003 Bus yang Diam
**Bab 003: Bus yang Diam**
Suara di sekeliling menghilang. Hanya sisa desisan kabut dari kaca pecah. Dunia seperti tenggelam dalam kekosongan.
‘’Ada apa?’’ tanya Rezvan dengan suara gemetar. Instingnya seolah telah memberitahunya bahwa sesuatu yang lebih buruk dari yang sudah terjadi sedang mengantri menunggu giliran.
Raffandra tidak menjawab, dia hanya merespon Rezvan dengan ekspresi seolah ingin menangis. Matanya sayu menatap Rezvan yang sedang menunggu jawaban darinya.
Beberapa saat keduanya terpaku. Hingga akhirnya Rafandra menggelengkan kepala. Tanda, bahwa sudah tidak ada lagi harapan untuk dua anak di hadapannya.
Rezvan terduduk. Diam. Tangannya mencengkeram lengan dingin anak itu.
Darahnya berdesir naik ke kepala, kemudian turun tiba-tiba. Perutnya mual.
Adit dan Bagas. Mukanya lebam. Seragam mereka kotor, sobek, berdarah. Hampir dua tahun kedua anak itu berada di bawah bimbingannya. Tentu, dia akan mengenali mereka.
Muridnya. Tanggung jawabnya.
“saya gagal.”
“saya biarkan mereka naik bus ini.”
“saya duduk di depan… sementara mereka—”
Rasa ingin muntah menyesak di tenggorokan. Tapi dia tahan.
Tangannya mengepal di lantai logam yang dingin.
Langkah merangkak terdengar dari belakang.
Rafandra menatap iba, tubuhnya masih penuh luka kecil, napas berat. Ia ikut melihat ke arah dua tubuh itu. Tidak berkata apa-apa. Hanya menatap sambil tetap memeluk Adit di pangkuannya.
Mereka bertatapan sesaat.
“Mereka…” gumam Rezvan lirih. “Murid-muridku…”
Rafandra tidak langsung menjawab. Matanya menelusuri keadaan sekitar. Ia menghitung jumlah kepala. Lalu menoleh lagi ke dua jasad itu. Perlahan, ia meraih jaketnya sendiri, lalu meletakkannya menutupi dada salah satu korban.
“...Jangan biarkan anak-anak lain lihat dulu,” katanya pelan.
Rezvan mengangguk. Tapi rahangnya mengeras. Matanya mulai merah.
Ia tidak menangis. Tapi itu bukan karena kuat.
Karena tubuhnya sedang sibuk menahan semuanya: marah, takut, hancur, syok.
Di belakang mereka, seorang siswa berteriak:
“Pak! Dinda pingsan…”
“Pak, Raka nggak bangun!”
“Pak...! Ada darah di kaki Gilang!”
Rafandra langsung bangkit. Menuju suara itu. Tiga siswa tak sadar. Darah tampak pekat nyaris membanjiri tubuh mereka. Nafas berat. Tapi mereka masih hidup. Rafandra cek satu per satu, memberi instruksi singkat pada siswa lain.
‘’Wah, Pak… Pak… Tulang… Tulang Gilang…’’ teriak Damar dengan wajah pucat ketakutan.
Mata Rafandra terbelalak.
Kaki Gilang patah dengan tulang menembus keluar merobek daging.
“Tahan kakinya, jangan banyak gerak!’’ Perintah Rafandra segera, “Cari apa pun untuk membebat!’’
Anak-anak yang cepat tanggap hanya satu dua saja. Mereka segera membongkar apa pun di dekat mereka untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan.
‘’Kenapa kalian bengong?!’’ Pekik Rafandra terbawa emosi.
Anak-anak itu merespon Rafandra dengan wajah memelas bahkan air mata menetes dengan bibir bergetar menahan diri.
Mereka syok, trauma.
Adrenalin, membuat Rafandra tidak menyadari kalau remaja-remaja itu ketakutan. Mereka tidak siap dengan situasi gawat darurat sekarang.
‘’Sobek lengan baju kalian!” Pekik Rafandra memberi instruksi tegas. “Yang sadar bantu yang lemah. Jangan nangis. Fokus!”
Sementara itu, Rezvan berdiri perlahan. Punggungnya menempel ke sisi dinding bis. Ia lihat satu per satu siswanya. Beberapa sadar, tapi syok. Beberapa belum sadar. Yang lain merintih pelan, duduk memeluk lutut, atau hanya menatap kosong ke arah kaca berembun.
‘’Anak-anak ketakutan…’’ ujar Rezvan sambil menyerahkan kain gorden. ‘’Ini, kotor tapi lebih baik daripada tidak.’’
Rafandra mengeraskan rahang. Dia mulai menyadari kalau dia terbawa emosi.
Tidak ada yang siap dengan keadaan ini. Bahkan dirinya. Apalagi anak-anak yang masih belasan tahun itu.
_________________________________________________________________________
Suara lirih mulai terdengar di tengah-tengah kabut yang terus menyusup:
“...Kita di mana sih...”
“Ini mimpi ya?”
“Kenapa... kenapa kita nggak diselamatin?”
“Pak... kita... kita bisa pulang, kan?”
Rafandra menarik napas dalam. Lalu menatap Rezvan.
“Kita harus bawa mereka keluar… Kita… tidak bisa terus di sini…”
‘’Keluar?!’’ Pekik Damar dengan wajah panik, ‘’Pak, di luar sana… ada makhluk buas yang kita enggak tahu apa.’’
‘’Anak itu benar, Pak. Lebih aman kalau kita di dalam. Bantuan akan segera datang dengan kekacauan sebesar ini.’’ Sahut Pak Marta yang masih duduk lemas di dek depan.
‘’Kita tidak tahu kapan bantuan akan tiba…’’ Rafandra segera menimpali. Suaranya terdengar datar tapi kesan gamang bercampur kesal terasa darinya.
‘’Setidaknya… kita masih bisa menunggu. Di dalam sini lebih baik dari pada di luar sana dengan makhluk tidak jelas yang telah membuat kita semua jadi seperti ini.’’
Dina menyahut disertai dengan anggukkan anak-anak yang lain.
‘’Kita tidak tahu bagaimana situasi di luar sana… itu betul. Kita aman di dalam sini…? Untuk saat ini mungkin…’’ ujar Rafandra dengan suara tenang, tapi, sorot matanya jelas kontras dengan nada suara yang diperdengarkan. ‘’Tapi, berapa lama…?!’’
‘’Ndra, kamu jangan nakutt-nakutin gitu, dong! Kita semua ketakutan, enggak usah di tambah-tambahin lagi…’’ jawab Pak Marta kesal tapi hatinya membenarkan apa yang dikatakan Rafandra.
‘’Pak, sudah kita di dalam saja. Ya…’’ pinta Ardi dengan wajah memelas diikuti anak-anak yang lain.
‘’Pak, sudah kita bersabar saja… sampai bantuan tiba…’’ ujar Dina mendukung Ardi.
‘’Ndra, kamu dengar itu. Kamu tidak kasihan pada anak-anak itu… mereka ketakutan, Ndra. Sudah kita di dalam saja sampai bantuan tiba.’’ Pak Marta kembali membujuk Rafandra.
Perlahan-lahan anak-anak yang tadinya hanya diam memperhatikan mulai berbisik satu sama lain mengemukakan ketakutan dan kerisauan mereka diiringi keluh sakit yang mereka rasakan di sekujur tubuh.
Rezvan menimbang dan memilah. Dia bingung karena situasi di luar maupun di dalam sama saja. Tidak jelas.
Sejak awal, dia, Pak Martha, dan anak-anak seolah sudah sepakat tanpa harus ditegaskan dengan pernyataan mufakat. Rafandra, mengambil peran kepemimpinan karena sejak awal hampir selalu Rafandra yang ambil tindakan pertama.
‘’Apa kalian tidak merasakannya?’’ tanya Rafandra di tengah kasak-kasuk perdebatan dan curahan hati.
Beberapa menyimak.
Beberapa menoleh ke arah siapapun yang terdekat.
Beberapa bergumam menjawab pertanyaan Rafandra dengan suara berbisik.
‘’Apa maksud kamu, Ndra?’’ tanya Pak Marta kemudian.
‘’Bis ini bergoyang tidak stabil…’’ ujar Rafandra datar namun penuh ketegangan.
‘’Lantas kenapa?’’ tanya Pak Marta menjawab ucapan Rafandra dengan nada kesal.
‘’Kita berada di dalam bis tapi kita tidak tahu bis ini ada di mana?’’
Pernyataan Rafandra membuat semua yang mendengarnya mulai membayangkan situasi sejak awal kejadian. Mereka mencoba memikirkan, ada dimana bis ini.
Pernyataan Rafandra mulai menggoyahkan pikiran yang sebelumnya percaya berada dalam zona aman.
Kriet... kriet... kriet...
Suara logam mencicit. Menyusup ke dalam tulang, menyiksa saraf siapa pun yang mendengar.
Bus bergoyang.
Perlahan, tapi jelas. Getaran itu kini tak bisa diabaikan lagi. Medan di luar sana tidak stabil. Tapi… tidak ada yang tahu sebenarnya apa.
Otak mereka—yang terbiasa dengan navigasi logis dunia modern—kini seperti kehilangan peta. Di mana mereka? Kenapa bisa sampai ke tempat ini? Tak satu pun bisa menebak.
Sayup, jauh di luar, lolongan dan raungan masih terdengar. Samar… tapi tetap mengancam.
“Apa yang harus dilakukan sekarang?”
Pertanyaan itu diam-diam menghuni benak semua yang masih hidup dalam bus itu. Meski dua di antara mereka sudah tak bernyawa.
Rezvan angkat bicara. Suaranya berat tapi terjaga, seperti berusaha melindungi dengan nada, “Anak-anak... Pak Marta... Rafandra benar. Kalian juga benar. Saat ini, kita tampaknya aman di dalam bus. Tapi di luar sana... kita tidak tahu. Kita hanya mendengar—suara dan getaran—tapi sebenarnya... kita semua tidak mengerti apa yang terjadi.”
Sebagaimana kebiasaan murid ketika guru bicara—mereka menyimak. Bukan karena tenang. Tapi karena naluri terlatih dari ruang kelas... mencoba mencari tempat berpijak dalam logika yang runtuh.
“Bantuan… ya, kita semua mengharapkannya. Tapi sampai kapan? Dan sementara itu... teman kalian, Gilang, butuh tindakan nyata. Dia tidak bisa terus seperti itu…”
Damar mencengkeram tubuh Gilang erat, seolah pegangan itu bisa menahan hidup. Dina, yang duduk tak jauh, mulai menggigit bibirnya. Air mata jatuh satu per satu tanpa suara.
Bau amis darah terus menguar. Menebal. Menempel. Membusuk di hidung.
Hik... hik... hik...
Isak tangis mulai pecah. Pelan. Teredam. Tapi menyebar seperti api dalam sekam. Dari satu, menjadi banyak. Suara yang mereka tahan sejak tadi akhirnya menyeruak.
“Pulang… aku ingin pulang…” ucap Dinda, suaranya parau, nyaris tak terdengar. Tapi emosi yang ditahannya akhirnya meledak. “Pulang! Aku nggak seharusnya ada di sini! Ini... bukan tempatku!”
“Apa kamu pikir cuma kamu yang mikir begitu?!” bentak Ardi, kesal. “Dasar perempuan! Bisanya cuma nyalahin orang lain!”
“Apa hubungan perempuan sama ini semua?! Aku cuma jujur sama perasaanku! Emangnya kamu mau terus di sini?! Kalau gitu keluar sana! Ngobrol tuh sama makhluk entah apa yang bikin kita semua kayak gini!”
“Ardi, kenapa kamu bawa-bawa gender?” Dina ikut angkat suara, nadanya tajam. “Apa cuma kami yang nangis? Kalian juga! Kalian semua juga takut!”
“Kami nangis... tapi nggak merengek kayak kalian!”
“TERUS KENAPA?!”
“CUKUP!!” Suara Rezvan membelah perdebatan itu. Suaranya meledak. Bukan karena marah—tapi karena keputusasaan dan rasa tanggung jawab yang tak bisa ditanggung satu orang saja.
Mereka semua tersentak dan segera terdiam sambil menatap Rezvan dengan wajah memelas tanpa suara.
“Kalian ini remaja yang beranjak dewasa. Bukan anak TK. Hentikan debat nggak penting ini!” seru Rezvan menambahkan wejangan ketika melihat anak-anak telah kembali siap mendengarkan, “Perhatikan di sekitar kalian! Pikirkan dulu kegentingan yang ada di depan mata... Gilang, Kiki, Dovi, mereka bertiga tidak sadarkan diri. Kita tidak tahu bagaimana keadaan mereka sebenarnya. Bahkan Gilang, lihat, darah terus merembes dari kakinya. Apakah mereka harus menunggu kita yang terus debat kusir tak berkesudahan…’’
Bus kembali sunyi. Tapi bukan tenang. Melainkan padat oleh tekanan.
Pak Marta bicara pelan dari dek depan.
"Tapi, Pak… Kalau kita keluar sekarang… meski kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana. Tapi, makhluk yang mempermainkan sebuah bis bukan khayalan kita berjamaah. Itu nyata...''
Beberapa siswa mengangguk pelan. Beberapa hanya menatap kosong.
Rafandra mengepalkan tangan. ''saya tahu. saya mengerti. Kita semua merasakannya. Darah di tubuh kita, rasa sakitnya, itu nyata. Tapi, setidaknya... kita harus mencoba. Diam menunggu bantuan yang tidak jelas bukan solusi paten. Kita juga harus berusaha.''
Mereka diam. Tapi bukan setuju. Bukan juga penolakan.
Rezvan bicara lagi. "Bagaimana kalau kita cek dulu keadaan di luar?''
Mereka tetap diam.
Setelah usulan Rezvan, tidak ada yang langsung menyahut. Hanya suara napas berat, gesekan pelan kain terhadap logam, dan... suara mencicit samar dari luar.
Kriet... Kriet...
Bus masih bergoyang pelan. Miring. Tidak stabil.
“Cek ke luar?” bisik Ardi, setengah tak percaya. “Itu... beneran, Pak?”
“Lihat mereka!” Rafandra menunjuk Gilang, Kiki, dan Dovi yang masih tak sadarkan diri. “Kalau tidak sekarang, bisa terlambat. Kita tidak tahu berapa banyak waktu yang mereka punya.”
“Kalau kita buka pintu dan ada makhluk itu—terus?” suara Farel memotong. Nada keras, tapi tangan di pangkuan bergetar. “Mau mati semua?”
Rezvan menahan diri. Ia tahu kalimat seperti itu bukan untuk menyerang—tapi untuk bertahan.
“Lalu kalian mau apa? Diam di sini? Sampai berapa lama? Apa kalian yakin bis ini akan tetap bertahan?!” Rafandra mulai kehilangan kendali.
“Jangan bentak-bentak kami!” teriak Damar. “Kami bukan pengecut, tapi kami juga bukan bodoh! Di luar sana nggak jelas, Bang!”
Suasana makin panas.
“Hei, hentikan...” suara lirih Dina memotong. Pelan, tapi terdengar karena ruang itu sunyi oleh ketegangan. “saya tahu kita semua takut... tapi... kalau kita diam, kita juga nunggu mati.”
Beberapa menoleh. Tak menyangka kalimat seperti itu keluar dari Dina—salah satu dari sedikit siswi perempuan di bus itu. Tapi nada bicaranya tidak dramatis. Justru paling realistis sejauh ini. “saya bukan ngajak keluar,” lanjutnya pelan. “Tapi... kalau semua nunggu orang lain yang ambil risiko, lalu siapa yang akan gerak?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Rafandra mengangguk pelan. “Kita tidak harus keluar semua…”
Pak Marta, yang sejak tadi hanya duduk di dek depan, akhirnya bicara.
“Kalau memang harus ada yang keluar... saya usul, jangan sendiri. Minimal dua orang. Saling jaga punggung.”
Terkesiap mereka semua. Terlihat jelas raut wajah yang menunjukkan kalau bukan hal yang mereka inginkan dan sebisa mungkin mereka ingin melempar tanggung jawab kalau sampai di tunjuk.
Rafandra melihat ekspresi yang jelas adalah penolakan. Dia maklum, ‘’Cukup satu atau dua orang. Yang paling bisa bertahan. Yang lain tetap di sini, jaga kondisi teman-teman yang luka.
Rezvan menyela. “saya akan menemanimu.”
Dalam diam mereka seolah bersyukur karena ada yang mengajukan diri meski tidak ditunjuk.
Muncul gumaman setuju tapi saling tunjuk. Lalu keheningan lagi.
Rezvan berdiri pelan. Ia menatap satu per satu murid yang masih sadar. Lalu menatap Pak Marta.
“saya keluar.”
Beberapa murid langsung menoleh. Beberapa reflek ingin bicara, tapi tak satupun benar-benar bersuara. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menyimak kalimat berikutnya.
“Pak Rezvan, kita keluar sama-sama. Kita nggak akan jauh. Hanya cari tempat tinggi atau terbuka, pastikan lokasi, lalu balik. Dua puluh menit. Kalau kami nggak balik dalam waktu itu… jangan ada yang keluar nyusul. Bertahan. Tunggu.”
“Pak... yakin...?” suara Damar parau, tercekat di tenggorokan.
“Bukan soal yakin atau tidak,” jawab Rezvan. “Tapi harus ada yang bergerak, atau kita semua akan terjebak.”
Ia menatap lagi anak-anak itu. Mereka masih gemetar. Wajah-wajah muda yang baru semalam tertawa di dalam bus ini... kini penuh luka, debu, darah, dan air mata.
“Kalian bukan anak kecil. Kalian sudah cukup dewasa untuk tahu kapan harus berani, dan kapan harus jaga satu sama lain. Sekarang tugas kalian... bertahan. Jaga satu sama lain. Jangan diam. Jangan berantem lagi. Kalau bapak dan Raffandra tidak kembali... tetap tenang, bertindak bijaksana.”
Sunyi. Bus seperti menahan napas.
Rezvan dan Rafandra menyiapkan diri. Tak banyak yang bisa dibawa. Hanya senter kecil, sisa air mineral, dan patahan besi dari pegangan kursi.
“Pak...,” suara Dina memanggil pelan. Ia berdiri, mendekat sebisanya, lalu melepas syal dari lehernya. “Ini... buat penutup mulut. Kabutnya... bikin nafas nggak enak.”
Rezvan tersenyum kecil. “Terima kasih, Dina.”
Lalu Damar juga berdiri. Tangannya gemetar saat menyerahkan Cutter yang terpental entah dari mana dan ditemukan olehnya.
“Buat jaga-jaga, Bang.”
Alis Rafandra terangkat naik, dia terkejut tapi tetap mengambilnya. “Dari mana ini?”
“Enggak tahu Bang, nemu…” jawab Damar cepat, ‘’Sumpah.’’ tambahnya mencoba meyakinkan.
‘’Iya, saya percaya…’’ ujar Rafandra setengah nyinyir.
‘’Damar!’’ seru Rezvan dengan mata menyidik curiga.
“Beneran Pak, nemu saya, Pak!’’ pekik Damar serius.
‘’Cutter bis, kok Pak. Tenang, murid Bapak nggak main yang aneh-aneh saya cuma bercanda…’’ ujar Rafandra menenangkan.
‘’Bang, jangan gitu dong. Nih kalau enggak lagi begini, Pak Rezvan bisa langsung telfon orang tua saya…’’
‘’Iya, sory, sory…’’
Huuu
Sorakan ramai segera mengiringi meski hanya setengah berbisik karena mereka masih takut.
