Sesuatu menghantam bus dengan kekuatan luar biasa. Bus terguncang hebat sampai nyaris miring.
SREEEEKKKK!!
Suara logam tercabik panjang menggema memekakkan telinga—seolah ada sesuatu yang sangat besar sedang mengoyak badan bus dari luar.
