Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Hamil

Semenjak kemarahan Bintang ketika Purnama diantar pulang oleh Alex, Purnama benar-benar menjaga jarak dengan Alex dan lelaki mana pun di kantornya. Kalau Bintang tidak bisa menjemputnya maka ia lebih memilih naik ojek online.

Sejak pagi Purnama merasa tidak enak badan namun karena ada banyak kewajiban yang harus ia tunaikan di kantornya maka Purnama memaksakan diri tetap masuk. Pada akhirnya di kantor, Purnama terlihat pucat.

"Pulang aja deh!" saran Lily yang duduk di kubikel sebelah Purnama.

"Belum kelar nih surat yang diminta pak Alex." Purnama menjawab sambil memijat pelipisnya.

"Pucet banget muka lu."

"Kepala gue juga pusing banget."

"Izin aja sama Pak Alex!"

Purnama tiba-tiba berdiri lalu berlari ke toilet sambil menutup mulutnya. Lily mengejarnya.

"Hoek...hoek..." Purnama memuntahkan isi perutnya ke dalam kloset.

"Gue ambil minyak angin ya sebentar!" Lily segera menuju ke mejanya. Ia mengambil sebotol minyak angin di dalam tasnya.

Purnama membersihkan mulutnya dengan air di wastafel. Lily datang memberikan minyak angin.

"Nih, olesin dulu di leher sama dada."

Lily membantu mengoleskan minyak angin di leher dan dada Purnama sambil sedikit memijit tengkuknya.

Selesai dari toilet, Purnama dan Lily kembali ke kubikel mereka. Pak Alex menunggu di sana.

"Dari mana kalian? Saya cari dari tadi."

"Purnama muntah-muntah, Pak."

"Kamu sakit?"

"Gak enak badan aja, Pak."

"Saya sudah saranin Purnama untuk izin pulang tapi dia nggak mau."

"Ke dokter aja biar jelas kamu sakit apa!"

"Kerjaan saya belum selesai, Pak." tolak Purnama sambil menggelengkan kepalanya.

"Urusan kerjaan biar Lily yang lanjutin, kamu berobat dulu!" perintah Alex.

"Iya biar gue yang ngerjain."

"Saya anter kamu ke dokter!"

"Saya bisa sendiri, Pak."

"Kalau kamu pingsan gimana?"

"Saya kuat kok."

"Nggak, kamu jangan jalan sendiri!"

"Saya masih kuat jalan sendiri."

"Saya anter, ini perintah!"

Purnama tak kuasa menolak keinginan manajernya. Akhirnya ia pergi ke klinik yang tidak jauh dari kantornya bersama Alex.

"Pak, sebaiknya bapak kembali ke kantor saja! Saya sudah di klinik jadi aman." ucap Purnama begitu keduanya memasuki klinik.

"Kamu gak pa-pa saya tinggal?"

"Gak pa-pa, ada dokter dan perawat nanti juga saya telepon suami saya biar jemput saya pulang."

"Oke kalau begitu. Saya balik ke kantor."

"Terima kasih, Pak Alex."

Purnama mendaftarkan diri di bagian pendaftaran. Lalu menunggu dipanggil untuk diperiksa. Siang hari klinik tidak terlalu ramai. Purnama duduk bersama dua orang lainnya yang berwajah pucat seperti dirinya.

"Ibu Purnama!" Suara perawat memanggil Purnama.

Purnama berdiri lalu menuju ke ruang periksa. Kepalanya masih terasa pusing dan rasa mual masih menderanya.

Dokter menyuruhnya berbaring lalu mengukur tekanan darahnya, dan memeriksa tubuh Purnama dengan stateskopnya.

"Kapan terakhir kali menstruasi? " tanya sang dokter sambil membenahi kaca matanya.

"Tanggal 10 bulan lalu."

"Sudah telat 2 minggu ya?"

"Saya sering telat menstruasi, Dok. "

"Coba dites dulu urinnya ya!" Sang dokter memberi Purnama sebuah cawan untuk menampung urinenya.

Purnama berjalan ke arah toilet dan mengeluarkan air seninya serta menampungnya di cawan. Ia memberikan sample air seni itu pada sang dokter.

Dokter Han mengeluarkan sebuah testpack dan mengetes urine Purnama. 3 menit kemudian dokter Han memperlihatkan hasilnya pada Purnama.

"Selamat, Bu, Anda hamil."

"Hamil?"

"Iya, lihat 2 garis!"

Purnama melihat dua garis yang cukup jelas di test pack itu. Hatinya benar-benar terharu, doa-doanya ingin memiliki keturunan akhirnya terjawab.

"Ibu harus banyak istirahat dan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang. Ini saya beri vitamin dan obat anti mual. Ibu bisa memeriksakan kehamilan Ibu pada dokter kandungan atau bidan."

"Iya, Dok. Makasih." Purnama menerima resep dengan perasaan terharu.

Keluar dari ruang periksa, Purnama menelpon Bintang suaminya.

"Halo, Assalamualaikum. "

"Waalaikum salam."

"Mas Bintang, tolong jemput aku, Mas!"

"Siang-siang gini minta jemput?"

"Iya, Mas. Aku di klinik."

"Di klinik? Kamu kenapa?"

"Gak enak badan jadi tadi ijin pulang."

Purnama tidak ingin memberitahukan perihal kehamilannya lewat telepon, ia ingin menyampaikan secara langsung pada suaminya.

"Pulang naik ojol aja, lagi rame nih bengkel aku gak bisa jemput."

Mendengar suaminya menyuruh naik ojol Purnama kecewa, tadi ia sempat terfikir jika Bintang menjemputnya ia akan memgajak Bintang makan di tempat favorit mereka barulah Purnama menyampaikan berita gembira itu.

"Yaudah deh aku naik ojol aja." jawab Purnama lesu.

Setelah mendapatkan obat dan vitaminnya, Purnama memesan ojek online untuk mengantarnya pulang.

Dalam waktu 5 menit sang driver telah menunggu di depan klinik. Purnama menghampirinya.

"Purnama!" suara seorang pria memanggil dari jalanan.

Purnama menoleh, dilihatnya Pak Alex keluar dari mobil dan berjalan memghampiri.

"Saya antar kamu pulang!"

"Saya naik ojol ini, Pak."

"No! Kamu lagi sakit, masa panas-panasan naik motor?!"

Alex mengambil helm yang ada di tangan Purnama lalu memberikannya pada sang driver ojol.

"Nih, Pak, ongkosnya!" Alex memberi sang driver 2 lembar uang berwarna biru.

"Pelanggan saya mba ini, Pak."

"Cancel, Pak. Ini uang kompensasinya."

Menerima uang dengan raut wajah gembira sang driver pun pergi.

"Pak, jangan gitu!"

"Kamu saya antar pulang! Ini perintah."

"Bapak kan harus kerja."

"Rencananya saya mau ke lokasi proyek, liat kamu mau naik ojol saya gak tega. Saya antar kamu dulu baru ke proyek."

"Saya gak mau ngerepotin."

"Rumah kamu gak jauh dari sini lagi pula lokasi proyek searah dengan rumah kamu, jadi bisa sekalian."

"Biarkan saya pulang sendiri, gak perlu diantar."

"Gak ada penolakan!"

Alex menarik pergelangan tangan Purnama menuju mobilnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel