Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

002 Teror di Kegelapan

**Bab 002: Teror di Kegelapan**

Darahnya serasa surut seketika. Rezvan terperanjat, tubuhnya menegang, nyaris membeku. Namun hanya sepersekian detik ia terhenti—lalu segera tersentak bangun dari keterkejutannya dan bergerak cepat menuju pintu. Tapi…

SYUUTTT GRABB

Tiba-tiba orang yang bersimbah darah itu menghilang setelah disambar oleh sesuatu yang tampak sangat besar dan berat.

Tubuh Rezvan segera ditahan oleh Rafandra yang saat itu ada berada persis di belakangnya dan melihat dengan jelas kejadian yang baru saja terjadi. Tangan Rafandra yang gemetar mencengkram tangan Rezvan yang hendak membuka pintu bis.

Rafandra menggelengkan kepalanya berkali-kali, meminta Rezvan menghentikan apapun tindakan heroik yang hendak dilsayakannya. Sorot mata Rafandra jelas memberikan peringatan kepada Rezvan meski terpancar pada ekspresinya kalau dia juga ketsayatan.

''Kita harus tahu apa itu!'' seru Rezvan setengah berbisik tapi sorot matanya tajam menatap kenek bis.

''Saya juga sama penasarannya sama bapak... tapi lihat situasinya!'' sahut Rafandra yang tak gentar menatap balik sorot mata Rezvan yang merasa kesal karena baru saja ada orang yang butuh pertolongan tapi jadi terabaikan meski Rezvan juga menyadari kalau dia cukup senang karena telah ditahan oleh Rafandra. Rezvan bisa merasakan kalau sesuatu yang baru saja menyambar orang yang bersimbah darah barusan adalah sangat berbahaya.

''Bapak juga bisa lihat kalau dia terluka... dia butuh bantuan...'' ujar Rezvan dengan tegas berusaha meyakinkannya.

''Kita bisa bantu dia, kalau kita juga aman! Masalahnya, kita berdua sama-sama lihat apa yang barusan menyambar dia... itu bukan hal yang biasa kita tahu... Pak guru sama saya juga bisa mengerti kalau itu berbahaya...''

''Lalu, apa kita harus diam saja?!'' sahut Rezvan tegas setelah sedikit keberaniannya mulai kembali terkumpul.

''Jangan lupa pak... tanggung jawab utama bapak adalah mereka yang ada di dalam bis ini, murid-murid bapak...''

Rezvan terdiam mendengar ucapan Rafandra, kenek bis bertubuh tegap yang menahannya agar tetap diam di dalam dan tidak mencoba membuka pintu sebelum mereka benar-benar yakin kalau di luar bis seaman di dalam bis, untuk saat ini.

Rezvan menoleh mencoba memperhatikan wajah muridnya dalam kegelapan.

Beberapa saat kemudian akhirnya dia mengalah, mengikuti saran kenek bis yang tak diduga bisa mengintimidasi dengan ketegasannya yang tampak tidak biasa.

Rezvan mulai memperhatikan gerak-gerik Rafandra. Sejak bis memasuki kabut, pria itu tampak cermat memindai sekeliling, seolah membaca sesuatu yang tak terlihat oleh mata orang biasa.

Sejak awal, firasat Rezvan mengatakan: pria ini tak biasa.

“Bang, nama saya Rezvan. Abang?” tanya Rezvan perlahan.

“Rafandra,” jawabnya singkat, datar, tanpa menoleh.

Rezvan memang merasa kesal dengan sikap Rafandra tapi harus mengalah. Dia kemudian menoleh pada pria paruh baya di kursi kemudi, “Pak supir?” tanya Rezvan.

“S-sa-saya... Marta...” suara sopir terdengar gugup.

“Lalu kita harus gimana sekarang? Nggak mungkin kita cuma duduk nunggu kayak—”

Belum selesai Rezvan berbicara, mata Rafandra tiba-tiba melebar. Wajahnya menegang.

“Semua turun! Merunduk di bangku sekarang!!” pekik Rafandra tiba-tiba, lalu berlari ke arah murid-murid yang masih terdiam, bingung.

Hanya dalam hitungan detik...

GRAK!! GUBRAK!!

Sesuatu menghantam bis dengan keras, membuat kendaraan besar itu berguncang hebat, nyaris terbalik.

SREEEKKK!!

Bunyi gesekan tajam mengoyak badan bis—seperti logam disayat sesuatu yang sangat kuat.

BRAG! BRAG! BRAG!

Langkah berat menggetarkan tanah. Gema suaranya begitu nyata hingga terasa langsung di dada. Setiap derapnya mengguncang bis seperti gempa kecil. Diiringi hembusan napas kasar—dalam, berat—dan geraman rendah yang membuat bulu kuduk berdiri.

Murid-murid tak bisa melihat wujud makhluk itu. Kabut terlalu tebal. Rafandra juga memerintahkan mereka untuk menunduk dan diam. Tapi suara-suara itu cukup untuk menciptakan teror.

Beberapa dari mereka mulai menangis dalam diam. Yang lain menggigit lengan baju, mencoba menahan isak.

DUG! BRAK! DUG! GUBRAK!

Makhluk itu terus menghantam bis—entah karena penasaran, atau sedang mencari sesuatu.

DEG. DEG. DEG.

Degup jantung bersahutan. Nafas tertahan. Ketsayatan menebal seperti udara yang mengeras.

Setiap kali bis terguncang, jeritan tertahan terdengar. Tapi mereka tahu: satu suara saja bisa jadi undangan maut.

Air mata menetes deras. Keringat dingin mengalir. Tubuh gemetar hebat. Ekspresi penuh teror membekukan wajah-wajah muda. Imajinasi mereka memutar-mutar bayangan kekacauan—berdarah, tragis, tak tertolong.

“I-i-ibuu...”

“A-a-a-yahhh...”

“Aku takut... Ngeri...”

“Seharusnya aku nggak ikut... harusnya aku di rumah aja...”

“Kenapa study tournya ke sini? Kenapa nggak ke Borobudur kek, atau ke mana gitu...”

“Prank... ini pasti cuma prank...”

“Aku mau pulang...”

“Ini cuma mimpi. Ini cuma mimpi...”

“Bego! Harusnya aku masuk SMA! Kenapa malah SMK Teknik—isinya cowok semua! Coba masuk SMA, paling nggak bisa ngerasain pacaran!”

Penyesalan. Keluhan. Doa-doa lirih dalam hati. Semua bergema di tengah kegelapan yang nyaris menelan mereka.

Di sisi lain, Rafandra bersandar di pintu keluar bis, matanya tajam mengamati setiap pergerakan. Rezvan, berjongkok di antara bangku, ikut memperhatikan dengan rahang mengeras.

GRRHH... HURRFF... GRRHH... HURRFF...

Hembusan napas kasar kembali terdengar. Berat. Panjang. Mengendap-endap.

Makhluk itu belum pergi.

Dan masih belum ada yang tahu... apa yang sebenarnya terjadi.

KRANGG!!

Benturan tiba-tiba menghantam sisi bus dengan kekuatan luar biasa. Tubuh-tubuh terpental. Suara jeritan langsung meledak bersamaan dengan dentuman logam yang melengking.

DUAAARR!!

Bus terguncang hebat. Lalu...

KREEEEKKKKKK...

...mulai terguling.

“AAAKKKHHHH!!”

“PEGANGAN!!”

“KITA MUTER!! KITA MUTER!!”

BRAKK!! GRUKK!!

Kaca-kaca pecah. Badan bus menghantam tanah, pohon, mungkin batu. Setiap benturan seperti pukulan palu menghantam tulang-tulang mereka.

Tubuh-tubuh terpental dari kursi. Beberapa siswa terlempar ke langit-langit bus, lalu menghantam lantai. Rezvan menabrak sandaran bangku dan merasa sesuatu di dalam dadanya robek. Rafandra menghantam dinding besi, pelipisnya sobek. Marta si supir, tergencet setengah badannya di bawah setir, berteriak dalam napas yang tercekik.

KRRRANGG!!

Bus berhenti berguling. Tapi kini miring tajam. Suara di luar masih terdengar—berat, bergema, seperti sesuatu yang sangat besar sedang menggeser mereka... mendorong mereka.

DUUG!! GRUUUKKK!! DUGGHH!!

Tanah bergetar setiap kali makhluk di luar menyentuh badan bus.

HHRRRGHHHH!!

Suara hembusan nafas kasar menggema di balik kabut, membuat kulit semua orang meremang seketika. Tak ada yang bisa melihat bentuknya. Tak ada yang berani mengintip keluar jendela, apalagi mendekat ke pintu.

Sunyi.

Tidak ada hantaman. Tidak ada raungan. Hanya suara desis—dari napas tergesa, embusan angin lembab, atau mungkin... suara kabut yang menyusup perlahan melalui celah kaca pecah.

Gelap.

Posisi bus miring hampir terbalik, tersangkut di antara tunggul pohon dan tanah tak rata. Arah gravitasi seolah berubah. Lantai jadi dinding. Kursi jadi penghalang. Kaca-kaca di sisi kiri pecah. Logam berderit pelan setiap kali ada yang bergerak di dalam.

Rezvan mulai tersadar. Tubuhnya terhempas ke sisi bangku yang kini berada di atasnya. Bahunya terasa remuk. Kacamata hilang entah ke mana. Darah hangat mengalir dari pelipis kanan.

“...Aah...”

Dia menggeram pelan. Setiap tarikan napas menimbulkan rasa sakit. Perutnya seperti ditendang keras.

Di dalam, suasana memburuk.

Darah.

Isak tangis.

Erangan.

Jeritan anak-anak yang kesakitan dan ketsayatan.

“Tolong...”

“saya gak bisa gerak, kakiku...!”

“Hape mati semua...! Gelap banget... tolong!”

“Pak... Pak Guru... tolong...”

Rezvan mendengar semuanya tapi nyaris tak bisa merespons. Dunia berputar. Darah mengalir di dahi. Bahunya terasa lepas. Ia berusaha berbicara, tapi hanya suara parau yang keluar.

Di dekatnya, Rafandra setengah bangkit. Napasnya terengah. Satu sisi wajahnya berdarah. Tapi matanya menyapu sekeliling. Insting lamanya menjerit, harus bangkit, harus hitung korban, harus lindungi yang masih bisa diselamatkan.

Tapi ini bukan zona tempur biasa. Bukan operasi militer. Ini neraka asing. Dunia yang bahkan tidak dikenalnya.

“Pak... Marta...?”

Suara Rafandra rendah dan berat. Ia mendekat ke kabin. Marta tampak setengah sadar, tubuhnya menggigil, darah menetes dari dahinya. Tapi ia masih hidup.

GGRRRUUUHHHHHH...

Makhluk itu—atau apapun—masih ada di luar. Tidak menyerang. Tapi jelas sedang mendorong. Menggeser mereka.

Tapi tak ada yang bisa menyimpulkan itu.

Yang terasa di dalam hanya satu hal: mereka diserang, dijatuhkan, ditarik ke dalam kematian.

Rafandra menggertakkan gigi. Lalu berteriak:

“SEMUA! YANG MASIH BISA GERAK, BANTU YANG LUKA!! DUDUK DI TEMPAT PALING RENDAH, JANGAN BANGKIT! TUNGGU INSTRUKSI!!”

Suara itu membelah ketakutan. Membuat beberapa siswa yang masih sadar mulai bergerak—dengan lutut gemetar, dengan tangan gemetaran, menahan rasa ingin muntah.

Rezvan akhirnya duduk, bersandar. Nafasnya berat.

“Apa... kita diserang?” tanya suara lirih, Sari, dari salah satu kursi belakang.

“Entahlah...” gumam Rezvan. “Entah… Bapak tidak tahu. Yang jelas sekarang, kita bertahan dulu.’’

KREEEK. GRUUUK. DUG. KRAAANG.

Suara dari luar mulai terasa menjauh... atau mungkin mereka sedang menunggu. Menunggu dalam diam bak teror senyap.

Tapi tak ada yang tahu.

Tak ada yang mengerti..

Apa yang sedang terjadi, makhluk apa yang ada di luar sana.

Dan yang paling menyakitkan dari semua ini adalah satu hal: mereka sendirian.

Suara rintihan menyusul. Dari arah lain, Damar, Ardi, dan beberapa siswa mulai bergerak—atau mencoba. Seseorang menangis tertahan. Yang lain memanggil nama temannya dengan suara serak.

“Pak... Pak Rezvan...”

“Tenang... diam dulu... jangan gerak sembarangan,” desis Rezvan dengan nafas terbata.

Kabut tipis menyusup dari pecahan kaca. Dingin menggigit kulit basah keringat. Bau logam dari darah, karet terbakar, dan besi panas memenuhi udara.

Ciiik... krrkk... suara logam bergesekan ketika Rafandra menarik tubuhnya dari sela bangku. Satu lutut berdarah, tangan kirinya mencengkeram tiang yang kini menghadap miring ke bawah. Napasnya terengah, tapi matanya fokus.

“Semua yang bisa dengar suara saya... jangan panik!” serunya setengah berbisik, tegas, “Cek tubuh kalian... ada yang luka parah?!”

Tidak ada yang langsung menjawab. Tapi satu per satu muncul reaksi.

“Kaki saya kejepit...”

“Tangan saya berdarah...”

“Sakit... dada saya...”

“Pak... saya nggak bisa gerak...”

Tangisan mulai terdengar lagi. Kali ini lebih lirih. Lebih teredam. Suara dari tubuh yang mulai menyadari bahwa mereka hidup... dan sakit.

Tumpukan bangku di bagian belakang bus menutupi jendela darurat. Beberapa siswa tertindih logam dan tas berat. Suara rangkakan jadi satu-satunya yang bisa dilakukan untuk berpindah.

“Pak Marta?! Pak Marta...!”

Rafandra memanjat sisi samping bis, menuju bangku kemudi yang kini miring di atas. Marta—sopir—masih tergantung di sabuk pengaman. Darah menetes dari pelipisnya. Matanya sayu, tapi masih membuka.

“Ma—Marta, masih bisa dengar saya?”

“saya... dengar... saya mendengarmu...” gumam Marta lemah.

Rafandra segera menarik sabuknya, menurunkan tubuh Marta perlahan agar tidak jatuh. Gerakannya terhambat, sempit, tapi tenang. Kepanikan sudah disimpan di dalam.

Rezvan mulai membungkuk dan merangkak, menyusuri lorong yang kini seperti dinding vertikal. Tangannya gemetar, tubuhnya limbung. Tapi dia terus mencari satu per satu siswanya. Menyentuh kepala mereka, menepuk pelan bahu yang gemetar.

“Ardi... Damar... kalian masih di sini?”

“Iya pak... kita... kita di sini...”

Tiba-tiba—

KREEEEK.

BRUGKK.

Satu sisi bus bergeser perlahan, tapi detik berikutnya tubuhnya seketika merosot, berguncang hebat. Dentuman kayu dan bunyi retak terdengar di bawah, jelas sesuatu yang menahan berat bus telah amblas. Udara di dalam bus bergetar, napas tertahan, dan rasa panik merayap perlahan ke setiap penumpang.

Teriakan spontan terdengar. Semua tubuh mencengkeram apapun yang bisa digenggam.

“Diam! Jangan gerak dulu!” bentak Rafandra.

Sunyi lagi.

Lalu... suara parau pelan dari luar.

HHRRRUFFFF...

Samar. Seperti napas binatang besar. Tapi jauh. Tidak mengarah ke mereka. Kabut pekat menelan dunia luar. Tidak ada yang tahu... seberapa dekat atau jauh makhluk itu.

Rezvan menelan ludah. Dia menatap ke sekeliling, ke wajah-wajah muda yang masih pucat dan bingung. Beberapa mencoba berdiri tapi terpeleset. Yang lain saling bantu dengan tangan gemetar.

Mereka seperti baru dilahirkan kembali... ke dunia asing yang tidak menyambut.

“Dengar bapak baik-baik,” ucap Rezvan akhirnya. Suaranya pelan, tapi tegas. “Kita nggak tahu ini di mana. Kita nggak tahu itu apa. Tapi... kita masih hidup. Dan sekarang... kita harus keluar.”

Kepala-kepala mulai menoleh. Perhatian mereka terarah. Tak ada harapan di mata mereka—tapi ada kebutuhan akan kepemimpinan.

“Guru kalian benar. Ayo kita dorong bangku-bangku ini ke samping. Cari celah jendela yang bisa dilewati. Yang masih bisa bergerak... bantu saya buka akses.”

“Baik,” jawab anak-anak singkat, mereka memaksa tubuhnya untuk bangkit menahan rasa sakit yang mendera.

KRRRTKK—

KRAKK—

Mereka mulai bekerja.

Dengan lutut berdarah, tangan gemetar, dan nafas berat...

Mereka mulai bertahan.

Bus masih diam. Tapi suara mencicit logam bergesekkan terasa ngilu memekakan telinga.

Rafandra merangkak menuruni sisi miring lorong bus. Keringat dingin di pelipisnya bercampur darah yang mulai mengering. Nafasnya kasar, terpotong-potong. Ia menyibak tas-tas berserakan, tubuh-tubuh yang setengah sadar, dan bangku-bangku roboh.

Matanya menyapu ruang remang itu—mencari, menghitung.

Empat... lima... tujuh... sepuluh...

Beberapa mulai sadar, beberapa menangis. Tapi ada dua tubuh... yang tak bergerak sejak tadi.

Keduanya tergencet di antara rangka kursi dan jendela pecah. Tubuhnya terbenam diantara kursi, kepala terkulai dengan posisi aneh. Yang lain, diam tak berdaya dengan tubuh terkapar diatas sandaran kursi seperti jungkat jungkit.

Rafandra langsung merangkak cepat ke arah mereka.

“Hey... hey, kamu dengar saya?” tangannya menepuk pelan bahu siswa pertama. Tidak ada respons. Dada tak bergerak. Ia cek denyut. Urat di leher. Nadi.

Tidak ada.

Panik. Ia beralih ke satu lagi.

“Coba bangun. Ini bukan waktunya tidur. Dengar?!” ujarnya lirih tapi keras. Ia goyangkan tubuh itu pelan, masih berharap.

Tidak ada respon. Tidak ada nafas.

Keduanya diam.

Rezvan merespon reaksi panik Rafandra, dia segera menoleh lalu menghampiri.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel