004 Awal Kejadian
**Bab 004: Awal Kejadian**
Kabut Misterius Turun
Bandara Supadio, pukul delapan pagi, terminal Supadio masih penuh cahaya. Kaca besar di sekeliling memantulkan sinar mentari Kalimantan, cahaya mentari menembus dinding kaca bangunan, memantul di lantai marmer dan kursi tunggu, membuat seluruh bandara tampak terang dan tenang. Di apron, kendaraan bagasi bergerak menjemput koper, pesawat baru landing mulai taxi ke gate, kru apron sibuk, pilot memeriksa instrumen, penumpang berjalan di terminal dengan kafein dan suara roda koper.
Antrian panjang di check-in bergerak lambat. Penumpang sibuk menatap layar jadwal penerbangan, mengetik cepat di ponsel, atau bercakap ringan dengan keluarga. Seorang ibu menahan dua anaknya agar tidak berlarian ke kios suvenir.
Di apron, deru mesin jet terdengar dari pesawat yang sedang taxi atau take-off. NGGGGRRHHHH… BRRRTT… suara truk bagasi dan kendaraan pengangkut koper berirama mengikuti aktivitas pagi. Kru apron meniup peluit, berteriak memberi arahan, namun tak terdengar jelas di tengah riuh manusia.
Suasana padat, ramai, tapi teratur—begitulah rutinitas pagi di bandara.
Tiba-tiba, horizon utara retak seperti kaca pecah. Dari langit biru, tirai kabut tipis putih keabu-abuan menjuntai lurus menembus bumi. Sangat tipis, tapi menarik semua mata.
“Eh… itu apa?” seorang penumpang menunjuk keluar jendela kaca besar.
“Awan… ya kan?” suara lain terdengar ragu, tapi matanya tidak lepas dari tirai yang menempel dari langit hingga apron.
Kru apron berhenti menata bagasi, mulut ternganga. “Pak… kabut itu… turun ke runway!”
Di menara kontrol, layar radar tiba-tiba padam total, panel komunikasi diam serentak. Alarm elektronik berbunyi sebentar lalu senyap.
Petugas menara panik.
“Semua sistem mati? Apa yang terjadi?!”
Di apron, kendaraan bagasi melambat, lampu panel mati, mobil listrik berhenti mendadak.
Supervisor berteriak, tapi suara teredam oleh jarak. “Kita harus evakuasi pesawat! Semua staf, ke posisi aman!”
Pesawat yang baru landing berhenti di runway, mesin mati. Pilot menepuk helm, menatap instrumen kosong. Di udara, beberapa pesawat yang mendekat kehabisan kontrol otomatis, hilang komunikasi seketika. Suasana hening—hening yang mencekam.
Seorang ibu mendekap putrinya yang berdiri tepat di balik jendela kaca. “Lihat… kabut itu… sampai tanah!”
“Kenapa… kenapa warnanya berbeda?” anaknya berbisik, matanya melebar.
Dari jauh, tirai tipis itu tampak menggantung seperti selimut raksasa, meski sebenarnya sangat tipis. Efeknya diperkuat oleh pantulan kaca terminal dan redupnya cahaya di apron. Beberapa kru menatap satu sama lain, bingung antara kagum dan takut.
Para pengunjung bandara berhenti sejenak, mata menempel ke tirai yang menjuntai dari langit ke bumi, tampak masif dan menakutkan. Beberapa berbisik, beberapa membeku.
Beberapa orang secara refleks mengambil ponsel, mulai merekam. Cahaya layar menyorot wajah mereka, tangan bergetar sedikit.
“Lihat itu… sampai tanah…” seorang pria berbisik, matanya melebar.
“Apa itu… bisa dilalui?” bisik seorang wanita, menunduk sambil merekam.
“Seperti dinding… tapi… bagaimana bisa?” gumam anak muda lain, anganhya sibuk mencari-cari gadget di kantongnya.
Banyak orang mulai mengambil ponsel untuk merekam. Tapi begitu melihat layar… Gelap, hitam. Bagaimanapun tombol di pencet, mati total. Tidak ada reaksi.
“Eh… kenapa nggak nyala?” seorang wanita berteriak, mencoba menekan tombol beberapa kali.
“Semua mati…” gumam pria di sampingnya, matanya melebar menatap layar hitam.
Anak muda lain menekan tombol rekam, layar tetap gelap. Sebuah getaran cemas menyebar di antara penumpang.
Orang-orang saling bertukar pandang, kebingungan dan bahkan sebagian merasa ketakutan, perasaan yang mulai muncul perlahan. Tirai masif itu tetap menjuntai diam, tak bergerak tapi mengintimidasi dengan ukurannya, sementara perangkat mereka yang biasa memberi kontrol, kini tidak berguna sama sekali.
Hentakan EMP
Sekejap, terminal dan apron berubah menjadi tempat hening yang mencekam.
PLAK! Semua monitor jadwal penerbangan mati serentak. Lampu indikator padam, layar hitam menatap kembali ke penumpang.
BRRRTTT! Komputer check-in, scanner bagasi, lift, dan eskalator berhenti mendadak. Roda koper meluncur berhenti, tumpukan koper terhenti di tengah jalur.
Speaker pengumuman yang biasanya mengumandangkan suara riang pilot dan boarding call, kini hanya mengeluarkan desis panjang: sssshhhh… lalu senyap total.
Detik pertama, keheningan menyesakkan. Penumpang saling menatap, bisik-bisik mulai terdengar:
“Kok… tiba-tiba hening ya?” seorang pria gemetar.
“Mesin… bunyinya… nggak ada lagi,” gumam wanita sambil menempelkan tangan di dada, matanya melebar.
Di lain tempat kejadian dramatis terjadi.
Lift mendadak berhenti. Lampu kabin padam total, tombol tidak berfungsi. Penumpang yang sedang naik terperangkap di antara lantai, gelap, hening, udara terasa berbeda.
Refleks manusia modern: hampir semua orang mengambil ponsel untuk penerangan atau menelepon. Tapi layar tetap gelap, tombol tidak berfungsi—mati total, sama seperti yang lainnya.
Beberapa menempelkan tangan di dinding, saling menggenggam, napas terdengar cepat. Bisik-bisik panik mulai muncul. “Kenapa… nggak nyala juga?” gumam seorang pria, matanya berkelap-kelip di kegelapan. Anak-anak mulai resah, orang tua menunduk mencoba menenangkan.
Di luar, seluruh elektronik terminal dan apron. Lift diam di kegelapan, ketegangan psikologis memuncak.
Beberapa orang mencoba menekan tombol lift dan eskalator → tidak ada reaksi, layar gelap, tombol mati.
Detik-detik pertama terasa hening mencekam. Tidak ada deru mesin, tidak ada bunyi tombol atau lift, hanya bisik dan napas yang bergema samar. Panik belum pecah total, tapi ketegangan sudah mulai merayap ke setiap sudut kabin.
Di seluruh kawasan bandara.
Hening itu nyata dan menakutkan. Tidak ada deru mesin pesawat, tidak ada dengung lampu, tidak ada bunyi elektronik. Hanya terdengar napas, langkah kaki yang bergema samar-samar, dan suara gesekan koper di lantai marmer.
Seorang kru apron menjerit: “Semua sistem mati! Evakuasi manual sekarang! Cepat!”
Suasana berubah dari tenang sibuk menjadi bingung dan tegang, sementara tirai kabut misterius tetap menjuntai di horizon, diam, mengancam tapi tak bergerak.
Landasan
Ground staff bergerak cepat, mendorong bagasi, mengarahkan kendaraan towing, sementara fuel truck meluncur perlahan ke pesawat yang bersiap take-off. Boeing 737 baru saja mendarat, roda menyentuh landasan dengan decit tipis. Suasana biasa, riuh rendah, tapi terkendali.
Detik berikutnya, semuanya hening.
PLAK! Semua monitor jadwal penerbangan mati.
BRRRTTT! Scanner bagasi, komputer check-in, lift, dan eskalator berhenti serentak.
Speaker hanya bersuara desis tipis: “Ssshhh…” lalu senyap.
Ground staff menatap satu sama lain, mata membesar. Mereka menepuk panel kontrol, mengetuk kabel, mencoba menyalakan ulang. “Kok… nggak nyala juga?” gumam seorang teknisi sambil memutar panel.
Di apron, Boeing 737 yang baru mendarat terseret beberapa meter, roda berdecit sebelum akhirnya berhenti. Pilot menepuk kokpit, menekan throttle, memutar layar kontrol—tidak ada respons.
Di ujung lain, pesawat siap lepas landas meluncur perlahan. Mesin mati total. Pilot menekan pedal rem, membuka spoiler, namun momentum masih membuat pesawat terseret beberapa meter di lintasan, meninggalkan jalur yang sunyi. Napas awak kabin terdengar cepat, tangan menepuk-nepuk jendela kaca, anak-anak menangis kecil, orang dewasa berbisik panik.
Kendaraan apron—towing, baggage cart, fuel truck—diam serentak. Beberapa terguncang tipis di permukaan aspal tidak rata, tapi gravitasi menahan agar tidak meluncur liar. Petugas berlari ke kendaraan mati, mengetuk panel, mencoba menyalakan ulang, melambai ke pesawat, mencoba komunikasi manual.
Suasana menjadi hening mencekam. Hanya terdengar langkah kaki, desisan napas, dan beberapa tabrakan ringan kendaraan. Keheningan ini begitu nyata, menekan psikologi semua orang yang berada di landasan.
Semua menyadari satu hal: sistem dan teknologi yang biasa diandalkan kini tak berguna sama sekali.
Menara Kontrol Bandara Soekarno Hatta
Pagi itu, menara kontrol Soekarno-Hatta dipenuhi deru monitor, suara radio, dan ketukan tombol panel. Operator saling berkoordinasi, memantau jadwal keberangkatan, kedatangan, serta pergerakan pesawat internasional yang masuk wilayah udara Indonesia. Cahaya mentari menembus jendela besar, menyoroti wajah para petugas yang serius menatap layar radar.
“Garuda 747, cleared for landing, runway 3,” suara seorang operator terdengar tegas.
“AirAsia 320, check altitude… maintain flight level dua tiga nol,” balas operator lain sambil mengetik cepat.
Semua berjalan seperti biasa—sibuk, teratur, tapi terkendali.
Tiba-Tiba Ada Keanehan
Seorang operator muda, Rafi, menatap layar dengan mata membesar. “Eh… ini… kenapa radar Bandara Supadio… hilang sinyal?”
Teman sebelahnya menoleh, memicingkan mata. “Cek ulang… mungkin gangguan sementara.” Ia mengetuk panel, mencoba memanggil teknisi internal.
Tak lama, satu per satu petugas lain mulai menunjuk ke monitor masing-masing.
“Bandara Balikpapan juga… kosong!”
“Makassar… tidak ada respon dari kontrol…!”
Kepala shift, Pak Hari, menekuk tubuh ke depan, menelan ludah. “Tidak mungkin hanya satu atau dua… ini… banyak!”
Rangkaian telepon ke bandara-bandara lain mulai dilakukan. Beberapa diangkat, beberapa langsung sibuk. Tapi satu per satu, suara operator di sisi lain hanya terdengar statis, kemudian hilang.
“Pak… komunikasi putus total!” teriak seorang petugas.
“Teknisi… cepat! Cek jalur utama!” seru Kepala Pengawas.
Detik demi detik berlalu. Layar radar tetap gelap, titik-titik pesawat yang semestinya terlihat satu per satu lenyap tanpa jejak.
“Pak… pesawat Jakarta–Pontianak… hilang dari radar!” Rafi hampir berteriak, wajah pucat.
“Tidak mungkin… cek lagi, cek ulang!” Pak Hari menekan tombol dengan panik, mengetuk panel, menepuk kabel—semua sia-sia.
Di sisi lain, operator muda menatap layar cadangan, suara bergetar: “Pak… semuanya… semuanya, hilang kontak!”
Kepala shift menelan ludah, keringat menetes di pelipis. Ia memutar kursi, menatap seluruh tim. “Satu-satu… catat semua yang hilang. Jangan panik. Tetap prosedur!”
Kepanikan mulai terasa, tapi masih dalam batas terkendali—ketidak tahuan membuat semuanya menahan napas. Layar radar yang biasanya penuh titik pesawat kini menunjukkan kosong total di beberapa wilayah. Beberapa pesawat yang semestinya terpantau kini hilang seketika.
“Pak… Lion 789, posisi terakhir di Sulawesi… hilang dari radar,” suara operator lain bergetar.
“Ap… apa maksudmu hilang?” Kepala shift menatap layar, jantungnya berdegup kencang.
Petugas menara menatap layar radar yang kosong, napas terengah, tangan gemetar menekan tombol-tombol yang tak bereaksi.
“Pak… semua… semua radar bandara Kalimantan hilang dari layar,” suara Rafi gemetar, menahan panik.
Kepala shift, Pak Hari, mengerutkan kening. “Jangan panik. Cek ulang semuanya. Sistem cadangan, backup radar, jalur komunikasi internal!”
Seorang operator menepuk panel, mengetuk kabel, bahkan menekan tombol dengan keras. “Masih… tidak ada respon, Pak!”
Suara langkah kaki tergesa di lantai menara. Operator lain menoleh, mencoba memahami apa yang terjadi. Di layar, titik-titik pesawat yang semestinya terlihat—sejumlah pesawat domestik dan internasional—hilang seketika, satu per satu.
“Ini… ini tidak mungkin,” gumam seorang petugas, menelan ludah.
Pak Hari menoleh ke teknisi di sampingnya. “Cek ulang dari awal. Jangan panik. Semua prosedur internal, sekarang juga!”
Teknisi mengangguk, berlari ke panel cadangan, mencoba menyalakan ulang sistem. Tapi layar tetap gelap, tombol tetap mati. Keheningan menara semakin mencekam, hanya terdengar suara napas dan ketukan kaki yang tergesa.
Suara langkah kaki cepat, bisik-bisik cemas, ketukan panel yang semakin keras. Seorang teknisi hampir menjerit: “Pak, backup… backup juga mati!”
Pak Hari menatap mereka, berusaha menahan panik sendiri, tetapi suaranya bergetar saat berkata, “Semua… semua jalur komunikasi putus… tuliskan, tuliskan semuanya… sekarang!”
Operator lain menepuk-nepuk headset, memeriksa kabel radio, mencoba intercom—tidak ada yang merespon. Titik pesawat terus menghilang, satu per satu.
Seorang petugas menunduk, menutupi wajah dengan tangan, napas terengah: “Ini… ini terlalu banyak… lebih dari lima pesawat… jumlahnya… terus bertambah?”
Ketegangan meledak di ruangan. Ada yang berdebat sengit, ada yang menepuk meja. Bahkan yang biasanya tenang mulai gemetar. Panik kolektif perlahan mengambil alih, tapi masih ada upaya kontrol.
Pak Hari memukul meja, suara parau: “Tetap fokus! Jangan bertindak gegabah! Catat semuanya, koordinasi internal—siapapun yang masih punya jalur komunikasi, gunakan sekarang!”
Setiap petugas menatap satu sama lain, mata membesar, jantung berdetak cepat. Belum ada yang tahu apa penyebabnya. Belum ada yang tahu apakah ini sebentar atau awal dari sesuatu yang lebih buruk.
Beberapa menit berlalu. Petugas menara mencoba segala cara: menepuk panel, mengetuk kabel, bahkan menyalakan sistem cadangan. Semua sia-sia. Mesin mati total. Pesawat hilang. Bukan satu, tapi belasan.
Hening. Napas terdengar berat, satu per satu petugas menelan kecemasan. Kepala shift berdiri, memandang ke seluruh ruangan. “Kalau kita tidak lapor… ribuan nyawa…” gumamnya, suara serak.
Petugas senior melangkah maju, mengambil telepon darurat.
“Siap, kita lapor ke pihak berkepentingan,” kata kepala shift. “Tapi… jangan panik. Laporkan fakta. Tidak berspekulasi.”
Detik-detik berikutnya menjadi rapat darurat improvisasi. Telepon berdering, radio cadangan diaktifkan. Mereka menghubungi pusat otoritas penerbangan nasional.
Suara operator menjawab, terkejut. “Ini… apa maksudnya? Belasan pesawat hilang sekaligus?”
Kepala shift menahan suara, menyampaikan dengan tenang: “Bandara Supadio, Haluoleo, Sam Ratulangi, Frans Kaisiepo, dan Rindani... Layanan radar, komunikasi, mesin cadangan—mati. Pesawat yang sedang terbang tak bisa dikontak. Semua sistem lumpuh.”
Sejenak, terdengar keheningan panjang di ujung sambungan. Kemudian suara mendesah: “Absurd… tidak mungkin terjadi sekaligus…”
Namun kepala shift menahan kesal dan berkata: “Ini nyata. Kami melihatnya sendiri. Kami tidak menambahkan apa pun. Tolong ambil langkah sesuai prosedur darurat.”
Petugas di ujung telepon mulai menggerakkan jaringan, memeriksa koordinasi dengan bandara lain. Beberapa mengamuk, menilai laporan itu mustahil. Lainnya panik, mencoba menyusun langkah mitigasi.
Kembali di menara kontrol, petugas mencatat setiap detik: waktu hilangnya pesawat, nomor penerbangan, posisi terakhir. Kepala shift menatap catatan, kemudian mengangkat radio: “Siapkan semua protokol evakuasi dan koordinasi internasional. Jangan tunggu sampai nyawa terancam!”
Di seluruh ruang, udara terasa panas meski AC dinyalakan di angka maksimal. Semua menatap layar kosong, menahan napas. Setiap dering telepon, setiap nada radio menambah ketegangan. Mereka sadar: satu kesalahan kecil bisa merenggut ribuan nyawa.
“Apakah… kita hentikan penerbangan?” tanya operator lain, suaranya tegang.
“Belum!” Kepala shift berdeham. “Kita harus konfirmasi dulu… jangan buat keputusan panik. Semua masih belum tahu apa yang terjadi!”
Interkom berdering, laporan dari bandara lain: “Kami juga kehilangan kontak dengan beberapa bandaranya… semua sistem mati mendadak…”
Seketika, ruang menara berubah menjadi pusat kegelisahan. Operator saling berpandangan, satu demi satu menatap layar yang kosong dan senyap, menyadari bahwa ini bukan masalah teknis biasa.
“Siapkan protokol darurat komunikasi manual,” perintah Kepala shift. “Kirim tim ke lapangan. Catat semua yang bisa dicatat. Kita… kita masih punya waktu untuk mitigasi—tapi ini gawat.”
Di setiap kursi, para petugas menara menyadari satu hal: ratusan ribu nyawa, di udara, berada di tangan mereka, dan mereka sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Menara Kontrol Bandara Internasional Lain — Gelombang Kekacauan
Menara kontrol Changi, Singapura, operator sibuk memantau layar radar dan jalur penerbangan internasional. Suasana normal, tapi tegang—ramai dengan komunikasi lintas negara, panggilan dari maskapai, dan laporan cuaca.
Tiba-tiba, layar radar berkedip. Titik-titik pesawat menghilang satu per satu.
“Eh… tunggu sebentar, ini aneh,” gumam seorang operator, matanya terpaku pada monitor. “Semua penerbangan ke Indonesia… tidak ada respon.”
Operator lain mencoba menelpon jalur cadangan. “Jalur komunikasi ke Bandara?”
Nada sibuk terdengar di speaker. Beberapa detik berlalu, tiada jawaban. Hanya desis napas operator terdengar.
Di Bangkok, Narita, dan Kuala Lumpur, adegan serupa terjadi. Menara kontrol sibuk mengecek radar, mencoba berbagai jalur komunikasi, tetapi bandara-bandara terdampak di Kalimantan dan beberapa lainnya tampak putus total.
Seorang petugas di Kuala Lumpur meneguk ludah, tangannya gemetar. “Kami kehilangan kontak dengan semua penerbangan yang seharusnya melintasi Indonesia!”
“Laporkan ke otoritas regional,” perintah kepala menara, mencoba menenangkan tim. “Tetap pantau jalur lain, jangan panik…”
Di Changi, operator lain mencoba menghubungi Tokyo dan Hong Kong. Nada panik mulai terdengar. “Kami juga mengalami gangguan pada jalur komunikasi Indonesia!”
Kepala pengawas Changi mengetuk meja, mencoba mengatur ketegangan. “Fokus. Catat semua penerbangan yang hilang, gunakan jalur cadangan. Jangan sampai kepanikan meluas sebelum kita verifikasi.”
Namun di setiap layar radar, titik-titik merah terus menghilang. Suara operator bercampur dengan panggilan telepon internasional, suara berteriak, desis napas, dan klik panik tombol komunikasi.
Di Eropa, otoritas penerbangan menerima laporan: pesawat yang menuju Asia Tenggara tiba-tiba hilang dari radar, dan setiap usaha menghubungi bandara Indonesia gagal. Diskusi panik terjadi di ruangan kontrol:
“Apakah ini masalah sistem?”
“Tidak mungkin… radar dan komunikasi kami normal!”
“Lalu bagaimana bisa semua jalur ke Indonesia terputus?”
Dalam hitungan menit, kebingungan internasional berubah menjadi kepanikan terkendali, setiap menara mencoba memverifikasi situasi, melaporkan ke atasan, dan menyiapkan prosedur darurat. Namun satu hal jelas: sesuatu yang tidak biasa dan sangat serius sedang terjadi di sepanjang garis ekuator.
Setiap petugas menara sadar: ratusan, bahkan ribuan nyawa kini tergantung pada informasi yang tidak pasti, dan keputusan cepat harus dibuat—meski fakta yang sebenarnya masih samar.
