Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Tuduhan

Purnama ingin membuat masakan kesukaan suaminya begitu sampai di rumah, untunglah bahan-bahan telah tersedia di dalam kulkas. Ia ingin momen ketika suaminya tahu ia hamil menjadi amat spesial.

Ayam, tempe, sayuran dan bumbu-bumbu dikeluarkannya dari kulkas. Sejak kecil Purnama terbiasa membantu ibunya memasak hingga ia sudah mahir mengolah berbagai jenis masakan.

Ayam yang sudah dibersihkan lalu diungkep dengan bumbu racikannya. Tempe pun digoreng.

Sambil menunggu masakannya matang, Purnama mengabari suaminya.

[Mas aku sudah di rumah, ada kejutan loh ♥]

Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Purnama kembali memasak. Ayam goreng serundeng, tempe goreng, sambal dan lalapan disiapkan Purnama.

Masakan telah ditata di atas meja makan, Purnama bergegas mandi dan bersiap sebelum suaminya pulang.

Bintang masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam. Purnama mendengar pintu terbuka menghentikan kegiatan menyisirnya. Ia berdiri lalu berjalan keluar kamar.

Mas Bintang!" seru Purnama yang melihat suaminya berjalan ke arahnya.

Wajah Bintang terlihat kusut, bau oli dan rokok tercium oleh hidung Purnama.

"Mas capek ya? Aku siapin aer panas buat mandi ya?"

"Gak usah!"

Purnama menyadari sepertinya mood suaminya sedang buruk. Mungkin ada masalah di tempat kerja, pikirnya.

"Kalo gitu makan dulu aja gimana, aku udah masak makanan kesukaan Mas?"

"Gak laper!"

Bintang duduk di sofa, punggungnya ia sandarkan. Berusaha rileks namun tetap saja gelisah itu menghampiri. Ia menyulut rokoknya, menghisap dalam-dalam seakan asap beracun itu bisa menghilangkan gundahnya.

Purnama mengamati gerak gerik suaminya. Ia tidak berkata apapun, mungkin Bintang butuh waktu sendiri, pikirnya.

Purnama membuat secangkir kopi untuk Bintang. Berharap hangatnya kopi bisa sedikit meredakan apapun kegundahan hati suaminya.

Purnama menaruh secangkir kopi di hadapan Bintang. Ia lalu duduk tidak jauh dari suaminya.

"Mas, terima pesan WA aku’kan?"

"Hm." Bintang kemudian menyesap kopinya.

"Ada kejutan loh?"

"Apa?" tanya Bintang dingin.

"Ini!" Purnama menyerahkan hasil tesnya saat di klinik tadi. Bintang membacanya.

Wajah Bintang makin muram membaca hasil tes tersebut. Ia melempar kertas itu ke atas meja. Purnama bingung, seharusnya Bintang senang dengan kenyataan bahwa ia hamil tapi ini justeru malah terlihat marah.

"Mas, kenapa? Ada masalah?"

"Iya."

"Cerita sama aku kalo ada masalah mungkin aku bisa bantu."

"Masalahnya itu kamu!" tunjuk Bintang dengan mata melotot.

"Maksud, Mas?"

"Kamu! Masalah aku itu kamu!" ucap Bintang dengan nada tinggi disertai muka memerah.

"Aku gak ngerti,"

"Gak usah pura-pura!"

"Mas, please jelasin ke aku salahku di mana?"

"Kamu pulang dianter siapa?"

"Tadinya mau naik ojek online, tapi Pak Alex maksa mau anter."

"Alex itu yang malem-malem itu anter kamu juga kan?"

"I ... iya, Mas."

"Yang mobilnya Fortuner?"

"Iya."

"Kamu ada main sama dia?"

"Enggak, Mas."

"Jangan bohong kamu!"

"Dia cuma atasanku di kantor. "

"Dia juga dulu naksir kamu, kamu pikir aku gak tau siapa Alex?"

Alex Dean Setiawan adalah teman kuliah Purnama, kakak tingkat lebih tepatnya. Mereka hanya berbeda satu tahun. Seringnya bekerja dalam satu organisasi kampus membuat Alex memiliki rasa pada Purnama namun tidak bagi Purnama. Mereka berpisah saat Alex lulus dan kembali ke kotanya. Namun saat Purnama diterima bekerja di tempatnya sekarang ternyata Alexlah yang menjadi manajernya.

"Dia cuma atasan aku, Mas. Gak lebih!"

"Jangan-jangan anak di perut kamu juga anak dia?" tuduh Bintang sambil menunjuk ke arah perut Purnama.

"Demi Allah, Mas, gak ada laki-laki lain yang pernah nyentuh aku kecuali kamu."

"Maling mana ada yang mau ngaku!" Bintang berdiri.

"Aku nggak serendah itu, Mas!" Purnama ikut berdiri.

"Pezina!"

Plak!

"Berani kamu nampar suami?!"

"Ucapan Mas kelewatan!"

"Kalo kamu udah bosen sama saya, bilang! Saya akan ceraikan kamu saat ini juga!"

"Ini anak kamu, Mas. Dan tidak ada lelaki lain di hatiku selain kamu."

"Omong kosong!" Bintang berniat pergi namun Purnama menghalangi.

"Mas mau kemana?"

"Jangan halangi saya! Kemana saya pergi bukan urusan kamu!"

Bintang mendorong Purnama hingga terbuka jalan untuknya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel