003 Raungan di Kegelapan
**Bab 003: Raungan Di Kegelapan**
Rezvan berdiri di dekat pintu, menatap kaca yang telah berubah menjadi bidang hitam pekat.
Kabut di luar tampak tidak wajar—bukan sekadar menutupi pandangan, tapi seperti menelan cahaya itu sendiri. Tidak ada pantulan. Tanpa bentuk. Hanya gelap yang terasa hidup dan menekan dari luar sana.
Napas Rezvan terasa berat. Dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya, sementara otot-otot di bahu dan tengkuknya mulai menegang tanpa sadar. Rasa panik perlahan merayap naik, dingin dan licin, menyusup ke dalam pikirannya.
Di belakangnya, kernet itu tetap berdiri tenang.
Tatapannya bergerak perlahan, mengamati setiap sudut kabin, setiap suara, setiap perubahan kecil dalam suasana. Ia tampak seperti seseorang yang memaksa dirinya tetap rasional di tengah situasi yang perlahan kehilangan logika.
Baginya, rasa takut bukan sekadar emosi. Takut adalah sinyal. Pertanda bahwa tubuh membaca ancaman lebih cepat daripada pikiran sadar. Dan nalurinya terus mengatakan satu hal: tetap di dalam bus.
Jangan keluar tanpa informasi.
Jangan bergerak sembarangan di tempat asing.
Jangan memberi kesempatan pada sesuatu di luar sana.
Anehnya, ketenangan kernet itu sedikit menular pada Rezvan. Tidak cukup untuk menghilangkan rasa takut, tapi cukup untuk membuatnya kembali berpikir.
Rezvan menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Kesalnya pada kernet itu masih tersisa, namun ia memilih mengalah. Memperdebatkan sesuatu sekarang hanya akan memperburuk keadaan.
Dengan langkah pelan, ia kembali menghampiri murid-muridnya.
Sebagian besar masih duduk membungkuk di kursi masing-masing, berusaha mengatur napas. Wajah-wajah pucat tampak samar dalam remang cahaya korek gas yang sesekali menyala.
Mereka semua memberikan keluhan yang hampir sama.
Sesak napas. Tubuh terasa berat. Dingin menusuk tulang. Nyeri samar di dada. Dan yang paling mengganggu—Rezvan sendiri merasakan gejala yang sama.
"Kalian masih bisa tahan?" tanya Rezvan, berusaha menyuntikkan ketenangan ke dalam suaranya.
Satu per satu murid mengangguk, walau napas mereka terdengar tersengal.
Mereka murid sekolah teknik. Hampir semuanya laki-laki.
Di usia seperti itu, rasa gengsi sering kali lebih kuat daripada rasa sakit. Apalagi hanya ada tiga murid perempuan di dalam bus tersebut. Tidak ada yang ingin terlihat lemah di depan yang lain.
Ego remaja membuat mereka memaksa diri tetap tampak kuat, meski tubuh mulai memberi tanda bahaya.
"Semuanya masih oke, ya?" tanya Rezvan lagi, memastikan.
Mereka kembali mengangguk hampir bersamaan. Namun wajah pucat dan napas berat mereka sudah menjadi jawaban yang sebenarnya.
Rezvan menghembuskan napas panjang. Matanya kembali melirik kabut di luar jendela.
“Kabut tebal, udara pekat, suhu dingin… lalu… ada yang aneh… seolah ada yang mengamati…’’ gumamnya dalam hati.
Perasaan itu sulit dijelaskan. Tidak ada bukti nyata, tapi nalurinya terus merasa sedang diperhatikan oleh sesuatu di luar sana.
“Untung sebagian besar murid cowok… mungkin mereka masih bisa menahan diri. Kalau sebagian besar cewek… situasinya mungkin sudah lebih kacau…’’ pikirnya di dalam hati.
"Pak guru merasa tidak, seolah kita lagi ada di puncak gunung?!" tanya kernet itu tiba-tiba.
Rezvan menoleh. Dia diam sejenak lalu kemudian ia mengangguk pelan. Wajahnya terlihat lelah, penuh tekanan. Ia sadar murid-muridnya hanya berpura-pura kuat.
Bus ini perlahan berubah menjadi ruang penuh kecemasan yang menunggu pecah kapan saja.
''Seperti anak-anak, saya juga merasakan hal yang sama. Langkah terasa berat, dada seolah diremas, nyeri di tubuh…'' ujar kernet itu melanjutkan, ''Dan itu bukan akibat EMP.''
‘’Abang benar. EMP tidak berdampak pada tubuh. Dan kalau ini karena lingkungan yang berbeda, seharusnya sejak di bandara kami sudah merasakannya,’’ sahut Rezvan.
‘’Kalau itu karena lingkungan, saya juga seharusnya sudah terbiasa. Sudah berbulan-bulan saya ada di Kalimantan. Tapi semua ini mulai terasa tepat setelah ledakan kabut tadi. Entah kenapa… saya yakin penyebabnya dari situ,'' jawab kernet itu.
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
''Dan sepertinya bukan cuma kita. Pak Marta juga tadi beberapa kali pegang dada. Saya rasa dia juga merasakan hal yang sama.''
‘’Eum…’’ Rezvan mengangguk pelan.
''Karena saya sendiri juga sedang menahan diri untuk tidak mengeluh. Tubuh saya terasa tersiksa. Dingin ini aneh… badan nyeri… langkah kaki berat seperti jalan di lumpur… dada sesak… udara terasa tipis di paru-paru. Kita benar-benar seperti ada di puncak gunung tinggi.''
Kernet itu mengangguk kecil. Ia juga merasakan hal yang sama. Udara dingin itu seperti masuk terlalu dalam ke paru-paru dan meninggalkan rasa nyeri setiap kali bernapas.
Untuk beberapa saat, mereka bertiga—Rezvan, Rafandra, dan Pak Marta—terdiam.
Tidak ada yang mau kehilangan kendali.
Puluhan murid di belakang mereka kini bergantung pada bagaimana mereka bersikap. Sekali saja orang dewasa di bus ini panik, suasana akan langsung runtuh.
“Bagaimana ini, Pak?” suara Pak Marta akhirnya memecah keheningan.
Wajah sopir paruh baya itu terlihat tegang. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski udara terasa dingin.
Pertanyaannya menggantung tanpa jawaban. Rezvan dan Rafandra saling berpandangan singkat. Tak satu pun dari mereka benar-benar tahu harus berbuat apa.
“Kurang tahu, Pak, tapi—”
BRAK!
Suara hantaman keras tiba-tiba meledak dari luar.
Seluruh isi bus tersentak. Badan kendaraan berguncang hebat sampai kaca-kaca jendela berderak nyaring.
Beberapa murid refleks menjerit. Sebagian lain langsung menunduk sambil menutup kepala.
Belum sempat keterkejutan itu reda—
RRRRAAAAUUUNNNGGGHHH!!
Raungan panjang dan saling bersahutan menggema dari luar kabin. Berbarengan dengan itu—
Dung Dung Dung
Bumi bergetar oleh hentakan kaki yang berat dan—banyak.
“A-a-apaaan itu…?” suara Ardi tercekat.
“Apa itu… kecelakaan, bukan?!” Indah menggigil.
“Jangan-jangan ada yang ketabrak?!” seru Dina panik.
“Tapi… yang tadi itu suara gajah, kan?!” tanya Damar.
“Eum… aku juga dengar kayak gajah…” sahut Kirana lirih.
“Iya, kan, Pak?! Itu gajah, kan?!” Bima ikut berseru dengan napas memburu.
Pertanyaan saling bersahutan memenuhi kabin. Namun tidak ada yang berani berdiri. Mereka hanya duduk membeku dalam ketakutan.
Udara di dalam bus terasa semakin berat. Napas makin sulit diatur. Jantung berdebar semakin keras.
RRRNNNGGHHH!!
Raungan itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat. Sangat dekat. Seolah tepat berada di samping bus.
Jeritan langsung pecah di dalam kabin.
Beberapa murid meringkuk di kursi. Sebagian lain tanpa sadar menggenggam tangan teman di sebelah mereka.
Lalu—
BRAK! KRAK! KREK! GUBRAK!
Suara logam diremukkan terdengar dari arah belakang bus.
Bahkan terdengar—-
BRAGH DUARRRR
Logam berat dan besar terlempar dan saat jatuh bumi bergetar.
Bus berguncang keras. Suara itu terlalu nyata untuk dianggap ilusi.
Rezvan langsung menoleh, pupil matanya melebar. Sementara kernet itu sudah siaga sejak dentuman pertama terdengar.
“Semua tetap di tempat!” seru kernet itu tegas. Nada suaranya rendah, tapi memiliki tekanan yang langsung membuat beberapa murid diam.
Belum selesai keterkejutan mereka—
BRAAAKK!!
Hantaman lain menghajar badan bus yang mereka tumpangi kali ini.
